"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
Alena mulai membuka satu per satu aplikasi yang ada di ponsel itu. Jarinya bergerak gemetar saat membuka aplikasi pesan, galeri, lalu media sosial.
Dan dalam hitungan detik, dunia seolah runtuh di hadapannya. Tubuhnya langsung melemas.
Bukan hanya percakapan mesra yang ia temukan. Tapi, ada foto-foto kebersamaan Arsen dengan wanita lain. Foto saat mereka makan malam berdua. Foto saat wanita itu menyandarkan kepala di bahu Arsen sambil tersenyum bahagia. Bahkan ada foto-foto yang menunjukkan kedekatan yang seharusnya hanya dimiliki seorang suami dan istrinya.
Semuanya tersimpan rapi, membuat napas Alena tercekat. Dadanya terasa sesak hingga sulit mengembang.
Matanya mulai panas saat terus menggulir layar. Apalagi, saat ia menemukan video-video tak senonoh Arsen dengan wanita itu.
Alena memalingkan wajahnya, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Tapi, ia berusaha untuk tenang dan kembali menggulir layar.
Hingga sampai pada pesan mesra keduanya.
Setiap pesan yang ia baca seperti pisau yang menusuk hatinya tanpa ampun.
"Aku kangen."
"Kapan kita ketemu lagi?"
"Dia nggak curiga, kan?"
Dan Arsen membalas semuanya dengan penuh perhatian. Dengan kelembutan yang sudah lama tidak pernah di berikan padanya.
Tangannya refleks menutup mulut sendiri agar tidak mengeluarkan suara tangisan. Ia terus menggulir layar dengan penglihatan yang semakin kabur.
Semakin banyak yang ia lihat, semakin hancur hatinya.
Pria yang selama ini ia cintai ternyata telah membagi perhatiannya untuk wanita lain dan mengkhianatinya tanpa rasa bersalah.
Alena menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa perih. Dadanya terasa begitu sakit.
Sakit yang bahkan tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.
Ia terus menelusuri isi ponsel itu sampai gerakannya terhenti pada sebuah pesan lama. Pesan yang dikirim satu tahun lalu.
Keningnya berkerut.
Dengan jantung berdebar semakin kencang, ia membuka percakapan pada tanggal tersebut.
Tidak hanya satu atau dua pesan. Tapi, ratusan pesan. Semuanya membuat wajah Alena semakin pucat.
Tangannya gemetar hebat mengetahui kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya, bahwa perselingkuhan itu bukan terjadi beberapa minggu terakhir. Tapi, hubungan itu sudah berlangsung selama satu tahun. Tepat sejak Arsen mulai berubah.
Selama ini, saat Alena duduk menunggu Arsen pulang dengan setia, pria itu justru menghabiskan waktu bersama wanita lain.
Saat ia menangis sendirian karena merasa diabaikan, pria itu sedang memberikan perhatian kepada wanita lain.
Dan selama ini, ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena merasa kurang baik sebagai seorang istri. Padahal, masalahnya bukan pada dirinya melainkan, Arsen yang memilih untuk mengkhianatinya.
Air mata Alena jatuh semakin deras. Tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk lemas di lantai kamar mandi yang dingin. Kepalanya tertunduk. Bahu kecilnya bergetar menahan tangis.
Kenapa?
Kenapa Arsen melakukan ini padanya?
Bukankah selama ini ia selalu berusaha menjadi istri yang baik?
Ia selalu mendampingi Arsen. Selalu mengutamakan nya. Lalu, kenapa balasan yang ia terima justru pengkhianatan?
Tapi, beberapa saat Alena segera mengangkat wajahnya.
"Tidak, ini bukan waktunya menangis," gumamnya. "Aku sudah terlalu lama menjadi wanita yang hanya menerima dan memaafkan. Dan, kali ini aku tidak ingin lagi dibodohi."
Dengan tangan gemetar, Alena menarik napas panjang lalu menghapus air matanya. Setelah itu, ia mengambil ponselnya sendiri.
Satu per satu bukti perselingkuhan tersebut mulai ia simpan.
Mulai dari percakapan-percakapan mesra. Foto-foto kebersamaan mereka. Bukti pemesanan hotel. Dan yang membuat dada Alena kembali terasa nyeri, video dan sejumlah bukti transfer dengan nominal yang sangat besar.
Alena memotret semuanya tanpa terlewatkan sedikit pun. Setiap bukti ia simpan dengan teliti.
Hatinya memang hancur. Tetapi malam ini, ia tidak akan membiarkan dirinya hancur tanpa melakukan apa-apa.
Jika Arsen telah memilih mengkhianatinya selama satu tahun penuh, maka ia akan memastikan pria itu tidak bisa lagi menyangkal semua perbuatannya.
Setelah selesai, ia menarik napas dalam, mencari kontak seseorang kemudian menghubunginya.
"Aku butuh bantuan mu."
***
Keesokan paginya, Arsen sudah bersiap seperti biasa.
Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya. Setelan jas berwarna gelap yang ia pakai tampak rapi dan sempurna.
Setelah memastikan penampilannya tidak bermasalah, Arsen mengambil tas kerja yang berada di atas sofa.
Ia bersiap berangkat ke kantor.
Namun, baru beberapa langkah menuju pintu kamar, ponsel keduanya yang berada di saku jas bergetar pelan, tanda sebuah pesan masuk.
Arsen segera mengeluarkan ponsel itu dan membuka layar.
Begitu membaca isi pesannya, senyum tipis langsung terbit di sudut bibirnya.
Senyum yang sudah lama tidak pernah ia tunjukkan di hadapan Alena.
Jarinya bergerak cepat mengetik balasan.
"Aku juga merindukan mu. Nanti pulang kerja, aku akan ke sana."
Tidak lama kemudian, pesan itu terkirim.
Arsen memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku sebelum melangkah keluar dari kamar. Tapi, begitu sampai di lantai bawah, langkahnya kembali terhenti.
Tatapannya mengarah ke meja makan, dimana sarapan sudah tersaji.
Roti panggang, telur, dan beberapa menu pendamping tersusun rapi dan, secangkir kopi hangat yang masih mengepulkan uap tipis ke udara.
Semuanya tampak sempurna. Tapi, ada satu hal yang berbeda.
Alena tidak ada di sana.
Arsen mengernyit. Biasanya wanita itu akan duduk menunggunya sambil memastikan ia sarapan sebelum berangkat bekerja.
Bahkan, saat mereka sedang bertengkar sekalipun, Alena tetap menjalankan kebiasaan itu. Tapi pagi ini, wanita itu tidak terlihat.
Pria itu melangkah mendekat. Pandangannya menyapu ruang makan lalu, beralih ke ruang keluarga dan area dapur. Tapi, wanita itu tetap tidak ada.
"Alena?" panggilnya singkat.
Tidak ada jawaban.
Kening Arsen semakin berkerut. Entah kenapa, perasaan aneh kembali muncul sejak semalam.
Tidak lama kemudian, salah seorang asisten rumah tangga keluar dari dapur.
Arsen langsung menoleh. "Alena di mana?" tanyanya.
Santi tampak sedikit ragu sebelum menjawab. "Nyonya sudah pergi sejak pagi sekali, Tuan."
"Pergi?"
"Iya, Tuan. Nyonya bilang ada urusan penting."
Arsen terdiam beberapa saat. Biasanya Alena akan memberi tahu ke mana pun ia pergi. Setidaknya mengirim pesan. Tapi, kali ini tidak ada kabar sama sekali.
"Urusan penting?" Pria itu mengeluarkan ponselnya dan melihat layar sekilas.
Tidak ada pesan, panggilan atau apapun dari Alena.
Hal ini membuat perasaan ganjil itu kembali mengusiknya meski hanya sesaat.
"Cih, apa peduliku." Arsen menyimpan kembali ponselnya. Dan, tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.
Lagi pula, saat ini ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya. Bayangan pesan yang baru saja ia terima dari wanita yang membuat hari-harinya bersemangat.
"Ya sudah. Katakan pada Alena, malam ini aku akan lembur," ucap Arsen.
"Baik, tuan."
Arsen berbalik, berjalan keluar rumah.
Beberapa saat kemudian, suara mesin mobilnya menghilang dari halaman.
Ia pergi tanpa menyadari bahwa Alena sudah mengetahui rahasia yang selama satu tahun pria itu sembunyikan.
Dan, Alena tidak pergi karena ingin menghindar, melainkan untuk mempersiapkan langkah berikutnya setelah mengetahui pengkhianatan yang selama ini suaminya lakukan.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...