"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
'Aku yang akan Menikahi Zaskia'
Ucapan salam terdengar bersahut-sahutan dari luar rumah.
"Assalamu'alaikum..."
Ayesha dan Zhafran yang sejak tadi panik langsung menoleh ke arah pintu.
Ternyata Zaid sudah kembali bersama Ustadz Mansyur. Di belakang mereka menyusul keluarga Abidzar lengkap bersama Azzura, Aryan, Arshaf, Azel, dan juga Kafa.
"Maaf, Kak," ucap Abidzar begitu masuk. "Tadi kami gak sengaja ketemu Zaid di jalan."
"Gapapa, Gus..." jawab Ayesha lemah. Wajah wanita itu tampak pucat karena terlalu panik. "Maaf juga rumah jadi kacau begini."
Abidzar menggeleng cepat. "Jangan ngomong gitu. Kami ke sini mau bantu."
Di ruang tengah— Zaskia kembali menjerit sambil memberontak di atas sofa.
"Aaaa! Pergi! Jangan sentuh aku!"
Tubuh gadis itu gemetar hebat.
Beruntung Ayesha sudah memasangkan kembali kerudung ke kepala putrinya.
Azel yang melihat keadaan itu langsung ketakutan lalu memeluk lengan Azzura erat-erat.
"Uma..." bisiknya lirih.
Azzura segera mengusap kepala putri bungsunya menenangkan.
Sementara Aryan dan Kafa berdiri dengan wajah tegang memperhatikan Zaskia dari kejauhan.
Hati mereka sama-sama terasa tidak tenang melihat kondisi gadis itu.
"Ustadz, tolong..." ujar Zhafran penuh harap. "Kayaknya Zaskia kerasukan."
Ustadz Mansyur mengangguk pelan.
Sejak pertama masuk tadi, beliau memang sudah merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.
Tanpa banyak bicara, beliau mendekati sofa tempat Zaskia terbaring.
Zaskia yang tadinya memberontak mendadak makin gelisah ketika ustaz itu berada di dekatnya.
"Aaaa! Jangan dekat-dekat!"
Namun Ustadz Mansyur tetap tenang.
Beliau berdiri di samping kepala Zaskia tanpa menyentuh gadis itu sedikit pun.
Lalu perlahan, telapak tangannya diangkat melayang di atas kepala Zaskia.
Bibir beliau mulai melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara rendah namun tegas.
Suasana rumah yang tadinya riuh perlahan berubah hening.
Semua orang menahan napas.
Hanya suara bacaan ruqyah yang terdengar memenuhi ruang tengah.
Aryan tanpa sadar mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Sementara Kafa menatap Zaskia dengan rasa khawatir yang semakin besar.
Di sisi lain, tubuh Zaskia mulai bergerak semakin tidak tenang. Tangannya mengepal, napasnya memburu, bahkan sesekali kepalanya bergerak liar seperti menahan sakit.
Ustadz Mansyur terus membaca ayat demi ayat.
Telapak tangannya bergerak perlahan dari atas kepala hingga ke arah kaki Zaskia tanpa menyentuhnya.
Tak lama kemudian—Tubuh Zaskia mendadak melemas.
Kedua matanya terpejam. Dan gadis itu kembali pingsan.
Semua orang langsung terdiam tegang menunggu ucapan dari Ustadz Mansyur.
Ustadz Mansyur mengembuskan napas berat sambil menggeleng pelan, seolah memahami sesuatu. Pria berusia enam puluh tahun itu memang sudah terbiasa menangani kasus seperti yang dialami Zaskia.
“Anak saya kenapa, Ustadz?” tanya Zhafran cemas.
“Ada seseorang yang menyukai putri Bapak. Saat ini pikirannya sedang dimainkan agar dia terus memikirkan orang tersebut.”
Semua orang terkejut. Tak ada yang menyangka hal seperti itu bisa terjadi.
“Bunda...” Zaskia tersadar. Gadis itu tampak lemas saat memanggil Ayesha.
“Kia... ya Allah, sayangnya Bunda.” Tangis Ayesha pecah. Ia langsung memeluk putrinya erat.
Di sudut ruangan, Kafa, Aryan, dan Arshaf ikut menatap prihatin ke arah Zaskia. Wajah mereka sama-sama menunjukkan keterkejutan.
“Ada apa, Bun? Kenapa rumah jadi ramai begini?” Zaskia tampak bingung saat menyadari keluarga Gus Abidzar juga berada di sana.
Ayesha tak kuasa menjawab. Air matanya terus mengalir.
“Bunda kenapa nangis?”
“Sayang...” tegur Zhafran pelan agar istrinya bisa lebih tenang.
“Maaf, Ustadz Salim, Pak Zhafran. Bisa saya bicara dengan anaknya?” pinta Ustadz Mansyur.
“Silakan, Ustadz,” jawab Salim mempersilakan.
“Didudukkan saja.”
Zhafran membantu Zaskia duduk bersandar di sofa. Di samping gadis itu ada Ayesha yang terus mengusap punggungnya, sementara Zaid merangkul lengan kakaknya seolah ingin memberi kekuatan.
“Nak, kamu baru saja diganggu. Saya mau bertanya sesuatu, tapi tolong jawab dengan jujur.”
Zaskia mengangguk lemah.
“Kamu akhir-akhir ini sering mimpi aneh?”
Zaskia kembali mengangguk.
“Bisa diceritakan sedikit?”
Refleks, Zaskia menoleh ke sekitar. Saat pandangannya bertemu dengan Kafa, ia langsung menunduk malu. Bagaimana mungkin ia harus menceritakan mimpi menjijikkan itu di depan laki-laki yang ia sukai?
“Nak?” panggil Ustadz Mansyur lembut.
“Zaskia malu, Ustadz...”
“Tidak apa-apa. Semua orang di sini pasti mengerti karena itu terjadi di luar kendali kamu.”
“Jujur saja, Kia, supaya Ustadz Mansyur bisa bantu kamu,” ujar Zhafran pelan.
Jari-jari Zaskia saling memilin gelisah. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya memberanikan diri bicara.
“Saya mimpi... ada laki-laki yang mirip teman kampus saya ngajak saya berhubungan badan.”
Ruangan langsung hening.
“Kamu sempat disentuh?” tanya Ustadz Mansyur lagi.
Air mata Zaskia luruh begitu saja saat ia mengangguk.
Kafa yang sedari tadi diam langsung merasa dadanya sesak. Ia tak menyangka gadis sebaik dan sesolehah Zaskia mengalami mimpi seperti itu. Walaupun hanya mimpi, entah kenapa rasa kecewa dan sakit tetap menghantam hatinya.
“Jawabannya sudah jelas,” ucap Ustadz Mansyur akhirnya. “Zaskia harus segera menikah. Jin yang mengikutinya akan pergi kalau dia sudah memiliki pendamping halal.”
Lagi-lagi semua orang dibuat terkejut.
“Apa itu satu-satunya cara, Ustadz?” tanya Salim serius.
“Iya. Jin itu sudah masuk ke dalam mimpi dan sempat menyentuhnya. Selama belum menikah, gangguan itu bisa terus berlanjut karena ada seseorang yang sengaja mengirimnya.”
“Sebenarnya anak saya kenapa, Ustadz?” tanya Zhafran lagi.
“Putri Bapak sedang diguna-guna. Pikirannya dipaksa untuk terus memikirkan seseorang.”
“Astaghfirullahaladzim...” lirih Ayesha sambil menutup mulutnya. “Apa Ustadz tau siapa pelakunya?”
“Saya tidak tau. Tapi yang jelas, gangguan itu akan melemah kalau Zaskia menikah.”
Aryan langsung menoleh ke arah Kafa. Bukankah ini saat yang tepat bagi sahabatnya untuk menunjukkan keseriusan?
Sementara itu, Zaskia perlahan mengangkat kepala menatap Kafa. Ada harapan besar di mata gadis itu. Harapan agar laki-laki tersebut mau memperjuangkannya.
Namun siapa sangka, Kafa malah mengalihkan pandangan.
Tak berkata apa-apa, ia justru melangkah keluar rumah.
Deg!
Hati Zaskia terasa runtuh seketika. Air matanya kembali jatuh tanpa suara.
Aryan yang menyadari perubahan wajah Zaskia langsung mengepalkan tangan. Kesal bukan main melihat sikap Kafa. Tanpa banyak bicara, ia segera menyusul sahabatnya keluar rumah.
"Kafa!" Panggilnya ketika sudah di luar.
Kafa berhenti tepat di depan teras, di halaman rumah.
"Lo kenapa sih?" Tanya Aryan tak habis pikir. Kedua laki-laki itu sudah saling berhadapan.
Kafa tampak seperti orang yang linglung. Dia pun bingung dengan dirinya sendiri.
"Gue gak bisa nikahin dia, Yan."
"Apa!"
"Gue gak bisa, maaf." Kafa menunduk lemas.
"Alasan lo apa?" bentak Aryan.
"Gue takut, Yan. Gue takut berhubungan sama hal mistis. Lo tau sendiri gue takut kegelapan dari dulu, gue takut ngebayangin hal begituan apalagi Zaskia sempat disentuh sampai sama jin itu."
Aryan kian tak habis pikir. Ia tidak menyangka jika ucapan itu akan keluar dari orang yang selalu mengaku mencintai Zaskia tanpa syarat. Begitulah hidup. Kadang kala manusia akan diuji dengan perkataannya sendiri. Apakah dia mampu ketika menghadapi ujian tersebut?
Setelah apa yang dia katakan tiba-tiba menguji hatinya dalam hal ini sepertinya Kafa gagal memahami dirinya sendiri. Nyatanya, ia tidak sungguh-sungguh mencintai Zaskia. Perasaan yang hadir hanya cinta yang dibumbui oleh nafsu.
"Bukannya lo bilang lo sayang sama dia, lo cinta sama dia? lo bilang lo bakal jadi orang pertama yang bakal lindungi dia. Tapi sekarang apa, kemana ucapan lo yang dulu Kaf. Jangan jadi brengsek, please!"
"Iya, sekarang keadaannya beda, Yan. Lo gak lihat dia tadi gimana? Memangnya kalau dia kemasukan kayak tadi, lo bisa ngatasin? Nggak kan? Jangan munafik, lo juga sebenarnya takut kan? Selain itu, gue juga belum siap, Yan. Gue belum ada kerjaan tetap."
"Nggak, gue gak takut. Kalau emang lo gak mau memperjuangkan dia lagi, biar gue yang lanjutin."
Kafa diam, ia tampak frustrasi sambil mengusap-usap rambut menggunakan kedua telapak tangannya.
"Maafin gue, Yan, tapi gue beneran takut. Gue belum siap, gue gak bisa terima kalau ternyata Zaskia udah disentuh hati gue sakit pas denger itu, gue kecewa."
"Tapi itu di luar kendali Zaskia, Kaf. Dia lagi disihir sama orang. Lo nangkep nggak sih kata-kata Ustadz Mansyur tadi? Guna-guna itu bakal hilang kalau dia menikah."
"Apa itu udah pasti? Gimana kalau nggak? berhubungan sama mistis itu Capek, Yan. Gue gak mau punya hubungan kayak gitu. Gue mau pernikahan yang normal."
"Lo jahat banget, Kaf. Kalau Zaskia denger, gue gak ngebayangin bakal sesakit apa hati dia."
"Maafin gue, Yan, maaf. Aarrrggh!" Kafa mengerang lantaran stres memikirkan keadaan ini.
"Jangan salahin gue kalau gue bakal maju buat deketin Zaskia. Kaf."
Kafa diam, pikirannya kacau, tidak bisa berpikir jernih. "Gue berhenti, gue titip dia sama lo." Usai berucap demikian, Kafa pun memutuskan untuk pulang. Langkahnya lunglai meninggalkan kediaman Zhafran.
Aryan ikut merasakan sesak tak ia sangka jika perasaan Kafa pada Zaskia hanya sampai sebatas ini. Aryan mengusap ujung matanya dan setelah itu masuk kembali ke rumah Zhafran.
Di dalam rumah semua orang tampak bingung laki-laki mana yang harus mereka jodohkan untuk gadisnya?
"Abi." Panggil aryan.
Kedatangan pemuda itu lantas mengalihkan perhatian semua orang, kecuali Zaskia. Gadis itu masih menyelami lukanya seorang diri meratapi nasib dalam kepedihan.
"Kafa mana, Yan?" Tanya Arshaf.
"Udah pulang."
"Kenapa, Yan, manggil Abi?"
Aryan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aryan mau nikahin Zaskia. Aryan siap jadi suami buat Zaskia."
Semua orang terbelalak.
"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang aku mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
Suasana ruang tamu mendadak hening. Semua orang seperti kehilangan kata-kata setelah pengakuan Aryan barusan. Bahkan Ustadz Mansyur pun ikut menatap pemuda itu cukup lama seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
Sementara Zaskia, gadis itu perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang sembab langsung bertemu dengan sorot mata Aryan. Tatapan laki-laki itu begitu tenang, tidak ada keraguan sedikit pun di sana.
“Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi.”.Kalimat itu terus terngiang di kepala Zaskia.
“Apa kamu yakin?” tanya Abidzar sekali lagi memastikan.
Aryan mengangguk mantap. “Yakin, Bi. Aryan tau ini bukan keputusan kecil. Tapi Aryan serius.” Suaranya terdengar berat namun tegas. “Kalau memang dengan menikah Zaskia bisa terlindungi, biar Aryan yang jagain dia.”
Deg!
Tangis Zaskia kembali pecah. Namun kali ini berbeda. Ada rasa hangat yang perlahan menyusup di tengah sesaknya dada.
Ayesha langsung menutup mulutnya menahan haru. Sementara Zhafran menatap Aryan cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.
“Kamu gak takut, Yan?” tanya Zhafran hati-hati.
Aryan tersenyum tipis. “Takut itu manusiawi, Om.” Ia melirik sekilas ke arah Zaskia. “Tapi ninggalin Zaskia sendirian justru lebih bikin Aryan takut.”
Kalimat sederhana itu sukses membuat hati beberapa orang di ruangan menghangat.
Arshaf menyentuh kedua pundak Aryan sambil menatap
lekat kedua mata kembarannya yang tampak berkaca-kaca namun tetap tenang.
“Lo serius, Yan?”
Aryan mengangguk mantap.
“Jangan bercanda, Yan. Ini situasi serius.”
“Apa muka gue kelihatan lagi bercanda, Shaf?” Aryan menatap balik saudaranya. Suaranya rendah, tetapi penuh keyakinan. “Gue serius mau nikahin Zaskia.”
Ucapan itu membuat suasana kembali hening.
Arshaf sampai kehilangan kata-kata. Selama ini ia tau Aryan perhatian pada Zaskia, tapi ia tidak pernah menyangka perasaan saudara kembarnya ternyata sedalam itu.
Azzura langsung memeluk Aryan erat. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia begitu bangga pada putranya. Wanita itu tau sejak lama Aryan menyimpan rasa untuk Zaskia, hanya saja laki-laki itu terlalu pandai menyembunyikannya.
Mungkin memang ini waktunya. Waktu bagi Aryan untuk menghalalkan gadis yang selama ini diam-diam ia jaga dalam doa.
“Uma restuin Aryan, kan?” tanya Aryan pelan.
Azzura mengangguk sambil mengusap pipi putranya. “Iya, Nak. Nggak ada alasan buat Uma nolak menantu seperti Zaskia.” Ia tersenyum hangat. “Uma udah kenal baik sama Zaskia dan keluarganya.”
“Iya,” sahut Abidzar mantap. “Abi juga setuju.”
Ayesha yang sedari tadi menangis haru akhirnya bangkit lalu memeluk Azzura erat. “Zura... ya Allah, aku benar-benar berterima kasih sama kamu dan Gus Abidzar.”
Azzura ikut memeluk sahabat sekaligus sepupu suaminya itu.
“Kak, ini semua udah jalannya Allah.” Ia tersenyum lembut di tengah mata yang berkaca-kaca. “Walaupun datangnya dalam keadaan seperti ini. Siapa sangka kami ke sini niatnya cuma nengok anak-anak, eh malah pulang bawa calon menantu.”
Beberapa orang tersenyum kecil mendengar ucapan itu.
Namun tidak dengan Zaskia.
Gadis itu kembali menundukkan kepala. Dadanya terasa semakin sesak oleh kepiluan yang sulit dijelaskan.
Kenapa Aryan yang mengucapkan semua itu?
Padahal orang yang ia tunggu adalah Kafa.
Ke mana laki-laki yang dulu selalu bilang akan memperjuangkannya? Kenapa sekarang malah menjauh? Kenapa saat dirinya sedang benar-benar takut, Kafa justru pergi?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya hingga terasa bising.
Zaskia ingin sekali bertemu Kafa. Ia ingin bertanya kenapa sikap laki-laki itu berubah begitu drastis.
Di sampingnya, Zaid perlahan memeluk bahu sang kakak. Remaja enam belas tahun itu seakan mengerti isi hati Zaskia. Ia tau selama ini kakaknya dekat dengan Kafa. Bahkan beberapa kali ia pernah memergoki mereka bersama.
“Kak...” panggilnya lirih.
Zaskia menoleh pelan.
“Gapapa ya?” ujar Zaid lembut. “Mungkin ini memang yang terbaik.”
Zaskia hanya mengangguk kecil sambil menghapus air matanya. Senyum tipis terbit di bibirnya, tetapi terasa begitu pahit.
Melihat keadaan mulai sedikit tenang, Ustadz Mansyur akhirnya kembali bicara.
“Kalau begitu,” ujarnya bijak, “lebih baik segera tentukan tanggal pernikahannya. Semakin cepat, semakin baik.”
Semua orang kembali terdiam.
Kalimat itu membuat kenyataan terasa semakin nyata bagi Zaskia.
Bahwa hidupnya benar-benar akan berubah mulai hari ini.
“Baik, Ustadz,” sahut Zhafran mantap, disusul anggukan setuju dari Abidzar dan Azzura.
Abidzar kemudian menatap putranya lekat-lekat. “Aryan, Abi tanya sekali lagi. Kamu serius dengan apa yang baru saja kamu ucapkan?”
Aryan mengangguk tanpa ragu.
“Iya, Bi.”
“Kalau Zaskia bagaimana?”
Semua mata langsung beralih pada gadis itu.
Zaskia diam. Ia tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak, pikirannya penuh, sementara hatinya sedang berusaha menerima kenyataan yang berubah begitu cepat.
“Kia...” Zhafran menyentuh pundak putrinya lembut.
Zaskia memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Ia setuju.
Lagipula, apa lagi yang bisa ia harapkan? Menunggu Kafa kembali? Rasanya itu mustahil. Tatapan kecewa laki-laki itu tadi sudah cukup membuat Zaskia mengerti bahwa semuanya benar-benar telah berakhir.
“Alhamdulillah,” lirih Ayesha sambil kembali mengusap air matanya.
“Kalau begitu,” ujar Salim bijak, “demi kebaikan Zaskia, pernikahan dilakukan lusa. Besok Abi, Zhafran dan Gus Abidzar langsung urus berkas kalian ke KUA.”
Ia lalu menatap Aryan dan Zaskia bergantian.
“Bagaimana?”
Keduanya mengangguk bersamaan.
“Alhamdulillah...”
Ucapan syukur kembali memenuhi ruangan. Semua orang tampak lega karena akhirnya menemukan jalan keluar untuk masalah yang menimpa Zaskia.
Di tengah suasana haru itu, Zaid tiba-tiba bangkit lalu memeluk Aryan erat.
“Makasih banget, bang...” suara remaja itu terdengar bergetar. “Makasih udah mau bantuin Kak Zaskia.”
Aryan tersenyum tipis sambil menepuk pelan punggung Zaid. “Iya, Za.”
Tatapannya kemudian beralih pada Zaskia yang masih tertunduk diam sejak tadi.
Aryan tau gadis itu sedang terluka.
Ia tau Zaskia masih kecewa karena orang yang diharapkannya ternyata memilih pergi.
Dan sebenarnya, Aryan pun merasa bersalah.
Ia memang mencintai Zaskia, tapi bukan seperti ini cara yang ia bayangkan untuk bisa bersama gadis tersebut. Ia tidak pernah ingin memanfaatkan keadaan atau hadir di saat hati Zaskia sedang hancur.
Namun ia juga tidak sanggup tinggal diam melihat gadis itu terus menderita.
Aryan menarik napas pelan sebelum akhirnya berjalan mendekati Zaskia. “Maafin Kakak, Kia.”
Zaskia perlahan mengangkat wajahnya.
Sorot mata Aryan tampak penuh rasa bersalah.
“Aryan...” panggil Azzura pelan, seolah tak tega melihat putranya meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan bukan kesalahannya.
Namun Aryan tetap menatap Zaskia. “Maafin Kakak kalau semuanya jadi kayak gini.”
Suara laki-laki itu terdengar begitu tulus hingga membuat dada Zaskia terasa semakin sesak.
Padahal Aryan tidak salah apa-apa.
Justru laki-laki itu datang saat semua orang pergi meninggalkannya.
Dan entah kenapa... itu yang paling membuat Zaskia ingin menangis lebih keras lagi.