Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Masakan kampung
Pagi hari di kediaman utama keluarga Mahardika selalu berjalan dengan presisi yang menakutkan.
Rumah besar yang terletak di kawasan elite Menteng itu memiliki langit-langit tinggi, pilar-pilar putih bergaya Mediterania, dan barisan pelayan yang bergerak tanpa suara bak hantu terlatih. Namun, keheningan yang elegan itu mendadak pecah ketika sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti di lobi depan, membawa sepasang suami istri yang penampilannya bak bumi dan langit.
Gibran turun terlebih dahulu, penampilannya selalu prima dengan setelan jas abu-abu gelap potongan slim-fit. Sementara di sebelahnya, Nayla turun dengan langkah agak ragu, mengenakan dress kasual warna krem madu.
Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah tas anyaman bambu berukuran sedang yang tertutup rapat.
"Mas, serius kita harus makan malam di sini? Perasaanku agak enggak enak. Gimana kalau Papa Baskoro tiba-tiba melempar piring ke arahku?" bisik Nayla cemas sambil mencengkeram lengan kemeja Gibran saat mereka berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang makan utama.
Gibran tidak melepaskan tangan Nayla, ia justru menepuk punggung tangan istrinya itu dengan lembut. "Kalau Papa melempar piring, tenang saja, gue bakal tangkap pakai gaya ala kiper timnas. Lagipula, hari ini ada sekutu kita. Mama Renata yang mengundang."
Begitu mereka memasuki ruang makan yang megah dengan meja makan jati sepanjang lima meter, aroma yang tercium justru bukan aroma masakan rumah.
Meja itu sudah dipenuhi oleh piring-piring porselen putih berisi hidangan mewah: wagyu steak dengan siraman saus truffle, sup asparagus krim, hingga salad premium dengan taburan kaviar.
Di ujung meja, Baskoro Mahardika sudah duduk dengan koran bisnis di tangannya, wajahnya sedatar papan gilasan. Di sebelahnya, yang membuat jantungan Nayla kambuh, adalah kehadiran Valeria.
Wanita itu mengenakan gaun malam mini berwarna hitam ketat, duduk dengan anggun sambil memainkan ponsel mahalnya.
"Ah, Gibran, kamu sudah datang," sapa Valeria dengan suara yang mendadak berubah manis dan manja begitu melihat Gibran masuk. Ia mengabaikan eksistensi Nayla sepenuhnya. "Om Baskoro sengaja pesan makanan dari restoran bintang lima langganan aku di Paris. Aku yang merekomendasikan menunya khusus untuk menyambut kamu."
Baskoro meletakkan korannya, melirik Gibran, lalu beralih ke Nayla dengan tatapan yang masih sedingin es balok.
"Duduk. Kita makan. Valeria sengaja datang karena ada beberapa poin kerja sama investasi yang ingin dia tunjukkan langsung pada Papa."
Nayla merasakan sindiran halus dari atmosfer ruangan itu. Valeria sengaja diundang atau mengundang diri untuk menunjukkan "kelas" yang sesungguhnya kepada Nayla.
Menunjukkan bahwa seorang menantu Mahardika seharusnya adalah wanita yang paham tentang kuliner Paris dan bisnis internasional, bukan gadis yang tahu cara menawar harga cabai di pasar.
Mama Renata masuk dari arah dapur, tersenyum lebar begitu melihat Nayla. "Nayla, kamu bawa apa yang kita bicarakan di telepon kemarin?"
Nayla langsung teringat misi rahasianya. Ia mengangkat tas anyaman bambunya ke atas meja. "Bawa, Ma. Ini ... masakan sederhana yang biasa saya buat di kampung kalau Ibu dan Adi sedang butuh penambah nafsu makan."
Valeria tertawa kecil, menutup mulutnya dengan jemari yang kukunya dihias nail art berkilau. "Oh, masakan kampung? Apa itu? Tolong jangan bilang kamu bawa jengkol atau petai ke rumah ini, ya. Om Baskoro itu sangat sensitif dengan bau-bauan aneh."
Nayla tidak membalas. Dengan tenang, ia membuka tutup tas anyaman tersebut. Begitu tutupnya terbuka, sebuah aroma yang sangat kuat, tajam, gurih, dan sedikit menyengat langsung menguar, memenuhi ruang makan yang semula berbau parfum mahal dan mentega Prancis tersebut.
Bau terasi bakar yang beradu dengan jeruk nipis, bumbu lengkuas goreng yang gurih, dan aroma asam segar dari kuah sayur asem langsung mendominasi ruangan.
Pak Baskoro seketika menghentikan gerakannya yang baru saja ingin memotong daging steak. Hidungnya kembang kempis.
Valeria langsung menutup hidungnya dengan syal sutranya. "Oh my god! Bau apa ini? Bau busuk apa ini, Gibran? Kok seperti ada yang terbakar?"
"Ini namanya terasi, Mbak Valeria," jawab Nayla dengan senyum paling manis namun mematikan yang ia miliki. "Udang rebon pilihan yang difermentasi. Khasiatnya luar biasa, bisa meningkatkan kecerdasan dan bikin ketagihan. Berhubung Mbak Valeria kelamaan di London, mungkin hidungnya butuh adaptasi dengan kearifan lokal."
Gibran menahan tawa di sebelahnya, sampai-sampai ia harus berdeham keras-keras agar tidak menyemburkan tawa lepas di depan ayahnya.
Nayla mulai mengeluarkan isi tasnya dengan bantuan seorang pelayan yang tampak menahan senyum senang: semangkuk besar sayur asem dengan potongan jagung dan melinjo yang melimpah, sepiring ayam kampung goreng yang ditutupi gunungan remahan lengkuas garing yang harum, sekeranjang nasi putih hangat yang masih mengepul, dan puncaknya ... sebuah cobek batu kecil berisi sambal terasi dadakan yang merah merona dengan ulekan kasar cabai rawit setan.
"Mama ... boleh minta nasi putihnya?" tanya Renata dengan mata berbinar-binar, mengabaikan steak mewah di depannya.
"Tentu, Ma," Nayla menyendokkan nasi hangat ke piring Renata, lalu menambahkan sepotong ayam goreng lengkap dengan taburan lengkuas dan sesendok besar sambal terasi.
Renata langsung mencicipinya menggunakan tangan sebuah pemandangan langka yang membuat Baskoro melotot. "Ya ampun, Nayla! Ini enak sekali! Gurihnya pas, sambalnya pedas tapi bikin nagih. Lengkuasnya garing banget!" puji Renata tulus, wajahnya tampak sangat bahagia.
Valeria memandang jijik ke arah cobek batu tersebut. "Om Baskoro, lihat itu ... masak meja makan mewah begini dikotori oleh batu kali dan makanan berminyak begitu. Higienisnya tidak terjamin."
Pak Baskoro diam. Namun, matanya tidak bisa bohong. Aroma ayam goreng lengkuas yang gurih itu entah bagaimana mengingatkannya pada masa-masa puluhan tahun lalu, ketika ia masih merintis bisnis bersama almarhum ayahnya (Kakek Gibran) di ruko kecil daerah Kota, di mana makanan seperti inilah yang selalu menemani perjuangan mereka sebelum menjadi sekaya sekarang.
Gibran yang menyadari perubahan ekspresi ayahnya langsung mengambil inisiatif. Tanpa ragu, Gibran meraih sendok, mengambil nasi putih, lalu menyendokkan kuah sayur asem dan secuil sambal terasi ke piringnya sendiri. Ia memakan ayam goreng itu dengan lahap.
"Papa harus coba," kata Gibran sambil mengunyah dengan nikmat. "Daripada makan daging sapi impor yang seratnya bikin gigi sakit, masakan Nayla ini jauh lebih ramah di lidah dan di lambung."
Baskoro berdeham keras. "Papa tidak terbiasa dengan makanan pedas."
"Ini enggak pedas kok, Pa. Yang pedas itu cuma sindirannya Mbak Valeria dari tadi," celetuk Nayla dengan wajah polos tanpa dosa, membuat Rendi (adik Gibran) yang baru saja bergabung di meja makan langsung menyemburkan air putih yang baru diminumnya.
"Uhuk! Kak Nayla ... savage banget," bisik Rendi sambil mengacungkan jempol di bawah meja.
Pak Baskoro menatap cobek batu itu selama beberapa detik. Gengsinya sebagai kepala keluarga Mahardika bertarung hebat dengan air liurnya yang mendadak menetes karena aroma sambal terasi tersebut. Akhirnya, dengan gerakan perlahan agar tidak terlihat terlalu kentara, pak Baskoro menggeser piring steak-nya menjauh, lalu memberi kode pada pelayan.
"Ambilkan nasi putih," perintah Baskoro pendek.
Valeria terkejut bukan main. "Om? Om mau makan itu?"
Pak Baskoro tidak menjawab. Begitu nasi putih datang, ia mengambil sepotong ayam goreng lengkuas, lalu mencocolnya sedikit ke sambal terasi buatan Nayla. Ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, mata Baskoro melebar sedikit. Rahangnya mengunyah dengan ritme yang stabil, lalu ia menyendokkan kuah sayur asem.
Suasana ruang makan mendadak sunyi. Hanya terdengar suara dentingan sendok Baskoro yang beradu dengan piring. Tidak ada yang berani bicara sampai akhirnya ... Pak Baskoro menghabiskan seluruh nasi di piringnya dalam waktu kurang dari lima menit.
Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap pelayan lagi. "Tambah nasinya sedikit lagi. Kuahnya juga."
Nayla tersenyum kemenangan. Ia melirik Gibran yang langsung mengedipkan sebelah matanya padanya.
"Dukun pelet kamu manjur juga ya, pakai media terasi bakar," bisik Gibran sangat pelan di dekat telinga Nayla,
memanfaatkan momen saat Baskoro sedang sibuk menambah porsi makannya yang kedua sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi dalam sepuluh tahun terakhir karena Baskoro sangat menjaga diet ketatnya.
Nayla diam-diam mencubit pinggang Gibran dari bawah meja, membuat pria itu sedikit mengaduh kecil namun tetap mempertahankan wajah lempengnya di depan sang ayah. "Aduh ... galak banget," gumam Gibran pelan.
Valeria yang merasa terabaikan dan kalah telak oleh pesona cobek batu akhirnya hanya bisa mengaduk-aduk salad kaviarnya dengan wajah cemberut. Semua kemewahan makanan Paris yang ia bawa tidak ada artinya di depan sambal ulek buatan seorang gadis kampung.
Setelah makan malam yang tak terduga itu selesai, Baskoro menyeka mulutnya dengan serbet kain. Ia menatap Nayla dengan tatapan yang meski masih kaku tidak lagi se-tajam biasanya.
"Masakan kamu ... lumayan. Besok-besok kalau masak sayur asem, potong jagungnya jangan terlalu besar. Susah makannya," ujar Baskoro dingin, namun kalimat itu bagi keluarga Mahardika setara dengan pujian bintang lima dari kritikus kuliner internasional. Baskoro berdiri lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
Mama Renata langsung memeluk Nayla dengan gembira. "Kamu hebat, Nayla! Papa Gibran itu kalau makan di rumah paling banyak cuma setengah porsi. Tadi dia nambah dua kali! Kamu benar-benar punya sihir di tangan kamu."
Saat mereka dalam perjalanan pulang ke griya tawang di dalam mobil, Gibran menggenggam tangan Nayla yang bebas. Suasana malam Jakarta yang macet terasa lebih hangat.
"Makasih ya, Nay," kata Gibran tulus, suaranya melembut di dalam keheningan mobil.
"Untuk apa, Mas? Untuk sambal terasinya?" tanya Nayla jenaka.
"Untuk semuanya. Untuk cara lu menghadapi Papa tanpa harus kehilangan harga diri, dan untuk cara lu membawa kembali kehangatan meja makan keluarga yang sudah lama hilang sejak gue kecil. Lu bener-bener luar biasa," bisik Gibran, lalu menarik tangan Nayla dan mengecup punggung tangannya dengan lembut di bawah pendar lampu jalanan kota.
Nayla tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Gibran. Ternyata, jalan menuju hati sebuah keluarga besar tidak selamanya harus dilalui dengan kemewahan; kadang-kadang, hanya butuh ulekan sambal terasi dan ketulusan hati yang dimasak dengan cinta.
sory ya thor 🙏