NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Perjanjian di Atas kertas

Ruangan privat restoran di kawasan Menteng itu mendadak dilingkupi keheningan yang begitu pekat pasca-kesepakatan tak tertulis antara Doni Salman dan Devan Santoso.

Andreas, yang duduk di sebelah Devan, berulang kali membetulkan posisi dasi sutranya yang mendadak terasa mencekik leher.

Sebagai pemuda ambisius yang mengandalkan ijazah mentereng dan kemampuan menjilat, ia bisa merasakan ada pergeseran otoritas yang tidak kasat mata di atas meja marmer ini.

Tatapan mata Doni Salman yang sedalam sumur tua itu seolah-olah telah mendominasi seluruh ruangan, merebut kendali atmosfer dari tangan Devan Santoso yang biasanya bertindak bak raja diraja kontraktor Jakarta.

Pelayan restoran datang dengan langkah mengambang tanpa suara, menyajikan hidangan utama berupa potongan daging sapi panggang dengan siraman saus truffle yang aromanya menguar mewah.

Namun, kelezatan makanan mahal itu sama sekali tidak menyentuh minat Doni.

Bagi pria yang jiwanya telah mengecap kematian di lantai lima puluh Menara Salman, kemewahan ragawi seperti ini hanyalah dekorasi murah dari sebuah panggung sandiwara.

Devan Santoso memotong daging di piringnya dengan gerakan yang lambat, mencoba mengembalikan ketenangan sosiologisnya sebagai penguasa PT Santoso Karya.

Setelah menelan potongan pertama, ia mendongak, menatap Doni yang masih duduk bersandar dengan sangat rileks tanpa menyentuh garpu dan pisaunya.

"Kontrak yang akan disusun besok pagi bukan sekadar formalitas, Doni,"

kata Devan, suaranya kembali berat dan penuh tekanan intimidasi yang terselubung.

"Hak prerogatif untuk menunjuk vendor logistik lapangan yang kamu minta itu memiliki konsekuensi hukum yang sangat mengikat."

"Jika dalam tiga bulan pertama terjadi keterlambatan suplai material melebihi batas toleransi empat puluh delapan jam, bukan hanya posisimu yang hilang, tapi kamu harus membayar ganti rugi penalti secara pribadi kepada perusahaan."

Andreas langsung menangkap umpan dari Devan untuk kembali menekan Doni.

Ia tersenyum tipis, mencoba mengembalikan citra dirinya sebagai bos yang superior.

"Betul, Doni.

"Pak Devan ini sangat disiplin."

"Fasilitas besar yang kami berikan gaji tiga kali lipat, tunjangan, dan kebebasan memilih vendor harus dibayar dengan performa mutlak."

"Di dunia kontraktor kelas atas, satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi yang dibangun puluhan tahun."

Doni mendengarkan ocehan kedua pria di depannya dengan senyuman yang sangat tipis, hampir menyerupai sebuah seringai ejekan.

Di dalam kepalanya, ia justru sedang menghitung mundur hari-hari kejayaan mereka.

Klausul penalti dan ganti rugi yang disebutkan Devan justru merupakan senjata makan tuan yang telah Doni siapkan di dalam proposal merahnya.

"Saya sangat memahami arti dari sebuah tanggung jawab hukum, Pak Devan, Pak Andreas,"

jawab Doni, suaranya begitu tenang, mengalir tanpa beban seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca malam ini.

"Justru karena itulah, saya meminta tim legal Anda memasukkan satu poin tambahan lagi ke dalam draf kontrak kerja sama kita besok pagi."

Devan menghentikan gerakan pisaunya.

Alisnya yang tebal kembali bertaut, merasa tidak nyaman karena buruh lapangan ini kembali mendikte jalannya negosiasi.

"Poin apa lagi?"

Doni memajukan tubuh mudanya, bertumpu pada kedua siku di atas meja marmer, memberikan tekanan psikologis yang membuat Andreas secara tidak sadar memundurkan bahunya.

"Jika dalam waktu tiga bulan ke depan saya berhasil memangkas biaya distribusi material sektor utara sebesar dua puluh persen sekaligus mempertahankan zero-delay pada suplai semen dan besi baja,"

"saya meminta bonus performa berupa kepemilikan opsi saham kosong di PT Santoso Karya sebesar dua persen."

"Opsi yang bisa dikonversi menjadi saham riil kapan saja saya kehendaki."

Klank.

Pisau di tangan Devan membentur pinggiran piring porselen hingga menimbulkan suara berdenting yang cukup keras di dalam ruangan yang sunyi itu.

Wajah paruh baya Devan seketika mengeras, rona merah amarah mulai naik ke pelipisnya.

Meminta saham dari PT Santoso Karya bahkan hanya dua persen opsi kosong dari seorang staf operasional rendahan adalah sebuah kelancangan yang belum pernah ia hadapi seumur hidupnya.

"Kamu sudah keterlaluan, Doni!"

Andreas mendahului Devan, suaranya meninggi karena ingin mencari muka di hadapan sang calon mertua.

"Kamu itu baru mau masuk sebagai karyawan operasional, bukan sebagai investor!"

"Berani sekali kamu meminta bagian kepemilikan saham dari perusahaan keluarga Santoso?!"

Doni tidak mengalihkan pandangannya dari Devan.

Ia mengabaikan letupan emosi Andreas seolah pemuda necis itu hanyalah seekor lalat yang berisik.

"Dua persen opsi saham kosong itu adalah angka yang sangat murah dibanding penghematan puluhan miliar yang akan saya berikan ke kas perusahaan Anda, Pak Devan."

"Dan jangan lupa... opsi itu hanya berlaku jika saya berhasil memotong biaya operasional sebesar dua puluh persen."

"Jika saya gagal, Anda tidak kehilangan sepeser pun, dan Anda bisa menjebloskan saya ke penjara menggunakan klausul denda yang Anda sebutkan tadi."

"Sebuah taruhan yang sangat adil bagi seorang pengusaha besar, bukan?"

Devan Santoso menatap lurus ke dalam manik mata Doni Salman.

Di sana, ia tidak menemukan ketakutan seorang penjudi yang sedang menggertak; ia hanya menemukan keyakinan mutlak yang sangat dingin dan kalkulatif.

Di dalam otak bisnis Devan yang serakah, ia mulai menimbang-nimbang.

Memotong biaya distribusi sebesar dua puluh persen di sektor utara yang terkenal korup dan penuh pungutan liar adalah hal yang mustahil bagi tim internalnya saat ini.

Jika anak muda ini gagal, Devan bisa menghancurkan hidupnya secara legal dan membuangnya ke penjara.

Namun jika anak muda ini berhasil, penghematan dua puluh persen itu bernilai ratusan miliar rupiah jauh lebih besar daripada nilai dua persen opsi saham kosong yang diminta.

Keserakahan Devan akhirnya mengalahkan harga dirinya yang terluka.

"Baik,"

desis Devan Santoso, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan.

"Dua persen opsi saham kosong akan dimasukkan ke dalam draf kontrak sebagai klausul insentif khusus."

"Besok jam sepuluh pagi, datanglah ke kantor pusat PT Santoso Karya di Thamrin untuk menandatangani kontrak ini di atas kertas segel bermeterai."

"Jangan terlambat satu menit pun, Doni."

Doni berdiri dari kursinya, merapikan kemeja batik bekasnya dengan satu gerakan tangan yang anggun.

Ia tidak menyentuh makanan mahalnya sama sekali.

"Saya tidak pernah terlambat untuk sebuah kesepakatan besar, Pak Devan."

"Terima kasih atas makan malamnya. Pak Andreas, sampai bertemu besok pagi di kantor pusat."

Doni memberikan sebuah anggukan formal yang penuh wibawa, lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan privat tersebut tanpa menoleh lagi.

Pintu kayu jati tertutup rapat di belakangnya, menyisakan Devan dan Andreas yang masih terpaku di kursi mereka dengan perasaan campur aduk yang aneh.

Begitu kakinya menapak di trotoar jalanan Menteng yang basah oleh sisa gerimis, Doni Salman menarik napas dalam-dalam.

Udara malam yang dingin terasa begitu menyegarkan di dalam paru-paru mudanya.

Di dalam kegelapan malam, seulas senyuman kemenangan yang sangat mengerikan terukir di wajah tirusnya.

Dua persen opsi saham kosong PT Santoso Karya.

Bagi orang awam, itu hanyalah angka kecil yang tidak berarti.

Namun bagi Doni Salman, yang mengetahui bahwa dalam dua tahun ke depan perusahaan ini akan melakukan penawaran umum perdana (IPO) di bursa saham,

dua persen opsi kosong itu adalah pasak pertama yang ia tancapkan langsung ke dalam jantung finansial keluarga Santoso.

"Kalian mengira telah memasang perangkap untuk mengikatku sebagai budak operasional kalian,"

bisik Doni pada keheningan malam Menteng, matanya berkilat tajam memantulkan cahaya lampu jalan.

"Kalian tidak tahu bahwa dengan menandatangani kontrak itu besok pagi, kalian baru saja menyerahkan kunci gerbang pertama dari kehancuran kekaisaran kalian ke dalam tanganku."

Doni mengangkat tangan kirinya, memanggil sebuah taksi yang melintas di depannya.

Di dalam kabin taksi yang bergerak membelah malam menuju Jakarta Utara, Doni memejamkan matanya dengan tenang.

Bidak-bidak catur telah berada di posisinya masing-masing, sistem kliring Bank Nusa Sentosa akan lumpuh dalam beberapa hari ke depan, dan di atas kertas segel besok pagi, sang singa akan resmi memulai langkah pertamanya untuk merayap masuk ke dalam sarang ular.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!