NovelToon NovelToon
Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.

‎Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.

Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.

‎"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Belum sempat Aruna melanjutkan kata-katanya, tubuh besar Zeffrano bergerak secepat kilat. Pria itu bangkit berdiri dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, hingga kursi kerjanya bergeser mundur dan menghantam dinding lemari kaca di belakangnya dengan bunyi yang cukup keras. Dalam sekejap, jarak yang tersisa di antara mereka lenyap sepenuhnya.

‎‎Zeffrano melangkah maju, mendesak tubuh Aruna hingga punggung wanita itu bersandar keras di pinggiran meja kerjanya yang lebar. Tangan kanannya terulur, jari-jarinya mencengkeram kuat dagu Aruna, memaksakan wajah wanita itu mendongak ke atas, menatap lurus ke dalam manik matanya yang kini berapi-api, gelap, dan penuh badai emosi yang meluap-luap.

‎‎Cengkeraman itu keras, cukup membuat Aruna merasa sedikit nyeri, namun tidak sampai melukainya.

‎‎"Cemburu?!" ulang Zeffrano dengan suara rendah, parau, namun terdengar menggelegak karena emosi yang tertahan. Matanya menatap tajam menembus hingga ke dasar jiwa Aruna, seolah ingin merobek setiap topeng yang dipakai wanita itu. "Kamu berani bertanya apakah aku cemburu, Aruna? Kamu punya hati untuk bertanya begitu setelah apa yang aku lihat semalam?!"

‎‎Dia mempererat sedikit cengkeramannya di dagu wanita itu, membuat Aruna tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

‎‎"Kamu punya kemampuan jahat sekali, Aruna..." bisik Zeffrano lirih, nadanya berubah menjadi penuh kepedihan dan kepasrahan. "Kamu punya kemampuan untuk membuatku merasa menjadi raja dunia dalam sekejap, dan di detik yang sama, kamu bisa membuatku merasa menjadi orang paling miskin dan paling tidak berharga."

‎‎Cengkeraman Zeffrano perlahan melunak, berubah menjadi usapan kasar dan penuh rasa lapar di kulit dagu Aruna.

‎‎"Atau jangan-jangan kamu sudah tahu kekasihmu itu berselingkuh dan kamu ingin memanfaatkanku untuk balas dendam, begitu?" tanya Zeffrano dengan suara yang jelas dan tajam. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum getir yang penuh kepahitan. Matanya menyelidik setiap perubahan ekspresi di wajah Aruna, berusaha mencari kebenaran, atau sekedar jejak rasa bersalah.

‎‎"Jika iya, apa kamu keberatan?" tanya Aruna, "Aku ingin kamu membantuku untuk membalas dendam pada mereka yang sudah menghancurkan hidupku."

‎‎"Keberatan?" ulang Zeffrano pelan, suaranya rendah namun bergema penuh penekanan. Dia melepaskan cengkeramannya perlahan, lalu membalikkan badan memunggungi Aruna. Kedua tangannya dimasukkan kedalam kantong celana.

‎‎"Bagaimana kalau aku bilang aku keberatan?" ucapnya pelan, suaranya datar, tanpa nada, seolah keluar dari sosok yang berbeda dari pria yang tadi hampir meledak karena emosi. "Apa yang akan kamu lakukan jika aku menolak untuk membantumu, Aruna?"

‎‎"Kenapa kamu selalu meragukan dirimu sendiri di mataku, Zeff?" bisik Aruna pelan, suaranya lembut namun menembus tajam ke dalam hati pria itu. "Kehadiranmu di hidupku ini bukan hanya kebetulan, tapi ini adalah takdir. Dan aku sangat yakin jika kamu tidak akan menolak untuk membantuku."

‎‎"Kamu terlalu percaya diri," sindir Zeffrano, lalu melangkah menjauh mendekati jendela besar, menatap pantulan dirinya di kaca yang gelap. "Katakan saja, apa yang kamu ingin aku lakukan sekarang?"

‎‎Aruna tersenyum senang mendengarnya, dia tahu jika Zeffrano tidak mungkin menolak untuk membantunya.

‎‎"Aku ingin memanfaatkan kekuatan dan kekuasaanmu. Lindungi aku dan awasi setiap pergerakanku. Sisanya biar aku yang urus," jawab Aruna.

‎‎"Baiklah. Seperti yang kamu inginkan. Sekarang kamu bisa pulang dan tidur dengan nyenyak." ucap Zeffrano.

‎‎"Dan jangan khawatir, semua yang kamu butuhkan sudah kusiapkan," tambah Zeffrano pelan, punggungnya masih terlihat kokoh di dekat jendela, meski nada suaranya kini sudah jauh lebih tenang dan penuh kepastian.

‎‎Aruna tersenyum kecil, matanya jatuh pada benda pipih berwarna hitam yang tergeletak di dekat tumpukan berkas. Dia meraih benda itu, jemarinya bergerak lincah membuka kunci layar yang ternyata tidak dikunci oleh pemiliknya, seolah sengaja dibiarkan terbuka untuknya.

‎‎Dengan jari yang cekatan Aruna memasukkan nomor teleponnya sendiri ke dalam daftar kontak, lalu meletakkan ponsel itu kembali tepat di posisi semula. Sebelum beranjak, dia sempatkan menatap punggung pria itu sejenak.

‎‎"Terimakasih. Aku pasti akan membalas semua kebaikanmu ini dengan berada disisimu seumur hidupku." ucapnya pelan namun tegas.

‎‎Tanpa menoleh lagi atau menunggu jawaban, Aruna melangkah keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya pelan. Tanpa dia ketahui, di balik pintu itu, Zeffrano sudah bergerak. Segala permintaannya sudah di dengar, dan eksekusi pun sudah dimulai.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Perjalanan pulang terasa begitu singkat bagi Aruna. Sepanjang jalan, hatinya terasa ringan dan damai. Saat mobilnya melambat mendekati gerbang rumahnya yang luas dan tinggi, matanya langsung tertuju pada pemandangan di depan sana.

‎‎Di bawah sorot lampu jalan yang remang, terlihat jelas sosok Rafael yang berdiri gelisah, mondar-mandir tak tentu arah di luar pagar besi tinggi yang kini tertutup rapat.

‎‎Namun, bukan Rafael yang menjadi pusat perhatian Aruna saat ini. Senyum lebar dan tulus mengembang di bibir Aruna saat matanya menangkap sosok-sosok tegap berbadan besar yang berdiri berbaris rapi di kedua sisi gerbang, mengenakan seragam rapi dan berwibawa. Mereka berdiri diam, tak bergeming sedikit pun, memancarkan aura keamanan dan kekuatan yang nyata.

‎‎"Ternyata dia benar-benar langsung bertindak," batinnya bersorak senang. "Belum juga aku sampai di rumah, dia sudah mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk menjagaku. Dia benar-benar tidak pernah menunda permintaanku."

‎‎Mobil Aruna berhenti tepat di depan gerbang utama. Para penjaga itu langsung memberi hormat serempak begitu melihat mobil itu, lalu salah satu dari mereka segera membuka gerbang besar itu selebar jalan masuk.

‎‎Rafael yang sejak tadi menunggu dengan penuh rasa kesal dan penasaran, segera melangkah mendekat secepat kilat begitu melihat pintu mobil terbuka dan Aruna turun. Wajahnya yang tadinya penuh amarah seketika berubah dipaksakan menjadi senyum manis, meski sorot matanya memancarkan kebingungan dan rasa tidak suka yang mendalam.

‎‎"Sayang. Akhirnya kamu pulang juga!" seru Rafael dengan nada yang dibuat-buat penuh kerinduan, segera berusaha meraih tangan Aruna, namun gerakannya terhenti seketika saat salah satu penjaga berdiri tegak menghalangi jalannya dengan sopan namun tegas. Rafael menatap pria berbadan besar itu dengan tatapan membunuh, lalu kembali menatap Aruna dengan nada protes yang tak bisa lagi dia sembunyikan sepenuhnya.

‎‎"Aruna, ini apa-apaan semua ini?!" tanyanya dengan suara meninggi, menunjuk ke arah para penjaga yang berjejer rapi itu. "Sudah tiga jam aku berdiri di sini, kedinginan dan kepanasan, dan mereka tidak mau membiarkanku masuk sedikit pun! Kenapa tiba-tiba rumahmu dijaga seketat benteng militer? Darimana kamu dapat orang-orang ini?!"

‎‎‎"Ah, mereka? Ya, aku baru saja mempekerjakan mereka, Rafael," jawab Aruna santai, suaranya tenang namun tegas. "Dunia luar sekarang makin tidak aman, kan? Banyak sekali orang yang bermuka dua, banyak yang berpura-pura sayang padahal punya niat buruk. Aku harus lebih berhati-hati menjaga diriku dan semua peninggalan orang tuaku."

‎‎Aruna maju selangkah, matanya menatap lurus ke manik mata Rafael yang mulai terlihat gelisah.

‎‎"Kenapa? Kenapa sepertinya kamu keberatan sekali melihat mereka ada disini. Apa kamu tidak suka jika aku aman?"

‎‎Rafael terdiam, kata-kata protes yang sudah disusunnya sedemikian rupa seolah tercekat di tenggorokan. Dia menelan ludah dengan susah payah, menatap para penjaga itu dengan rasa benci yang memuncak. Dia sadar betul, kehadiran orang-orang ini bukan sekedar keamanan biasa. Ini adalah pembatas. Ini adalah tembok yang dibangun Aruna.

‎‎"Te-tentu saja aku sangat senang, Sayang. Aku cuma kaget saja kenapa tiba-tiba rumahmu dijaga seketat ini." ucap Rafael dengan nada paling lembut dan penuh perhatian. "Tapi aku ini kan kekasihmu, calon suamimu, apa aku termasuk hitungan orang yang akan berbuat jahat juga?"

‎‎Rafael meraih tangan Aruna dan menggenggamnya erat, "Sayang, aku sangat mencintaimu, jadi mana mungkin aku akan menyakitimu. Jadi tolong berikan pengecualian untuk aku ya,"

‎‎"Maaf ya, Rafael..." Aruna menarik tangannya dari genggaman Rafael secara perlahan. "Aturan disini berubah. Tidak ada lagi orang yang boleh masuk seenaknya. Termasuk kamu. Kalau mau datang, lapor dulu, minta izin, dan tunggu di luar sampai dipanggil. Demi keamananku, tidak apa-apa kan?"

‎‎Tanpa menunggu jawaban, Aruna melangkah masuk ke dalam rumah besar itu tanpa mempedulikan Rafael yang sedang dihalang-halangi oleh para penjaga sambil terus memanggil-manggil namanya.

-

-

-

Bersambung...

1
W I 2 K
idihhhhhh nyebelin banget kamu tania... celamitan.... sok²an mau ngelakuin apa aja....
🔥Violetta🔥: Kangen belaian plus belalai dia kak ,🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
W I 2 K
mimpi terindah... khayalan belaka....
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Perlu diceburkan ke comberan sepertinya dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
secangkir kopi sm Sajen bunga sekebon meluncur.. biar authornya tambah cemangat....... 💃
🔥Violetta🔥: Wah... terimakasih banyak kakak /Grin//Pray/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
langsung ciut🤣
〈⎳ FT. Zira
siap siap bangun dari mimpi dengan seember air yak🤣
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
〈⎳ FT. Zira
Faunai siapa??? apa itu panggilan?
〈⎳ FT. Zira
bicaramu sungguh manis bang/Hammer//Hammer//Hammer/
〈⎳ FT. Zira
tinggikan saja percaya dirimu.. semakin tinggi semakin sakit saat jatuh🤧
W I 2 K
slow Rafael.... baru juga disedot dasar bumi.... belum sedot dasar neraka kan... aman.. aman... aman..
🔥Violetta🔥: astaga 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
dateng zeff... siapa tau kejutannya bikin terkejot.. kejott.... 🤣
🔥Violetta🔥: Zeff langsung guling-guling di ranjang... ehhh 🤭🤭🤭
total 3 replies
W I 2 K
astaga drama apa lagi Rafael... mimpi mana lg yg km mau gapai... nanti jatuh sejatuhnya sakit loh🤭
🔥Violetta🔥: EEEE.... AAAAA 💃💃💃💃🕺🕺🕺🕺
total 7 replies
〈⎳ FT. Zira
Luar biasa..
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍
🔥Violetta🔥: Wah, terimakasih banyak kakak /Pray//Grin/ Semangat juga untuk kakak /Good/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mimpi Rafael ternyata belum berakhir🤧🤧
🔥Violetta🔥: Berakhirnya kalau sudah mau end 🤣🤣🤣
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mokondonya kental dong ya Rafael ini🤧
〈⎳ FT. Zira: rujak biar asem, enak di makan. lah rafael di mana bagian enaknya../Silent//Silent/
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
nikah aja dah.. mending mereka nikah biar gak jadi masalah setelahnya
〈⎳ FT. Zira
puas puasin dah mau ngapain aja gak ada yg larang
〈⎳ FT. Zira
nampar doang mah napa gak berani
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan🤧🤧
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
makin berani aruna🤣
🔥Violetta🔥: Biar Zeff meleleh' 😂😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
percaya saja pada kemampanmu, ada Zef yg siap berdiri di garda depan ini
W I 2 K
sok suci banget Rafael... lah km aja peluk sana peluk sini sm cewek lain loh...
W I 2 K: du du du.... ngalamat viral nanti lipen gosong.... 🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!