NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7 pawai emas menuju makam leluhur

Angin dari padang es utara berhembus membawa butiran salju sekeras kerikil, menghantam tenda-tenda militer Pasukan Naga Hitam. Jauh dari kemewahan dan intrik ibukota Jinling, Perbatasan Utara adalah neraka beku tempat nyawa manusia lebih murah daripada sepotong arang penghangat.

Di dalam tenda komando utama yang diterangi belasan tungku api, Wakil Jenderal Mu Chenghai—kini merangkap sebagai Pelaksana Tugas Panglima—membanting sebuah cawan perak hingga penyok. Tubuhnya yang besar berbalut zirah baja hitam gemetar hebat. Bukan karena dinginnya udara perbatasan, melainkan karena amarah yang nyaris meledakkan pembuluh darah di kepalanya.

Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu pinus kasar, tergeletak dua buah gulungan surat berstempel lilin merah yang baru saja diantarkan oleh elang pengintai tingkat spiritual.

"Lima ratus persen?!" raung Mu Chenghai, suaranya menggelegar hingga membuat para penjaga di luar tenda menahan napas ketakutan. "Harga gandum di empat provinsi utara naik lima ratus persen dalam sepuluh hari?! Apakah para pedagang sialan itu sudah bosan hidup?!"

Seorang perwira logistik yang berlutut di hadapan Mu Chenghai menelan ludah, keringat dingin membasahi pelipisnya meski suhu ruangan sangat rendah. "L-Lapor, Jenderal. Para pedagang berdalih bahwa panen musim gugur di wilayah selatan gagal karena wabah hama, sehingga pasokan menipis. Kamar Dagang Emas yang biasa menyuplai kita secara murah telah dibekukan sejak Klan Pei jatuh. Sekarang, seluruh gandum di pasar dikendalikan oleh konsorsium pedagang anonim. Mereka menolak negosiasi. Harga mati."

"Gunakan pedang kalian! Sita lumbung-lumbung mereka atas nama darurat militer kekaisaran!" perintah Mu Chenghai, memukul meja hingga retak.

"Tidak bisa, Jenderal," perwira itu menunduk semakin dalam. "Lumbung-lumbung mereka dijaga oleh puluhan kultivator bayaran tingkat Pengumpulan Qi tahap akhir, bahkan ada beberapa formasi pertahanan tingkat menengah. Jika kita menggunakan pasukan militer untuk menyerang rakyat sipil dan pedagang tanpa dekrit resmi kaisar, pemberontakan massal akan meletus di utara. Terlebih lagi... moral pasukan kita sedang di titik terendah."

Mu Chenghai mengertakkan gigi. Pasukannya memang sedang di ambang pemberontakan pasif. Sejak ia menghentikan tunjangan ekstra yang selama ini diam-diam disubsidi oleh Klan Cang, para prajurit elit mulai menolak latihan berat. Cuaca yang semakin memburuk dan jatah makanan yang dikurangi setengahnya membuat ribuan orang jatuh sakit.

Ia meraup wajahnya dengan tangan kasar, lalu tatapannya jatuh pada gulungan surat kedua. Surat dari ibukota. Surat dari rumahnya.

Mengingat isi surat itu, dada Mu Chenghai terasa seperti ditusuk tombak beracun. Putra bungsunya, Mu Yan, harapan masa depan klannya, mendadak mengalami penyimpangan qi yang fatal di tengah Paviliun Kitab ibukota. Dantiannya hancur. Meridiannya terbakar. Pewaris kebanggaannya kini hanya seonggok daging lumpuh yang tak bisa membedakan siang dan malam karena rasa sakit yang terus menyiksanya.

"Cang Qixuan..." bisik Mu Chenghai, matanya merah menyala. Laporan itu menyebutkan bahwa insiden tragis putranya terjadi tepat di hadapan Tuan Muda Cang, sesaat setelah Mu Yan menghina pemuda itu.

Meski semua tabib dan tetua akademi menyimpulkan itu adalah kecelakaan kultivasi akibat emosi yang labil, insting veteran Mu Chenghai berteriak bahwa ini bukanlah kebetulan. Jatuhnya Klan Pei, krisis gandum utara, kelumpuhan putranya... semuanya terjadi secara beruntun semenjak ia menyingkirkan Jenderal Besar Cang Baotian.

"Apakah monster tua Baotian itu meninggalkan jaringan bawah tanah raksasa sebelum dia lengser?" gumam Mu Chenghai panik. Jika benar, maka duduk di kursi Panglima Pasukan Naga Hitam bukanlah sebuah anugerah, melainkan hukuman mati yang ditunda. Ia harus segera mengirim utusan ke istana untuk meminta dana darurat dari Kaisar. Jika tidak, bulan depan pasukan ini hanya akan memakan mayat sesama prajurit untuk bertahan hidup.

Sementara Perbatasan Utara membeku dalam kelaparan, ibukota Jinling justru sedang bersiap menyambut kemegahan.

Bulan kedelapan kalender lunar adalah waktu di mana Kekaisaran Yan menyelenggarakan Upacara Penghormatan Leluhur Musim Gugur. Ini bukan sekadar ritual doa biasa. Ini adalah momen sakral di mana garis keturunan kekaisaran menghubungkan kembali aura naga mereka dengan esensi leluhur yang bersemayam di Gunung Sembilan Naga, tiga puluh li di luar ibukota.

Namun, di dalam Kantor Kementerian Ritual, Menteri Zhao He sedang berdiri di atas kursi, bersiap mengalungkan lehernya ke seutas tali sutra tebal yang terikat di balok atap.

"Tuanku! Jangan lakukan itu! Tuanku!" dua orang asistennya menangis sambil memegangi kaki sang menteri yang berwajah pucat pasi.

"Lepaskan aku! Biarkan aku mati sebelum Kaisar memenggal kepalaku besok lusa!" Zhao He meratap histeris, air matanya membasahi janggut kambingnya. "Anggaran kas negara ditahan Biro Penyelidik gara-gara kasus Klan Pei! Aku hanya diberi tiga ratus ribu tael emas untuk mengurus upacara yang biasanya memakan biaya tiga juta tael! Aku bahkan tidak bisa membeli Dupa Kayu Naga berkualitas rendah, apalagi menyiapkan arak persembahan usia seratus tahun! Jika sesajen untuk leluhur terlihat seperti sampah, Kaisar akan mengulitiku hidup-hidup!"

Kepanikan di kementerian itu terhenti seketika saat pintu kayu oak raksasa didorong terbuka.

Seorang pria tua bertubuh sedikit bungkuk melangkah masuk. Ia mengenakan pakaian sutra kuning polos khas pedagang dari selatan. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil yang terukir lambang koin emas. Ia adalah Penatua Tong, salah satu pengelola keuangan senior Jaring Bayangan yang bekerja di bawah Nyonya Su Liyin.

"Menteri Zhao, jika Anda gantung diri sekarang, Anda akan kehilangan kesempatan untuk menjadi orang paling disukai Kaisar minggu ini," ucap Penatua Tong santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh drama bunuh diri di hadapannya.

Zhao He menatap pria tua itu dengan mata melotot. "Siapa kau?! Beraninya rakyat jelata masuk ke kantor kementerian?!"

Tanpa membuang waktu, Penatua Tong membuka kotak kayu di tangannya dan meletakkannya di atas meja kerja Zhao He. Di dalamnya, tergeletak tiga lembar cek emas dari Bank Kekaisaran Pusat, masing-masing dicetak dengan tinta darah naga yang tidak mungkin dipalsukan. Setiap lembarnya bernilai satu juta tael emas murni.

Cahaya keemasan dari kertas berharga itu nyaris membutakan mata Zhao He. Kakinya seketika lemas. Ia merosot turun dari kursinya, jatuh terduduk di lantai sambil terus menatap ketiga cek tersebut seperti melihat dewa penyelamat.

"T-Tiga juta tael emas? I-ini... untuk apa?" suara Zhao He bergetar hebat.

"Majikanku adalah seorang dermawan dari keluarga kuno yang gemar mengoleksi seni sejarah dan sangat taat pada leluhur. Beliau mendengar kesulitan Departemen Ritual," Penatua Tong tersenyum hangat, meski matanya memancarkan perhitungan pedagang yang dingin. "Beliau bersedia menyumbangkan tiga juta tael emas ini secara cuma-cuma untuk menanggung seluruh biaya Upacara Penghormatan Musim Gugur."

"Cuma-cuma?!" Zhao He merangkak mendekati meja, tangannya gemetar ingin menyentuh kertas berharga itu. "Di dunia ini tidak ada emas yang jatuh dari langit tanpa syarat. Katakan, apa yang diinginkan majikanmu? Posisi pejabat? Izin monopoli garam?"

"Tidak sama sekali, Menteri Zhao. Majikanku sama sekali tidak tertarik pada politik atau perdagangan," Penatua Tong menggelengkan kepalanya pelan. "Syaratnya hanya satu. Beliau ingin hadir dalam upacara tersebut. Bukan di pelataran luar bersama rakyat jelata, melainkan bergabung dalam Iring-iringan Kaisar dan masuk ke dalam Altar Suci Makam Leluhur. Beliau hanya ingin 'melihat' peninggalan kuno dari dekat, demi kepuasan spiritual."

Wajah Zhao He langsung berubah memucat kembali. "Masuk ke Altar Suci?! Itu dilarang keras! Hanya keturunan langsung Keluarga Kerajaan dan beberapa pejabat tinggi yang memiliki darah naga pelindung yang diizinkan masuk! Mengizinkan pedagang atau orang luar masuk sama saja dengan mengundang murka leluhur!"

"Oh, begitu rupanya," Penatua Tong pura-pura menghela napas kecewa, meraih kembali kotak kayunya. "Sayang sekali. Kalau begitu, semoga sukses dengan sisa tali sutra Anda, Menteri Zhao. Saya permisi."

"T-Tunggu!!!" teriak Zhao He putus asa, melompat dan menahan tangan Penatua Tong. Pikirannya berpacu. Jika ia gagal menyelenggarakan upacara dengan layak, Kaisar akan memenggalnya di depan umum. Tapi jika ia menyusupkan satu 'tamu kehormatan' ke dalam rombongan dengan alasan sponsor rahasia untuk keselamatan negara, ia mungkin bisa memelintir alasannya agar terdengar masuk akal di hadapan Kaisar yang juga sedang pusing karena kekurangan uang. Lebih baik mengambil risiko dimarahi daripada mati kelaparan dana.

"Aku... aku akan mengatur agar majikanmu mendapat gelar sementara 'Utusan Kehormatan Kuil'. Ini akan memberinya izin masuk," Zhao He menelan ludah, menatap cek tiga juta tael itu dengan rakus. "Tapi ingat, begitu di dalam, dia tidak boleh menyentuh apa pun, apalagi berbicara tanpa izin!"

Penatua Tong tersenyum lebar, menyerahkan kotak itu kepada sang menteri. "Anda membuat keputusan yang sangat bijaksana, Menteri Zhao. Majikanku sangat menantikan acara hari itu."

Tujuh hari kemudian.

Gunung Sembilan Naga tampak agung di bawah sinar matahari musim gugur. Kabut tipis menyelimuti puncaknya, menciptakan kesan mistis yang mendebarkan. Jalan setapak selebar lima kereta yang terbuat dari batu giok putih membentang dari kaki gunung hingga ke Gerbang Altar Suci di pertengahan lereng.

Ribuan prajurit elit Pengawal Kekaisaran berdiri berbaris di sisi kiri dan kanan jalan, baju zirah mereka mengkilap, bendera naga merah berkibar gagah ditiup angin.

Di kaki gunung, rakyat jelata bersujud menyambut kedatangan Iring-iringan Kekaisaran. Ini adalah puncak kekuatan Dinasti Yan, sebuah pameran supremasi yang dirancang untuk membungkam segala bentuk pemberontakan.

Tandu raksasa Kaisar Yan Wudi ditarik oleh delapan ekor Gajah Lapis Baja dari wilayah selatan. Tandu itu terbuat dari kayu gaharu kuno dan atapnya dilapisi lembaran emas murni. Di belakangnya, kereta giok putih milik Putri Yan Ling meluncur elegan. Para menteri penting, termasuk Han Mian dan beberapa petinggi Klan Pei yang sedang dalam masa percobaan, menunggangi kuda spiritual di belakang keluarga kerajaan.

Suasananya sangat sakral. Iringan musik tradisional yang dimainkan oleh ratusan biksu menyebar ke seluruh penjuru gunung.

Kaisar Yan Wudi, meski kondisinya memburuk dari hari ke hari akibat racun dingin di jantungnya, memaksakan diri untuk duduk tegak di atas tandunya, mencoba memancarkan aura dominasi mutlak. Di sampingnya, Menteri Ritual Zhao He berkeringat dingin, terus-menerus menengok ke belakang, menantikan kemunculan 'Tuan Majikan Dermawan' yang membiayai seluruh kemegahan ini.

Tepat saat iring-iringan Kaisar hendak menaiki undakan tangga batu giok pertama menuju makam, sebuah suara terompet yang aneh memecah kesakralan acara.

Bukan sekadar terompet. Suaranya terdengar sumbang, terlalu berisik, dan diikuti oleh ketukan genderang kulit harimau yang sangat gaduh, lebih mirip iringan karnaval kelompok sirkus daripada musik spiritual.

Seluruh barisan Pengawal Kekaisaran menoleh dengan waspada. Kaisar Yan Wudi mengerutkan kening, memberi isyarat agar iring-iringan berhenti.

Dari arah ujung jalan yang membelah lautan rakyat, muncul sebuah pemandangan yang membuat rahang setiap orang yang melihatnya jatuh membentur tanah.

Sebuah paviliun berjalan. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkannya.

Sebuah platform raksasa seluas separuh lapangan didorong oleh dua belas Kuda Iblis Bersisik Emas—spesies monster tunggangan kelas tinggi yang satu ekornya bernilai setara dengan lima istana di ibukota. Di atas platform itu, dibangun sebuah paviliun terbuka yang terbuat dari kayu kristal laut dalam, dikelilingi tirai sutra merah yang berterbangan ditiup angin. Puluhan penari cantik berpakaian sangat minim menaburkan kelopak bunga mawar dan serbuk emas asli ke sepanjang jalan.

Di tengah paviliun itu, di atas dipan berlapis bulu rubah salju berusia seribu tahun, bersandar seorang pemuda yang sedang mengunyah buah anggur spiritual sambil dipijat oleh dua pelayan wanita.

Pemuda itu mengenakan jubah kebesaran berwarna merah darah yang disulam dengan benang emas berbentuk burung merak berekor api. Topi giok menengger miring di kepalanya. Kipas lipatnya bergerak-gerak malas.

Itu adalah Cang Qixuan.

Bukan sang ayah, bukan sang kakek, tapi si Tuan Muda Sampah dari Klan Jenderal yang baru saja dicopot kekuatan militernya.

Keheningan mutlak menyelimuti kaki Gunung Sembilan Naga. Suara musik sakral para biksu bahkan berhenti tanpa sadar. Hanya suara genderang karnaval dari paviliun Qixuan yang terus berdentum.

Wajah Kaisar Yan Wudi memerah karena marah. Menghadiri Upacara Leluhur dengan penampilan seperti mucikari dari rumah bordil adalah penghinaan terbesar yang pernah ia saksikan.

"Panglima Pengawal!" Kaisar menggeram, suaranya mengandung qi tingkat Langit yang menekan udara. "Seret pemuda tidak tahu malu itu dari tandunya! Penggal kepalanya di tempat karena telah menodai kesucian Gunung Sembilan Naga!"

Ratusan prajurit pengawal serentak menghunus tombak mereka, siap mengepung paviliun emas tersebut.

"Tunggu! Yang Mulia, ampun! Mohon tunggu!" teriak Zhao He histeris, melompat dari kudanya dan bersujud tepat di depan tandu Kaisar. Darahnya serasa berhenti mengalir. Ia baru menyadari identitas asli dari 'Dermawan Misterius' tersebut!

"Zhao He! Apa artinya ini?!" bentak Kaisar.

"Y-Yang Mulia... P-Pemuda itu... Tuan Muda Cang... dialah Dermawan yang menyumbangkan tiga juta tael emas untuk membiayai seluruh upacara hari ini!" ratap Zhao He sambil membenturkan dahinya ke tanah. "Uang kas negara kosong, Hamba tidak punya pilihan! Dia berstatus sebagai Utusan Kehormatan Kuil hari ini!"

Mata Kaisar membelalak. Para menteri di belakangnya, termasuk Han Mian, tersentak kaget. Tiga juta tael emas?! Klan Cang tidak hanya belum bangkrut, mereka ternyata memiliki kekayaan yang cukup untuk membeli separuh departemen kekaisaran!

Di dalam kereta gioknya, Putri Yan Ling meremas ujung gaunnya hingga robek. Ia menatap sosok santai Qixuan dengan kebencian dan rasa malu yang mendalam. Menukar setengah akar dengan Kompas Bintang? Menghamburkan uang untuk membiayai acara sakral? Pemuda ini benar-benar tidak punya otak, murni membuang hartanya hanya untuk sebuah pameran kesombongan di depan kaisar!

"Oh? Mengapa iring-iringan berhenti?"

Suara Qixuan menggema di udara, diperkuat oleh secercah qi buatan agar terdengar malas namun menembus hingga ke telinga semua orang. Pemuda itu bangkit dari dipannya, berjalan ke tepi paviliunnya, dan menatap lurus ke arah tandu Kaisar dengan senyum bodoh yang menempel di wajahnya.

"Yang Mulia Kaisar yang agung," Qixuan membungkukkan badan sedikit, sebuah salam yang jauh dari standar istana. "Cucu Jenderal Besar Cang Baotian yang tidak berguna ini memberi hormat. Saya mendengar bahwa Departemen Ritual kekurangan dana karena beberapa anjing istana terlalu banyak memakan uang pajak. Sebagai rakyat yang setia, keluarga kami rela membongkar tabungan terakhir leluhur kami demi memastikan Yang Mulia bisa berdoa dengan nyaman. Apakah paviliunku ini terlalu sederhana? Saya bisa meminta anak buahku melempar beberapa ribu keping emas lagi ke jalanan jika Yang Mulia berkenan."

Setiap kata-kata Qixuan dilapisi dengan madu, namun di dalamnya terdapat jarum beracun yang menusuk martabat keluarga kerajaan. Ia secara terbuka mengingatkan Kaisar bahwa tanpa uang dari "Klan Buangan" ini, Kaisar tidak akan punya sesajen untuk leluhurnya hari ini.

Dada Kaisar Wudi naik turun dengan cepat. Racun dingin di jantungnya meronta karena luapan amarah. Ia ingin sekali membunuh pemuda sombong di depannya ini sekarang juga. Namun, membunuh penyumbang dana utama sebuah upacara sakral di hadapan ribuan rakyat akan menjatuhkan citranya sebagai penguasa yang adil, memperkuat rumor bahwa Istana merampok para jenderal yang setia.

Kaisar menarik napas panjang, menelan darah amis yang naik ke tenggorokannya.

"Klan Cang... benar-benar penuh kejutan," desis Kaisar, suaranya sangat dingin. "Karena kau telah menunjukkan 'kesetiaanmu' dengan emasmu, Tuan Muda Cang, kau diizinkan ikut dalam Iring-iringan Utama. Namun ingat, jika kelakuanmu menodai Altar Suci di puncak nanti, bahkan kakekmu yang sedang sekarat tidak akan bisa menyelamatkanmu dari eksekusi sembilan generasi."

"Kebaikan Yang Mulia seluas lautan!" Qixuan tertawa lebar, kembali menjatuhkan dirinya ke pangkuan penarinya. "Ayo, lanjutkan musiknya! Jangan buat leluhur kekaisaran menunggu emas kita!"

Rombongan kembali bergerak, namun kali ini auranya terasa sangat canggung. Kemegahan iring-iringan kaisar sepenuhnya tertutup oleh kegilaan paviliun Tuan Muda Cang. Setiap kali Kuda Iblis Bersisik Emas melangkah, serbuk emas yang disebar oleh para penari Qixuan menutupi jalanan, membuat Pengawal Kekaisaran yang berbaris di belakangnya mau tidak mau menginjak "kemurahan hati" pemuda boros tersebut.

Mo Chen yang menyamar sebagai salah satu kuli pendorong paviliun berjalan dalam diam. Di balik cadarnya, ia mengagumi pemahaman tuannya tentang seni manipulasi mental. Qixuan tidak menyerang dengan pedang; ia menyerang martabat dan harga diri lawan-lawannya secara perlahan, membuat mereka tampak kerdil di hadapan publik.

Setelah dua jam mendaki perlahan, Iring-iringan tiba di pelataran puncak Gunung Sembilan Naga. Udara di sini sangat tipis dan dipenuhi aura spiritual purba yang kental. Di ujung pelataran, berdiri Gerbang Naga Batu yang sangat masif, pintu masuk menuju Altar Suci bagian dalam tempat makam kaisar-kaisar terdahulu berada.

"Rakyat jelata dan pengawal biasa, tetap di luar formasi," perintah Kepala Kasim Istana. "Hanya Yang Mulia Kaisar, Putri Yan Ling, para Menteri Tingkat Satu, dan... Utusan Kehormatan Kuil yang diizinkan masuk."

Qixuan turun dari paviliunnya, tidak lagi diiringi penarinya, meninggalkan paviliun megah itu di pelataran luar. Ia melangkah santai mengikuti kelompok kecil tersebut. Namun diam-diam, sembilan pusaran energi di dalam tubuhnya mulai berputar lambat, menyesuaikan frekuensinya dengan aura lingkungan sekitar.

Begitu mereka melangkah melewati Gerbang Naga Batu, Qixuan segera merasakan tekanan dari Formasi Pembunuh tingkat Surga yang tertanam di bawah kaki mereka. Siapa pun yang melangkah dengan niat membunuh atau tidak memiliki darah keturunan naga (atau token perlindungan khusus) akan langsung dihancurkan oleh ribuan tombak qi bumi.

Kaisar dan para menteri memegang token giok pelindung. Qixuan juga diberi satu oleh Zhao He.

Namun tujuan Qixuan masuk bukan hanya sekadar untuk pamer. Matanya yang tajam menyapu sekeliling Altar Suci yang berbentuk seperti mangkuk raksasa dengan stalaktit batu bercahaya di atap guanya.

Di tengah altar tersebut, terdapat sebuah kolam darah spiritual yang dikelilingi oleh teratai api. Dan di tengah-tengah kolam itulah tumbuh apa yang ia cari.

Bunga Jiwa Hitam.

Tangkainya berwarna keunguan pucat, kelopaknya sehitam malam tanpa bintang, menyerap cahaya di sekitarnya. Tumbuhan ini hanya bisa hidup di tempat yang memiliki konsentrasi yin tingkat kaisar. Getahnya adalah katalis sempurna untuk racun *Embun Pemutus Dao* yang dirancang oleh Alkemis Gu Lie untuk melumpuhkan Pasukan Naga Hitam.

Hanya ada sekitar tiga ratus kuntum yang mekar di tengah kolam itu.

Kaisar Yan Wudi berlutut di depan altar, memulai ritual doa yang panjang dan membosankan, diikuti oleh Putri Yan Ling dan para menteri. Qixuan berdiri di barisan paling belakang, berpura-pura menguap sambil bersandar pada pilar naga.

*Sekarang saatnya,* batin Qixuan.

Ia merogoh sakunya, tangannya menggenggam Kompas Bintang tembaga yang telah ia serap energinya beberapa hari lalu. Artefak ini memiliki kemampuan navigasi dan manipulasi ruang tingkat tinggi. Menggabungkan kompas kuno ini dengan pemahaman elemen tanah dari Pusaran Ketiganya (Bumi), Qixuan mulai menciptakan keajaiban pencurian spiritual yang bahkan tidak disadari oleh para leluhur kerajaan.

Tanpa menggerakkan tubuh fisiknya, Qixuan menempelkan kakinya erat-erat ke lantai batu giok altar.

*Seni Pernapasan Menelan Langit – Benang Pencuri Bayangan.*

Ratusan benang qi yang sangat tipis dan transparan meluncur ke bawah tanah dari telapak sepatunya. Benang-benang itu merayap seperti cacing spiritual yang tak kasat mata, menghindari pemicu formasi pertahanan makam dengan presisi mikroskopis berkat panduan ilusi dari Kompas Bintang.

Benang-benang qi itu menyelam ke dalam Kolam Darah Spiritual dari arah dasar, bergerak menuju rumpun Bunga Jiwa Hitam. Sangat perlahan, benang-benang itu melilit sekitar seratus batang bunga di bagian akarnya.

Proses ini sangat berbahaya. Jika konsentrasinya pecah sedikit saja, fluktuasi qi akan memicu alarm makam, dan bahkan Qixuan yang berada di tingkat Pembentukan Fondasi tidak akan bisa selamat dari amukan Formasi tingkat Surga yang memotong ruang. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengalir dari balik lehernya. Ia memejamkan mata, wajahnya diatur agar terlihat seperti sedang tertidur berdiri karena bosan.

Tepat ketika Kaisar Yan Wudi bersujud untuk yang kesembilan kalinya dan menyuarakan doa mantra yang keras, suara lonceng besar berdentang, menyamarkan segala bentuk fluktuasi energi di dalam gua.

*Tarik!*

Qixuan menyentak qi di pusaran perutnya. Seratus kuntum Bunga Jiwa Hitam tercabut seketika dari dalam kolam, ditarik ke dalam cincin penyimpanan dimensi ruang yang diam-diam terbuka di telapak sepatu Qixuan. Proses itu memakan waktu kurang dari sekejap mata. Karena bunga itu berwarna hitam pekat dan kolam itu cukup rimbun, hilangnya sepertiga bunga tidak langsung disadari oleh mata fana dari jarak jauh.

Sisa benang qi langsung dibubarkan, kembali menjadi partikel debu spiritual tak berdosa.

Qixuan menarik napas lega. Dadanya sedikit sesak, energi yang dikeluarkannya setara dengan bertarung penuh selama dua jam. Ia telah berhasil mencuri jantung pertahanan dari pusaka leluhur kekaisaran tepat di bawah hidung kaisarnya sendiri. Seratus Bunga Jiwa Hitam sudah di tangan, lebih dari cukup bagi Gu Lie untuk membuat racun yang akan melumpuhkan utara.

"Upacara selesai," Kepala Kasim mengumumkan beberapa saat kemudian.

Kaisar berdiri, wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari sebelumnya. Berdoa di lingkungan yin ini ternyata memperburuk racun dingin di tubuhnya. Ia berbalik, menatap Qixuan dengan pandangan penuh peringatan, berharap mendapati pemuda itu ketakutan di tempat suci ini.

Sebaliknya, Qixuan sedang memakan kue sesajen yang entah sejak kapan ia ambil dari meja altar pinggir.

"Kue beras ketan ini sedikit terlalu manis," keluh Qixuan ringan sambil membersihkan remah-remah di bajunya. "Tapi untuk ukuran tempat kuburan, ini cukup lumayan."

Mata Kaisar nyaris melompat keluar dari rongganya. Han Mian menelan ludah. Mengambil dan memakan sesajen sisa leluhur saat upacara baru selesai adalah kekurangajaran setingkat dewa.

"Cang Qixuan! Beraninya kau—" Putri Yan Ling tidak tahan lagi, melangkah maju sambil menghunus pedang esnya setengah inci.

"Yang Mulia Putri, saya kan sudah bayar tiket VIP," potong Qixuan sambil tersenyum lebar, gigi putihnya terlihat menyebalkan. "Tiga juta tael emas, bukankah wajar kalau aku mendapat fasilitas kudapan? Ah, saya ingat, rumah bordil milik Nyonya Su selalu memberikan kacang kenari gratis untuk tamu istimewa. Departemen Ritual kalian terlalu pelit."

"CUKUP!" Kaisar Wudi membentak, menyela sebelum putrinya benar-benar memenggal kepala pemuda itu di tempat suci. "Tinggalkan tempat ini sekarang, Tuan Muda Cang. Kehadiranmu mengotori udara leluhur."

Qixuan tertawa pelan, membungkuk secara teatrikal. "Tentu, Yang Mulia. Rakyat kecil ini pamit undur diri. Kuharap doa kalian hari ini dijawab oleh langit, karena badai musim dingin tampaknya akan sangat... sangat dingin tahun ini."

Meninggalkan peringatan tersirat yang hanya dipahaminya sendiri, Cang Qixuan membalikkan badannya dan berjalan keluar dari Gerbang Naga Batu dengan langkah ringan pemenang. Emasnya telah menguasai panggung, dan bayangannya telah mencuri pusaka.

Tak ada satupun yang menyadari bahwa pada hari Upacara Penghormatan Musim Gugur ini, Kekaisaran Yan tidak mendapat perlindungan leluhur, melainkan telah menyerahkan tali kekang kehancuran mereka ke dalam tangan seorang tuan muda berbusana sutra merah. Rencana racun massal di utara kini tak memiliki halangan, dan keping-keping domino akan segera berjatuhan.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!