“Wah, cantik deh. Aku suka sama gambar bunga tulip merahnya,” katanya.
Noah langsung duduk tegak begitu melihat gambar tato itu. Wajahnya berubah seketika, tampak terkejut dan tak percaya. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap Melody lekat-lekat.
“Kamu nutupin gambar yang lama ya...” katanya pelan, dan Melody dengan jelas menangkap nada tuduhan di mata laki-laki itu.
Noah tahu bahwa dahulu Melody pernah menginginkan tato bergambar bunga Daisy beserta dua huruf inisial tertentu. Dulu, Melody sempat berbohong dan mengatakan bahwa gambar itu berasal dari kutipan tulisan yang disukainya. Saat itu, Noah belum mengenal Adden, sehingga ia tidak pernah mengaitkan hal tersebut dengan laki-laki itu. Ia mengiraj mustahil Melody memiliki hubungan dengan seseorang seperti Adden.
“Iya. Aku nutupin gambar yang lama,” jawab Melody singkat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Tak Pernah Tahu Apa yang Kulalui
"Kamar mandinya buat kamu aja deh. Kita udah selesai ya. Telepon aku ya?" kata Clarinne sebelum pergi meninggalkan bekas lipstik di bibir Adden.
Sialan.
Melody mau balik badan, tapi tangan Adden cepat menahan pergelangan tangannya.
Gadis itu menarik tangannya kasar. "Jangan sentuh aku. Tangan kamu barusan pegang apa."
Adden menyengir. "Kenapa nih, Melody? Cemburu ya?"
Melody ketawa sinis. "Biar kutebak, kamu bakal jahatin aku, terus main sama aku karena kamu pikir itu yang aku mau? Denger ya."
Ia melangkah maju, suaranya dikeraskan. "Aku nggak bakalan tidur sama anak orang kaya manja yang merasa hebat cuma karena duit orang tuanya!"
Adden tersenyum miring. "Oh, jadi kamu lebih suka tidur sama cowok gelandangan?"
"Siapa bilang aku tidur sama sembarang orang? Itu pikiran kotor kamu doang. Aku bukan cewek murahan yang gampang terpesona sama rambut jelek dan sikap menyebalkan kamu," sahut Melody ketus sambil mendecakkan lidah.
Tanpa pikir panjang, Adden tarik tangan Melody masuk lagi ke kamar mandi. Dia kunci pintu dan dorong tubuh cewek itu sampai bersandar.
Melody menatapnya marah. "Ngapain sih? Minggir!"
Adden menyelipkan lututnya di sela kaki Melody. Matanya jelalatan ke tubuh cewek itu. Celana pendek ketat, sepatu kotor, dan jaket merah lusuh.
Rambut Melody dikepang rapi. Adden ingin sekali sekali membuka kepangannya terus mainkan rambut itu.
Adden mendekat, Melody berusaha memberontak tapi dia lebih kuat. Tak ada jalan buat kabur.
Hidung Adden mencium aroma kulit Melody, ia hafal wanginya. Kulitnya lembut, membuat Adden ingin memberi bekas gigitan biar semua orang tahu kalau cewek ini miliknya.
"Tahu nggak apa yang aku lakuin sekarang, Melody? Aku lagi hancurin kamu. Aku bakal musnahin kamu biar kamu ngerti apa arti kamu buat aku."
"Pergi sana!"
"Itu yang kamu mau? Kamu mau aku 'hancurin' kamu?"
Tangan Adden mengelus leher Melody, merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang. Gadis itu gugup. Dan dia pasti menginginkan Adden juga.
"Aku mau kamu pergi. Ingat, aku benci kamu."
"Kamu nggak benci aku. Kamu cuma kesal karena nggak bisa ngatur aku. Aku anak orang kaya manja kan?"
Adden menjilat leher Melody pelan, membuat cewek itu menegang. Tapi dada yang naik-turun itu mengatakan hal lain.
Setiap napas Melody membuat pusaka Adden berdenyut kencang. Rasanya sadar kalau di sinilah tempatnya seharusnya berada, bukan terbuang sia-sia sama Clarinne tadi.
Adden menekan tubuhnya lebih erat agar Melody merasakan betapa kerasnya dia. Tapi tatapan Melody berubah aneh.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Kening Adden langsung berkerut. Dia melihat posisi mereka sekarang. Tiba-tiba kesadaran menghantam kepalanya keras-keras.
Seseorang pernah melakukan ini padanya. Pernah berusaha menyakiti Melody.
Lubang hidung Adden melebar. Apa yang sedang ia lakukan?
Dia tahu Melody cuma bertahan. Kata-katanya barusan pasti menyakitinya.
"Kamu benar. Kamu jelas bukan tipeku, dan aku juga bukan tipemu. Tipemu itu penjahat kotor, atau mungkin salah satu orang tua angkatmu itu."
Tangan wanita itu langsung terangkat dan menampar pipinya dengan keras. Rasa perih menjalar di rahangnya, tapi dia berhasil menahan tangan itu tepat saat wanita itu mencoba memukul lagi.
Wanita itu mendorongnya hingga dia melepaskan cengkeraman.
"Kamu benar. Aku punya banyak sekali orang kayak gitu. Banyak orang mencintaiku!" Mata wanita itu menatapnya, terlihat hancur dan bingung. "Dengan cara yang salah." Suaranya tercekat, lalu dia berlari keluar kamar mandi dengan marah.
Adden memijat hidung dan menempelkan telapak tangan di pipinya untuk meredakan rasa panas. Dia bertanya-tanya kenapa bisa mengucapkan hal sepedas itu.
Alih-alih mendapatkan apa yang diinginkan, Adden justru melihat ekspresi wajah yang tak pernah dibayangkan. Begitu banyak kesedihan di sana, membuatnya heran bagaimana wanita itu masih sanggup bertahan.
Adden keluar kamar mandi dan melihat suasana rumah Issac yang sangat ramai. Orang-orang menari dan bergoyang, sementara matanya terus mencari sosok itu. Kata-kata wanita itu terus bergema di kepalanya.
Persetan dengan hidupnya.
Saat itulah dia melihat Jojo.
"Hei, bro. Kamu lihat Messy nggak?"
Jojo meneguk birnya. "Iya, kayaknya dia tadi ngantar Melody pulang. Dia kelihatan pengen banget pergi dari sini."
Adden mengangkat bahu, berpura-pura tidak peduli. "Yah, sialan."
Jojo mengangguk, matanya mengelilingi ruangan melihat gadis-gadis yang melambai. Beberapa bahkan melirik dengan makna tertentu. Clarinne memang bergerak cepat.
"Denger-denger kamu sama Clarinne, ya?"
"Iya, nggak perlu usaha banyak sih. Cuma hubungan santai biasa."
"Separah itu?"
Jojo tahu itu terlalu mudah. Beberapa cewek tidak sadar kalau cowok butuh tantangan.
"Memang."
Jojo meneguk birnya lagi lalu mencondongkan badan. "Setidaknya sekarang Mihoy bakal ngejauh, atau paling nggak dia akhirnya ngerti kalau kamu nggak terobsesi sama dia."
"Terserah, bro. Dia udah ada gunanya buat aku, dan begitu juga sebaliknya. Nggak ada masalah."
Padahal, ada satu gadis yang sudah dia tempelkan ke pintu tepat setelah bercinta dengan wanita lain lima menit sebelumnya.
Satu-satunya yang terbayang adalah kelembutan kulit Melody, rasanya hangat saat ada dalam pelukannya. Namun, sebuah pikiran menghantam kepala Adden keras-keras.
Ada orang brengsek yang menyentuhnya tanpa izin. Mereka berani menyakitinya.
Hanya memikirkannya saja, tangan Adden terkepal kuat. Seharusnya dia tidak peduli. Melody bukan urusannya dan tidak akan pernah menjadi urusannya lagi. Tapi dia teringat mimpi buruknya tentang seorang gadis.
bukan kakaknya