Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Sinar matahari pagi yang samar perlahan menerobos masuk melalui celah gorden besar di ruang VVIP.
Bip bip bip.
Suara monitor jantung berbunyi teratur, menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan. Di atas ranjang, kelopak mata Zara bergerak perlahan. Kesadarannya kembali seperti serpihan puzzle yang dikumpulkan satu per satu. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pening yang samar di kepalanya, disusul rasa kaku dan sedikit perih dibagian lehernya.
Zara melenguh pelan, mencoba menggerakkan jemarinya. Saat itulah ia menyadari bahwa tangan kanannya terasa hangat. Sesuatu yang besar, namun begitu lembut sedang menggenggam jemarinya.
Perlahan, Zara membuka mata sepenuhnya. Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokus. Mengunci sosok pria yang duduk di kursi tepat di samping ranjangnya. Itu Benedict.
Pria itu sudah berganti pakaian, ia kini mengenakan kemeja abu-abu. Garis-garis kelelahan terlihat jelas di wajahnya. Rahangnya ditumbuhi rambut-rambut halus tipis, dan ada bayangan gelap di bawah matanya.
Begitu menyadari ada pergerakan dari jemari Zara, Benedict langsung menegakkan tubuhnya.
“Zara,” panggil Benedict, suaranya serak.
Zara menatap pria itu dengan mata yang masih setengah mengantuk dan sembap. Ingatan tentang kejadian mengerikan kemarin seketika berputar kembali di kepalanya.
“Tu…an….” ucap Zara parau, tenggorokannya terasa sangat kering.
Benedict langsung meraih gelas berisi air putih di meja nakas. Ia menyusupkan tangan kirinya di bawah tengkuk Zara dengan sangat hati-hati, membatu gadis itu sedikit bangkit, lalu mengarahkan sedotan ke bibir Zara. Zara meminumnya perlahan, membiarkan cairan itu membasahi kerongkongannya. Setelah itu Benedict meletakkan kembali gelas tersebut, lalu membantu Zara bersandar pada bantal yang sudah ditinggikan.
“Bagaimana perasaanmu? ada yang sakit?” tanya Benedict pendek. Nada suaranya dingin, namun matanya langsung turun memeriksa perban putih yang melingkari leher Zara.
Zara menggeleng pelan, tangannya bergerak menyentuh perban di lehernya sendiri.
“Hanya….. sedikit perih. Aku dimana?”
“Rumah sakit. Kau aman disini,” jawab Benedict, kembali duduk dikursinya.
Zara menatap Benedict. “Kau tidak tidur semalaman?.”
Benedict memalingkan wajahnya sekilas ke arah jendela. “Ada banyak dokumen yang harus ku periksa,” jawabnya dingin.
“Maaf,” lirih Zara tiba-tiba, menunduk menatap selimut rumah sakit. “Gara-gara aku…. kau harus terlibat kekacauan ini. Toko rotiku hancur, dan aku….. aku malah pingsan dan merepotkanmu.”
Mendengar ucapan Zara, rahang Benedict seketika mengatup rapat. Genggaman tangannya di atas lutut mengencang hingga urat-uratnya menonjol. Bagaimana bisa gadis yang lehernya hampir di gorok ini justru meminta maaf kepadanya?.
“Tidak perlu minta maaf,” potong Benedict, suaranya sedikit meninggi namun tetap tertahan. “Kau berada di situasi itu karena aku.”
Zara tersentak pelan. “Apa maksudmu?”
“Orang-orang yang menyerangmu bukan perampok. Mereka sengaja dikirim musuhku,” ucap Benedict dengan nada datar. “Duniaku selalu berbahaya. Dan kemarin, kau hampir mati karena kau adalah istri seorang Benedict Franklin. Mungkin mereka pikir kau adalah kelemahanku.”
Zara menunduk, meremas ujung selimutnya. Namun, alih-alih menarik diri karena takut, Zara justru teringat bagaimana Benedict memeluknya dengan hangat kemarin.
“Tapi kau datang,” ucap Zara, mendingan menatap Benedict dengab mata yang basah. “Kau bisa saja membiarkanku mati, tapi kau datang menyelamatkanku.”
Benedict terpaku, kehilangan kata-kata untuk sesaat. Zara mengulurkan tangannya yang terpasang jarum infus, perlahan menyentuh punggung tangan Benedict.
“Dan aku tahu, kau tidak akan membiarkan mereka menyakitiku lagi.”
Sentuhan hangat tangan Zara seolah meruntuhkan sebagian dinding es yang dibangun Benedict. Pria itu menatap tangannya yang disentuh Zara, lalu beralih menatap sepasang mata gadis itu. Benedict tidak menarik tangannya lagi. Perlahan, ia membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman Zara.
“Mereka tidak akan punya kesempatan kedua, Zara” ucap Benedict dingin. “Aku sudah menempatkan penjagaan terbaik untukmu”
Zara mempererat remasan jarinya pada telapak tangan Benedict, membuat pria itu sedikit menaikkan sebelah alisnya.
“Lalu…. bagaimana dengan keamananmu sendiri?” tanya Zara, nada suaranya dipenuhi rasa cemas.
Benedict tidak menduga arah pembicaraan Zara. “Keamananku?”
“Kalau mereka bisa melacakku dan melakukan hal senekat itu hanya untuk memancingmu, artinya mereka juga bisa melakukan hal yang lebih buruk padamu. Kau… kau juga dalam bahaya, kan?”
Benedict perlahan menarik tangannya dari genggaman Zara.
“Kau sedang mencemaskan orang yang salah, Zara,” ucap Benedict.
“Aku tidak sedang bercanda, Tuan!” potong Zara kesal, merasa pria ini terlalu meremehkan situasi yang kemarin hampir merenggut nyawa mereka.
“Aku juga tidak sedang bercanda,” sahut Benedict, ada kedutan samar di bibirnya.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di depan dada sembari menatap Zara. Ada rasa senang yang menggelitik dadanya saat menyadari gadis di depannya ini justru lebih mencemaskan nyawanya ketimbang luka di leher sendiri.
“Kau baru saja lolos dari maut, Zara, dan hal pertama yang kau pikirkan adalah keselamatanku?” Benedidt tertawa pendek. “Aku tidak tahu harus terharu atau heran dengan jalan pikiranmu.”
Zara merengut kesal, merasa pria ini sengaja mengalihkan topik. “Tuan, aku serius—“
“Aku jauh lebih serius,” potong Benedict dengan nada santai. “Diluar pintu itu, ada puluhan pria berbadan besar dengan senjata lengkap yang kubayar mahal untuk memastikan keamananku. Dan mereka ada di setiap sudut kota.”
Benedict mencondongkan badannya ke depan, menopang dagunya dengan satu tangan diatas ranjang, menatap Zara dengan binar jenaka yang tipis di matanya.
“Jadi, daripada kau memikirkan nasib pria yang punya banyak pengawal, lebih baik kau pikirkan nasib dirimu sendiri. Fokus saja pada pemulihanmu.”
Mendengar kesombongan Benedict yang dibalut humor tipis itu, Zara tidak bisa menahan senyumnya. Rasa takut yang sejak kemarin menghimpit dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh rasa geli melihat sisi lain dari Benedict yang biasanya kaku bak patung es.
Zara sengaja memiringkan kepalanya sedikit, menatap balik Benedict dengan binar jenaka yang menantang.
“Sebenarnya, aku tidak perlu terlalu takut,” ujar Zara santai. “Aku yakin kau akan melindungiku.”
Benedict menaikkan sebelah alisnya. Ia mempertahankan posisinya yang menopang dagu, menatap Zara dengan senyum simpul yang tertahan disudut bibir.
“Oh, ya?” sahut Benedict. “Kenapa kau seyakin itu aku akan melindungimu?”
Zara merapikan sedikit selimutnya, berlagak anggun sebelum menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Benedict dengan berekspresi seyakin mungkin.
“Karena aku cantik,” jawab Zara polos tanpa beban.
Keheningan sempat melanda kamar VVIP itu selama dua detik.
Benedict terpaku. Ia kehilangan kata-kata karena jawaban seorang wanita yang baru saja lolos dari maut. Detik berikutnya, tawa lepas lolos begitu saja dari bibir pria itu.
Zara tidak mengalihkan pandangannya. Ia menatap lekat-lekat wajah Benedict yang tengah tertawa.
Saat tawa renyah Benedict mereda, pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menegakkan tubuh.
“Aku suka mendengar suara tawamu,” lirih Zara. “Dan melihat bagaimana matamu tersenyum.”