NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Pelarian

Hawa panas akibat ledakan di ruang server masih terasa membakar punggung mereka saat Adrian, Elena, dan tim taktis merangkak keluar dari celah tebing timur. Sinar fajar berwarna jingga kemerahan mulai merekah di ufuk timur, perlahan mengusir kegelapan di Pulau Karang Hitam. Namun, pemandangan matahari terbit yang indah itu sama sekali tidak membawa ketenangan. Sirine darurat pangkalan musuh kini melolong keras di seluruh penjuru pulau, menggema membelah deburan ombak.

Syndicate sudah mengetahui kalau jantung pertahanan digital mereka telah lumpuh total.

"Cepat turun! Tali pengaman masih terpasang!" perintah Adrian dengan suara bariton yang terengah namun tetap tegas.

Tanpa membuang waktu, mereka meluncur turun menggunakan tali karmantel menuju pelataran batu karang tempat perahu karet hitam disembunyikan. Gerakan Elena jauh lebih cepat sekarang. Dorongan adrenalin dan kepanikan membuat rasa lelah di otot-otot tubuhnya menguap entah ke mana. Di dalam saku jaket taktisnya, flash disk berisi dokumen hitam pembunuhan ayahnya terasa begitu berat, seolah membawa beban sejarah sepuluh tahun masa lalu.

Begitu semua orang berhasil melompat ke atas perahu karet, Hendra langsung menyalakan mesin motor senyap bertenaga jet air. Perahu karet itu melesat cepat membelah permukaan laut, meninggalkan kaki tebing yang curam. Target mereka cuma satu, mencapai lambung kapal The Obsidian yang berjarak dua mil laut di depan sana dan segera pergi dari perairan internasional ini.

Namun, baru saja perahu mereka bergerak sejauh beberapa ratus meter, sebuah suara raungan mesin kapal berkapasitas besar mendadak terdengar memekakkan telinga dari arah balik tanjung pulau.

"Tuan Adrian! Dua kapal patroli cepat jenis interceptor musuh muncul dari dermaga barat!" teriah Hendra sambil memutar tuas kemudi perahu karet ke arah kiri dengan sentakan ekstrem demi menghindari sorotan lampu tajam dari kapal musuh.

Dua kapal baja berukuran sedang milik musuh melaju dengan kecepatan luar biasa gila, memotong ombak pagi dan langsung mengunci posisi perahu karet Adrian. Di atas dek kapal musuh, beberapa tentara bayaran berpakaian taktis lengkap sudah bersiap di balik senapan mesin berat laras ganda.

TATATATATATATATATA!

Rentetan peluru kaliber besar langsung menghujani permukaan laut di sekitar perahu karet, menciptakan cipratan air raksasa setinggi dua meter yang membasahi sekujur tubuh Elena dan Adrian. Salah satu peluru bahkan sempat menyerempet bagian karet pelampung sisi kiri perahu hingga mengeluarkan suara desisan udara yang bocor.

"Perahu kita bocor! Kita tidak bakal sampai ke The Obsidian kalau terus-menerus ditembaki seperti ini!" teriak Elena di tengah bisingnya suara tembakan dan deru angin laut. Ia mencengkeram erat pinggiran perahu dengan wajah yang basah oleh air garam.

Adrian yang duduk di samping Elena langsung bertindak. Pria bertubuh tegap itu merebut senapan serbu otomatis berperedam milik salah satu prajuritnya yang sudah gugur semalam. Ia berdiri dengan posisi kaki yang kokoh menahan guncangan perahu, lalu mengarahkan laras senjatanya ke arah tangki bahan bakar cadangan yang terlihat menggantung di bagian buritan kapal musuh terdepan.

BANG! BANG! BANG!

Tiga tembakan presisi dari Adrian dalam kondisi perahu yang bergoyang hebat itu benar-benar membuktikan kelasnya sebagai mantan penembak jitu. Peluru tajamnya menembus dinding besi tangki bensin musuh, memicu percikan api internal.

BOOM!

Kapal patroli pertama musuh seketika meledak hebat, berubah menjadi bola api raksasa di atas air yang langsung menahan pergerakan kapal kedua di belakangnya.

Namun, sisa satu kapal musuh yang selamat langsung membalas dengan melemparkan sebuah granat asap taktis ke arah perahu karet mereka.

POOF!

Asap kelabu tebal yang sangat pekat mendadak menyelimuti pandangan mereka. Di tengah kabut fajar dan asap tebal itu, kapal kedua musuh melakukan manuver nekat dengan menabrakkan lambung besi mereka ke arah perahu karet Adrian yang mulai mengempis.

BRAAAKK!

Benturan keras itu membuat perahu karet mereka terbalik total. Elena tidak sempat berpegangan; tubuh rampingnya langsung terlempar bebas dan jatuh terhempas ke dalam air laut samudra yang teramat dingin dan dalam.

BLUB! BLUB!

Elena tenggelam beberapa meter di bawah permukaan air. Rasa dingin yang menusuk tulang langsung melumpuhkan seluruh indra geraknya sejenak. Pandangannya di dalam air buram karena gelembung udara, dan ia bisa melihat bayangan hitam lambung kapal musuh yang melintas tepat di atas kepalanya. Elena berusaha mengepakkan kakinya untuk naik ke permukaan, namun sabuk perlengkapan taktisnya yang berat mendadak tersangkut di seutas tali nilon jangkar perahu karet yang putus, menarik tubuhnya makin dalam ke dasar laut.

Napas Elena mulai habis, paru-parunya terasa mau pecah karena kekurangan oksigen. Di tengah keputusasaan yang teramat sangat itu, sebuah siluet tubuh besar mendadak berenang cepat menembus kegelapan air laut ke arahnya.

Itu Adrian.

Pria itu tidak memedulikan luka tembak di lengannya yang kini pasti sudah terbuka lagi dan menumpahkan darah di dalam air. Dengan menggunakan pisau komando di tangan kirinya, Adrian memotong tali nilon yang melilit sabuk perlengkapan Elena dalam satu gerakan tebasan yang kuat. Setelah tali itu terlepas, Adrian langsung merengkuh pinggang Elena, menarik tubuh wanita itu dengan sangat erat ke pelukannya, lalu membawa mereka berdua berenang sekuat tenaga naik menuju permukaan air.

BYURR!

Elena dan Adrian berhasil memecah permukaan air, menghirup udara pagi dengan napas yang memburu hebat dan terbatuk-batuk karena sempat meminum air garam. Di sekitar mereka, Hendra dan kru yang tersisa ternyata sudah berhasil menguasai situasi dengan menembak mati sisa tentara bayaran di atas kapal patroli kedua musuh. Kapal baja milik musuh itu kini sudah diambil alih sepenuhnya oleh Hendra.

"Tuan! Nyonya! Pegang tali ini!" teriak Hendra dari atas dek kapal rampasan tersebut sambil melemparkan seutas tali tambat ke arah mereka.

Adrian membantu mendorong tubuh Elena terlebih dahulu agar bisa memanjat naik ke atas dek kapal baja, baru kemudian ia menyusul naik dengan sisa tenaga yang ada. Begitu kaki mereka menapak di atas dek yang kokoh, Elena langsung jatuh terduduk lemas sambil memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat karena kedinginan.

Adrian yang kondisinya tidak kalah berantakan, dengan kaos taktis hitam yang basah kuyup menempel di otot dada bidangnya dan darah segar yang mengalir dari perban lengannya, langsung berjalan cepat mendekati Elena. Tanpa memedulikan pandangan Hendra atau anak buahnya, Adrian berlutut dan langsung menarik Elena ke dalam dekapan dadanya yang teramat hangat dan protektif.

"Kamu aman, Elena. Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan samudra ini mengambilmu dari sisiku," bisik Adrian dengan suara bariton yang bergetar hebat karena rasa cemas yang baru saja menguras emosinya. Tangan besarnya mendekap erat kepala Elena, menenggelamkan wajah istrinya di ceruk lehernya yang hangat.

Elena mencengkeram erat pundak basah Adrian, merasakan detak jantung suaminya yang berdegup sangat kencang, sama liarnya dengan detak jantungnya sendiri. Di bawah siraman sinar fajar yang kini sudah menerangi seluruh perairan internasional secara utuh, Elena tahu bahwa mereka berdua baru saja lolos dari lubang jarum kematian yang paling mengerikan.

"Hendra... pacu mesin kapal ini maksimal menuju The Obsidian. Kita pulang sekarang juga," perintah Adrian dingin tanpa melepaskan pelukannya pada Elena.

"Siap, Tuan!"

Kapal baja rampasan itu melaju kencang meninggalkan Pulau Karang Hitam yang kini dipenuhi oleh asap hitam sisa ledakan dari kejauhan. Di atas dek kapal yang bergerak membelah sinar fajar, sebuah kemenangan mutlak atas Syndicate resmi mereka bawa pulang. Bukti kejahatan sudah terkunci di dalam saku, dan babak baru pembalasan legal di dunia bisnis internasional siap mereka deklarasikan begitu kaki mereka kembali menginjak tanah air.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!