Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Pengganti
"Kamu... Kamu ngapain bawa aku ke sini, bangsat?!" teriak Clara dengan amarah yang mendidih.
"Pertanyaan yang bagus. Kita memang tidak perlu berbasa-basi, Clara," ujar Delon sembari menunduk. Ia mencengkeram dan mengangkat dagu gadis itu dengan kasar agar menatap ke arahnya.
Sebuah seringai picik tercetak jelas di bibir cowok itu. "Jangan berlagak tidak suka, bukankah ini yang kamu harapkan dari dulu?" bisiknya tepat di telinga Clara, sebuah suara rendah yang berat dan mengintimidasi.
Bulu kuduk Clara seketika meremang hebat, apalagi cowok itu dengan sengaja meniup matanya agar terpejam.
"Aku membawa kamu ke sini karena aku mau kamu," jawab Delon santai.
"Hah, omong kosong! Kamu mau Aurin! Kamu mau sepupuku, bukan aku! Lepaskan aku, Delon, ambil saja sepupuku itu!!" ujar Clara dengan suara tertahan dan napas yang memburu.
"Bagus, kamu memang pintar memahami sesuatu. Jadi, Clara... yang aku mau memang Aurin, bukan kamu. Tapi karena Aurin kabur dari rumah, maka kamu... kamu harus menjadi penggantinya sebelum aku menemukan gadisku itu!" ujar Delon dengan tatapan tajam menghujam. Ia mengempaskan tangannya dari dagu Clara, kemudian kembali berdiri tegak.
"Bawa dia untuk melihat kedua orang tuanya dulu. Mereka harus tahu bahwa anak kebanggaan mereka yang berprestasi, yang nyatanya berprestasi di balik kepintaran orang lain, sekarang sudah pulang!" titah Delon sebelum berjalan menjauh dan melangkah keluar dari sana.
Clara mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Ia hanya bisa pasrah saat anak buah Pak Broto kembali menyeret tubuhnya menuju ke sebuah ruangan lain yang berada di sudut gudang.
Begitu pintu ruangan itu terbuka dan tubuhnya didorong masuk, wajah Clara kembali syok mendapati pemandangan di depannya. Ia melihat kedua orang tuanya dalam kondisi mengenaskan dengan tubuh yang terikat kuat di sana.
"Clara... Tolong, tolong lepaskan Mama... Lepaskan Mama, sayang!"
Bibi Lula langsung terlonjak dari posisinya. Wanita itu memohon bantuan begitu menyadari bahwa sosok yang baru saja didorong masuk ke dalam ruangan pengap itu adalah putrinya sendiri.
Clara duduk mematung di atas lantai. Pandangannya terpaku lurus ke arah kedua orang tuanya dengan tatapan kosong.
"Nak, kamu sudah kembali?" Suara Paman Aryo terdengar rendah dan lembut. Pria itu menatap putrinya yang diperlakukan dengan kasar dengan gurat wajah yang tampak begitu sendu.
"Mama... Papa... Kenapa kalian bisa ada di sini juga? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian diikat seperti ini?" tanya Clara beruntun. Ia langsung bangkit berdiri dan berlari mendekati kedua orang tuanya setelah berhasil menguasai diri dari rasa terkejut yang sempat melumpuhkannya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Clara bergegas melepaskan ikatan tali yang melilit tubuh kedua orang tuanya. Namun, sekalipun ikatan itu telah terlepas, mereka tetap tidak bisa berbuat banyak untuk meloloskan diri keluar dari sana. Di balik pintu ruangan yang pengap dan temaram tersebut, beberapa anak buah Pak Broto masih berdiri tegak berjaga dengan ketat.
Begitu tangannya terbebas, Paman Aryo langsung menarik tubuh putri kebanggaannya itu ke dalam sebuah pelukan hangat.
"Kamu sampai jam berapa, sayang? Maafkan Papa karena tidak bisa datang untuk menjemputmu di bandara," ujar pria itu sembari mengecup pucuk kepala putrinya berkali-kali, melampiaskan rasa bersalahnya.
"Jangan menanyakan hal itu dulu, Pa. Jawab dulu pertanyaan Clara yang tadi. Kenapa kalian bisa ada di sini? Kenapa kalian sampai disekap di tempat ini oleh Delon? Dan Aurin... di mana perginya anak itu sekarang?" tanya Clara dengan rentetan pertanyaan yang didorong oleh rasa penasaran yang tinggi.
"Anak sialan itu... Dia kabur dari rumah, sayang! Sampai sekarang dia bahkan belum berhasil ditemukan," ujar Bibi Lula dengan nada suara yang menggebu-gebu, meluapkan kemarahannya pada sang putri.
"Kabur? Bagaimana bisa? Apa saja yang sebenarnya aku lewatkan selama aku berada di luar negeri, Ma?" tanya Clara semakin tidak mengerti.
.
.
Bibi Lula pun mulai menceritakan semua kronologi kejadiannya secara detail. Ia menceritakan kembali momen sore itu saat Pak Broto datang ke rumah mereka untuk menagih utang dalam jumlah besar, dan menginginkan Aurin sebagai alat tebusan untuk melunasi semuanya. Namun, Aurin menolak mentah-mentah kesepakatan tersebut, bahkan nekat melarikan diri meskipun sebelumnya sempat dikurung di dalam kamarnya sendiri.
"Gadis pembawa sial yang tidak tahu diuntung! Bisa-bisa nya dia nekat kabur dari rumah!" geram Clara dengan napas memburu. "Lalu, kenapa Mama sama Papa yang harus dibawa dan ditahan di tempat menjijikkan ini?"
"Sebagai jaminan dan tahanan sebelum Aurin berhasil dibawa kemari, Clara!" jawab mamanya dengan nada yang tidak kalah geram.
Rasanya Bibi Lula ingin sekali mencekik leher Aurin jika gadis tidak tahu diri itu sudah berhasil diseret pulang nanti. Gara-gara keras kepala keponakannya itu, mereka semua sekarang harus mendekam di sini dan merasakan penderitaan selama beberapa hari belakangan. Apa susahnya menuruti perintah dan mau menikah dengan Delon sebagai bentuk balas budi kepada keluarga mereka, pikir Bibi Lula yang terus-menerus merutuki keponakannya itu di dalam hati.
"Tenang saja, Ma. Clara pastikan Aurin tidak akan bisa pergi jauh. Dia pasti akan pulang untuk mencari makan. Memangnya dia bisa bertahan hidup di luaran sana tanpa uang dan makanan untuk mengisi tubuhnya yang kurus kering itu? Dia pasti akan segera pulang. Lagipula, dia juga harus tetap bersekolah, kan?" Sebuah senyuman licik tercetak jelas di bibir Clara.
"Clara... Jangan memikirkan hal apa pun, apalagi sampai berencana untuk menjebak dan membawa Aurin kemari..." potong papanya dengan suara pelan yang terdengar letih.
Clara mendelik tajam. Ia menatap tidak suka ke arah pria paruh baya itu. "Kenapa tidak boleh? Memangnya Papa mau terus-menerus berada di dalam gudang tua ini?"
Paman Aryo mengangguk pelan. "Papa yang seharusnya menanggung semua ini, Clara. Papa tidak boleh egois. Aurin tidak mau menikah dengan Delon, dan kita sama sekali tidak memiliki hak untuk memaksanya. Lagipula, uang yang kita pinjam dari Pak Broto adalah uang untuk keperluan hidup kita, untuk keperluan belanja kalian, bukan untuk keperluan Aurin," ujar pria itu, mencoba mengingatkan fakta yang ada.
"Ck, Papa selalu saja begitu! Selalu membela gadis itu, makanya Aurin menjadi semakin keras kepala sekarang!" bentak istrinya, tidak terima dengan pembelaan sang suami.
"Kenapa dia tidak boleh dijadikan penebus utang? Ingat ya, Pa, anak itu sudah sejak kecil menumpang hidup bersama kita! Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, kita yang memungut dan memeliharanya di rumah kita. Hingga sekarang dia bisa bersekolah dengan layak dan tumbuh besar, itu semua adalah atas hasil kerja keras kita! Seharusnya dia menjadi gadis yang tahu malu dan tahu cara membalas budi! Permintaan kita tidak banyak, cukup menurut saja. Anggap itu sebagai balasan karena sudah memeliharanya selama ini dengan menjadikan dirinya sebagai penebus utang kita. Tapi ini... hal kecil seperti itu saja membuatnya nekat kabur!" ujar istrinya dengan kalimat menggebu yang sarat akan amarah yang meluap-luap.
Paman Aryo mengurut keningnya perlahan. Berbicara dengan istrinya itu memang selalu saja menguras tenaga dan emosinya. Pria paruh baya itu kemudian beralih menatap sang putri dengan sorot mata cemas yang begitu dalam.
"Clara, dengarkan Papa sekarang! Kamu harus pergi dari sini. Kabur seperti yang dilakukan Aurin, jangan sampai Delon dan ayahnya menjadikan kamu—"
"Sudah selesai temu kangennya, Baby? Sekarang giliranku yang meluapkan rasa kangen," suara Delon tiba-tiba saja memotong pembicaraan mereka dengan nada sinis.
Cowok itu melangkah masuk kembali ke dalam ruangan dengan santai. Tanpa aba-aba, ia langsung menarik lengan Clara dengan sangat kasar dari hadapan kedua orang tuanya. Delon kemudian menunduk dalam, mengangkat tubuh Clara begitu saja ke atas pundaknya dengan satu gerakan mudah.
Ia melangkah lebar keluar dari ruangan pengap itu tanpa menghiraukan Clara yang terus berteriak lantang sembari memukul pundak tegapnya dengan brutal.
"Turunkan! Bangsat! Turunkan aku sekarang juga!" teriak Clara histeris.
"Iya, nanti pasti akan diturunkan. Tapi di atas ranjang agar tubuhmu tidak terasa sakit," jawab Delon dengan nada santai, sama sekali tidak terganggu dengan pemberontakan gadis di pundaknya.
Pria itu membawa Clara melintasi halaman belakang menuju bangunan kediaman utama yang besar dan mewah tersebut, lalu melangkah pasti membawa sang gadis masuk ke dalam kamarnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...