NovelToon NovelToon
Cinta Dan Gairah

Cinta Dan Gairah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Model / Obsesi / CEO / Romantis
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Li Qiqiu

Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

~ Terkadang, seseorang hanya membutuhkan satu alasan untuk ia bertahan hidup. ~

Angel meraih gelas berisi air putih, meminumnya hingga tandas. Ia turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi, menyalakan shower, dan berdiri di bawahnya. Ia mencoba menyadarkan dirinya dan mengingat kembali apa yang terjadi selama dua hari kemarin.

Hancur sudah.

Reputasi yang ia bangun selama ini hancur dalam semalam. Komentar-komentar yang memfitnahnya, begitu menyakitkan. Meskipun dia tahu bahwa semua itu tak benar dan itu hanya spekulasi orang-orang yang tidak mengenalnya, tapi tetap saja mampu membuat hatinya sakit seperti ditusuk pisau panjang tepat di jantungnya.

Angel menatap kosong dinding kamar mandi, dibawah guyuran air, ia terduduk tanpa bisa memikirkan apapun. Satu hal yang ingin ia lakukan...

Menghilang dari dunia ini...

Mama dan Papa sudah pergi, ia tak memiliki siapapun lagi. Tak ada lagi orang yang akan membelanya habis-habisan.

Tak ada lagi orang yang akan memberinya pelukan saat ia menangis.

Tidak ada.

Jadi, bukankah lebih baik jika ia ikut menyusul mereka?

Tak ada lagi alasan untuknya tinggal lebih lama.

***

Entah sudah berapa lama ia tertidur, seingatnya ia berada di kamar mandi tadi. Tiba-tiba saja ia sudah di atas kasur dengan selimut yang melingkupinya. Ah, juga baju yang sudah terganti.

Angel melihat sekeliling, ia melihat Darren yang tengah mengobrol bersama seorang perempuan yang memakai seragam sekolahnya.

"Darren, kau di sini? Bukankah seharusnya kau ke sekolah?" Angel bertanya lirih, ia mencoba mendudukkan dirinya.

Darren mendekat dengan ekspresi paniknya. "Apa yang kau lakukan? Kau mencoba mengakhiri hidupmu?"

"Tidak, aku hanya mandi, apa itu salah?" Angel tersenyum kecut, pikiran mengakhiri hidup memang sempat terlintas di benaknya. Namun, ia tidak akan jujur kepada Darren. Ia tidak akan pernah menunjukkan kelemahannya di depan orang lain terkhusus Darren.

"Kau mandi tanpa melepas pakaianmu? Aku bukan orang bodoh Angel. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya bahwa aku akan selalu berada di sisimu? Mengapa saat terjadi masalah besar malah kau tidak mengatakan apapun padaku?" cecar Darren menuntut jawaban.

Darren tahu, Angel hanya mempunya beberapa teman dekat termasuk dirinya. Mereka berdua selalu bersama sejak kecil. Sehingga Darren merasa ada kewajiban untuk melindunginya, apalagi Angel saat ini hidup sendirian.

"Aku sudah membaik, kau pergilah ke sekolah."

"Apa-apaan kau Angel?! begitu aku mendengar kabarmu aku langsung kemari. Kau tahu betapa paniknya aku saat mengetuk rumahmu tapi tak ada jawaban? Untung saja kau pernah memberi tahuku pin rumah, jika tidak, aku pasti sudah memanggil teknisi perusahaan untuk ke sini."

Angel menundukkan kepalanya, seperti anak yang diomeli ibunya. Sesekali ia melihat Darren, lalu gadis di sampingnya.

"Dan aku menemukanmu pingsan di kamar mandi dengan shower menyala dan kau basah kuyup. Kau tahu? Rasanya jantungku hampir lepas. Kau benar-benar membuat semua orang kelimpungan, Angel." Darren menghembuskan nafasnya kasar, mencoba meredam emosinya yang sedari tadi ia coba tahan dan akhirnya lepas ketika berhadapan dengan Angel.

"Darren menelponku, memintaku datang untuk membantumu mengganti pakaianmu," sela gadis itu. Suaranya lirih dan menenangkan. "Bimala. Kita satu sekolah, aku kelas XII IPA 5." Bimala menyodorkan tangannya sebagai tanda perkenalan disertai dengan senyum tipisnya.

Angel menyambut tangannya. "Angel, satu kelas dengan Darren."

***

Angel memaksa untuk mereka berdua pergi ke sekolah dan tak perlu khawatir dengan keadaannya. Ia sudah merasa lebih baik.

Setidaknya di dunia ini ia masih memiliki Darren dan Avy teman terdekatnya yang ia larang untuk datang. Angel merasa bahwa sekolah itu lebih penting.

Kini, ia sendirian lagi di rumah.

Ia melangkahkan kakinya menuju dapur, perutnya lapar sekali. Membuka kulkas dan hanya ada beberapa butir telur serta susu.

Setelah dipikirkan kembali, Darren juga generasi ke-3 Xun Yi Group. Ayah Darren adalah CEO dan pewaris utama Xun Yi Group. Jadi, William adalah saudara sepupu Darren.

Angel tersedak oleh susu yang diminumnya. "Lalu mengapa selama ini aku tidak pernah bertemu dengan William? Darren juga tidak pernah memperkenalkannya padaku."

Memangnya apa yang ia harapkan? Ia memanglah berteman dengan Darren, tapi tidak sampai ia sering bermain ke rumahnya.

Ketika keluarga Wijaya mengadakan pesta, ia sibuk dengan sekolahnya, sehingga tidak ada kesempatan untuk pergi.

Ternyata, sejauh itu perbedaan ia dan Darren. Dulu, orang tuanya hanya pekerja di Xun Yi Group, sekarang sudah bukan lagi. Semakin besar pula perbedaan di antara mereka.

Bel rumah berbunyi, membuat lamunannya terhenti. Ia mematikan kompor dengan telur yang hampir gosong. Berjalan ke depan, lalu membuka pintu.

Sosok yang tak ingin ia lihat malah menunjukkan batang hidungnya. Angel menatap tajam William, mukanya memerah karena emosi yang sedari tadi ia tahan.

Cepat, Angel segera menutup kembali pintu rumahnya, namun telat tangan dan kaki William sudah menahannya. Di belakangnya, Dimas menatap mereka berdua khawatir. Baru pertama kali ia melihat bos-nya bersikap demikian kepada perempuan. Bukan apa-apa, demi memastikan keadaan Angel baik-baik saja William harus menyewa jet pribadi milik temannya yang memiliki bisnis penerbangan. Dan setelah mendarat mereka langsung menuju rumah Angel. Terlihat sekali bahwa saat ini William sangat lelah.

"Angel, bisakah kau mengizinkanku masuk? Aku ingin bicara denganmu. Aku khawatir padamu," mohonnya pada Angel, kedua tangannya menahan pintu yang hendak ditutup.

"Saya rasa tidak ada yang harus dibicarakan pak. Saya tidak ingin kehadiran bapak di sini hanya menambah konsumsi orang-orang untuk memfitnah saya." Angel berkata dingin. Namun, mengingat kembali komentar-komentar itu membuat air matanya kembali menumpuk.

William yang menyaksikan itu merasa tercubit, ia memaksa masuk, menutup pintu, dan langsung memeluk Angel erat.

Awalnya, Angel mencoba untuk memberontak, namun William begitu kuat memeluknya.

Akhirnya Angel menyandarkan pipinya di dada William, tangisnya seketika pecah. Tangannya memukul dada William, melampiaskan kemarahannya.

"Mengapa kau tega melakukan itu? Apa salahku padamu? Kau membuatku tak mempunyai pilihan selain menghilang dari muka bumi. Kau menghancurkan hidupku," raung Angel disertai isak tangis.

William diam, menerima pukulan ringan Angel serta omelan di sela tangisannya. Sesekali ia mengucapkan kata maaf dan mencium pucuk kepala Angel.

Rasa bersalah yang kini menyelimutinya sungguh membuatnya tak nyaman. Sebab, Ia tidak menyangka hal ini akan terjadi, karena ia sudah meminta Dimas membereskan semuanya, ternyata tetap saja kecolongan.

Angel mengangkat kepalanya, menatap William. "Katakan padaku, apa yang kau inginkan? Tidak bisakah kau melepaskanku? Aku ingin hidup dengan tenang."

William menggeleng. "Maafkan aku atas semua yang terjadi Angel, aku berjanji kejadian ini tidak akan memengaruhi pekerjaanmu ataupun sekolahmu."

"Bagaimana bisa?" Angel melepaskan pelukan kasar, menjauhkan diri dari William. "Jejak digital tidak akan pernah hilang, Pak William. Bapak tahu itu. Dan sekarang bapak meminta saya untuk menganggap semua akan baik-baik saja?" Angel tertawa sarkas, "saya akan baik-baik saja meskipun di luar sana semua orang menganggap saya sebagai perempuan panggilan? Menyedihkan sekali," ucap Angel pelan, air matanya tak berhenti mengalir, nafasnya tersendat, mencoba meraup udara sebanyak mungkin.

Angel mendudukan dirinya, memeluk dirinya sendiri.

William mendekat, mencoba memeluknya lagi.

"Aku akan melakukan apapun untuk melindungimu. Percayalah padaku," yakinnya pada Angel yang dijawab dengan gelengan.

"Aku menyangimu Angel. Aku tidak akan pernah mempermainkanmu. Semua rumor yang beredar tentang diriku tidaklah benar. Jadi, bisakah kau mempercayaiku?"

Angel mengangkat kepalanya, ia menghapus air matanya kasar, "kau lupa bagaimana aku melihatmu pertama kali?" ucapnya dengan suara tenang.

William membeku, ia melupakan fakta tentang hubungannya dengan Sandra.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!