Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Mengunjungi Rumah Yasmin
"Vyan, gue... gue... sebenarnya gue udah punya pacar. Dia di Cirebon. Kita masih berhubungan sekalipun jarak jauh..."
"Lu ngebohongin gue, kan? Kalau iya, kenapa nggak cerita dari awal?"
"Buat apa gue cerita? Lu juga nggak pernah nanya. Vyan, sorry. Pokoknya maafin gue. Gue tahu banyak cewek yang mimpiin elu jadi pacarnya, tapi lu bukan tipe gue. Kalau gue jadi pacar lu, gue pasti selalu takut..."
"Yan! Lo mau ke mana? Sekarang kan ada rapat OSIS!"
Seruan Agil memutus rekaman suara masa lalu yang berputar di kepala Vyan. Vyan menghentikan langkahnya, menarik napas panjang untuk mengusir sisa-sisa sesak dari penolakan itu. Ia memejamkan mata sejenak, menata kembali topeng "Ketua OSIS" yang sempurna sebelum berbalik menghadap Agil.
"Gue udah minta Dean memimpin rapat. Kan dia ketua pelaksananya. Biar dia belajar tanggung jawab," ucap Vyan datar, melanjutkan langkahnya menuju gerbang. "Gue udah bosan terkurung di ruang OSIS. Lu ke sana saja, awasi Dean."
Agil hanya bisa melongo, menatap punggung sahabatnya dengan penuh tanda tanya. Ia tahu ada yang salah, tapi Vyan adalah tipe orang yang akan semakin menjauh jika didesak.
Vyan berjalan menuju gerbang sekolah, dan tepat di sana, ia melihat sosok yang ia cari. Yasmin sedang berjalan pelan, kepalanya menunduk seolah sedang menghitung retakan di aspal. Begitu menyadari keberadaan Vyan, Yasmin terlonjak kaget.
"Kebetulan ketemu di sini. Ayo pergi," ajak Vyan tanpa basa-basi.
"Ke mana?" tanya Yasmin bingung.
"Pulang bareng."
Mata Yasmin membelalak. Ia refleks menoleh ke belakang, di mana Atikah, Reka, dan Cecil sedang berdiri terpaku, memperhatikan mereka dengan tatapan yang bisa membunuh. Yasmin meremas tali tasnya, diliputi kecemasan yang nyata.
"Bareng mereka juga, ya?" bisik Yasmin sambil menunjuk ke arah gerombolan Atikah.
Vyan melirik sekilas ke arah tiga gadis itu. Tatapannya dingin dan tajam, membuat Atikah dan kawan-kawannya segera membuang muka, pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Nggak mungkinlah. Masa naik motor berlima?" Vyan mendengus geli. Tanpa menunggu jawaban lagi, ia menggenggam pergelangan tangan Yasmin—lembut namun tegas—dan menuntunnya menuju tempat parkir.
Yasmin hanya bisa pasrah, meski hatinya mencelos melihat wajah Atikah yang kini berubah drastis menjadi masam. Ia tahu, esok hari di sekolah akan menjadi lebih berat, tapi entah mengapa, genggaman tangan Vyan membuatnya merasa sedikit lebih aman.
"Aku kan sudah janji mau mengajarimu," ucap Vyan setelah mereka sampai di depan motornya. Ia menyodorkan sebuah helm pada Yasmin.
"Nggak perlu, Kak Vyan. Merepotkan..."
"Kenapa? Bukannya kamu mau pintar? Biar kamu tahu kenapa kita harus sekolah, bukan cuma buat mengeluh di buku tulis," goda Vyan.
Wajah Yasmin seketika merona merah. Ia teringat coretan jujurnya yang dibaca Vyan tadi di kelas. "Tapi aku bodoh dan susah pintarnya, Kak. Aku juga... sebenarnya nggak begitu ingin pintar."
Vyan menghentikan gerakannya memakai sarung tangan. Ia menatap Yasmin dengan dahi berkerut, sedikit kesal dengan rasa rendah diri gadis itu yang berlebihan. "Sudahlah, ikut saja. Kita ke rumahmu dulu, minta izin."
"Tapi aku punya janji."
Vyan yang sudah naik ke atas motor menoleh penasaran. "Janji? Sama siapa?"
"Aku sudah janji mengajak Pepi jalan-jalan."
"Pepi itu siapa? Pacar kamu?" tanya Vyan, nada suaranya entah mengapa sedikit berubah.
"Temanku. Di antara semua temanku, Pepilah yang terbaik. Pepi selalu menemaniku dan menghiburku kalau aku sedang sedih."
Vyan terdiam sejenak. Jadi dia sangat baik, ya? batinnya, membandingkan Pepi dengan sosok di masa lalunya yang baru saja menghantui pikirannya.
"Iya," lanjut Yasmin polos. "Kalau Rama dan Sinta kadang nggak peduli sama aku kalau mereka lagi asyik berdua. Terry lucu, manis, dan lincah, tapi dia sering menghilang dan nggak datang kalau dipanggil. Terus Kori... dia nggak bebas pergi."
Vyan mulai menangkap sesuatu. Nama-nama itu... terdengar tidak seperti nama manusia. "Bagaimana kalau kita bawa Pepi jalan-jalan ke rumahku saja?"
Mata Yasmin seketika berbinar, seolah baru saja dijanjikan seluruh isi toko permen. "Benar nggak apa-apa, Kak?"
Vyan mengangguk. "Pepi pasti senang!" seru Yasmin penuh semangat. Tanpa ragu lagi, ia naik ke boncengan motor Vyan, memegang jaket cowok itu dengan ujung jemarinya.
Motor Vyan berhenti di depan sebuah rumah kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan asri. Pagarnya hijau oleh tanaman rambat, memberikan kesan sejuk namun juga menutupi usia bangunan yang sebenarnya sudah cukup tua.
Begitu mereka memasuki pekarangan, dua ekor burung nuri terbang rendah dari dahan pohon, berkicau nyaring seolah sedang menyambut kepulangan sang pemilik. Yasmin mengulurkan tangannya dengan lincah.
"Aku pulang, Rama, Sinta. Apa kabar kalian hari ini?"
Vyan terpaku. Kedua burung nuri itu benar-benar hinggap di lengan Yasmin, mematuk lembut jemarinya sebelum terbang dan hinggap sejenak di atas kepala gadis itu. Mereka terbang bebas, tanpa kandang, tanpa rantai.
"Mereka itu Rama dan Sinta, Kak Vyan. Mereka sepasang kekasih yang sangat setia."
"Ya, aku bisa melihatnya," gumam Vyan takjub.
Tiba-tiba, sebuah bayangan kecil bergerak secepat kilat ke arah lehernya. Vyan merasakan sesuatu yang hangat dan berbulu menyelinap masuk ke balik kemejanya, tepat di bagian perut.
"Waduh! Apa ini?!" Vyan kaget bukan main, dia mencoba meraba-raba di balik kain bajunya yang bergerak-gerak.
"Terry! Nggak sopan!" teriak Yasmin.
Dia segera mendekati Vyan. Dia segera mendekati Vyan lalu mengulurkan tangannya dan menangkap sesuatu dari luar baju Vyan di bagian perut.
"Apa itu, Yasmin?!" Vyan panik sekaligus merasa geli yang aneh.
"Terry, si tupai kecil," jawab Yasmin fokus. "Aku ambil dulu, ya."
Vyan terkejut karena tangan kecil Yasmin masuk ke dalam bajunya melalui celah antar kancing kemeja. Dia menahan napas, merasakan jemari Yasmin yang dingin menyentuh kulit perutnya saat mengambil tupai itu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Biar... biar aku saja," ucap Vyan gugup, wajahnya mulai panas. Dia memegang lengan Yasmin.
"Sudah dapat, Kak... tapi aku tidak bisa mengeluarkan tanganku...," Yasmin mendongak, wajahnya agak panik, menatap Vyan dengan mata bulatnya yang jernih.
Vyan tertegun melihat jarak wajah mereka yang sangat dekat.
"Tanganku nyangkut... " ucap Yasmin lirih. Wajahnya kini merona.
Vyan buru-buru membuka satu kancing kemejanya hingga tangan Yasmin terbebas. Tangannya memegang seekor tupai kecil yang tampak menggemaskan namun nakal. Vyan menghela napas lega saat tupai itu melompat kembali ke pohon.
"Yasmin, sedang apa kamu?" sebuah suara berat memecah suasana.
Vyan refleks mundur karena jarak mereka terlalu dekat. Di ambang pintu, seorang wanita paruh baya berdiri dengan tatapan menyelidik. Wajahnya tampak keras dan sedikit judes.
"Kamu pulang sama teman?"
"Iya, Ibu. Ini Kak Vyan, ketua OSIS di sekolahku."
"Assalamualaikum, Bu..." Vyan memberikan salam dengan senyum paling sopan yang ia miliki. Ajaibnya, gurat kemarahan di wajah ibu Yasmin sedikit melunak.
"Waalaikum salam. Silakan masuk."
Mata wanita itu melirik ke arah kancing baju Vyan yang terlepas satu. Vyan segera mengancingkan jas sekolahnya.
Begitu melangkah masuk ke ruang tamu yang sederhana, seekor kucing abu-abu berbulu lebat langsung menyambut Yasmin, menggesekkan tubuhnya di kaki gadis itu.
"Pepi! Hari ini kita akan jalan-jalan ke rumah Kak Vyan. Ibu, boleh kan aku dan Pepi pergi?"
"E, begini Bu. Saya sudah janji sama Yasmin mau ngajarin Yasmin pelajaran sekolah. Karena itu saya minta ijin ke Ibu mau ngajak Yasmin ke rumah saya."
"Ibu, boleh kan, Bu?" tanya Yasmin.
"Yasmin, ganti baju dulu sana."
"Baik, Bu!" ucap Yasmin tampak senang dan bersemangat. Ia segera masuk ke dalam.
Ibu Yasmin menatap Vyan tajam, suaranya rendah tapi penuh penekanan.
"Nak, tolong tinggalkan Yasmin. Orang mungkin menganggapnya bodoh, tapi jangan anggap aku bodoh. Aku ibunya, tidak mau Yasmin cuma dibodoh-bodohi dan dimanfaatkan karena kecantikannya."