Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21
Vila baru di pesisir Amalfi itu berdiri megah di atas tebing yang seolah-olah dipahat oleh tangan dewa. Dengan arsitektur neoklasik yang didominasi warna putih gading dan balkon-balkon yang menggantung langsung di atas birunya laut Mediterania, tempat ini seharusnya menjadi surga ketenangan bagi siapa pun. Namun, bagi Marcello dan tiga puluh pengawal bersenjata lengkap yang berjaga di sana, vila ini lebih terasa seperti markas komando yang merangkap sebagai salon kecantikan kelas atas.
Di dalam kamar utama yang luasnya nyaris menyerupai aula dansa, Alicia Vallo sedang duduk di depan meja rias bergaya Rococo. Wajahnya tertutup lapisan masker emas murni yang ia pesan khusus dari Korea Selatan. Di sebelah kanannya, sebuah tablet menyala terang, menampilkan rentetan pesan yang masuk secepat detak jantung yang sedang panik.
Grup Chat: "The V-Queens
Donna Maria (Istri Capo Sisilia): Nyonya Vallo, aku baru saja mengirimkan laporan lewat kurir. Don Lorenzo sudah mulai mengumpulkan tanda tangan dari para tetua. Mereka bilang klan Vallo sekarang terlalu "lembut" karena seorang wanita di markas besar.
Alicia: Maria, Sayang... beri tahu suamimu untuk tidak panik. Wajah kusam karena stres hanya akan membuat musuh merasa mereka menang. Pakai serum hyaluronic acid yang kukirim kemarin. Soal Lorenzo, biarkan dia mengumpulkan tanda tangan. Aku sedang menyusun strategi yang lebih tajam daripada pisau lipat Dante.
Sofia (Istri Capo Marseille): Nyonya, timku sudah siap. Kami sudah mengalihkan dana "operasional" dari pengiriman pelabuhan bulan lalu ke yayasan "Kucing Cantik". Semua tercatat sebagai sumbangan untuk konservasi harimau. Bersih, rapi, dan glowing.
Alicia: Kerja bagus, Sofia. Ingat, uang yang kotor adalah fashion disaster. Kita harus selalu tampil elegan, baik di laporan bank maupun di karpet merah.
Alicia meletakkan ponselnya dengan helaan napas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Trimester kedua ini memberinya energi yang meluap-luap, namun juga membuatnya menjadi sangat teliti terutama soal kekuasaan dan estetika. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi hanya menjadi "putri manja" yang bersembunyi di balik punggung lebar Dante. Jika Dante adalah pedang yang menghancurkan musuh, maka Alicia harus menjadi racun manis yang melumpuhkan mereka tanpa mereka sadari.
Pintu kamar terbuka dengan bantingan halus yang menunjukkan si pemilik sedang berusaha menahan amarah. Dante Vallo melangkah masuk. Meskipun ia sudah pulih dari operasinya, ada bekas luka baru yang samar di rahangnya, menambah kesan berbahaya yang selalu ia bawa. Ia mengenakan kemeja linen hitam yang tidak dikancing di bagian atas, memperlihatkan perban yang masih melilit bahunya.
"Alicia," suara Dante rendah, seperti geraman. "Bisa kau jelaskan mengapa tim taktisku di Napoli melaporkan bahwa mereka tertahan di bea cukai selama enam jam?"
Alicia tidak menoleh, ia sibuk meratakan masker emas di dagunya dengan kuas kecil. "Oh, itu? Mungkin karena mereka membawa sepuluh peti kayu berlabel 'Kebutuhan Medis Darurat' padahal isinya adalah micellar water dan sunscreen SPF 50 untuk persediaan kita selama enam bulan ke depan, Dante."
"Alicia! Mereka seharusnya mencegat pengiriman senjata ilegal dari klan Moretti! Tapi mereka malah sibuk berdebat dengan petugas bea cukai tentang apakah cairan pembersih wajahmu mengandung bahan kimia terlarang atau tidak!" Dante berdiri di belakang Alicia, menatap bayangan istrinya di cermin dengan pandangan tak percaya.
"Dante, dengar," Alicia akhirnya berbalik, wajah emasnya tampak berkilau di bawah lampu kristal. "Kulitku sedang sangat sensitif. Jika aku memakai air keran di Amalfi tanpa pembersih yang tepat, wajahku akan berjerawat. Dan kau tahu apa yang terjadi jika aku stres karena jerawat? Aku akan merajuk selama seminggu, tidak mau makan, dan bayi ini akan ikut stres. Kau ingin pewarismu lahir dengan kerutan karena ibunya kurang perawatan?"
Dante memijat pangkal hidungnya. "Kau mengirim pembunuh bayaran profesional orang-orang yang dilatih untuk mematahkan leher dalam tiga detik hanya untuk menjadi kurir kosmetik ilegal?"
"Bukan ilegal, Dante. Hanya 'belum terdaftar'. Dan mereka butuh latihan kesabaran. Menghadapi petugas bea cukai jauh lebih sulit daripada menghadapi musuh di hutan," Alicia berdiri, mendekati Dante dan mengusap dada suaminya dengan manja. "Lagipula, aku menyuruh mereka memakai masker wajah saat berjaga di pos depan. Kasihan mereka, kulit mereka gosong terkena matahari Sisilia kemarin. Mereka butuh regenerasi sel."
"Mereka itu mafia, Alicia! Bukan model majalah pria!" Dante berteriak pelan, namun ia tidak bisa melepaskan tangan Alicia dari dadanya. Ia merasa terjebak di antara kewibawaan sebagai bos besar dan kelemahan totalnya terhadap istrinya yang tidak masuk akal ini.
Ketegangan absurd itu pecah saat Marcello mengetuk pintu dengan ritme darurat. "Bos, Nyonya... Don Lorenzo baru saja tiba di gerbang bawah. Dia membawa dua Capo dari faksi tua. Mereka menuntut pertemuan mendadak."
Wajah Dante seketika berubah. Sisi lembutnya terhadap Alicia menghilang, digantikan oleh aura dingin yang mematikan. "Dia berani datang ke sini tanpa undangan?"
"Mereka membawa dokumen formal, Bos. Tampaknya mereka ingin menggunakan momen peresmian yayasan amal Nyonya besok malam sebagai ajang untuk mengumumkan mosi tidak percaya," Marcello menjelaskan dengan nada tegang.
Alicia melepas masker emasnya dengan satu tarikan cepat sebuah gerakan yang dramatis. Wajah di baliknya tampak cerah dan segar, namun matanya memancarkan kecerdikan yang baru. "Jangan usir mereka, Dante. Suruh mereka masuk. Kita akan menjamu mereka makan siang."
"Makan siang? Alicia, mereka datang untuk menggulingkanku, bukan untuk mencicipi pasta," geram Dante.
"Itulah kesalahanmu, Dante. Kau selalu berpikir soal peluru. Tapi pria tua seperti Lorenzo lebih takut pada reputasi dan rahasia daripada kematian," Alicia berjalan ke lemari pakaiannya, memilih gaun sutra berwarna zamrud yang memancarkan kekuasaan. "Biarkan aku yang mengatur menu dan suasana. Kau cukup duduk di sana, terlihat tampan dan menyeramkan seperti biasa. Biarkan aku yang berbicara."
Satu jam kemudian, di ruang makan yang menghadap langsung ke laut, Don Lorenzo duduk dengan kaku. Pria tua itu memiliki wajah yang kering seperti kertas perkamen dan mata yang penuh dengan kebencian tradisional. Di sebelahnya, dua Capo lain tampak gelisah, tidak terbiasa dengan kemewahan yang "terlalu rapi" di vila Dante.
"Dante," Lorenzo memulai, suaranya serak. "Kami menghormati ayahmu. Kami menghormati sejarah Vallo. Tapi sejak gadis ini masuk di hidupmu, klan ini lebih sibuk mengurus yayasan kucing dan pengiriman krim wajah daripada mengurus pelabuhan."
Dante baru saja akan membuka mulut untuk mengeluarkan ancaman, namun Alicia memotongnya dengan senyum paling manis yang pernah ada. Ia meletakkan sepiring kecil hors d'oeuvre di depan Lorenzo.
"Don Lorenzo, silakan dicicipi. Ini salmon yang diterbangkan langsung dari Norwegia pagi ini. Sangat baik untuk kesehatan otak, terutama bagi mereka yang sudah mulai lupa pada siapa mereka berutang budi," ucap Alicia santun.
Lorenzo menyipitkan mata. "Kau pikir kau bisa membungkamku dengan makanan, Signora?"
"Tentu tidak. Aku ingin membungkammu dengan fakta," Alicia mengeluarkan ponselnya, lalu menggeser beberapa foto di layar. "Maria, istri Capo Sisilia-mu, adalah teman baikku di grup WhatsApp. Tahukah kau bahwa dia sangat rajin mencatat setiap pengeluaran kasino ilegalmu yang tidak pernah kau laporkan ke kas pusat Vallo selama lima tahun terakhir?"
"Oh, dan ada lagi," lanjut Alicia sambil menyeruput teh melatinya dengan anggun. "Aku tahu tentang apartemen rahasiamu di Paris tempat kau menyembunyikan simpananmu yang baru berumur sembilan belas tahun. Jika foto-foto ini sampai ke tangan istrimu yang temperamental itu... aku rasa kau tidak akan sempat mengurus mosi tidak percaya besok malam. Kau akan terlalu sibuk mengurus perceraian yang akan menyedot habis harta simpananmu."
Dua Capo lainnya saling pandang. Mereka menyadari bahwa Alicia bukan hanya sekadar pajangan manja yang tidak berguna. Gadis ini telah membangun jaringan intelijen di balik tabir "percakapan perempuan" tentang kosmetik dan diet.
"Kau... kau mengancamku dengan gosip?" Lorenzo mendesis.
Hening menyelimuti ruangan. Hanya suara deburan ombak di bawah tebing yang terdengar. Wajah Lorenzo memucat setelah diancam dengan foto skandalnya, namun alih-alih menyerah, pria tua itu justru terkekeh. Suaranya kering, terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. Ia mencondongkan tubuh, menatap Alicia dengan kilat mata yang mendadak berubah licik.
"Kau cerdik, Alicia Atmadja. Sangat cerdik," bisik Lorenzo, sengaja menekankan nama belakang asli Alicia seolah ingin mengingatkannya pada akar yang ia coba tinggalkan. "Kau menggunakan taktik yang sama seperti saat kau meloloskan diri dari London tiga tahun lalu. Kau pikir aku tidak tahu?"
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣