Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penangkapan Galang
Telepon dari Hendra Wijaya tidak pernah tersambung. Nada sambung yang monoton di seberang sana terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran Galang. Dita, dengan tangan gemetar, terus menekan tombol panggil berulang kali hingga akhirnya ia melempar ponselnya ke sofa dengan frustrasi.
"Tidak diangkat, Mas. Hendra menghilang," bisik Dita. Wajahnya yang tadi penuh riasan kemenangan kini tampak pias.
Galang tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar monitor yang menampilkan grafik harga saham Samudera Group. Alih-alih terjun bebas seperti yang ia prediksikan, grafik itu justru menunjukkan pergerakan stabil, bahkan sedikit menguat setelah pernyataan Kevin di lobi kantor. Ini tidak masuk akal. Secara teori, skandal perselingkuhan dan isu kegagalan logistik seharusnya mampu memangkas nilai perusahaan setidaknya sepuluh persen dalam hitungan jam.
"Dia tahu," gumam Galang lirih. "Arini tahu kita menggunakan sistem just-in-time sebagai titik serangan."
"Maksudmu? Bagaimana mungkin? Hanya kita dan Hendra yang membahas denah distribusi itu!" seru Dita.
Galang bangkit, berjalan mendekati dinding marmer yang dingin, lalu memukulnya dengan kepalan tangan. "Sistem just-in-time itu efisien, tapi rapuh. Arini bukan orang bodoh yang membiarkan seluruh nasib proyek pelabuhannya bergantung pada satu vendor di Surabaya tanpa rencana cadangan. Dia sengaja menonjolkan vendor itu sebagai umpan. Dia membiarkan kita, dan Hendra, merasa menang karena berhasil menekan vendor tersebut."
Tiba-tiba, pintu apartemen mereka terbuka dengan dentuman keras. Bukan oleh kunci elektronik, melainkan oleh paksaan. Empat orang pria berseragam safari gelap masuk dengan langkah tegap, diikuti oleh seorang pria paruh baya yang sangat dikenal Galang asisten pribadi Hendra Wijaya.
"Tuan Galang, Nyonya Dita," ucap asisten itu dengan nada formal yang dingin. "Tuan Hendra meminta saya menyampaikan bahwa kerja sama kalian berakhir detik ini. Seluruh aset di apartemen ini akan kami ambil alih kembali, dan dukungan hukum kalian ditarik."
Galang terperangah. "Apa maksudnya? Kami baru saja memulai kerjasama dan menyerangan! Hendra yang menyetujui semuanya!"
"Tuan Hendra tidak suka bekerja dengan pecundang yang membawa sial," balas asisten itu sambil memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk mulai mengemasi perangkat elektronik yang di gunakan Galang untuk bekerja. "Satu jam yang lalu, otoritas pelabuhan mengumumkan bahwa vendor Surabaya yang kalian tekan sebenarnya adalah perusahaan cangkang milik Samudera Group sendiri. Kalian tidak menekan pasokan Arini, kalian justru masuk ke dalam perangkap manipulasi pasar yang membuat Hendra Wijaya kini diperiksa atas dugaan sabotase industri."
"Ti... tidak mungkin. Jadi selama ini Arini menggunakan perusahaan cangkang ayahnya untuk melakukan transaksi saat bekerja di perusahaan ku. Aku pikir... aku pikir.. "
"Anda terlalu bodoh karena tidak mengetahui siapa pasangan anda sebenarnya, Tuan Galang. Anda harus banyak belajar dari Nyonya Arini dalam berbisnis! " ejek asisten Hendra.
Dita menjerit kecil, "Lalu bagaimana dengan kami? Kami sudah melakukan ini untuknya!"
"Kalian?" Sekretaris itu tersenyum tipis, penuh penghinaan. "Kalian hanyalah pion yang dikorbankan agar Tuan Hendra punya jarak aman. Tapi sayangnya, Kevin Mahendra jauh lebih cepat. Dia sudah menyerahkan bukti rekaman pertemuan kalian di klub golf kepada pihak berwajib."
Setelah orang-orang itu pergi dengan membawa semua peralatan monitor dan berkas, apartemen mewah itu terasa seperti kuburan. Galang terduduk di lantai, dikelilingi oleh kesunyian yang mencekik. Keangkuhannya runtuh.
"Mas, kita harus lari," isak Dita sambil menarik-narik lengan baju Galang. "Ayo, bawa sisa uang yang ada. Kita keluar dari kota ini sekarang."
"Lari ke mana, Dita?" tanya Galang dengan suara kosong. "Arini tidak hanya menghancurkan finansialku. Dia menghancurkan namaku. Di mana pun aku berada, aku adalah pria yang mengkhianati istrinya dan mencoba menyabotase bisnisnya. Dia tidak membunuhku, dia membiarkanku hidup dalam kehinaan. Itu lebih menyakitkan dan memalukan. "
Ponsel Galang yang tergeletak di lantai bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Hanya ada satu baris kalimat, "Pelabuhan sudah selesai dibangun, Galang. Terima kasih telah menunjukkan kepadaku siapa saja musuh yang harus kubersihkan."
Galang tertawa getir. Tawa yang berubah menjadi isakan kering. Ia menyadari satu hal yang selama ini luput dari pengamatannya yang buta oleh dendam, Arini yang ia kenal dulu adalah wanita lembut yang mengurus rumah tangga, tapi Arini yang sekarang adalah Samudra itu sendiri, luas, tenang di permukaan, namun mampu menenggelamkan siapa pun yang mencoba mengusik kedalamannya.
"Dia bahkan tidak perlu datang ke sini untuk melihatku kalah," kata Galang pada Dita yang sedang sibuk memasukkan baju ke dalam koper dengan terburu-buru. "Dia tahu aku akan menghancurkan diriku sendiri dengan obsesiku."
Satu jam kemudian, saat sirine polisi mulai terdengar mendekat ke arah gedung apartemen, Galang berjalan menuju balkon. Ia menatap hamparan kota yang dulu ingin ia taklukkan kembali. Di kejauhan, menara Samudera Group berdiri tegak dengan lampu-lampu yang bersinar terang, seolah mengejek sosok kecil yang kini terpojok di kegelapan.
"Dita, hentikan," perintah Galang pelan.
"Mas! Polisi sudah di bawah! Apa yang kamu lakukan?" Dita berteriak histeris.
Galang berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang sudah kehilangan segalanya. "Dulu aku bilang aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan. Rasa malu, rasa takut... tapi ternyata, hanya aku yang merasakan itu. Arini tidak pernah kalah, Dita. Dia hanya memberiku tali, dan aku dengan bodohnya menjerat leherku sendiri."
Dita jatuh terduduk di depan pintu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat suara ketukan keras kembali terdengar di pintu depan. Kali ini bukan orang-orang Hendra, melainkan petugas polisi yang membawa surat penangkapan atas kasus pencemaran nama baik dan percobaan sabotase bisnis.
Galang tidak melawan saat tangannya diborgol. Saat ia digiring keluar melewati lobi yang megah, matanya menangkap layar televisi besar di ruang tunggu. Di sana, Arini sedang diwawancarai secara eksklusif. Ia tampak anggun dengan blazer biru tua, tersenyum tipis saat ditanya tentang serangan anonim yang menimpanya.
"Setiap ombak yang datang hanya akan membuat pantai ini semakin kuat," ucap Arini di layar televisi.
Galang menundukkan kepala. Ia akhirnya mengerti. Dalam permainan catur ini, ia tidak pernah menjadi pemain. Ia hanyalah bidak yang digerakkan oleh tangannya sendiri menuju kehancuran yang sudah dirancang secara sempurna oleh wanita yang dulu ia manfaatkan dan remehkan. Dendam itu kini telah berbalik padanya, menelan semua yang ia rencanakan. Telepon dari Hendra Wijaya tidak pernah tersambung. Nada sambung yang monoton di seberang sana terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran Galang.