"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Pedang Pertama yang Dicelupkan dalam Darah Musuh
Di sebuah jalan setapak terpencil yang dikelilingi tebing curam, angin berhembus kencang dan berdebu. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Li Yao. Hari ini, ia tidak lagi berlatih melawan batu atau hewan buas.
Hari ini, ia berburu manusia.
Di kejauhan, terlihat irisan kafilah dagang yang sedang beristirahat. Namun, ini bukan kafilah biasa. Pakaian mereka, lambang di dada, dan cara mereka bersenjata... semuanya cocok dengan deskripsi yang ia cari.
Klan Naga Hitam.
Mereka adalah pasukan kecil yang sedang bertugas mengangkut barang, terdiri dari sekitar lima belas orang. Mereka bertingkah sombong, menendang pedagang kecil, dan berteriak seenaknya. Persis seperti monster yang ia ingat.
Li Yao duduk bersila di atas tebing tinggi, menatap mereka dengan mata yang dingin. Di tangannya, tergenggam sebilah pedang panjang yang baru saja ia tempa sendiri dari besi berkualitas tinggi. Pedang itu berkilau tajam, namun masih bersih dan polos, belum pernah merasakan rasa darah sama sekali.
"Hari ini... kau akan minum darah pertamamu," bisik Li Yao pada bilah pedang itu. "Jangan khawatir. Nanti akan ada banyak lagi. Sungai darah yang menunggu kita."
Dengan gerakan yang tak terdengar, Li Yao melompat turun dari tebing setinggi puluhan meter.
Brak!
Ia mendarat dengan lembut namun tegas tepat di tengah jalan, menghalangi jalan keluar masuk kafilah itu.
"HEH! SIAPA BERANI BERDIRI DI SANA?!" teriak salah satu penjaga yang melihat sosok hitam itu muncul entah dari mana. "INI JALAN KHUSUS KLAN NAGA HITAM! KALIAN ANAK BUJANG KENA MARAH ATAU APA?!"
Li Yao tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, jubah hitamnya berkibar tertiup angin. Wajahnya tertutup setengah oleh topeng kain, hanya menyisakan sepasang mata yang memancarkan kematian.
"Bisakah bicara? Atau kau bisu?" si penjaga mendekat sambil mengacungkan goloknya. "Kau ini pencuri atau orang gila? Cepat minggir atau kepalamu yang melayang!"
Orang itu mengayunkan goloknya dengan kasar, bermaksud menakut-nakuti, atau bahkan membunuh jika perlu.
Namun...
Wush!
Tidak ada yang melihat bagaimana pedang itu bergerak. Hanya ada kilatan cahaya perak yang melintas cepat di udara.
Byur!
Darah segar memuncrat tinggi ke uda, membasahi debu jalanan menjadi merah gelap.
Si penjaga itu terhenti di tengah langkah. Matanya membelalak kaget, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Ia melihat tubuhnya sendiri, lalu melihat kepala pemuda di depannya.
"Kau...?"
Jleb!
Kepala itu terguling jatuh ke tanah, sementara tubuhnya masih berdiri sejenak sebelum rubuh.
Satu tebasan. Satu nyawa melayang.
Hening mematikan menyelimuti lokasi itu. Anggota kafilah lainnya tertegun melihat rekan mereka tewas seketika tanpa perlawanan berarti.
"ADA PEMBAUNUH!! SERANG DIA!! BUNUH DIA!!" teriak pemimpin kelompok itu panik namun marah.
Sepuluh orang lainnya langsung mengeluarkan senjata dan menyerbu ke arah Li Yao secara serentak. Aura mereka ganas, namun bagi Li Yao, mereka hanyalah sekumpulan zombie yang berjalan menuju kematian.
"MATILAH KAU SAMPAH!!"
"BAKAR HIDUP-HIDUP!!"
Li Yao tetap diam di tempat. Saat musuh-musuhnya tinggal beberapa langkah lagi, matanya menyala merah.
"MATI KALIAN SEMUA!!"
Li Yao bergerak. Ia bukan lagi manusia, ia adalah angin maut.
Wush! Wush! Wush!
Pedang besi itu menari-nari mematikan di tangannya. Setiap ayunan selalu diakhiri dengan percikan darah merah yang indah namun mengerikan.
"Aaaahh!!"
"Tolong! Mataku!"
"Monster!!"
Teror terjadi sesungguhnya. Li Yao tidak menggunakan teknik indah, ia hanya membunuh dengan efisien dan kejam. Ia menebas leher, menusuk jantung, dan memotong tendon kaki tanpa belas kasihan sedikit pun.
Dalam waktu kurang dari seperempat jam, jalan setapak itu berubah menjadi ladang pembantaian.
Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Darah mengalir seperti sungai kecil di selokan jalan.
Li Yao berdiri di tengah tumpukan mayat itu. Napasnya sedikit memburu, tapi tubuhnya tenang. Ia menunduk menatap pedangnya.
Bilah besi yang tadinya bersih dan mengkilap... kini berwarna merah gelap, basah kuyup oleh darah panas musuh-musuhnya.
"Ha... ha..." Li Yao tertawa pelan, suara tawanya bergema di antara tebing. "Lihat ini... Qingyu... lihatlah..."
Ia mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, membiarkan darah menetes kembali ke tanah.
"Pedang ini... sudah dicelupkan dalam darah mereka! Rasanya... sungguh memuaskan! Rasanya benar-benar nikmat!"
Rasa haus darah di dalam dirinya terasa sedikit terpuaskan, namun justru memicu keinginan yang lebih besar. Ia menatap ke arah kota besar di kejauhan.
"Ini baru permulaan. Ini hanya semut-semut kecil."
Ia menjilat sedikit darah yang menempel di ujung pedang itu. Rasanya asin dan metalik.
"Besok... aku akan mencari yang lebih besar. Aku akan mencari ikan-ikan besar. Dan sampai saatnya tiba... aku akan membasuh pedang ini di sungai darah seluruh Klan Naga Hitam!"
Pedang pertama telah berlumuran darah. Dan sejak hari itu, pedang itu tidak akan pernah kering lagi.