Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Riak Baru di Tanah Air
Kemenangan mutlak atas Chen Global di Singapura langsung menjadi konsumsi hangat media bisnis internasional saat jet pribadi Reynald Group mendarat kembali di Jakarta. Kirana-Latief Group tidak lagi dipandang sebelah mata; nama Chelsea Latief kini sejajar dengan para pemain utama dalam industri logistik regional.
Namun, bagi Nadia, ketenangan adalah kemewahan yang berumur pendek.
Sore itu, suasana di kantor pusat Kirana-Latief Group tampak sibuk. Adrian masuk ke ruang kerja Chelsea dengan membawa beberapa dokumen kerja sama yang baru saja ditandatangani oleh otoritas maritim Singapura.
"Nona Chelsea, seluruh berkas administrasi proyek Global Logistics Gateway sudah bersih. Arthur Chen saat ini sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh kepolisian Singapura, dan saham perusahaannya terus merosot," lapor Adrian dengan binar kekaguman yang belum pudar.
Chelsea menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, menyesap teh camomile hangat untuk meredakan penatnya. "Bagus, Adrian. Pastikan tim kita bergerak cepat untuk mengambil alih jalur distribusi yang ditinggalkan oleh Chen. Jangan beri celah bagi kompetitor lain untuk masuk."
"Baik, Nona. Dan... ada satu hal lagi," Adrian sedikit ragu, ia membetulkan posisi kacamatanya. "Tuan Reynald meminta saya menyampaikan bahwa malam ini akan diadakan gala perayaan internal di hotel Grand Aurora. Beliau ingin Anda mengenakan gaun yang sudah dikirimkan ke mansion siang tadi."
Chelsea tersenyum tipis, sebuah debaran halus yang kini mulai terbiasa ia rasakan merayap di dadanya. "Aku mengerti. Kamu boleh keluar, Adrian."
Setelah Adrian pergi, Chelsea membuka laci rahasia di meja kerjanya. Di sana, syal sutra biru laut milik Nadia Kirana masih tersimpan rapi. Misteri tentang The Watcher yang menyelamatkannya di Singapura masih menggantung tanpa jawaban. Siapa pun orang itu, dia memiliki mata di setiap sudut pergerakannya.
Malam harinya, aula utama Grand Aurora Hotel benderang oleh pendar lampu kristal yang megah. Ratusan pengusaha kelas atas, pejabat pemerintahan, dan sosialita papan atas berkumpul untuk merayakan kesuksesan ekspansi internasional Reynald Group dan Kirana-Latief Group.
Chelsea melangkah masuk ke dalam aula, memicu keheningan sesaat sebelum riuh bisik-bisik kekaguman terdengar. Ia mengenakan gaun malam berbahan satin hitam dengan potongan emerald cut yang mengekspos bahu indahnya, dipadukan dengan cincin berlian biru pemberian Reynald yang berkilau di jari manisnya. Aura tangguh dan elegan memancar kuat dari setiap langkah kakinya.
Di ujung aula, Reynald berdiri dengan setelan tuksedo formal hitam yang membuatnya tampak sangat karismatik. Begitu melihat kehadiran tunangannya, sepasang mata elang pria itu langsung mengunci fokus sepenuhnya pada Chelsea. Ia melangkah menghampiri, lalu melingkarkan tangan kokohnya di pinggang Chelsea dengan gerakan posesif yang sangat kentara di depan publik.
"Kamu selalu tahu cara membuatku tidak bisa berpaling, Chelsea," bisik Reynald, suara baritonnya yang berat terdengar penuh intrik di dekat telinga gadis itu.
Chelsea terkekeh pelan, menatap wajah tampan pria di hadapannya. "Saya hanya memenuhi ekspektasi Anda, Tuan Reynald yang terhormat."
Namun, momen hangat itu mendadak terinterupsi oleh ketukan langkah sepatu hak tinggi yang berirama konstan dari arah belakang mereka. Aroma parfum melati yang tajam dan mahal seketika menguar di udara.
"Reynald," sebuah suara wanita yang lembut namun sarat akan nada menuntut terdengar memanggil.
Chelsea dan Reynald berbalik serempak. Berdiri di hadapan mereka adalah seorang wanita dengan gaun merah marun yang sangat mewah, berambut ikal pirang gelap, dan memiliki tatapan mata yang penuh percaya diri. Sosok itu memancarkan aura bangsawan lama yang angkuh.
Gisella.
Wanita dari keluarga konglomerat Alexander Group yang baru saja kembali dari London—sekaligus mantan tunangan politik yang dulu hampir dinikahkan dengan Reynald sebelum kontrak dengan Chelsea dimulai.
"Gisella," ucap Reynald, suaranya seketika berubah menjadi sedingin es, dan cengkeraman tangannya di pinggang Chelsea semakin mempererat proteksinya.
Gisella mengulas senyuman anggun, mengabaikan hawa dingin yang dikeluarkan Reynald. Matanya perlahan beralih, menatap Chelsea dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang meremehkan, sebelum berhenti tepat pada cincin berlian biru di jari manis Chelsea.
"Jadi, ini wanita yang membuatmu membatalkan kesepakatan keluarga kita, Reynald?" ucap Gisella dengan nada suara yang tenang namun menusuk, ditujukan langsung untuk memprovokasi. "Chelsea Latief. Keajaiban medis yang baru bangkit dari koma, dan langsung pandai bermain di atas papan catur bisnis internasional. Sangat mengesankan untuk ukuran seseorang yang... dulu hanya dikenal sebagai gadis manja di majalah gosip."
Atmosfer di sekitar mereka seketika menegang. Beberapa sosialita di dekat mereka mulai menoleh, mencium adanya aroma drama baru di kalangan penguasa kota.
Chelsea tidak mundur satu langkah pun. Jiwa Nadia Kirana di dalam dirinya menghadapi ratusan ular berbisa di dunia bisnis masa lalu; gertakan emosional dari seorang mantan tunangan bukanlah hal yang bisa menggoyahkannya. Chelsea justru maju satu tapak, menatap langsung ke dalam manik mata Gisella dengan senyuman miring yang teramat tenang namun mematikan.
"Nona Gisella Alexander, saya rasa," sahut Chelsea, suaranya jernih dan bergaung dengan wibawa yang mutlak. "London pasti sangat membosankan sampai-sampai Anda terburu-buru kembali hanya untuk mengomentari urusan bisnis dan ranah pribadi pria yang... sudah bukan lagi menjadi bagian dari masa depan Anda."
Mendengar balasan yang teramat lugas dan menohok tersebut, senyuman di wajah anggun Gisella seketika membeku. Urat ketegangan samar mulai terlihat di pelipisnya. Pertemuan pertama mereka di tanah air telah resmi menyalakan sumbu pertempuran baru yang tidak lagi melibatkan saham, melainkan harga diri dan kepemilikan hati.