NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Tengah Kota

Di tengah hiruk-pikuk atrium mall yang megah, langkah Isaac dan Luna tiba-tiba terhenti. Di depan sebuah butik pakaian anak yang mewah, sepasang suami istri dengan dua anak kembar yang cantik sedang berdiri sambil tertawa kecil. Sosok pria itu tampak tegap dengan gaya yang santai namun berkelas, sementara istrinya terlihat sangat anggun menggandeng dua gadis kecil yang mengenakan gaun kembar berwarna pastel. Mata mereka saling bertemu. Keheningan sesaat menyelimuti keempat orang dewasa itu, sementara keramaian mall seolah memudar menjadi latar belakang yang samar.

"Isaac? Luna?" suara pria itu memecah kesunyian, nadanya penuh dengan keterkejutan yang menyenangkan. "Joo? Elena?" balas Luna dengan mata yang melebar. Pria itu adalah Jovian, atau yang akrab dipanggil Joo oleh Isaac dan Luna. Di sampingnya berdiri Elena, istrinya yang selalu tampak hangat. Dan yang paling mencuri perhatian adalah dua gadis kecil di sisi mereka: Ayura dan Aruna. Anak asuh mereka yang dulu masih bayi dan menggemaskan, kini telah tumbuh menjadi gadis cantik berusia enam tahun yang terlihat sehat, ceria, dan sangat terawat.

Joo melirik ke arah Isaac, lalu pandangannya turun ke arah perut Luna yang membuncit di balik dress birunya. Sebuah seringai jahil muncul di wajah Joo. Ia melangkah mendekat, meninggalkan anak istrinya sejenak untuk menghampiri sahabat lamanya itu. "Wah, wah... lihat siapa ini," goda Joo sembari merangkul bahu Isaac dengan akrab, menariknya sedikit menjauh dari para wanita agar bisa berbisik. "Isaac, kawan lama... apa yang sudah kau lakukan pada Luna, hah? Sampai perutnya jadi buncit begitu? Kau benar-benar tidak memberi ampun ya?"

Isaac tertawa rendah, ia sudah sangat hafal dengan tabiat Joo yang senang menggoda. "Itu tanda aku sangat mencintainya, Joo. Kau sendiri bagaimana? Sepertinya kau semakin sibuk jadi 'ayah siaga' sampai lupa menghubungi kami di bukit." Joo baru saja hendak membalas dengan kalimat ejekan lainnya, namun saat ia sedang lengah dan tertawa lebar, Isaac bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga. Dengan gerakan kaki yang presisi, Isaac melakukan serangan kecil pada lekukan tumit belakang Joo. Gerakan itu tidak menyakitkan, namun sukses membuat salah satu kaki Joo kehilangan keseimbangan dan tertekuk lemas.

"Woy!" seru Joo sembari terjatuh terduduk di atas lantai mall yang mengkilap. Ia tidak terluka, hanya tampak sangat kaget dengan serangan mendadak itu. Isaac tertawa lepas, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Joo berdiri. "Itu hukuman karena kau terlalu banyak bicara, Joo." Joo menyambut tangan Isaac dan bangkit sembari membersihkan celananya, ia pun ikut tertawa. "Sialan kau, refleksmu masih tajam seperti dulu."

Sementara itu, Luna sudah mendekati Elena. Keduanya saling berpelukan hangat, meluapkan rasa rindu setelah sekian lama tidak bertatap muka secara langsung. "Elena, apa kabar? Kalian terlihat sangat bahagia," ujar Luna tulus. Matanya kemudian beralih ke arah si kembar. "Ayura? Aruna? Apa kalian masih ingat Kak Luna dan Pak Isaac?"

Ayura dan Aruna saling berpandangan sejenak, lalu menatap Luna dengan mata bulat mereka yang jernih. Memori mereka mungkin sedikit samar, namun kehangatan wajah Luna seolah memicu ingatan lama di panti dulu. "Kak Luna yang sering beri kami cokelat di bukit ya?" tanya Aruna dengan suara yang sudah tidak cadel lagi. "Iya! Dan Pak Isaac yang wajahnya galak tapi suka beri kami boneka!" timpal Ayura sembari tertawa kecil. Luna tertawa haru, ia mengelus puncak kepala kedua gadis itu. "Wah, kalian sudah pintar bicara sekarang. Sudah lancar sekali, tidak seperti dulu yang bicaranya masih susah dipahami."

"Sayang, ayo bergabung di sini," panggil Elena kepada Joo dengan suara lembut namun penuh cinta. Panggilan "sayang" itu terdengar sangat alami, menunjukkan betapa harmonisnya hubungan suami istri tersebut. Joo berjalan menghampiri Elena dan merangkul pinggang istrinya. "Karena pertemuan yang tidak terduga ini, rasanya tidak sah kalau kita tidak makan malam bersama. Aku tahu restoran steak yang bagus di lantai lima. Bagaimana, Isaac? Luna?"

Isaac menoleh ke arah Luna, memastikan istrinya masih memiliki tenaga. Luna mengangguk mantap. Kehadiran Joo, Elena, dan si kembar seolah memberikan suntikan energi tambahan baginya. Akhirnya, mereka berenam bergerak menuju lantai lima. Ayura dan Aruna berjalan di depan, mereka tampak sangat ceria, melompat-lompat kecil sambil bercerita tentang sekolah mereka. Suara mereka yang riuh dan berisik memenuhi eskalator, kontras dengan sosok mereka yang dulu sangat pendiam saat masih balita.

Setibanya di restoran, mereka memilih meja besar di sudut yang agak tenang. Setelah memesan makanan, Elena kembali memfokuskan perhatiannya pada perut Luna. Sebagai sesama wanita, ia merasa ada sesuatu yang unik dari bentuk perut sahabatnya itu. "Luna," ujar Elena sembari menyesap teh hangatnya. "Kalau aku lihat-lihat, perutmu ini besar sekali. Tebakanku... usia kehamilanmu sudah masuk tujuh bulan ya? Atau mungkin hampir delapan bulan?"

Luna tersenyum tipis, ia melirik ke arah Isaac yang sedang asyik berbincang tentang bisnis dengan Joo. "Salah, Elena. Usia kandunganku baru masuk empat bulan." Elena tersentak, matanya membelalak tak percaya. "Empat bulan? Tapi besarnya seperti hamil tunggal di trimester ketiga! Apa kau terlalu banyak makan es krim atau memang bayinya sangat besar di dalam sana?"

Joo yang ikut mendengar percakapan itu juga tampak terkejut. "Serius, Luna? Empat bulan sudah sebesar itu? Isaac, kau memberi makan apa pada istrimu sampai bayinya tumbuh secepat itu?" Isaac berdehem sejenak, wajahnya tampak sedikit bangga. "Sebenarnya, kami baru saja dari rumah sakit sebelum ke sini. Dan kami baru tahu alasannya kenapa perut Luna sangat terbebani."

Luna menarik napas panjang dan mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak hamil tunggal, Elena. Aku mengandung anak kembar, sama seperti Ayura dan Aruna." Keheningan seketika melanda meja makan itu. Joo yang baru saja hendak meminum airnya sampai tersedak kecil, sementara Elena menutup mulutnya dengan tangan karena sangat terkejut.

"KEMBAR?!" seru Joo dan Elena hampir bersamaan, membuat Ayura dan Aruna yang sedang sibuk mewarnai kertas menu langsung mendongak bingung. "Wah! Berarti nanti ada bayi kembar lagi?" tanya Ayura dengan mata berbinar. "Nanti kami yang ajarkan mereka main, ya Kak Luna?"

Elena langsung menggenggam tangan Luna dengan erat. "Ya ampun, Luna... selamat! Tapi aku mengerti sekarang kenapa kau terlihat sangat lelah. Membawa dua nyawa sekaligus itu perjuangannya luar biasa. Aku dulu merasakannya sendiri dengan si kembar ini." "Pantas saja!" Joo menepuk bahu Isaac dengan keras. "Ternyata kau benar-benar 'gas pol', Isaac. Langsung dapat dua! Selamat, kawan. Kau akan merasakan bagaimana rasanya rumahmu meledak dengan suara tangis bayi secara stereo nanti."

Isaac tertawa, kali ini tawa yang penuh dengan rasa syukur. "Aku sudah siap, Joo. Selama ini aku mengurus empat belas anak di panti, kurasa dua bayi tambahan tidak akan membuatku menyerah."

Malam itu, restoran mewah tersebut menjadi saksi pertemuan penuh kehangatan. Mereka bercerita banyak hal, mulai dari perkembangan Ayura dan Aruna yang kini sangat cerewet, hingga rencana Isaac dan Luna selama di kota. Elena memberikan banyak tips kepada Luna tentang cara mengatasi nyeri punggung saat hamil kembar, sementara Joo terus menggoda Isaac tentang betapa sibuknya ia nanti saat harus mengganti dua popok sekaligus.

Luna merasa sangat bahagia. Pertemuan dengan keluarga Joo seolah menjadi pengingat bahwa meskipun perjalanan menjadi orang tua itu berat, hasilnya akan sangat indah seperti Ayura dan Aruna yang kini tumbuh begitu sempurna. Di tengah hiruk-pikuk kota besar, persahabatan lama dan kabar bahagia tentang kehidupan baru menyatu dalam sebuah makan malam yang tak terlupakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!