Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Raisa menarik pelan tangannya dari genggaman Evan. Wajahnya tampak ragu.
"Mas… jangan ambil keputusan karena emosi," ucapnya pelan.
Evan menoleh.
"Ini bukan emosi, Sa. Dari dulu mas sudah yakin."
Raisa menggeleng kecil.
"Tapi ini keluarga kamu… aku nggak mau jadi alasan kamu bertengkar sama papa kamu sendiri."
David menyeringai tipis.
"Nah, dengar itu. Perempuan ini saja masih tahu diri."
Evan langsung menatap tajam.
"Jangan rendahkan dia, Pah."
David tertawa sinis.
"Dia cuma wanita mandul. Nggak bisa kasih keturunan. Apa yang bisa diharapkan dari dia?"
Ucapan itu membuat Raisa menunduk, hatinya seperti tertusuk.
Namun Evan langsung menyahut tegas.
"Dia lagi mengandung anakku."
Suasana langsung membeku.
"Apa yang kamu bilang?" suara David meninggi. "Jangan bercanda kamu, Evan!"
Lina ikut kaget.
"Evan, jangan sembarangan ngomong!"
Evan tetap tenang.
"Aku serius. Aku sudah tidur dengan Raisa… dan sekarang dia mengandung anakku."
Raisa langsung menatap Evan, panik. Ia berbisik pelan.
"Mas, jangan bohong…"
Evan mendekat sedikit, membalas dengan suara rendah.
"Makanya kita buktiin… dengan sering-sering melakukannya."
Raisa langsung mencubit pelan lengannya.
"Dasar mesum kamu,Mas…" bisiknya kesal, wajahnya memerah.
Lina menatap Raisa dengan wajah campur aduk antara kaget dan kecewa.
"Jadi… kamu selingkuhi Aditya, Sa?" tanyanya pelan, tapi tajam.
Raisa langsung pucat, matanya membesar.
"Nggak, Mi! Nggak seperti itu…" ucapnya buru-buru.
David mendengus.
"Sudah jelas begitu. Baru dua minggu suaminya meninggal, sekarang sudah hamil anak laki-laki lain."
Raisa menatap ke arah Evan, panik.
"Mas… jelasin," bisiknya lirih.
Evan menarik napas, lalu maju sedikit.
"Ini bukan seperti yang kalian pikirkan," ucapnya tegas.
Lina menggeleng, masih sulit menerima.
"Lalu bagaimana, Van? Kamu sendiri yang bilang begitu."
Evan melirik Raisa sebentar, lalu kembali menatap kedua orang tuanya.
"Aku sama Raisa nggak selingkuh," ucapnya tegas. "Semua terjadi setelah Aditya meninggal. Jadi… kalau sekarang dia hamil, itu anakku."
Lina terlihat terkejut, lalu menatap Raisa dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu beneran hamil, Sa?" suaranya melembut.
Raisa menggeleng cepat.
"Mi… bukan begitu—"
Namun David langsung memotong dengan nada tajam.
"Kamu yakin itu anakmu, Van?" katanya dingin. "Bukan anak Aditya? Papa nggak mau kamu dibodohi perempuan yang pura-pura lugu begini."
Raisa menunduk, menahan perasaan.
Evan langsung menjawab tanpa ragu.
"Aku yakin, Pah."
David menyilangkan tangan.
"Yakin dari mana?" tanyanya sinis. "Aditya sama Raisa menikah lima bulan. Sekarang baru dua minggu dia jadi janda. Kamu pikir waktunya masuk akal?"
Evan menatap tajam, suaranya menegang.
"Aku tahu apa yang aku lakukan."
David tertawa kecil.
"Atau kamu cuma terlalu ingin percaya?" sindirnya.
Raisa menggenggam ujung bajunya, suaranya pelan tapi tegas.
"Saya tidak pernah membohongi siapa pun…"
Suasana ruang tamu semakin tegang.
David menatap tajam ke arah Raisa.
"Kalau begitu, buktikan," ucapnya dingin. "Papa nggak mau dengar omongan tanpa bukti."
Raisa menelan ludah, tangannya gemetar.
"Bukti…?" suaranya lirih.
Lina langsung menoleh ke David.
"Mas, jangan seperti itu. Ini sensitif…"
"Tidak," potong David tegas. "Kalau memang benar dia hamil anak Evan, kita cek sekarang."
Evan mengerutkan kening, terlihat tidak setuju.
"Kehamilan Raisa masih sangat awal, Pah… masih seperti gumpalan darah. Mana mungkin langsung tes DNA?" ucapnya tegas.
David menggeleng.
"Bukan tes DNA," jawabnya dingin. "Papa cuma mau tahu usia kandungannya berapa."
Raisa terdiam, jantungnya berdegup semakin cepat.
"Bagaimana kalau aku ternyata nggak hamil…? Aku kan sering minum pil KB…" batinnya panik.
David menyilangkan tangan.
"Kalau begitu, kita ke dokter sekarang," ucapnya tegas.
Raisa mendekat sedikit ke Evan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Mas… gimana ini…" bisiknya panik.
Evan mencondongkan tubuh, membalas pelan.
"Kamu pura-pura mual aja…"
Raisa menatapnya, ragu.
"Hah…?"
Belum sempat berkata lagi, Evan langsung bersuara agak keras.
"Eh—kamu kenapa, Sa?"
Raisa langsung menangkap maksudnya.
Ia menutup mulutnya, lalu buru-buru berdiri.
"Eu—"
Tanpa banyak kata, ia berlari ke arah wastafel dapur.
"Hoek… hoek…"
Suara muntahnya terdengar jelas.
Lina langsung bangkit panik.
"Ya Tuhan, Sa!" ucapnya, buru-buru mendekat. "Kamu nggak apa-apa?"
Raisa berpegangan di tepi wastafel, tubuhnya sedikit gemetar.
"Aku… mual, Mi…" jawabnya lemah.
Evan ikut mendekat, pura-pura khawatir.
"Dari tadi memang dia kelihatan nggak enak badan," ucapnya.
David memperhatikan dari kejauhan, wajahnya masih penuh curiga.
Lina mengusap punggung Raisa perlahan.
"Coba duduk dulu, Sa… jangan dipaksakan."
Raisa mengangguk pelan, masih berpura-pura lemas.
Sementara itu Evan melirik sekilas ke arah Raisa,
memberi isyarat halus agar tetap tenang.
Lina terus mengusap punggung Raisa dengan lembut.
"Pelan-pelan, Sa… tarik napas dulu," ucapnya khawatir.
Raisa mengangguk lemah, masih berpura-pura mual.
"Aku… pusing, Mi…"
Evan langsung sigap menopang tubuhnya.
"Sudah, duduk dulu," katanya, membawa Raisa ke kursi terdekat.
Raisa duduk pelan, tangannya masih memegang perutnya.
David yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bersuara.
"Mual saja belum tentu hamil," ucapnya dingin.
Evan menatap tajam.
"Pah…"
Namun Lina justru mulai terlihat lebih yakin.
"Mas… gejalanya sudah jelas," ucapnya pelan. "Mual, lemas… itu tanda awal."
David menghela napas kasar.
"Atau cuma akting," balasnya singkat.
Raisa menunduk, pura-pura tidak kuat.
"Aku… nggak kuat kalau langsung ke dokter sekarang…" ucapnya lirih.
Evan langsung menyahut.
"Iya, Pah. Kondisinya lagi begini. Kita tunggu saja dulu."
David menatap mereka bergantian, masih ragu.
"Berapa lama?"
Evan berpikir cepat.
"Beberapa hari. Biar kondisinya stabil dulu."
Lina mengangguk setuju.
"Iya, Mas… kasihan Raisa."
David akhirnya menghela napas panjang.
"Baik. Tapi jangan lama-lama," ucapnya tegas. "Papa tetap mau kepastian."
Evan mengangguk.
"Pasti."
Raisa menghembuskan napas pelan, sedikit lega meski ia tahu, ini hanya menunda sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Evan menggenggam tangannya diam-diam.
"Tenang… mas ada," bisiknya pelan.
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya