Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16
Pelayan itu mengangguk sopan, lalu segera mencatat pesanan Harlan sebelum berlalu meninggalkan tempat.
“Mas… kenapa pesanannya banyak sekali?” tanyanya pelan, setelah Harlan selesai memesan makanan mereka berdua.
Harlan menutup buku menu, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai.
“Nggak apa-apa. Biar kamu bisa coba makanan yang direkomendasikan disini.” jawab Harlan ringan, seperti tidak ada beban sama sekali.
Padahal, menu makanan yang ada di sana terbilang cukup mahal untuk Alisa. Tapi Harlan, memilih sesuka hati, tanpa harus melihat harga.
Berbeda dengan dirinya, yang hanya sekedar ingin makan nasi padang saja, harus berpikir berulang-ulang. Apalagi jika sudah memasuki tanggal tua.
Alisa diharuskan menghemat, sehemat mungkin agar uangnya cukup sampai ia mendapatkan gaji nya lagi.
“Tapi… kalau nanti tidak habis, gimana?” lanjut Alisa, dengan alis yang sedikit bertaut.
Ada perasaan tidak nyaman kembali hadir dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Harlan tersenyum kecil, lalu sedikit memiringkan kepalanya.
“Kalau tidak habis, kita bungkus saja. Kita bawa ke hotel, dan lanjut makan di sana?” jawab Harlan.
Alisa terdiam sejenak, lalu tanpa sadar tersenyum tipis.
“Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran kesana, ya?” gumamnya pelan.
Hening sejenak menyelimuti mereka. Keduanya kini tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Beberapa menit kemudian, satu per satu pesanan mulai datang. Aroma makanan yang wangi, begitu menggugah selera begitu makanan itu tersedia di meja.
Mulai dari spaghetti, steak, dan makanan pendamping lainnya. Makanan yang amat sangat jarang Alisa beli karena harganya yang sangat mahal.
Alisa memperhatikan semuanya dengan seksama, tanpa berani berkomentar lagi.
“Silakan.” ucap Harlan sambil mendorong salah satu piring ke arah Alisa.
“Terima kasih…” jawab Alisa mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian, keduanya pun mulai menyantap makanan yang sudah tersedia di hadapan mereka.
“Bagaimana makanannya? Enak?” tanya Harlan disela makannya.
“Enak, Mas,”
“Kamu suka?”
“Suka, suka banget malah. Terima kasih untuk makanan sama baju yang Mas beli hari ini. Maaf, jika aku sudah merepotkan, Mas,”
“Sama-sama. Jangan sungkan, jika butuh sesuatu lagi, langsung katakan padaku, ya,”
“I_iya, Mas. Insya Allah.”
Percakapan kecil itu, perlahan kembali mencairkan suasana di antara mereka. Tidak hanya itu, perlahan suasana romantis pun mulai terbangun di antara keduanya.
***
Setelah selesai makan, Harlan memanggil pelayan untuk membayar. Seperti sebelumnya, ia melakukannya dengan santai, tanpa menunjukkan beban sedikit pun.
Sementara Alisa hanya duduk diam, sesekali melirik ke arah Harlan.
“Ayo.” ucap Harlan setelah berdiri. Diikuti oleh Alisa yang juga ikut bangkit dari duduknya.
Mereka berjalan berdampingan keluar dari restoran. Kali ini, jarak di antara mereka tidak sejauh sebelumnya.
“Mas…” panggil Alisa tiba-tiba. Membuat Harlan menoleh.
“Iya?” tanyanya.
Alisa tampak ragu. Namun akhirnya, ia tetap mengatakan apa yang sejak tadi ingin ia katakan.
“Sekali lagi, terima kasih… untuk hari ini.”
Mendengar itu Harlan memperlambat langkahnya. Ia menatap Alisa beberapa detik, lalu tersenyum hangat.
“Kenapa berterima kasih lagi? Bukankah, tadi sudah?”
“Iya sih. Tapi, tetap saja, rasanya, terlalu tidak tahu diri kalau aku tidak berterima kasih. Apalagi… semua ini, menghabiskan uang yang tidak sedikit.”
Harlan terdiam sejenak. Kali ini, ia benar-benar menghentikan langkahnya. Ia membalik posisi tubuhnya menjadi menghadap ke arah Alisa, menatap wanita itu lebih dalam dari sebelumnya.
“Alisa…” panggilnya pelan.
Alisa yang tadi masih berjalan, ikut menghentikan langkah. Ia kembali menunduk sedikit, saat melihat tatapan Harlan yang berbeda dari sebelumnya.
“Mulai sekarang, bisa tidak jangan selalu berpikir kalau kamu itu beban dan selalu merepotkan?”
Deg.
Alisa tersentak, perlahan ia mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan tatapan Harlan yang serius, tapi tetap lembut.
“Apa yang aku lakukan dan aku berikan hari ini… bukan sesuatu yang perlu kamu jadikan beban. Ingat, sejak aku menyebut namamu dalam ijab kabul ku, maka, satu detik setelahnya kamu bukan orang lain lagi untukku. Kamu, adalah istri sahku, sah secara hukum dan agama.”
Alisa hanya bisa terdiam. Kata-kata itu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata.
“Jadi, apa yang aku berikan ke kamu, itu bukan hanya sekedar. Melainkan sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai seorang suami.”
Nafas Alisa sedikit tercekat. Ia ingin membantah semua yang Harlan ucapkan. Ingin mengatakan kalau semua itu terlalu berlebihan hanya untuk seorang istri pengganti. Tapi… suaranya seperti tertahan di tenggorokan.
“Dan satu lagi… Kamu tidak perlu merasa ‘tidak tahu diri’ hanya karena menerima sesuatu dari suamimu sendiri.” lanjut Harlan.
Alisa menunduk. Jemarinya kembali saling menggenggam. Ada rasa hangat… tapi juga sesak secara bersamaan hadir di dalam hatinya.
Sepanjang hidupnya, ia sudah terbiasa untuk menahan diri. Terbiasa menghitung. Terbiasa merasa… tidak berhak meminta lebih.
“Maaf… tapi… aku belum terbiasa dengan semua ini,” jawab Alisa lirih. Membuat Harlan justru tersenyum.
“Karena itu… mulai sekarang, biasakan diri dengan semua ini.”
Ia sedikit mendekat, lalu menurunkan nada suaranya. Semakin melembut.
“Ingat, sekarang, kamu bukan lagi Alisa anak daerah yang memiliki keterbatasan ekonomi. Sekarang, kamu ini adalah istri dari Harlan Dewa Mahendra Argantara. Seorang pengusaha muda sukses, yang namanya tercatat dalam daftar 10 orang terkaya di negara ini.” lanjut Harlan setengah berbisik.
Deg.
Kali ini, Alisa benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Harlan melihat itu. Tapi ia tidak membahasnya. Sebaliknya, ia justru mencoba mengalihkan perhatian dan beralih ke pembahasan lain.
“Sudah, sebaiknya kita lanjut jalan. Kamu mau kemana lagi sekarang?” tanyanya. Mengalihkan perhatian Alisa.
Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya Alisa menjawab dan menyebutkan keinginannya, untuk pertama kalinya.
“Kalau boleh. Aku… ingin ke toko buku.” ucapnya sedikit ragu.
Harlan menoleh, alis sedikit terangkat, saat Alisa meminta untuk pergi ke toko buku.
“Toko buku?”
“Iya… ada buku yang ingin aku beli. Tapi… di kotaku, sangat sulit mendapatkan buku itu. Siapa tahu, aku bisa menemukannya di sini.”
Harlan menatapnya beberapa saat. Lalu… senyumnya kembali muncul. Kali ini, senyuman yang lebih lebar lagi.
“Baiklah. Kalau begitu, kita kesana sekarang.”
“Eemm. Ayo.” jawab Alisa dengan mata yang berbinar.
🌸🌸🌸
Note. Mohon maaf, ya. Baru bisa up lagi. Tiga hari ini, kondisi sedang tidak baik-baik saja. Anak-anak pada sakit, ibunya jadi sibuk ngurus anak. Jadi, ga punya waktu buat nulis. Sekali lagi, maaf, ya 🙏