Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Arga terkejut mendengar kakek akan mengumumkan pernikahannya dengan Kartini, ia segera menangkap tujuan kakek telepon tadi ingin membicarakan hal ini.
"Mudah-mudahan si gembul terus menolak," Arga masih terus mendengarkan dengan dada sesak. Jika sampai hal ini terjadi sungguh ia tidak mau kehilangan Nadine.
"Tolong ya, Kek..." Kartini menatap kakek penuh pengharapan.
"Kenapa begitu Kartini?" Kakek bingung mendengar penolakan Kartini. Padahal semua wanita akan senang dan bangga menjadi istri Arga Ceo perusahaan miliknya.
"Kakek... semua ini aku lakukan demi Arga cucu Kakek. Status sosial kami berbeda, jika kakek terburu-buru mengenalkan aku ke publik aku khawatir banyak orang yang merendahkan Arga karena menikahi pembantu berbadan besar seperti saya."
"Berarti selama ini Arga memperlakukan kamu tidak baik?" Potong kakek melempar pertanyaan dengan nada meninggi.
"Bukan Kek, Mas Arga baik kok, tapi aku yang belum siap menerima cibiran orang," Kartini ingin menutup rapat pernikahan yang hanya sementara ini. Jika kelak masa kontrak habis perpisahannya dengan Arga hanya diketahui keluarga.
"Kartini... Kakek memilih kamu menjadi istri cucu kesayangan, sama sekali tidak memandang status sosial, di hadapan Tuhan kita semua sama."
"Aku percaya dengan Kakek, tapi orang itu tidak sama. Tolonglah Kek, jangan sekarang ya... Begini saja, aku akan tetap hadir diacara Gala Dinner, bersama Kakek dan tetap akan menjaga Kakek seperti sebelum menikah dengan Arga," Kartini memohon.
"Baiklah, tapi kamu menolak permintaan Kakek bukan karena Arga memperlakukan kamu tidak baik kan?" Kakek masih terus memikirkan ini karena Arga menerima pernikahan ini dengan terpaksa.
"Tidak Kek, percayalah."
"Ya sudah... kita makan dulu, tapi mana Arga?"
"Aku sudah di sini, Kek," jawab Arga yang sudah di tangga paling bawah. Ia pun merasa lega karena kakek tidak jadi mengumumkan pernikahannya.
Kakek menatap cucunya yang berjalan ke arahnya seketika kaget, mata yang biasanya bersinar kini redup, lelah, dan berkantung. "Kamu tadi malam begadang?" Tanya Kakek ketika Arga sudah duduk di sebelahnya.
"Iya Kek, memang kurang tidur."
"Begadang sama pacar Kek, kebanyakan peluk cium sampai lemas tuh!" batin Kartini, melirik Arga dengan wajah masam ketika menyiapkan makan di piring Arga sebagai pelengkap sandiwara di hadapan kakek.
"Kurang tidur? Bukankah kamu sudah pulang sejak sore?" Kakek tidak percaya. Dia tidak tahu bahwa semalam terjadi kekacauan.
"Malam pergi lagi karena ada urusan Kek," jawab Arga lalu menyeruput kopi, berharap kakeknya tidak bertanya lagi soal tadi malam. Arga gengsi mengakui jika mencari Kartini hingga pagi. Kendati dalam hatinya ingin tahu pembicaraan kakek kepada Kartini baru saja, kenapa tiba-tiba ingin mengumumkan pernikahannya? Namun, Arga tidak mungkin bertanya karena pasti akan ketahuan jika ia menguping.
"Oh iya Ar, kamu sudah mendengar kabar baik belum?" Tanya Kakek Chandresh terdengar bersemangat.
Arga menatap kakek yang berbinar-binar itu setidaknya hatinya sedikit lega, sudah dipastikan jika kakek sedang berbahagia.
"Belum Kek. Ada apa memang?" Arga menatap kakek lekat, ia yakin jika Kakek akan mulai membahas tentang hal yang dibicarakan kepada Kartini.
"Perusahaan kita mencetak rekor tertinggi tahun ini! Semua berkat kerja keras kamu memegang jabatan CEO. Aku mau kamu segera siapkan Gala Dinner besar-besaran! Undang semua klien penting, investor, dan media. Kita rayakan pencapaian ini dengan layak!" perintah Kakek Chandresh bangga. "Sebenarnya Kakek sekaligus ingin memberitahukan kabar gembira tentang pernikahan kalian, tapi karena Kartini belum siap, sebaiknya kita tunda.
Plong. Rasanya dada Arga mendengar kata-kata kakek, walau sebenarnya ia juga malas mengadakan acara Gala Dinner tapi yang terpenting baginya, pernikahannya dengan gembul masih tertutup rapat.
"Kalau soal ini aku sudah tahu Kek," Arga pun sebenarnya senang karena ia telah berhasil. Niatnya malam tadi ingin menceritakan kepada kakek tapi gara-gara si gembul hingga lupa.
"Cepat urus, hari sabtu besok kita gelar acara di gedung dua."
"Baik, Kek. Arga akan urus," jawabnya pasrah, tidak berani menolak permintaan kakeknya.
Setelah membicarakan perihal Gala Dinner selesai, mereka fokus sarapan. Arga yang sejak malam tidak makan, sarapan pagi ini tidak cukup segelas kopi dan sepotong roti. Pria itu juga masih makan nasi goreng yang Kartini masak untuk dirinya dan juga art lainnya. Kartini yang sudah terbiasa sarapan seperti itu tidak akan kenyang apa bila hanya makan roti.
"Syukurlah... ternyata aku bukan satu-satunya si gembul di rumah ini, Kek," sindir Kartini, karena Arga yang selalu meledeknya gembul pagi ini tidak cukup segelas kopi, setangkap roti, bahkan sepiring nasi goreng dan telur ceplok pun dia lahap habis.
Kedua tangan Arga yang memegang sendok dan garpu pun berhenti, begitu juga dengan mulutnya yang tengah mengunyah ketika mendengar ucapan Kartini. Tetapi hanya beberapa detik lanjut makan lagi tanpa melirik Kartini yang tersenyum meledek.
Kakek memperhatikan interaksi Arga dan Kartini tersenyum lebar.
Sarapan pun akhirnya selesai, Kartini mendorong kakek ke kamar. Sementara Arga meninggalkan tempat itu menuju ruang olah raga.
Arga fitnes sebentar untuk membakar lemak karena ia akui selama menjadi suami Kartini tidak bisa mengontrol makan. Hingga beberapa saat kemudian ia ke ruang kerja karena hari ini ingin bekerja dari rumah.
.
Tepatnya hari jumat, Arga tampak sibuk mengatur anak buahnya yang bertugas menjadi panitia Gala Dinner yang akan diselenggarakan hari sabtu besok.
"Pak Arga, Nadine menunggu Bapak di ruang kerja," ucap Sita memanggil Arga ke gedung dua.
Arga menarik napas panjang, padahal pagi tadi sudah telepon Nadine agar tidak ke kantor karena hari ini sibuk di luar ruangan, tapi rupanya kekasihnya itu tetap saja datang. Arga menjadi ingat sindiran Kartini pagi tadi sebelum berangkat ke kantor. "Bos mah pura-pura ke kantor hanya karena ingin pacaran."
"Bilang saja suruh tunggu 15 menit lagi Sita," pesan Arga karena ia masih memberi arahan anak buahnya.
"Saya tadi sudah bicara seperti Pak, tapi Nadine memaksa saya untuk memanggil Bapak, tapi akan saya coba berbicara lagi," Sita mengangguk lalu pergi.
Arga pun akhirnya menyusul. Dia sudah hafal pola pikir Nadine. Jika ia tidak segera datang badai akan berubah menjadi angin puting beliung yang memporak-porandakan ruangan kantor. Jika ia membiarkan Nadine menunggu dianggap tidak perduli, untuk itu Arga memilih jalur tengah yang penting tidak kena mental.
"Chandresh Grup besok akan ada acara, kenapa aku tidak kamu undang, Mas?" Tanya Nadine kesal ketika Arga baru saja tiba di ruangan.
"Maaf sayang... yang punya acara ini Kakek, tentu beliu yang punya hak mengundang," Arga menjelaskan pelan.
"Kamu kan cucu kesayangan Kakek Mas, masa tidak bisa minta izin mengundang aku," rengek Nadine seperti anak kecil. Ia rangkul lengan Arga sembari mendongak.
Arga diam, bingung untuk menjawab. Masalah yang akan ia hadapi sebenarnya bukan itu saja jika mengundang Nadine. Keluarga besarnya saat ini mengira sudah tidak lagi berhubungan dengan Nadine. Jika mereka tahu Arga bukan kena marah saja tapi keselamatan kakek menjadi taruhan.
"Mas, kok malah diam saja!" Nadine menggoyang lengan Arga.
"Sayang... cobalah mengerti. Kamu kan sudah tahu jika keluarga aku tidak setuju kita berhubungan, aku tidak ingin kamu malu nantinya."
"Terus bagaimana Mas? Aku bukan boneka yang hanya seenaknya kamu mainkan. Aku minta kamu menikah aku secepatnya."
"Bagaimana kita mau menikah jika beliu tidak setuju Nadine," Arga mengacak rambutnya hingga berantakan.
"Aku punya ide Mas," Nadine tersenyum.
"Ide apa?" Arga melirik Nadine.
"Kita kawin lari."
"Apa?!"
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭