Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Fajar baru saja pecah saat Zaidan dan Sulfi melangkah keluar dari rumah kecil yang kini pintunya hanya diganjal kayu seadanya.
Setelah mandi dengan air dingin yang seolah mencuci sisa-sisa ketegangan semalam, Zaidan tampak lebih segar, meski lebam di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Zaidan memasukkan karung beras pemberian Sulfi dan tas kain usang milik wanita itu ke bagasi mobil operasionalnya yang berdebu.
Sulfi menoleh sekali lagi ke arah rumah peninggalan orang tuanya, mengunci pintu dengan tangan gemetar, lalu masuk ke kursi penumpang di depan.
Mesin mobil menderu pelan, memecah kesunyian kampung yang mulai menggeliat.
Mobil bergerak menjauh, meninggalkan kenangan pahit dan desas-desus warga yang mungkin akan bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.
Sepanjang perjalanan, kabin mobil itu terasa sangat sempit oleh keheningan.
Tidak ada musik, tidak ada obrolan. Zaidan fokus pada kemudi, sesekali melirik spion untuk memastikan tidak ada anak buah Guntur yang membuntuti.
Sementara itu, Sulfi hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat deretan pohon yang berlari menjauh, persis seperti hidupnya yang kini melesat ke arah yang tak menentu.
Tiga jam perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir di sebuah perumahan sederhana di pinggiran kota.
Mobil Zaidan berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar besi hitam yang catnya mulai mengelupas.
Zaidan menarik napas panjang, sangat panjang, sebelum mematikan mesin.
"Kita sudah sampai," bisiknya lirih.
Pintu rumah terbuka bahkan sebelum Zaidan mengetuknya.
Maya berdiri di sana, masih mengenakan daster rumahannya dengan rambut yang dicepol asal.
Wajahnya yang tadinya tampak lega melihat suaminya pulang, seketika berubah kaku saat matanya menangkap sosok wanita lain yang turun dari mobil suaminya.
Sulfi berdiri di samping pintu mobil, menunduk dalam, meremas jemarinya sendiri.
"Mas..." suara Maya terdengar bergetar, penuh kecurigaan.
"Siapa dia? Kenapa Mas pulang membawa perempuan?"
Pandangan Maya beralih dari Zaidan ke wajah Sulfi yang tampak pucat, lalu kembali ke arah suaminya dengan tatapan menuntut penjelasan.
Zaidan melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahu Maya, namun wanita itu menghindar.
"Duduklah dulu di dalam, Dek. Mas mau bicara sesuatu yang sangat penting," jawab Zaidan dengan nada suara yang berat.
Udara di teras rumah itu mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Zaidan tahu, setelah pintu rumah itu tertutup, badai yang sebenarnya baru akan dimulai. Dan kali ini, tidak ada lencana polisi atau senjata yang bisa menyelamatkannya dari hancurnya hati kedua wanita di hadapannya.
Di dalam ruang tamu yang sempit itu, ketegangan memuncak hingga ke titik didih.
Zaidan duduk dengan bahu merosot, sementara Maya berdiri berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Sulfi yang hanya bisa menunduk dalam, mencoba menghilang di balik bayangannya sendiri.
Zaidan menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum mengeluarkan kalimat yang akan menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka.
"Mas, ada apa? Siapa wanita ini?" tanya Maya dengan nada yang mulai meninggi, matanya tak lepas dari tas kain usang yang dibawa Sulfi.
Zaidan menelan salivanya, tenggorokannya terasa kering kerontang.
"Dia Sulfi, istri Mas, Dek."
"APA?!"
Teriakan Maya menggelegar, membuat Sulfi sedikit berjengit.
Maya melangkah maju, wajahnya memerah padam karena amarah yang mendadak meluap.
"Apa maksudmu, Mas? Istri? Kamu pikir ini lucu?"
"Dik, dengarkan Mas dulu. Tolong," pinta Zaidan dengan suara memohon.
"Semalam saat Mas mengejar Guntur di pemukiman padat, keadaannya sangat kacau. Mas nggak sengaja menginjak ekor anjing dan kehilangan keseimbangan sampai terperosok masuk ke rumah Sulfi lewat jendela. Warga salah paham, mereka menghajarku, sampai akhirnya kami dipaksa menikah saat itu juga untuk cuci kampung."
Hening sejenak. Maya menatap suaminya dengan tatapan tak percaya, lalu tiba-tiba, ia tertawa terbahak-bahak. Sebuah tawa hambar yang penuh dengan nada sinis.
"Mas, aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi!" seru Maya di sela tawanya yang terdengar menyakitkan.
"Ekor anjing? Terperosok masuk ke rumah janda? Kamu pikir aku sedang menonton film komedi bodoh?"
Tawa Maya berhenti seketika, berganti dengan kilat kemarahan yang lebih tajam. ia menudingkan jarinya tepat ke arah Zaidan.
"Jangan bawa-bawa anjing atau tugas polisi sebagai alasan! Bilang saja kalau kamu memang sudah menikah dengan dia dari dulu dan baru sekarang berani membawanya ke sini! Mana ada polisi hebat sepertimu bisa sial hanya karena seekor anjing kalau bukan karena kamu memang sengaja mencari alasan!"
"Sumpah, Dek! Demi Allah, itu yang terjadi!"
Zaidan mencoba berdiri, namun Maya mundur dengan jijik.
"Jangan sebut nama Tuhan untuk menutupi perselingkuhanmu, Zaidan!" teriak Maya, air matanya mulai luruh.
Di sudut ruangan, Sulfi akhirnya mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
Ia merasa sangat hina mendengar kata "perselingkuhan".
"Mbak,maaf," suara Sulfi bergetar lirih.
"Saya juga tidak menginginkan ini. Saya baru kehilangan suami saya tiga bulan lalu. Saya tidak punya niat merebut suami orang..."
"Diam kamu!" bentak Maya tanpa menoleh.
"Jangan pura-pura jadi korban di rumahku!"
Zaidan hanya bisa mematung. Penjelasan logisnya terdengar seperti dongeng konyol di telinga istrinya sendiri.
Ia sadar, luka karena "kejujuran yang tidak masuk akal" ini jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka lebam di wajahnya akibat amukan warga semalam.
Suasana di ruang tamu itu semakin memanas. Hinaan Maya menyayat hati Sulfi yang sebenarnya sudah hancur sejak semalam.
Sulfi mencoba berdiri, meski kakinya terasa lemas, ia berusaha membela harga dirinya yang terus diinjak-injak.
"Mbak, sumpah demi Allah. Saya juga korban di sini," ucap Sulfi dengan suara bergetar, air matanya tak terbendung lagi.
"Saya tidak tahu kalau Mas Zaidan sudah punya istri. Saya terpaksa karena diancam warga..."
Maya tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh penghinaan.
Ia melipat tangan di dada sambil memandangi Sulfi dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Korban?" cibir Maya tajam.
"Jangan berakting di depanku. Kamu pasti suka kan sama suami saya yang tampan ini? Makanya kamu mau-mau saja diajak nikah instan begitu."
Maya kemudian menoleh ke arah Zaidan dengan
tatapan penuh kebencian, lalu kembali menatap Sulfi dengan senyum meremehkan.
"Dan asal kamu tahu ya, Mas Zaidan ini miskin! Kamu lihat sendiri kan? Beras saja habis dia nggak mampu beli sebelum aku minta. Gayanya sok-sokan nikah dua istri, buat kasih makan satu mulut saja dia kepayahan!"
Kalimat Maya bagaikan tamparan keras bagi Zaidan.
Ia hanya bisa terdiam, harga dirinya sebagai laki-laki dan suami seolah lumat tak berbekas.
Ia ingin marah, namun ia sadar bahwa ia memang sedang berada di titik terendah hidupnya.
"Mbak..." Sulfi menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya.
Ia teringat karung beras yang dibawanya tadi. "Saya tidak butuh ketampanan atau harta suami Mbak. Saya hanya ingin hidup tenang."
Sulfi melirik ke arah karung beras pemberiannya yang masih tergeletak di dekat pintu.
"Tadi saya bawakan beras dari kampung untuk Mbak, supaya Mbak bisa makan. Saya tidak bermaksud merebut apa pun."
Maya tertegun sejenak melihat karung beras itu, namun egonya yang terluka jauh lebih besar daripada rasa lapar. Ia justru menendang pelan karung itu.
"Oh, jadi sekarang kamu mau pamer kalau kamu lebih kaya dari kami? Kamu mau menyogokku dengan beras?" teriak Maya lagi, suaranya naik satu oktav.
Zaidan akhirnya tidak tahan lagi. "Cukup, Maya! Sulfi tidak salah! Aku yang salah! Jangan hina dia lagi!"
"Oh, sekarang kamu sudah mulai membelanya? Hebat sekali suamiku!"
Maya masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan sangat keras, meninggalkan Zaidan dan Sulfi dalam keheningan yang menyakitkan di ruang tamu.
Sulfi hanya bisa terduduk di kursi kayu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Ia mulai bertanya-tanya, apakah keputusannya ikut ke kota adalah kesalahan terbesar yang pernah ia buat.