Kisah anak sulung Casey (Transmigrasi Belvia) yang jiwa nya mengalami perpindahan ke tubuh orang lain… bagaimana Ganethaa akan menghadapi kehidupan barunya setelah dia tahu kalau sekarang dia berada di tubuh orang lain…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Malam itu…
Sebuah mobil sedan hitam melaju perlahan memasuki kawasan perumahan elite.
Di balik kemudi, Nebula menyetir dengan satu tangan.
Tatapannya lurus ke depan.
Tak ada sedikit pun ekspresi di wajahnya.
Di kursi belakang…
Kila terduduk dengan kedua tangan terikat menggunakan cable tie. Mulutnya masih tertutup lakban sehingga hanya suara lirih yang keluar.
“Mmh… mmh…”
Nebula melirik melalui kaca spion.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Tenang aja, Kila.”
“Gue nggak akan ngapa-ngapain lo.”
Ia kembali fokus ke jalan.
“Gue cuma mau lihat…”
“…drama keluarga Jordan.”
Kila menatap Nebula tanpa berkedip.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Wanita itu masih mengingat jelas pertemuan pertamanya dengan Nebula beberapa tahun lalu.
Gadis itu pendiam.
Sering menunduk.
Tak pernah berani membantah.
Jordan bahkan pernah berkata,
“Nebula itu anak yang penurut.”
Namun sekarang…
Sosok yang sedang menyetir mobil ini terasa seperti orang yang sama sekali berbeda.
Nada bicaranya tenang.
Tatapannya dingin.
Dan senyumnya…
Membuat Kila merasakan firasat yang tidak enak.
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya…?”
“Kenapa auranya berubah sejauh ini?”
Nebula kembali membuka suara.
“Gue penasaran.”
“Kalau semua orang di rumah tahu rahasia yang selama ini disembunyikan Jordan…”
“…kira-kira siapa yang paling kaget?”
Kila mencoba melepaskan ikatan di tangannya.
Namun sia-sia.
Nebula hanya tertawa pelan.
“Percuma.”
“Jangan buang tenaga.”
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Jordan.
Sreeet…
Nebula mematikan mesin.
Lampu rumah masih menyala terang.
Dari balik jendela tampak bayangan beberapa orang sedang berkumpul di ruang keluarga.
Nebula memandang rumah itu selama beberapa detik.
Rumah yang selama ini tidak pernah benar-benar memberinya rasa nyaman.
Ia mengembuskan napas pelan.
“Udah lama ya…”
“…rumah ini nggak dapat kejutan.”
Nebula membuka pintu mobil.
Ceklek.
Ia turun dengan tenang.
Sebelum menutup pintu, ia kembali menatap Kila.
“Lo duduk manis dulu.”
“Sebentar lagi…”
“…pertunjukannya dimulai.”
Nebula menekan tombol kunci mobil.
Bip.
Dengan langkah perlahan, ia berjalan menuju pintu utama rumah Jordan.
Sementara di dalam mobil…
Kila hanya bisa menatap punggung Nebula yang semakin menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nebula berdiri beberapa meter dari pintu utama rumah Jordan.
Tangannya masih menggenggam ponsel.
Ia melirik sekilas ke arah mobil yang terparkir di halaman.
Di dalamnya, Kila masih terduduk diam.
Nebula mengembuskan napas pelan.
Lalu menekan nama seseorang di daftar kontak.
Lily.
Tak sampai tiga detik…
Telepon tersambung.
“Selamat malam, Bos.”
“Lily.”
“Ya, Bos.”
“Gue butuh semua bukti.”
Lily langsung memahami maksudnya.
“Bukti tentang Elara?”
“Iya.”
“Bawa semuanya.”
“Baik.”
Nebula melanjutkan dengan nada tenang.
“Rekaman CCTV saat kejadian di gudang sekolah.”
“Termasuk rekaman sebelum dan sesudah kejadian.”
“Sudah kami salin.”
“Bagus.”
“Lalu…”
“Keterangan dari Rania, Ghina, sama Weni.”
“Bos, ketiganya sudah kami temui.”
“Mereka awalnya menolak bicara.”
“Tapi akhirnya mengakui kalau mereka memang mengikuti ajakan Elara untuk menjebak Bos.”
Nebula menutup matanya sejenak.
“Hm.”
“Terus?”
“Mereka juga mengakui kalau cerita yang disampaikan Elara ke keluarga tidak sama dengan kejadian sebenarnya.”
Nebula tersenyum tipis.
“Seperti yang gue duga.”
Lily kembali membuka laporannya.
“Kami juga sudah mengumpulkan bukti percakapan mereka.”
“Ada beberapa pesan yang menunjukkan rencana mereka sebelum kejadian.”
“Dan…”
“…rekaman CCTV memperlihatkan Elara datang ke gudang bersama mereka.”
Nebula mengangguk pelan.
“Cukup.”
“Lily.”
“Ya, Bos.”
“Lima belas menit lagi datang ke rumah Jordan.”
“Bawa semua bukti itu.”
“Dalam bentuk salinan.”
“Jangan sampai ada yang hilang.”
“Siap, Bos.”
“Lalu satu lagi.”
“Pastikan semua bukti sudah diverifikasi.”
“Gue nggak mau ada satu pun yang bisa dipatahkan. Dan surat DNA Elara jangan lupa di bawa.”
“Sudah dipastikan, Bos.”
“Semuanya lengkap.”
Nebula tersenyum tipis.
“Bagus.”
“Kalau begitu…”
“…malam ini kita akhiri semua sandiwara.”
“Mengerti.”
Telepon ditutup.
Klik.
Nebula memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Ia menatap rumah besar di depannya.
Selama bertahun-tahun…
Setiap tuduhan selalu diarahkan kepadanya.
Kali ini…
Ia tidak berniat berteriak.
Tidak pula membela diri dengan emosi.
Ia hanya akan membiarkan bukti berbicara.
Nebula melangkah menuju pintu rumah.
Tap…
Tap…
Di belakangnya…
Mobil yang membawa Kila masih terparkir dalam diam.
Sementara di dalam rumah…
Tak seorang pun menyadari bahwa malam itu, rahasia yang selama ini tersembunyi akan mulai terungkap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brak!!
Pintu utama rumah Jordan terbuka dengan keras hingga menghantam dinding.
Suara itu membuat seluruh penghuni rumah yang sedang berkumpul di ruang keluarga spontan menoleh.
Jordan.
Mama lusi.
Langit.
Bintang.
Senjanu.
Elara yang masih duduk di kursi roda.
Semuanya membeku.
Yang berdiri di ambang pintu adalah…
Nebula.
Masih mengenakan jaket hitam.
Tatapannya tenang.
Tangannya dimasukkan ke saku celana.
Keheningan memenuhi ruangan.
Orang pertama yang bereaksi adalah Langit.
Ia langsung berdiri.
“Nebula!”
Dengan langkah lebar ia menghampiri adiknya.
“Lo masih berani pulang?!”
Tanpa menunggu jawaban, Langit mengangkat tangannya hendak menampar.
Swish!
Namun…
Sebelum telapak tangan itu mengenai pipi Nebula…
Nebula mengangkat satu tangan.
Plak!
Pergelangan tangan Langit tertahan.
Langit membelalak.
Nebula menepisnya hingga tangan Langit terdorong ke samping.
Tatapan Nebula tetap datar.
“Cukup.”
Suara itu tenang.
Namun membuat ruang keluarga mendadak sunyi.
Langit tak menyangka.
Untuk pertama kalinya…
Nebula menolak diperlakukan seperti biasanya.
Jordan ikut berdiri.
Wajahnya penuh amarah.
“Nebula!”
“Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?!”
“Kamu membuat Elara masuk rumah sakit!”
“Kamu terus membuat masalah!”
Nebula hanya menatap ayahnya tanpa berkedip.
Jordan melangkah mendekat.
“Kamu bolos sekolah.”
“Keluar masuk tempat yang mencurigakan.”
“Dan sekarang pulang seolah tidak terjadi apa-apa!”
“Kamu benar-benar mengecewakan!”
Bintang ikut menyela.
“Pa, Bintang bahkan lihat dia keluar dari kasino siang tadi.”
“Aku juga takut, pah…”
ucap Elara lirih sambil menundukkan kepala.
“Kak Nebula sekarang berbeda…”
Suasana kembali memanas.
Namun…
Di tengah semua tuduhan itu…
Nebula sama sekali tidak membalas.
Ia hanya mengembuskan napas pelan.
Lalu tersenyum tipis.
“Hm…”
“Udah selesai?”
Semua terdiam.
Nebula memandang satu per satu wajah mereka.
“Kalian jauh-jauh nunggu gue pulang…”
“…ternyata cuma buat nyalahin gue lagi.”
Ia menggeleng pelan.
“Gue bahkan belum sempat ngomong satu kalimat.”
Jordan membentak.
“Mau jelasin apa lagi?!”
Nebula mengangkat bahu.
“Enggak.”
“Gue capek jelasin.”
“Soalnya…”
“…selama ini kalian nggak pernah benar-benar mau denger.”
Tatapannya kemudian berhenti pada Elara.
Elara refleks menggenggam erat selimut di pangkuannya.
Nebula tersenyum tipis.
“Kali ini…”
“…gue nggak datang buat minta dipercaya.”
“Tapi gue datang…”
“…buat nunjukin sesuatu.”
Suasana rumah kembali sunyi.
Tak seorang pun mengetahui bahwa di luar rumah, sebuah mobil masih terparkir.
Dan di dalam mobil itu…
Ada seseorang yang menjadi bagian dari rahasia besar keluarga Jordan, menunggu saat yang tepat untuk terungkap.
author jgn lama2 lah uploadnya soalnya nggak sabar sama kelanjutannya niii
ditunggu ya kelanjutannya author
makini seru nii
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
enak banget yaa pindah jiwa orang yaa, dasar pengkhianat
ditunggu ya kelanjutannya author
wah nebula keren bantai mereka yang suka cari masalah
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author 🥰