PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
BAB 31 — WAJAH DARI MASA LALU
Hujan masih turun dengan deras.
Suasana di depan rumah persembunyian berubah menjadi semakin mencekam.
Semua orang menatap pria yang baru saja turun dari mobil hitam itu.
Terutama Eiri.
Napasnya terasa berat.
Jantungnya berdetak tidak beraturan.
Wajah itu...
Tatapan itu...
Semuanya terasa begitu asing, tetapi juga begitu dekat.
"Tidak mungkin..."
Suara Eiri bergetar.
Mahendra menatapnya.
"Eiri?"
Eiri tidak menjawab.
Matanya hanya tertuju pada pria tersebut.
Pria itu berjalan perlahan melewati hujan.
Setiap langkahnya membuat orang-orang di sekitarnya mundur dan memberi jalan.
Alena menggenggam tongkatnya lebih erat.
Wajah wanita tua itu terlihat penuh keterkejutan.
"Kau..."
"Seharusnya kau sudah mati."
Pria itu berhenti.
Ia tersenyum tipis.
"Begitu juga denganmu, Alena."
Suara itu membuat Eiri semakin membeku.
Karena suara tersebut...
Memiliki nada yang sama seperti suara ayahnya yang pernah ia dengar dari rekaman lama.
Mahendra langsung mengangkat pistolnya.
"Siapa kau?"
Pria itu tidak peduli.
Ia hanya menatap Eiri.
"Jadi..."
"Anak kecil yang dulu aku tinggalkan..."
"Sudah tumbuh sebesar ini."
Eiri menahan napas.
"Apa maksudmu?"
Pria itu terdiam beberapa saat.
Kemudian perlahan mengangkat wajahnya.
"Aku adalah Arven."
Nama itu membuat Alena terdiam.
Ergan langsung menoleh.
"Arven?"
Mahendra mengerutkan kening.
"Kau mengenalnya?"
Alena tidak langsung menjawab.
Matanya masih terpaku pada pria di depannya.
"Dia..."
"Dia adalah orang yang menyebabkan keluarga Eiri hancur."
Kalimat itu membuat suasana semakin tegang.
Eiri menatap Alena.
"Apa?"
Arven tersenyum kecil.
"Tentu saja dia tidak pernah mengatakan semuanya kepadamu."
"Eiri..."
Mahendra maju sedikit ke depan.
"Tetap di belakangku."
Namun kali ini Eiri tidak bergerak.
Ia ingin jawaban.
Bertahun-tahun hidupnya dipenuhi pertanyaan.
Kenapa orang tuanya pergi?
Kenapa ia harus hidup sendirian?
Kenapa semua orang menyembunyikan sesuatu darinya?
"Apa hubunganmu denganku?"
Tanya Eiri.
Arven menatapnya lama.
"Lihatlah aku baik-baik."
"Aku adalah kakak dari ayahmu."
Semua orang terdiam.
Eiri membelalakkan mata.
"Paman...?"
Arven mengangguk.
"Ya."
"Aku adalah keluarga terakhir yang masih tersisa untukmu."
Mahendra langsung memotong.
"Jangan dengarkan dia."
Arven menoleh.
"Kau sangat melindunginya."
"Aku mengerti."
"Tapi kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun lalu."
Mahendra menggenggam pistolnya lebih kuat.
"Aku tidak perlu tahu masa lalumu untuk tahu satu hal."
"Eiri tidak akan kubiarkan terluka."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Arven berubah.
Ia melihat Mahendra dengan tatapan tajam.
"Kau sama seperti ayahnya."
"Selalu berpikir bisa melindungi semua orang."
Suara tembakan tiba-tiba terdengar.
Dor!
Sebuah peluru menembus tanah di antara mereka.
Semua orang langsung bersiap.
Ergan berteriak.
"Musuh dari arah kanan!"
Pasukan keamanan segera membalas.
Suara tembakan memenuhi malam.
Alena menarik Eiri ke belakang.
"Kita harus masuk!"
"Tidak!"
Eiri menolak.
"Aku ingin tahu kebenarannya!"
Alena menatapnya sedih.
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan."
Mahendra menarik tangan Eiri.
"Kita cari jawaban itu bersama."
Eiri menatap Mahendra.
Untuk pertama kalinya malam itu...
Ia merasa tidak sendirian.
Namun dari kejauhan...
Arven hanya berdiri diam.
Melihat Eiri bersama Mahendra.
"Sayangnya..."
"Dia tidak tahu."
"Ayahnya bukan korban."
"Dan ibunya..."
"...bukan orang yang dia pikir selama ini."
Eiri yang mendengar kalimat itu langsung berhenti.
"Apa maksudmu?"
Arven menatapnya.
"Saat waktunya tiba..."
"Aku akan menunjukkan semuanya."
Petir menyambar langit.
Dan malam itu...
Eiri sadar satu hal.
Serangan ini bukan hanya tentang membunuh mereka.
Mereka datang...
Untuk membuka rahasia yang selama ini terkubur.
Bersambung...