NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Malam itu, di tepi sungai yang tenang, Andi dan Ibu Diana berdiri berjauhan namun menatap arah yang sama: riak air yang menyembunyikan potensi energi raksasa. Diana memutar-mutar pulpen mahal di jarinya, sebuah kebiasaan lama saat ia merasa tidak berdaya di depan angka-angka yang tidak bisa ia kendalikan.

"Anda tahu, Andi," Diana memecah keheningan, "Dewan Komisaris Pery Permata menganggap saya gila. Memberikan otoritas penuh pada 'orang luar' untuk menentukan standar lingkungan kita adalah bunuh diri finansial menurut mereka."

Andi tidak menoleh. Ia sedang memperhatikan Bayu dan Aris yang sedang mengkalibrasi sensor sonar di atas perahu kecil. "Bunuh diri yang sebenarnya adalah membangun istana di atas tanah yang menangis, Bu. Pery Permata sudah terlalu lama membangun makam beton. Sekarang saatnya membangun warisan."

Diana menghela napas, menatap sepatunya yang kini benar-benar kotor oleh lumpur Kalimantan. "Mereka mengirim auditor internal besok. Namanya Baskoro. Dia orang lama, didikan langsung mendiang ayah saya. Dia tipe orang yang akan menghitung setiap paku dan setiap jam kerja. Dia tidak akan suka melihat kita memberikan pelatihan gratis pada warga lokal menggunakan anggaran perusahaan."

Andi terkekeh, suara rendahnya menyatu dengan suara jangkrik hutan. "Baskoro ya? Suruh dia menemui saya di dermaga besok pagi. Saya akan ajak dia memancing, tapi bukan memancing ikan. Saya akan ajak dia memancing masa depan."

Keesokan paginya, suasana di kamp proyek memanas. Baskoro datang dengan kemeja safari rapi dan koper besi. Ia langsung mencecar Rian dengan pertanyaan tentang efisiensi biaya.

"Kenapa kita menggunakan kayu ulin lokal yang harganya mahal untuk bantalan turbin? Bukankah beton pracetak jauh lebih murah?" tanya Baskoro dengan nada tajam.

Rian melirik Andi yang sedang menyeduh kopi di dekat tenda. Andi memberi kode agar Rian tetap tenang.

"Karena beton pracetak akan mengubah PH air di area pemijahan ikan warga, Pak Baskoro," jawab Rian sabar. "Kayu ulin ini sudah menyatu dengan ekosistem mereka selama ratusan tahun. Kita berinvestasi pada keberlanjutan, bukan sekadar penghematan sesaat."

Baskoro mendengus, menuliskan sesuatu di tablet digitalnya. "Ini pemborosan. Saya akan merekomendasikan pemotongan anggaran untuk fase kedua."

Andi melangkah maju, masih memegang cangkir kopinya. "Pak Baskoro, Anda lihat pemuda Dayak yang sedang membongkar transmisi di sana?" Andi menunjuk seorang pemuda bernama Irawan yang dengan tangkas menangani kunci inggris.

"Dia baru belajar tiga minggu, tapi dia sudah tahu perbedaan suara mesin yang sehat dan yang akan rusak hanya dari getarannya. Jika kita pakai orang luar, kita harus bayar biaya mobilisasi, tunjangan jauh, dan risiko konflik sosial. Dengan Irawan, kita punya penjaga mesin yang akan merawat alat ini seumur hidupnya karena alat ini yang memberi cahaya untuk ibunya di rumah."

Andi mendekat, menatap mata Baskoro yang mulai goyah. "Hitung lagi nilai 'kesetiaan' dan 'keamanan' dalam neraca keuangan Anda, Pak. Berapa biaya yang harus Pery Permata keluarkan jika warga di sini marah dan membakar alat berat Anda? Jauh lebih mahal dari sepotong kayu ulin, bukan?"

Baskoro terdiam. Ia melihat Ibu Diana yang berdiri di kejauhan, hanya memperhatikan. Untuk pertama kalinya, sang auditor tidak mencatat apa pun di tabletnya.

Sore harinya, saat matahari mulai turun di balik kanopi hutan, turbin pertama perlahan diturunkan ke dasar sungai menggunakan katrol manual yang dioperasikan bersama oleh tim Politeknik dan pemuda desa. Saat saklar pertama di Rumah Betang dinyalakan, dan lampu-lampu LED kecil mulai berpendar terang di tengah kegelapan hutan, sorak-sorai pecah.

Andi merasakan tangan Andin menggenggam jemarinya erat. Di bawah cahaya lampu yang bersumber dari arus sungai purba itu, Sang Cobra tahu bahwa pertempurannya kali ini telah dimenangkan tanpa perlu mengeluarkan taring.

"Kalimantan sudah bangun, Andi," bisik Andin.

"Bukan bangun, Ndin," koreksi Andi lembut. "Dia hanya sedang menunjukkan kekuatannya pada mereka yang akhirnya mau mendengarkan."

Malam itu, kegembiraan di Rumah Betang tidak berlangsung lama. Di tengah pendar lampu LED yang baru saja menyala, suara raung mesin perahu motor yang kasar memecah kesunyian sungai. Bukan perahu kayu penduduk, melainkan speedboat fiber yang tampak asing di perairan pedalaman itu.

Tiga orang pria turun dengan seragam safari abu-abu yang kaku. Mereka bukan orang Pery Permata, juga bukan bagian dari tim audit Baskoro. Di dada mereka tersemat lencana "Otoritas Konsesi Wilayah".

"Selamat malam, Pak Andi," sapa pria di depan, suaranya sedingin es meskipun udara hutan terasa lembap. "Saya Januar. Kami mendapat laporan adanya instalasi struktur ilegal di badan sungai yang masuk dalam zona konsesi pertambangan PT Arga Bara."

Andi meletakkan cangkir kopinya. Ia menatap Ibu Diana, yang tampak sama terkejutnya. "Ilegal? Kami sudah mengantongi izin lingkungan dari pusat, Pak Januar. Bahkan Kementerian Lingkungan Hidup menyebut ini 'Standar Emas'."

Januar tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat dikenal Andi—senyum birokrat yang memegang kartu as. "Pusat mungkin memberi izin di atas kertas, tapi di lapangan, air sungai ini adalah jalur transportasi utama logistik batu bara. Turbin Anda, sekecil apa pun, dianggap sebagai hambatan navigasi oleh pemegang konsesi."

Baskoro, yang tadinya skeptis terhadap Andi, tiba-tiba melangkah maju. Jiwa auditornya terusik. "Hambatan navigasi? Kami sudah menghitung kedalaman draft kapal tongkang di sini. Turbin ini berada tiga meter di bawah jalur paling dangkal. Secara teknis, klaim itu omong kosong."

"Teknis atau bukan," potong Januar tajam, "surat perintah penghentian sementara sudah keluar. Jika dalam dua puluh empat jam mesin ini tidak diangkat, kami akan membawanya sebagai barang bukti."

Suasana di Rumah Betang seketika senyap. Para pemuda Dayak yang tadi bersorak kini menggenggam gagang parang mereka dengan erat. Irawan menatap Andi dengan pandangan yang hancur. "Pak Andi... apakah lampu ini harus mati lagi?"

Andi berdiri tegak. Ia tidak melihat ke arah Januar, melainkan menatap lurus ke arah kegelapan sungai di mana turbinnya berputar dalam diam. "Dulu di Jakarta, mereka bilang rumah kami merusak pemandangan. Di sini, mereka bilang mesin kami menghambat tongkang batu bara. Polanya selalu sama: yang besar ingin menelan yang kecil."

Andi berjalan mendekati Januar hingga jarak mereka hanya sejengkal. Sang Cobra yang selama ini mencoba tenang, kini memunculkan kilat di matanya yang membuat Januar mundur selangkah.

"Dengarkan saya baik-baik, Pak Januar. Sampaikan pada PT Arga Bara, atau siapa pun yang mengirim Anda. Sungai ini bukan milik perusahaan, sungai ini milik anak-anak yang malam ini baru bisa membaca buku karena cahaya dari arusnya."

Andi menunjuk ke arah Irawan dan warga desa. "Jika Anda ingin mengangkat mesin itu, Anda tidak akan berhadapan dengan pengacara dari Jakarta. Anda akan berhadapan dengan orang-orang yang baru saja menemukan martabatnya. Dan percayalah, energi dari kemarahan mereka jauh lebih besar daripada ledakan dinamit tambang Anda."

Ibu Diana tiba-tiba melangkah ke samping Andi. Ia mengeluarkan ponsel satelitnya. "Pak Januar, sampaikan juga pada atasan Anda. Jika satu kabel saja dicabut dari sungai ini, Pery Permata akan menarik seluruh investasi infrastruktur jalan angkut yang saat ini digunakan bersama oleh Arga Bara. Mari kita lihat siapa yang lebih dulu bangkrut karena 'masalah navigasi'."

Januar tertegun. Ia tidak menyangka korporasi sebesar Pery Permata akan berdiri di pihak "pemberontak" seperti Andi. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik menuju perahunya, meninggalkan deru mesin yang perlahan menjauh.

Andi menghela napas panjang, lalu menoleh pada Andin yang sedari tadi bersiaga di belakangnya. "Temboknya belum runtuh, Ndin. Mereka hanya berganti warna."

"Tapi kali ini kita tidak berdiri sendirian, Andi," sahut Andin lembut sambil menunjuk ke arah warga yang kini berdiri melingkari instalasi turbin di pinggir dermaga, menjaga cahaya mereka agar tetap menyala.

Malam itu, Andi tidak tidur. Ia duduk di dermaga, menjaga sungai itu bersama para pemuda desa. Ia tahu, esok pagi perang yang sebenarnya baru akan dimulai—bukan lagi soal kabel dan generator, tapi soal siapa yang lebih berhak atas aliran kehidupan di tanah Borneo.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!