IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Naufal sampai di rumahnya, setelah mengantarkan Anin pulang. Dan terkejut ketika suasana rumahnya kini terlihat ramai.
"Wah...ini Pak Dokter kita, baru pulang!" sapa seorang pria seumuran orang tuanya.
"Kok semuanya ada di sini? Nggak ada yang ngasih tahu Naufal?" tanya Naufal sambil menatap satu persatu orang yang berada di ruang tamu rumahnya.
"Justru kami yang bertanya-tanya, kenapa kamu nggak kasih kabar jauh-jauh hari kalo Albie mau nikah besok? Kalau tahu dari kemarin-kemarin kan kita nggak mendadak gini pulangnya." sahut pria yang pertama kali menyapa Naufal, dan pria itu adalah Fredrick sahabat kental orang tua Naufal.
"Iya, kenapa sih kamu nggak ngabarin. Apa sebegitu sibuknya jadi dokter, sampe nggak ada waktu buat kami para orang tua ini?" timpal wanita, bernama Paulina. Istri dari Fredrick.
"Ck, kenapa malah jadi nyalahin Naufal sih. Tanya Albie tuh, kenapa nikahnya dadakan." ujar Naufal, yang kemudian menghempaskan tubuhnya di samping Regina, lantas Regina menyambut putra semata wayangnya itu dengan ciuman singkat di dahinya.
"Mama juga nggak ngabarin kalo mau pulang, kenapa?" tanya Naufal, seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang Mama.
"Tanya Papa tuh, Mama aja nggak tahu. Tiba-tiba pas pulang dari meeting, koper udah siap berangkat. Sampe sini baru di kasih tahu, kalo Om Adi telepon katanya Albie nikahnya besok." terang Regina.
"Ya kan kamu tahu sendiri, Toronto – Jakarta kurang lebih 20 jam. Mana ada waktu buat mikirin ini itu." terang Frans, Papanya Naufal seraya menyesap cangkir teh di tangannya.
"Tapi, ya jujur janggal. Kenapa Albie menikah secepat ini dengan gadis lain. Bukannya dulu dia pacarannya sama Alya yang model itu kan?" Sahut Megan, wanita yang juga sahabat Regina dan Frans.
"Dan aku denger juga, calonnya ini masih mahasiswi dengan background yang berbeda sama keluarganya Adi." sahut Paulina.
"Itu juga yang aku dengar, Bu Retno katanya sempat nggak setuju. Tapi sekarang malah sayang banget sama calon cucu mantunya itu. Adi sendiri yang cerita." timpal Megan.
"Ya namanya juga bakal cucu mantu dan sudah jadi jodohnya. Mau nggak mau ya harus setuju. Kamu inget nggak dulu si Zul sama Veronica? Di tentang sama keluarganya karna Zul waktu itu cuma supir. Tapi sekarang lihat, gimana Zul mimpin ANTARA GROUP?" imbuh Megan.
"Justru di tangan Zul, ANTARA GROUP bisa sampe seperti sekarang." Frans ikut menimpali.
Naufal terdiam, ia hanya melirik sekilas para sahabat orang tuanya itu. Diam-diam ia membandingkan dengan dirinya. Relate dengan hubungan yang baru saja ia jalin. Dengan Anin yang notabene bukan dari keluarga kaya, bahkan dari keluarga berantakan.
"Apa kabar kita dulu Ma, orang tua aku sampe di rawat karna darah tinggi gara-gara mereka tahu kita pacaran." tutur Fredrick pada istrinya.
Paulina terkekeh, "Iya juga ya, itu karna kamu di nilai nggak becus kerja sama Papa kan?" sahutnya.
"Ya nggak fair dong, masa aku yang fresh graduate di suruh bersaing sama Papanya yang udah bisnis selama dua puluh tahun. Pasti kalah lah aku." timpal Fredrick.
"Tapi ya, justru aku salut sama Megan deh. Keinget nggak sih gimana dia bikin gonjang ganjing keluarganya Jeremi karna kecegilannya dia." sela Regina yang di sambut oleh tawa semua sahabatnya.
Naufal mendongak, melirik Regina. "Memangnya, Tante Megan sama Om Jeremi dulunya nggak di setujui?" tanya Naufal penasaran.
"Kamu nggak tahu, gimana Tante Megan waktu muda. Tanya tuh sama orangnya." jawab Regina sambil terkekeh.
"Emang gimana?" tanya Naufal heran.
"Dulu itu Tante nggak bisa kalo di atur-atur. Makan di atur, table manner lah. Harus ini, harus itu. Kan kamu tahu betapa bangsawannya suami Tante ini." jawab Megan, lantas melirik suaminya yang sedari tadi diam.
"Tapi gimana, justru aku cintanya sama yang bar-bar begini. Lebih menantang naklukin-nya." Sahut Jeremy seraya menjawil hidung istrinya.
Naufal menghela nafas, akankah kisah cintanya berakhir sama dengan cerita dari sahabat-sahabat orang tuannya ini.
"Eh... tapi Gerald sekarang nurun bapaknya deh. Dia lagi kecintaan sama cewek yang kerja jadi kasir kafe." Megan teringat dengan cerita anak laki-lakinya yang tengah jatuh cinta.
"Masa? Terus gimana tuh, kalian nggak masalah punya mantu karyawan kafe begitu?" Paulina penasaran.
"Ya nggak masalah sih, selama keluarganya baik-baik. Maksudnya bukan yang berantakan gitu. Soalnya aku nggak tega kalau sampe Gerald terkena masalah dari keluarga istrinya. Kan kamu tahu sendiri, aku paling nggak bisa kalo liat Gerald kenapa-napa." terang Megan.
Naufal tercekat, kenapa bahasan ini begitu mirip dengan kisah cintanya?
"Aku juga bakal nyuruh buat pikir ulang deh kalo sampe Bryan jatuh cinta sama cewek yang background keluarganya begitu. Gimana ya, namanya genetik kan susah di ubah. Bisa aja kan sifat orang tuanya yang toxic itu nurun." timpal Paulina, yang tiba-tiba teringat kalau ia pun memiliki anak laki-laki.
Naufal tertegun, betapa pembahasan ini secara tidak langsung juga membahas tentang masalah yang kini tengah ia hadapi.
"Tapi sifat juga kan bisa di ubah, tergantung individunya. Kalau mindsetnya berkembang ke arah positif dengan sendirinya juga akan lebih baik. Nggak semua yang punya orang tua toxic lantas menurun ke anaknya menjadi toxic." Frederick menimpali perkataan istrinya.
Dan itu semakin membuat Naufal gundah gulana. Antara membenarkan sudut pandang Paulina, atau sudut pandang Fredrick suaminya.
"Kalau aku sih, namanya kita seorang Ibu. Pasti mikirin yang terbaik buat anaknya. Jujur aku nggak mau nanti anakku terlibat masalah. Keluarga berantakan itu kan identiknya dengan masalah yang menjurus kriminal. Trauma di dalam keluarga bisa meledak kapan saja. Hampir semua kasus yang aku tangani ya, semacam kasus KDRT sampai terjadi pembunuhan antar keluarga jika di lihat background nya itu berawal dari keluarga yang berantakan. Kayanya aku bakal nyuruh buat Gerald pikirin lagi sama pilihannya." terang Megan, sebagai dokter forensik ia memang banyak mendapati kasus-kasus kriminal serupa.
Naufal menelan ludah. Ucapan Megan bagai petir menyambar hatinya. Bahkan ucapannya seperti tertuju khusus untuknya.
"Iya juga ya, serem kalau mau di ingat-ingat. Intinya nih, meskipun dari keluarga kalangan bawah setidaknya hubungan antar keluarga itu baik-baik saja. Bukan hubungan yang toxic, karna khawatir akan menimbulkan banyak masalah." timpal Regina pada sahabatnya.
Lantas, Naufal spontan melirik Ibunya. Dahinya mengernyit, ia berfikir bagaimana reaksi Ibunya itu jika mengetahui bahwa justru permasalahan itu yang kini tengah di hadapi anaknya.
"Kamu sendiri gimana Naf? Udah ada calonnya belum?" Frederick mengajukan pertanyaan tiba-tiba.
Naufal bengong, tidak tahu harus menjawab apa.
"Di tanya malah bengong, tumben banget hari ini kamu banyak diemnya?" timpal Frans heran.
"Eh...nggak...cuma seneng aja dengerin kalian ngobrol." jawab Naufal sekenanya.
"jawab tuh pertanyaan Om Fred, kita juga penasaran. Masa iya, dokter seganteng kamu belum ada yang punya?" goda Paulina pada Naufal.
"Ng... itu ada, eh...belum. Belum ada yang cocok nih. Kan harus pilih-pilih." Naufal memilih bermain aman.
"Jangan kebanyakan milih, nanti malah zonk!" timpal Fredrick sambil terkekeh.
Naufal hanya tersenyum tipis menanggapinya. Hatinya kini sedang tidak baik. Alhasil ia memilih untuk sendiri dan meninggalkan para sahabat itu melanjutkan obrolannya.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍