Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 PGS
Keesokan harinya....
Sherina sudah siap-siap, bahkan Nining pun sudah menunggu Sherina. "Ayo, berangkat!" ajak Sherina.
"Ayo."
Baru saja Sherina membuka pagar rumahnya, sebuah motor datang dan berhenti di hadapan Sherina. Untuk sesaat Ariel dan Sherina saling pandang satu sama lain, hingga Fuja pun keluar dan Sherina memilih pergi melewati Ariel. Ariel masih menatap kepergian Sherina, sungguh bibir Ariel gatal sekali ingin bertengkar dengan Sherina.
"Ariel!" seru Fuja.
"Ah iya," sahut Ariel gugup.
"Kamu kenapa?" tanya Fuja.
"Tidak apa-apa, ayo kita berangkat!"
Fuja menatap punggung Sherina dengan tatapan kebencian. "Sepertinya wanita itu akan menghalangi hubungan aku dan Ariel, pokoknya semua orang harus menatapku tidak boleh menatap dia," batin Fuja dengan kesalnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di sekolah. Sherina membagikan sarapan yang dia beli di jalan tadi bersama Nining membuat semuanya senang. "Terima kasih loh Bu Sherina, sarapannya," seru Bu Herlin.
"Sama-sama, Bu," sahut Sherina.
Terdengar suara motor Ariel. "Selamat pagi, semuanya!" sapa Ariel.
"Selamat pagi, Pak Ariel!" sahut semuanya serempak.
"Pak, ini ada sarapan gratis tadi Bu Sherina yang bawa," celetuk Pak Budi.
"Tidak, saya sudah sarapan tadi," sahut Ariel sembari melirik ke arah Sherina.
Sedangkan Sherina sama sekali tidak menoleh ke arah Ariel membuat Ariel kesal. "Begini Ibu-ibu dan Bapak-bapak, hari saya membawa guru baru di sekolah ini namanya Fuja. Jangan khawatir, Fuja ini sudah sarjana pendidikan bahkan beliau ini sudah S2 jadi bukan lulusan SMA ya," seru Ariel sembari meledek Sherina.
Lagi-lagi Sherina tidak memperdulikan Ariel, dia hanya sibuk dengan ponselnya saja. "Halo semuanya, perkenalkan nama saya Fuja saya akan bergabung di sekolah ini, mohon bimbingannya dari Ibu dan Bapak guru senior di sini," seru Fuja.
"Selamat datang di sekolah kami, Bu Fuja," seru Bu Herlin.
"Ih, akhirnya kamu ngajar juga di sini," sambung Nining.
Fuja bahagia karena respon semuanya sangat baik, kecuali Sherina yang Fuja lihat biasa-biasa saja. Bel pun berbunyi, semua guru sudah bersiap-siap untuk mengajar di kelas masing-masing. "Kamu ngajar di kelas 3, nanti jam kedua karena jam ke satu pelajaran Bahasa Inggris dulu," seru Ariel.
"Baiklah," sahut Fuja dengan senyumannya.
"Kalau begitu aku ngajar dulu, kamu bisa diam dulu di sini," seru Ariel.
Fuja mengangguk. Semua Guru sudah ke kelas masing-masing, hanya ada beberapa guru saja yang ada di ruangan guru. Sherina sudah bersiap-siap, pada saat Sherina melewati Fuja kaki Sherina sengaja di halau oleh kaki Fuja membuat Sherina sedikit limbung dan beruntung tidak sampai terjatuh.
"Oppps....maaf," seru Fuja dengan santainya.
"Tidak apa-apa," kesal Sherina.
"Dengar ya, kamu jangan sok cantik di sini karena dari segi apa pun kamu kalah denganku. Apalagi kamu cuma lulusan SMA, kamu sama sekali tidak setara denganku," ucap Fuja dengan angkuhnya.
Sherina tersenyum sinis. "Iya, kita memang tidak setara bahkan perbandingannya jauh sekali, jadi lebih baik kita urus saja hidup kita masing-masing jangan saling senggol. Maaf, aku harus mengajar dulu karena anak-anak sudah menunggu," seru Sherina dengan senyumannya.
Sherina pun segera keluar dari ruangan guru itu. "Baguslah kalau sadar diri," gumam Fuja.
Fuja mengira jika Sherina memang sadar diri, tapi maksud dari ucapan Sherina itu perbandingan dirinya yang sebenarnya dengan Fuja memang tidak setara, bahkan Sherina jauh lebih segala-galanya dibandingkan Fuja. Tapi sayangnya Fuja mengira jika Sherina mengaku sadar diri jika Fuja lah yang diatas dia.
Beberapa jam kemudian, pergantian pelajaran pun dilakukan. Sherina kembali masuk ke ruangan guru begitu juga dengan Ariel, dan sekarang giliran Fuja yang mengajar. Sherina kembali memainkan ponselnya, sedangkan Ariel terus saja melirik ke arah Sherina.
"Dia kenapa? tumben diam?" batin Ariel.
"Sher, aku beli ini kamu gak?" seru Nining sembari membawa kantong plastik.
"Apa itu, Ning?" tanya Sherina.
"Ini namanya cireng dan ini namanya cilok," sahut Nining.
"Aneh ih namanya," celetuk Sherina.
"Walaupun namanya aneh, tapi rasanya enak loh. Cobain deh," seru Nining.
Sherina pun mulai mencobanya. "Kok alot sih?" seru Sherina.
"Tapi enak 'kan?" seru Nining.
"Enak sih, lumayan."
Melihat Sherina mengunyah cireng dengan lucunya membuat Ariel tanpa sadar menyunggingkan senyuman. Sherina dan Nining makan dengan riang gembira, bahkan sesekali Sherina melontarkan celetukan-celetukan yang sangat lucu.
Jam istirahat pun tiba....
Semua guru berkumpul karena ingin makan siang bersama. "Ibu-ibu dan Bapak-bapak, mohon jangan makan dulu soalnya sebentar lagi makanan yang saya pesan akan datang!" seru Fuja.
"Makanan apa, Fuja?" tanya Nining.
"Sebagai perkenalan dan kalian sudah menerima aku dengan baik, maka aku memesan makanan untuk kalian sebagai tanda perkenalan saja," sahut Fuja.
Semuanya sangat bahagia, hingga tidak lama kemudian seorang kurir pun datang dan membawa beberapa makanan untuk Bapak dan Ibu guru. Itu ternyata paket nasi lengkap membuat para guru bahagia menerimanya. Fuja dengan angkuhnya melirik sinis kepada Sherina karena merasa menang sudah membagikan makanan itu kepada semuanya.
"Terima kasih Bu Fuja," seru Pak Budi.
"Sama-sama, silakan dimakan," sahut Fuja.
Fuja makan satu meja dengan Ariel. "Nining, sini makannya sama kita," ajak Fuja.
"Sher, kita makan di sana yuk!" seru Nining.
"Ya, sudah kamu pergi sana, aku di sini saja," sahut Sherina.
"Ning, buruan sini!" teriak Fuja.
"Sher, kalau gitu aku ke sana dulu ya," seru Nining.
"Iya, sudah sana jangan pikirkan aku," sahut Sherina dengan senyumannya.
Akhirnya dengan rasa sedikit bersalah, Nining pun menghampiri Fuja. Setelah dibagikan ternyata nasi itu kurang satu dan Sherina tidak mendapatkan jatah. "Loh, Bu Sherina gak makan?" tanya Pak Budi.
Sherina hanya tersenyum. "Ya, ampun ternyata aku pesannya kurang satu, maaf ya Sher kamu gak kebagian," seru Fuja dengan senyum sinis.
"Ya, sudah punyaku saja kasih ke dia," seru Ariel.
"Gak usah, aku masih mampu beli nasi kaya gitu," seru Sherina.
"Sher, kita makan berdua saja!" ajak Nining.
"Tidak Ning, kamu makan saja biar kamu kenyang. Jangan pikirkan aku, di luar banyak jajanan kok aku bisa beli jajanan," sahut Sherina.
Dia pun bangkit dari duduknya dan memilih untuk keluar. Semua guru terdiam merasa kasihan kepada Sherina, Fuja memang sengaja melakukan semua itu. Sherina duduk di bawah pohon bersama anak-anak, dia merasa sangat kesal kepada Fuja bukan karena dia tidak dikasih jatah nasi, melainkan karena Fuja memang sengaja melakukannya.
"Kurang ajar, wanita itu memang sengaja ingin cari gara-gara sama aku," batin Sherina dengan kesalnya.
Sherina pun akhirnya jajan bersama anak-anak, lagi-lagi Sherina memborong jajanan itu membuat anak-anak kembali bahagia. Ariel terdiam, meskipun dia benci kepada Sherina tapi dia tidak suka dengan sifat Fuja yang seperti itu. Fuja terlalu angkuh, dia ingin terlihat terkenal dibandingkan dengan Sherina.