Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK GULA.
"Bunda, aku tidak akan masuk ke dalam kabin pesawat itu kecuali Bunda ikut di sampingku."
Suara Ghifari terdengar datar namun tidak terbantahkan. Pagi itu, di ruang tengah apartemen yang masih beraroma kopi, Alisha berdiri terpaku di depan koper kecil putranya. Ia baru saja meminta Lucas untuk menyiapkan penerbangan darurat kembali ke London. Ketakutannya pada Fardan telah mencapai puncaknya setelah pertemuan di kantor kemarin.
Alisha berlutut di depan Ghifari, memegang kedua bahu kecil itu. "Hanya untuk sementara, Sayang. Bunda harus menyelesaikan kontrak triliunan ini. Setelah itu, Bunda janji akan menyusul."
Ghifari menggeleng perlahan, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Alisha. "Bunda takut pria itu tahu aku anaknya. Tapi melarikan diri hanya akan membuat dia semakin curiga. Algoritma pemburu selalu bekerja lebih keras saat mangsanya menjauh."
Alisha tersentak mendengar pilihan kata putranya. Ia menatap Sarah yang berdiri di dekat dapur dengan wajah prihatin.
"Al, mungkin Ghifari benar," ujar Sarah pelan. "Asalkan kita memastikan Ghifari tidak berpapasan lagi dengan Fardan selama di Jakarta, semuanya akan baik-baik saja. Jakarta ini luas, tidak mungkin mereka bertemu di setiap tikungan jalan."
Alisha menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Perasaanku tidak enak, Sarah. Fardan bukan pria yang mudah menyerah jika sudah menginginkan sesuatu. Dia pasti sedang mengerahkan orang-orangnya sekarang."
Lucas, yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu, melangkah maju. "Aku akan menjaganya dua puluh empat jam, Al. Sistem keamanan portabel sudah kupasang di semua perangkat Ghifari. Jika ada orang asing mendekat dalam radius lima meter, ponselku akan memberi peringatan."
Melihat dukungan dari para sahabatnya, Alisha akhirnya melunakkan pandangannya. Ghifari yang menyadari perubahan suasana hati ibunya segera menyimpan tabletnya ke dalam tas ransel kecil.
"Bunda, Tante Sarah janji akan membawaku ke taman bermain hari ini," ucap Ghifari, mengalihkan pembicaraan dengan nada yang sedikit lebih ceria, meski ekspresinya tetap tenang. "Boleh aku pergi? Aku ingin melihat bagaimana struktur tata ruang hiburan di sini."
Alisha ragu sejenak. "Taman bermain? Tempat itu sangat ramai, Ghifari. Banyak orang yang bisa memperhatikanku lewat dirimu."
"Aku akan memakai topi dan masker, Bunda. Lagipula, Bunda bilang aku harus mencoba menjadi anak kecil biasa sesekali," bujuk Ghifari.
"Biarkan dia pergi, Al. Dia butuh menghirup udara segar setelah perjalanan panjang dari London," tambah Sarah meyakinkan.
Setelah perdebatan singkat, Alisha akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi Lucas harus berada tepat di belakangmu. Bunda akan menyelesaikan pekerjaan di kantor secepat mungkin dan menyusul kalian di sana."
Taman bermain di pusat kota itu tampak sangat meriah. Suara tawa anak-anak dan musik dari komidi putar memenuhi udara. Bagi Ghifari, ini adalah pemandangan yang langka. Selama di London, waktunya lebih banyak dihabiskan di perpustakaan atau ruang kerja kakek angkatnya, Henry. Ia menatap bianglala raksasa dengan dahi berkerut, seolah sedang menghitung beban mekanis pada porosnya.
"Wah, lihat itu Ghifari! Lolipop pelangi!" seru Sarah menunjuk sebuah gerai permen.
Lolipop bulat besar dengan warna-warni cerah itu tampak sangat menggiurkan di bawah sinar matahari. Ghifari menatapnya tanpa ekspresi, namun matanya tidak bisa berbohong bahwa ia tertarik.
"Bunda bilang aku tidak boleh makan gula berlebihan, Tante Sarah. Itu merusak konsentrasi neurotransmitter di otak," ujar Ghifari dengan nada profesor kecilnya.
Sarah tertawa gemas dan langsung menarik tangan Ghifari menuju gerai tersebut. "Ayolah, ini rahasia kita berdua. Satu lolipop tidak akan membuat otak geniusmu melambat. Ini hadiah karena kau sudah mau ikut ke Jakarta."
Sarah membelikan lolipop terbesar dan menyerahkannya pada Ghifari. Bocah itu ragu sejenak, melirik Lucas yang hanya mengangkat bahu sebagai tanda setuju. Akhirnya, Ghifari mengambil permen itu dan mulai menikmatinya. Rasa manis buah-buahan langsung menyebar di lidahnya, membuatnya sedikit rileks.
Namun, di tengah keriuhan itu, sepasang mata sedang mengamati mereka dari balik kerumunan pengunjung. Dewa, asisten kepercayaan Fardan, berdiri tak jauh dari sana dengan pakaian kasual dan topi yang ditarik rendah. Ia sudah mengikuti mereka sejak keluar dari apartemen.
"Sulit sekali," gumam Dewa pada alat komunikasi kecil di kerahnya. "Pengawal campuran itu menempel seperti bayangan. Aku tidak bisa mendekat untuk mengambil sampel rambut."
Dewa terus menjaga jarak aman, menunggu celah sekecil apa pun. Ia melihat Ghifari sedang asyik menghisap lolipopnya sambil berjalan menuju area air mancur. Tiba-tiba, dari kejauhan, sosok Alisha yang baru saja sampai terlihat melambai ke arah mereka.
Ghifari tersentak. Ia teringat larangan ibunya soal permen manis. Dengan gerakan spontan dan cepat, ia mencabut lolipop yang masih tersisa separuh itu dari mulutnya dan melemparkannya ke dalam tempat sampah kecil di pinggir jalan sebelum Alisha sampai di depan mereka.
"Bunda sudah sampai?" tanya Ghifari dengan wajah polos, berusaha menyembunyikan sisa rasa manis di bibirnya.
"Sudah. Apa kalian senang?" tanya Alisha sambil mengusap kepala Ghifari, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.
Dewa yang melihat kejadian itu langsung tersenyum penuh kemenangan. Begitu rombongan Alisha bergerak menjauh menuju area komidi putar, Dewa segera mendekat ke tempat sampah tersebut. Dengan gerakan sigap yang sangat terlatih, ia mengambil sisa permen lolipop yang masih basah oleh air liur Ghifari dan memasukkannya ke dalam kantong plastik bening yang steril.
"Dapat," bisik Dewa. Ia segera berbalik dan menghilang di antara kerumunan, meninggalkan taman bermain secepat kilat.
Satu jam kemudian, Dewa sudah berdiri di dalam ruang kerja Fardan Raffasyah. Suasana di ruangan itu sangat sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang berat. Fardan duduk di balik meja besarnya, menatap jendela dengan tatapan kosong.
"Tuan, saya membawanya," ucap Dewa pelan.
Fardan berbalik seketika. Matanya tertuju pada kantong plastik bening yang diletakkan Dewa di atas mejanya. Sebuah sisa permen lolipop berwarna pelangi.
"Apa ini?" tanya Fardan, alisnya bertaut. "Aku memintamu mengambil rambut atau sampel DNA, bukan sampah."
"Ini sisa permen yang baru saja dimakan oleh bocah itu, Tuan. Pengawal Alisha sangat ketat, mustahil bagi saya untuk menyentuhnya tanpa menimbulkan keributan. Namun, air liur yang menempel pada permen ini mengandung materi genetik yang cukup untuk tes DNA," jelas Dewa dengan detail.
Fardan menatap lolipop itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa jijik, namun lebih banyak rasa penasaran yang membakar jiwanya. Jika bocah itu benar-benar anaknya, maka lolipop murah ini adalah kunci yang akan membongkar semua kebohongan Alisha selama enam tahun terakhir.
"Segera bawa ini ke laboratorium pusat kita," perintah Fardan dengan suara rendah yang bergetar karena emosi. "Gunakan jalur prioritas. Aku ingin hasilnya keluar malam ini juga. Jangan biarkan satu orang pun tahu tentang tes ini, termasuk keluargaku."
"Baik, Tuan. Saya akan langsung berangkat," jawab Dewa, lalu mengambil kembali kantong plastik itu dan melangkah keluar.
Setelah Dewa pergi, Fardan menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Ia memejamkan mata, namun wajah Ghifari terus muncul di kegelapan. Wajah yang begitu mirip dengannya saat ia masih kecil, tatapan dingin yang sama, dan keangkuhan yang serupa.
"Jika kau benar darah dagingku, Alisha... kau telah melakukan kesalahan terbesar dengan menyembunyikannya dariku," bisik Fardan pada kesunyian ruangan.
Di sisi lain kota, Ghifari sedang duduk di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Ia tampak sibuk dengan tabletnya, namun pikirannya sedang bekerja keras. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres saat ia membuang permennya tadi. Sensor keamanan pada jam tangannya sempat mendeteksi pergerakan aneh di belakangnya, namun data tersebut terlalu singkat untuk dianalisis.
"Bunda," panggil Ghifari pelan.
"Iya, Sayang?" sahut Alisha yang sedang menatap jalanan.
"Apa Ayahku orang yang gigih saat mencari sesuatu?"
Alisha terdiam sesaat, hatinya mencelos mendengar pertanyaan itu. "Iya. Dia pria yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Kenapa kau bertanya?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan kemungkinan terburuk dari sebuah eksperimen," jawab Ghifari misterius, lalu kembali mengetikkan kode-kode di layarnya.
Ghifari mulai meretas jaringan CCTV taman bermain yang baru saja mereka kunjungi. Ia ingin melihat siapa yang berdiri di dekat tempat sampah saat ia membuang permennya. Jantung Alisha berdegup kencang, ia merasa bayangan Fardan semakin dekat merayapi kehidupan mereka. Dan malam ini, sebuah hasil laboratorium akan menentukan apakah rahasia yang ia simpan rapat-rapat akan meledak dan menghancurkan segalanya.
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya