Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Kita ke lokasi sekarang," ujar Chen sambil menyambar kunci mobil terbangnya yang sudah penyok di bagian pintu.
Ren hanya bisa pasrah. "Harus sekarang, Pak? Perut saya sudah mulai melakukan unjuk rasa."
"Diam atau aku akan melaporkanmu atas dasar penghalangan investigasi," gertak Chen.
Perjalanan menuju taman bermain yang ditinggalkan itu berlangsung dalam diam. Kota Qilin di malam hari tampak seperti sirkuit elektronik raksasa. Lampu neon ungu dan biru memantul di aspal yang basah oleh gerimis.
Saat mereka sampai, garis polisi virtual masih melingkari area tersebut. Taman bermain itu tampak semakin menyeramkan di bawah cahaya bulan yang tertutup awan tipis.
Chen melangkah keluar, sepatu botnya menginjak pasir yang lembap. Ia segera mengaktifkan Tracing lagi.
"Oke, tunjukkan di mana posisinya," perintahnya.
Ren menunjuk ke arah komidi putar yang sudah tidak berbentuk. "Di sana."
Chen berjalan mendekat, matanya berpendar biru redup. Di sana, ia melihat jejak energi yang kuat. Warna merah gelap—simbol kekerasan dan niat membunuh yang murni.
Ia bisa melihat siluet transparan dari si penyerang. Gerakannya cepat, sangat cepat. Benar-benar di atas rata-rata manusia biasa atau bahkan Awakened Kelas B. Jejak kaki si penyerang menghancurkan tanah, menciptakan kawah-kawah kecil setiap kali ia melompat.
Namun, saat Chen mencoba melacak siapa yang dilawan oleh siluet itu, matanya terbelalak.
Siluet si penyerang itu melompat ke udara, menghujamkan belatinya ke arah ... ketiadaan.
Dalam rekaman energi Tracing milik Chen, si penyerang tampak seperti orang gila yang sedang bertarung dengan hantu. Tidak ada lawan di sana. Tidak ada jejak kaki, tidak ada residu energi, tidak ada bayangan.
Si penyerang mematung di udara, belatinya bergetar seolah menabrak dinding baja yang tak terlihat, lalu pecah berkeping-keping. Kemudian, siluet itu jatuh berlutut dan memutar lehernya sendiri, persis seperti cerita konyol yang dikatakan Ren.
Chen menoleh ke arah Ren yang sedang asyik memperhatikan sebuah ayunan yang berderit ditiup angin.
"Ren," panggil Chen. Suaranya rendah.
"Ya, Pak?"
"Kau bilang kau berdiri di depan orang ini saat dia menyerang?"
"Iya. Jaraknya cuma sepuluh sentimeter dari hidung saya. Bau mulutnya tidak enak, omong-omong."
Chen mengepalkan tangannya. "Lalu kenapa kemampuanku tidak bisa melihatmu? Di mataku, orang ini sedang menyerang udara kosong. Kau tidak meninggalkan jejak sama sekali. Kau ... apa kau punya kemampuan semacam tak kasat mata?"
Ren menggeleng. "Saya cuma admin, Pak. Mana ada kemampuan sekeren itu. Mungkin Kemampuan bapak kurang baik karena kurang istirahat? Atau mungkin karena bau badan saya yang kurang mengenakkan? Saya dengar energi bisa tersamarkan kalau aromanya terlalu kuat."
"Itu teori paling bodoh yang pernah kudengar selama sepuluh tahun menjadi detektif," desis Chen.
Ia berjongkok, memeriksa tanah tempat mayat itu seharusnya berada. Hilang.
"Mayatnya mana?" tanya Chen tajam.
"Lho? Tadi ada di sini," Ren ikut berjongkok, mengais pasir dengan ekspresi bingung. "Mungkin dimakan kucing?"
"Kucing di Qilin tidak makan mayat yang menggunakan jubah pelindung tingkat tinggi, Bodoh!"
Chen berdiri, rasa frustrasi mulai memuncak di ubun-ubunnya. Kasus ini semakin tidak masuk akal. Di satu sisi, ada bukti serangan fisik yang nyata. Di sisi lain, sang korban sekaligus saksi mata adalah pria Kelas C yang jejak keberadaannya tidak terbaca oleh kemampuan Awakened Kelas S.
"Ren, ingat-ingat lagi," Chen mencengkeram bahu Ren. "Apa ada sesuatu yang spesifik? Sebelum dia mati. Apa saja."
Ren terdiam. Ia tampak berpikir keras, hingga alisnya bertaut.
"Ada simbol," jawab Ren akhirnya. "Di pergelangan tangannya. Sebelum ia melakukan aksi 'krek' itu, lengan bajunya tersingkap."
"Simbol apa?"
"Lingkaran hitam. Terus ada titik di tengahnya. Seperti mata yang sedang menatap, tapi versi minimalis."
Wajah Chen mendadak pucat. Ia melepaskan cengkeramannya dari bahu Ren. Langkahnya mundur satu tindak, hampir menabrak perosotan besi yang penyok.
"Kultus Crimson Triad," bisik Chen. "Sial ... mereka benar-benar sudah masuk ke Qilin."
Keheningan menyergap mereka berdua. Gerimis berubah menjadi hujan yang lebih deras, membasuh bau belerang yang masih tertinggal dari Rift.
Chen menatap Ren dengan pandangan baru. Ada sesuatu pada diri pemuda ini yang tidak benar. Entah ia adalah orang paling beruntung di dunia, atau ia adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kultus mana pun yang pernah ada.
"Kita harus melaporkan ini ke pusat. Sekarang," ujar Chen, suaranya sedikit gemetar.
Ren tidak merespons dengan antusias. Ia justru melihat jam tangan digitalnya yang sudah retak.
"Pak," panggil Ren pelan.
"Apa lagi?"
"Kalau laporannya bisa besok pagi saja bagaimana? Kalau tidak makan, nanti saya bisa pingsan di sini, nanti Bapak malah harus menggendong saya ke rumah sakit, dan itu pasti akan merusak citra Bapak sebagai detektif."
Chen menatap Ren, lalu menatap langit yang gelap, lalu kembali menatap Ren.
"Kau baru saja melihat orang bunuh diri di depan matamu, mengetahui ada kultus berbahaya di kota ini, dan yang kau pikirkan hanya perutmu?"
Ren mengangguk mantap. "Prioritas, Pak. Orang mati tidak bisa lapar, tapi orang hidup bisa mati kalau lapar."
Chen menarik napas panjang, menahannya selama lima detik, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia tidak tahu harus tertawa atau meninju wajah datar di depannya itu.
"Terserah kau saja," sahut Chen sambil berjalan menuju mobil. "Tapi besok pagi, pukul tujuh tepat, kau harus sudah ada di kantorku. Dan bawa nasi gorengmu itu kalau perlu."
"Pukul tujuh?" wajah Ren berubah bengkok. "Itu waktu absensiku di AFC ... Baiklah."
Mereka masuk ke dalam mobil terbang yang segera melesat membelah hujan kota Qilin. Di dalam kantong hoodie Ren, Scarstone yang ia ambil tadi diam-diam berdenyut merah tua.
Warna merah itu perlahan menyebar, merayap ke arah kain jaketnya, seolah-olah batu itu memiliki detak jantung sendiri.
Ren tidak menyadarinya. Ia hanya menatap jendela, membayangkan apakah nasi gorengnya lebih enak jika ditambah kecap manis sedikit lagi.
Di kursi kemudi, Chen melirik Ren lewat spion tengah. Matanya menyipit.
'Dunia mungkin sedang di ambang kehancurannya,' pikir Chen, 'tapi sepertinya kehancuran dunia sendiri harus mengantre di belakang jam makan malam seorang admin administrasi yang sangat tidak kompeten ini.'
Mobil itu menghilang di balik gedung pencakar langit, meninggalkan taman bermain yang kini benar-benar kosong, kecuali untuk sisa-sisa belati hitam yang perlahan-lahan mencair menjadi genangan cairan pekat yang berbau amis.
Tiba-tiba, dari balik bayangan perosotan, sebuah tangan pucat muncul dan memungut sisa-sisa belati itu.
"Misi gagal, Subjek tidak berhasil di tangkap," sebuah suara mekanis berbisik pelan, hampir tertutup oleh suara hujan. "Namun, Subjek itu, di luar data kami."