NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjaga batas

   Pagi itu Hanum mengintip dari jendela, ia sudah mengenal betul siapa yang sedang berdiri di depan rumah.

  "Nggak kaget, sering kali masa lalu memang datang tanpa diundang." Gumamnya, setelah melihat Nesa.

   Abi yang sedang memasang jam tangannya, mengamati gerak-gerik sang istri. "Kamu ngapain, Yang?"

   Hanum tersenyum, lalu memberi isyarat melalui matanya yang langsung membuat Abi mengerti maksudnya.

  Abi ikut mengintip dari jendela, ia hanya melirik Hanum sambil menghela napas, lalu memakai kaus kaki dan juga sepatunya.

  Kemudian Hanum ikut melangkah keluar bersama Abi, ia berdiri dengan tenang di sampingnya, seolah semuanya berada dalam kendali.

   "Selamat pagi," sapa Hanum lebih dulu.

   Wanita itu hanya tersenyum tipis, kemudian menjawab. "Pagi! Aku belum punya kendaraan sendiri, aku sama Abi satu tujuan jadi aku pikir, sebaiknya kita berangkatnya bareng."

   Hanum mengangguk, sambil memberi senyuman sopan. "Iya, semalam sudah bilang, kan?" kata Hanum, lalu berbisik di telinga Abi. "Lingkungan kerja memang bisa mempertemukan banyak hal, termasuk masa lalu."

   "Nesa, kamu kan bisa naik taksi!" Tolak Abi, karena tak ingin menciptakan rasa yang tidak nyaman di hati Hanum.

   "Bi, kita dulu sangat dekat, bahkan kamu nggak pernah nolak permintaan aku." Nesa mencoba mengingatkan.

   "Iya, tapi itu dulu, dan setiap orang punya cerita sebelum akhirnya memilih kemana dia akan pulang, kan?" Jawab Abi dengan santai, kemudian menggenggam erat tangan Hanum, demi mempertegas jawabannya.

   Sejenak suasana menjadi hening, tidak ada nada tinggi, tidak ada emosi berlebih, kecuali kepastian yang tidak perlu diperdebatkan.

   Kemudian Nesa menarik napas pelan. "Jadi, kita berangkat sekarang?"

   Abi menatap Hanum, mencari jawaban itu melalui matanya.

    Hanum membenarkan dasi yang melingkar di leher sang suami, sambil tersenyum kecil yang lebih hangat, namun terukur.

   "Di kantor nanti, aku yakin kalian bisa menjalankan peran masing-masing secara profesional. Karena..." ia melirik Nesa kemudian beralih menatap suaminya, "profesionalitas itu, akan terlihat dari seseorang yang bisa menjaga batas."

   Ucapan Hanum membuat Nesa benar-benar terdiam. Hanum merasa, beberapa hal tidak perlu diperebutkan dengan suara keras. Karena posisi yang pasti, akan selalu berbicara dengan sendirinya.

  Hanum mengambil tangan Abi, ia menyematkan sebuah kecupan hangat di punggung tangannya, kemudian Abi membalas dengan menautkan telapak tangannya ke pipi Hanum. Lalu Abi membenamkan kecupan di kening Hanum, seakan menitipkan rindu sebelum hari memisahkan mereka.

   "Aku berangkat dulu." Pamit Abi yang dijawab anggukan oleh Hanum.

   "Jangan lupa makan siang."

   "Kamu juga jangan terlalu capek."

    Hanum kembali mengangguk, "tapi aku membutuhkan satu hal."

   "Apa?"

   "Pulangmu." Gurau hanum yang membuat Nesa semakin merasa terbakar hatinya.

   Dadanya terasa sesak saat melihat keromantisan Abi dan Hanum. Setiap tawa, setiap sentuhan, seolah menamparnya dengan kenangan yang belum usai.

   Kakinya seperti telah tertanam di tempat, ada amarah, ada rindu, dan penyesalan yang bercampur aduk jadi satu.

   Cairan bening pun mulai mengintip, "seharusnya itu aku." Bisiknya pelan.

  "Hati-hati, Yang!" teriak Hanum sambil melambaikan tangannya dengan semangat.

   * *

  Beberapa menit meninggalkan rumah, Abi engan membuka obrolan. Ia fokus memegang kendali setir sambil menatap jalanan yang mulai dipadati oleh kendaraan.

  "Bi, apa kamu nggak ingin bertanya apapun sama aku?" tanya Nesa penuh harap.

  "Apa lagi yang perlu aku tanyakan?" jawab Abi, santai.

  "Ya, misalnya gimana kabar aku sekarang? Atau gimana perasaan aku setelah bercerai? Kamu nggak peduli sama perasaan aku?"

  Pertanyaan Nesa menimbulkan smirk di wajahnya. "Nggak, aku cuma peduli sama orang yang bisa memahami perasaan aku."

  Nesa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak mungkin, Bi! Aku tahu, kamu pasti cuma ingin buat aku cemburu aja, kan?"

  Hening....Abi engan memberi jawaban.

  "Bi, kita bisa kok mulai dari awal." Sambungnya lagi, "kamu perlu tahu, Bi. Walaupun aku sudah menikah sama Davin, tapi aku masih menjaga kehormatan aku. Dan semua ini hanya demi kamu, Bi!"

  "Apakah yang aku katakan, dan yang aku lakukan ini masih belum cukup untuk membuktikan?"

  "Maksudnya?"

  "Dulu, aku memang menginginkan kamu jadi istri aku. Tapi itu, dulu!"

  Cairan bening tak dapat dibendung lagi, Nesa merasa terpukul atas ucapan Abi. "Nggak, Bi. Aku yakin kamu masih Abi yang sama, kita masih bisa kok, kalau mau mulai lagi dari awal."

  "Buang jauh-jauh harapanmu itu, atau kamu turun sekarang?!" kata Abi sambil menghetikan mobilnya di tepi jalan.

  Mulut Nesa terbuka, namun tak dapat mengeluarkan suaranya. Ia merasa tidak percaya dengan yang baru saja Abi katakan.

  Abi melirik Nesa yang terus menjatuhkan bulir-bulir kristal, kemudian kembali melajukan mobilnya, tanpa bicara apa-apa lagi.

  * *

  Aroma bumbu yang baru ditumis masih melekat diujung inderanya. Hanum yang masih belum bisa memasak, berdiri di samping ibu mertua yang sedang memasak, setelah Abi berangkat kerja.

   Diamatinya setiap gerakan tangan ibu mertua ketika menakar, mengaduk, hingga mencicipi masakan itu dengan penuh keyakinan.

  "Kapan ya, aku bisa masak seperti ibu?"

  Bu Elis tersenyum tipis, "semua ini butuh waktu." Katanya.

   Hanum mengangguk, menyimpan setiap yang ia pelajari dari ibu mertuanya itu dengan sungguh-sungguh. "Mudah-mudahan, suatu hari aku bisa menghadirkan masakan dengan rasa yang sama, seperti masakan ibu."

    "Pasti, Num! Ibu yakin kamu akan cepat memahami." Kata ibu mertua.

    Masakan terakhir terhidang, Hanum mengusap tangan pada celemek dan menarik napas panjang. "Sayangnya waktuku tak banyak, aku harus segera bersiap. Maaf ya, ibu, aku tak boleh terlambat hanya karena terlalu serius di dapur."

   Bu Elis tertawa bahagia, "baiklah, kita coba lagi besok."

Hanum berpamitan dengan sopan, mencium tangan ibu mertua sebelum melangkah keluar.

Tetapi langkahnya terhenti ketika ia membuka pintu.

Di depan, tampak sosok yang tak asing sedang bersandar di atas motornya. Sosok yang seharusnya sudah menjadi bagian dari masa lalu, seperti sedang menunggunya.

Dan Entah mengapa, suasana yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk di jelaskan.

"Hai." Sapa Reza sambil berdiri tegak.

"Mau apa kamu?"

"Aku nggak mau apa-apa, cuma mau lihat kamu." Jawabnya dengan santai.

"Sekarang sudah lihat, jadi pergilah!" usir Hanum.

"Aku cuma ingin mastiin kalau kamu baik-baik saja."

"Itu nggak perlu, aku sudah ada yang perhatiin." Kata Hanum sambil ingin berjalan.

Reza menahan tangannya, "tunggu, Num. Aku antar ya?"

"Lepas!"

"Oke, oke, aku lepas, tapi biarkan aku mengantar kamu, kali ini aja." Ucap Reza memohon.

"Siapa, Num?" tanya bu Elis yang tiba-tiba keluar rumah.

Hanum menatap Reza dengan tegang, kemudian berusaha tenang saat menoleh ke arah ibu mertuanya. "Orang cari alamat, bu."

Sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, bu Elis berjalan mendekati mereka. "Oh, cari alamat siapa, mas?"

"E—bukan, sa—saya temannya Hanum." Ucapnya terbata.

Hanum membulatkan matanya, menatap Reza dengan kekesalan yang sulit dijelaskan.

Bu Elis tertawa, namun tatapannya penuh kecurigaan. "Teman?" tanya bu Elis yang dijawab anggukan cepat oleh Reza.

"Iya, ibu." Kata Reza sambil mencium tangan bu Elis, "saya teman dekat Hanum. E, maksud saya kita memang dekat."

Bu Elis menatap Hanum, "temannya kenapa nggak disuruh masuk, Num?"

"E—sebenarnya saya mau jemput Hanum, karena anak-anak sudah pada nunggu!" Alasan Reza yang membuat Hanum merasa tak enak sendiri.

"Oh, ya sudah. Kalau begitu, kalian cepatlah berangkat!"

"Oh, iya. Saya sama Hanum pergi dulu ya, bu?" pamit Reza sambil terburu-buru menaiki motornya.

Reza tersenyum sambil menyodorkan helm ke arah Hanum, yang membuat Hanum terpaksa harus menerimanya.

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!