Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—21
Bumantara berdiri di tengah-tengah keramaian manusia yang sedang menikmati pestanya, ada yang sedang berjoget ria, bahkan ada yang duduk di pojok dengan para pasangan nya.
Namun bukan itu yang sedang Bumantara cari— saat ini ia sedang mencari geng Kapak yang di pimpin Rangga bersama kawan-kawan nya.
"Axel, lo bilang mereka ada sini! Kok... ini enggak ada?!" teriak Virgo, mencoba menyaingi suara musik di depan sana.
Axel menatap ke sekeliling arah dan mengangkat kedua bahunya, "Udah benar kok informasi nya. Enggak mungkin si Andi salah info," balas Axel tak kalah teriak.
Bumantara yang menemukan titik terang nya, bergegas melangkah kaki kearah tujuan lorong belakang — melihat itu membuat pengikut yang lainnya serentak mengikuti langkah Bumantara.
"Bos! Kita mau kemana?" tanya Axel, masih mengikuti Bumantara yang berjalan dengan santai.
"Mereka keluar lewat belakang. Beserta dengan tangkapan nya," kata Bumantara. "Sean, kepung mereka. Bawa beberapa dari mereka untuk kamu ajak," perintahnya.
"Siap, Tuan!" Membuat Aris dan Axel saling tatap, tidak mengerti dengan jalan pikiran Bumantara, padahal mereka bisa bersama-sama untuk mengepung geng itu.
"Bos Buma, kenapa kita membiarkan Sean yang ke sana, sedang kita masih berdiri di sini?" tanya Kenzo, sembari menatap kepergian Sean dengan ke empat lain nya, sedangkan mereka berlima masih berdiri di lorong yang bercahaya remang-remang, bahkan berdiri di belakang Bumantara.
"Rangga tidak ada sana. Jadi Aris ... siapa tujuan mu. Rangga atau ke mereka yang sedang di kejar Sean? Jika kita mengejar mereka maka Rangga akan bersembunyi, sehingga membuat rencana balas dendam mu akan lebih lama lagi."
Aris berdecak kesal, saat memikir kan si Rangga itu bersembunyi dari kejarannya, yang pasti akan membuat rencana balas dendam nya tertunda semakin lama.
Mereka sudah tau bagaimana tabiat pengecut nya ketua geng itu, si ketua geng yang berani menantang orang, si ketua geng yang sok kuat, si ketua geng yang cuma main keroyokan saat tak ada musuhnya melebihi satu atau dua orang.
"Sial... jadi si brengsek itu kabur!?" seru Virgo marah.
Bumantara menatap ke empat teman nya, "Bukan kabur. Tapi memang tidak pernah ada sini," jawabnya santai.
Virgo ternganga tak percaya, "Kenapa dia enggak kesini?" gumam Virgo sambil berdecak.
"Kenapa bos Buma, bisa tau jika si brengsek itu enggak ada di sini? Terus kenapa bos Buma, enggak memberi tahukan kami sejak awal, jadi kami enggak usah susah payah kesini. Dan seharus nya bos Buma langsung ajak kami ke tempat si brengsek itu tinggal sekarang."
Aris mengerutkan kening dalam, menatap Bumantara yang bersandar di dinding.
"Hanya mengetes kemampuan pekerjaan kalian. Dan sampai sekarang kau, Axel, belum menemukan pria penghianat itu."
Bumantara menatap Axel tajam, suaranya terdengar dalam namun penuh intimidasi — sehingga membuat Axel meneguk saliva nya pelan.
Axel dan Kenzo menundukkan kepala nya saat di tatap Bumantara, mereka akui, hingga sampai sekarang mereka berdua belum juga menemukan penghianat yang berhasil kabur, dan tugas ini sebenar nya memang keinginan mereka berdua yang ambil.
Axel dan Kenzo ingin Bumantara mempercayai mereka berdua, karena tentang kehidupan Bumantara belum sepenuh nya mereka ketahui.
Melihat ke empat pria itu yang menundukkan pandangan nya, membuat Bumantara menghela napas panjang,
"Bekerjalah lebih giat lagi, jika ingin masuk 'Nebula inti," ucap Bumantara. "Aris, sekarang kita pergi ke arah vila pacar mu. Kau pasti tau kan?"
Bumantara menatap ekspresi kaget dari Aris, namun pria itu tak bicara dia hanya mengangguk, meski sedikit ada keraguan.
Rasa penasaran ke empat pria itu bisa Bumantara ketahui, namun ia tak ingin banyak bicara, jadi ia kembali berjalan ke lorong belakang sembari mengambil ponsel dan menerima telepon dari Sean yang berhasil menangkap anak buah geng Kapak, meski hanya ada lima orang.
"Bawa ke markas biasa," perintah Bumantara sambil menutup sambungan telepon itu.
🌹🌹🌹
Arumi menatap Brio yang sedang berbicara dengan seseorang yang menurut nya terbilang cukup dewasa.
"Mbak Arumi, pesanan nya mau dibawa pulang apa mau makan disini? Biar aku pesan kan sekalian," ujar Brio.
Arumi tersentak, lalu tersenyum kecil, "Bawa pulang aja, Brio. Nasi goreng aja." Arumi mengangguk kecil saat tatapan nya bersirobok dengan pria dewasa yang rambut nya gondrong dengan kumis tipis yang sedikit membuat wajahnya terkesan manis.
"Oke, Mbak... Mas Ares, pesan enggak?" Brio kembali bertanya kepada pria dewasa tadi yang ternyata Ares.
Ares menghela napas panjang, menatap Brio dengan malas, "Tidak...."
Ares sedikit merasa rugi karena tidak bisa ikut tempur bersama rekan yang lain nya, namun dia tidak bisa apa-apa saat pemimpin yang memerintahkan nya untuk turun tangan menjaga gadis bos nya.
Brio mengangguk-angguk, seraya kembali untuk memesan pesanannya dengan Arumi — tadi nya dia ingin langsung pulang saat melihat Ares dari kejauhan, namun dia malah merasa lapar beneran dan jadilah menunggu di warung makan bersama Arumi, meski tadi bersama Elena yang sudah dijemput pria tua.
Telepon milik Arumi berdering, membuat ia mengalihkan perhatian nya dari jalan yang ramai dengan kendaraan yang hilir-mudik. Mata nya menyipit saat melihat nama yang tertera di layar ponsel nya dan ia juga menjawab telepon itu yang masih berdering, lalu mengangkat dan meletakan di telinga.
Namun hanya diam, sambil menunggu suara dari balik benda pipih itu.
"Belum tidur, Arumi?"
Suara itu terdengar dalam dan lembut.
Sebisa mungkin Arumi memanilisirkan detak jantung nya yang berdetak berlebihan saat mendengar suara itu, bahkan ia juga mulai merasa pipi nya memanas membuat ia gerah.
Arumi berdeham, "Jam segini, belum saat nya aku tidur," jawab nya lirih, lembut, membuat pria di balik benda pipih itu terkekeh.
"Lalu, apa yang sedang kamu lakukan, sayang?" tanya pria itu lagi, yang kembali membuat Arumi gugup — sehingga membuat ia spontan menatap sekeliling nya, ia takut suara lembut Bumantara di dengar banyak orang.
Setelah merasa aman, ia kembali fokus dengan telepon yang masih tersambung itu. "Aku sedang di luar. Kamu jangan panggil aku gitu," tegur Arumi pelan.
"Kenapa hm? Pipi kamu memerah, sayang. Dan itu membuat aku merindukan mu, aku ingin mencium pipi merah merona itu."
Kata-kata manis penuh gombalan itu, kembali membuat jantung Arumi berdegup, darahnya berdesir hangat, ia merasa perut nya berterbangan kupu-kupu, rasa yang selalu membuat nya bertanya di dalam hati.
"Arumi sayang, seperti nya teleponnya harus aku matikan dulu. Tunggu aku yah."
Arumi menatap ponsel nya yang sudah tidak terhubung lagi dengan ponsel Bumantara, namun kata-kata lembut Bumantara masih membekas di hatinya.
"Mbak, pesanan udah jadi nih. Udah di bayar juga sama, Mas Ares. Ayok kita pulang," suara ajakan Brio, mengangetkan kan Arumi yang masih menatap layar ponsel nya.
"Ehh..."
——
——
Bersambung...