Pertemuan tidak sengaja Arabella dengan seorang wanita di cafe tempatnya bekerja, membawanya menjadi pengantin pengganti untuk seorang putra Billionaire Rusia, kondisi Arabella yang sedang membutuhkan banyak uang sehingga ia menerima penawaran wanita itu. Bukan hanya menjadi pengantin pengganti, ia juga harus menjadi putri pengganti dari seorang Billionaire Rusia yang memiliki pengaruh sangat besar di negara itu, Anara itulah nama barunya.
Neal Radislav tidak punya pilihan lain, selain bersedia melangsungkan pernikahan itu demi nama baik dua keluarga, walaupun Arabella memiliki wajah yang persis sama dengan kekasihnya, tak ada sedikitpun sikap manis yang Neal tunjukkan, baginya Anara adalah wanita yang tidak akan tergantikan di dunia ini.
Kenapa Arabella harus berpura-pura menjadi Anara? mampukan sikap lembut dan penyabar Arabella menaklukkan hati Neal? Rahasia apa yang tersembunyi dibalik sikap tertutup Arabella?
Ikuti kisah cinta mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Penenang
Arabela tak menghiraukan atapan kesal yang masih bergelayut di mata Neal karena ulahnya tadi, dengan santai ia keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet, bersikap seolah tak pernah terjadi apapun, tentu saja
sikap itu semakin membuat Neal kesal, setelah Ara menghilang dari pandangannya ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi ia tidak mendapati Ara disana , ia pun segera menuju walk in closet dan berganti pakaian namun juga tak menemukan Ara ada disana, namun ia melihat pakaian santai yang sudah disiapkan Ara tergeletak diatas sofa, Neal pun segera meraihnya dan memakainya, tak lupa merapikan rambut dan menyembrotkan body spray ke tubuhnya, setelahnya ia pun beranjak keluar, saat ia keluar dari walk in closet ia melihat Ara masuk ke kamar.
“Ayo Neal kita sarapan," ajak Ara yang berdiri di depan pintu kamar, tak ada sahutan dari Neal tapi langkah kakinya mendekati Ara, Ara pun segera mengikuti langkah Neal yang berjalan mendahuluinya. Tak terdengar suara sampai mereka menyelesaikan sarapannya, Neal pun segera berlalu meninggalkan meja makan, tapi baru beberapa langkah Mark datang, keduanya berbicara sangat serius tapi Ara tak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, Ara hanya menatap punggung Neal yang naik ke lantai dua .
*****
Arabela dan Jessy begitu sangat bahagia bermain di taman yang sangat terkenal di kota Moskow, keduanya pun ingin naik sepeda berkeliling taman dan segera menghampiri Neal dan Maxim, Neal yang duduk di bangku taman yang masih terlihat asyk dengan ponselnya sedang Maxim sibuk memotret sekitarnya dengan kamera yang dibawahnya. Maxim langsung menyetujui ajakan Ara dan Jessy untuk bersepeda tapi tidak dengan Neal, ia menolak mentah-mentah permintaan istri dan adiknya itu.
“Ya sudah, kau tinggal disini saja... ayo Max... Jessy kita tinggalkan saja kakakmu yang menyebalkan ini," ucap Ara kesal sambil menarik tangan Max dan Jessy.
“Kau bilang apa," bentak Neal cukup keras sehingga menghentikan langkah ketiganya dan segera membalikkan tubuhnya.
“Kalau hanya duduk saja ngapain kesini kau bisa melakukannya di rumah," seru Ara tak kalah kesal.
“Terserah aku mau duduk disini atau di rumah," ucap Neal menatap tajam Arabela.
“Kakak sudah... kalau tidak mau ikut tinggal saja disini kami mau bersepeda berkeliling taman ini," sahut Jessy yang sedari tadi hanya diam, sejenak Neal menatap adiknya itu,”Kalau kakak tak ingin ikut kita tidak memaksa," imbuh Jessy.
Sedangkan Ara dan Maxim sudah melangkah pergi ke tempat penyewaan sepeda,”Baiklah kakak akan ikut," ucap Neal akhirnya yang disambut senyum senang Jessy ia pun segera marangkul lengan kakaknya untuk menyusul Arabela dan Maxim yang terlihat sedang memilih sepeda.
“Kau ikut dengan ku saja," ucap Neal sambil menarik tangan Ara, kemudian ia mengambil sepeda yang ada tempat bocengannya dan segera membayar sepeda untuknya dan kedua adiknya, Maxim dan Jessy segera melajukan sepedanya.
“Ayo naik," ajak Neal sambil menatap Ara yang masih terbengong, ia terlihat sedikit ragu.
“Kau yakin Neal aku ini berat loh," ucap Ara polos, ucapannya barusan membuat Neal menarik sedikit ujung bibirnya tersenyum mengejek.
“Menggendongmu saja berkeliling taman ini aku sanggup," seru Neal.
“Atau kau memang ingin aku gendong," imbuh Neal hendak meletakkan sepeda itu , namun dengan cepat Ara menahannya,”Iya.. aku percaya, ayo Jessy dan Max sudah meninggalakn kita cukup jauh," ucap Ara sambil naik ke
boncengan sepeda.
“Berpegangan yang erat kalau kau terjatuh nanti malah merepotkanku," seru Neal mulai mengayuh sepedanya. Ara pun segera melingkarkan tangannya ke pinggang Neal sambil menggerutu karena kesal, sejenak Neal menatap tangan Ara yang melingkar di pinggangnya, jujur ini pertama kali ia berboncengan sepeda dengaan wanita, Neal
hampir saja menabrak pohon karena asyik dengan pikirannya , untuk saja teriakan dan cubitan tangan Ara di pingangnya menyadarkan lamunannya.
“Aduh.. kenapa kau mencubitku," seru Neal kesal. Ara hanya terkekeh,”makannya jangan melamun, kau masih memikirkan pekerjaanmu, satu hari saja kau tidak memikirkan pekerjaan tidak akan membuatmu miskin," seru Ara
"Kalau aku miskin pasti kau akan mencari lelaki kaya yang lain," ucap Neal begitu saja.
“Aku tidak menyukai lelaki karena ia memiliki banyak uang, ia cukup mencintaiku dan uang bisa kita cari bersama," ucap Ara mengalir tanpa ia sadari, Neal terdiam mendengar ucapan Ara yang terdengar begitu tulus dan penuhi kepolosan di telinganya.
Ara menyandarkan wajahnya ke punggung Neal sambil menatap sekeliling taman yang di penuhi oleh bunga-bunga sehingga terlihat begitu cantik, Neal segera menghentikan laju sepedanya melihat kedua adiknya Maxim sedang sibuk memotret Jessy, melihat Ara dan kakaknya di sana ia segera menarik Ara untuk berpose dengannya, Neal hanya mengamati keduannya.
Jessy pun akhirnya menarik tangan Neal untuk ikut bergabung, Neal yang tidak suka di potret, menolak ajakan adiknya dengan halus,
"Kakak, ayolah satu kali saja," rayu Jessy tetap menarik tangan Neal, akhirnya Neal menurut mengikuti langkah adiknya, Maxim mengambil beberapa gambar Neal dan Jessy, kemudian Jessy menarik Ara untuk ikut bergabung,
mereka mengambil foto bertiga dengan Jessy di tengannya, setelah selesai ia pun meninggalkan Ara dan kakaknya.
“Sekarang kakak berdua ya," ucap Jessy yang membuat keduanya kaget karena tidak menduga sedikitpun.
“Ayo kan peluk kak Ara biar terlihat romantis... seperti ini," ucap Jessy sambil memberi contoh dengan memeluk Maxim di sampingnya, tapi sayang keduanya malah menjauh sehingga tak jadi mengambil gambar mereka berdua
tentu saja membuat Jessy kesal. Mereka pun segera melanjutkan sepedanya.
****
Sudah hampir sore ketika mereka mengakhiri perjalan mereka dengan menyewa kapal pesiar untuk mengelilingi Sungai Moskva, Ara yang tidak pernah naik kapal sebelumnya menolak karena takut, tapi sayang penolakannya
tidak berlaku karena ketiganya memaksa Ara untuk naik ke kapal yang cukup besar itu, Ara yang sedang duduk di salah satu bangku disana berpegangan pada sebuah tiang yang cukup besar saat kapal mulai berlayar membelah sungai, sedangkan Jessy dan Maxim berdiri di dek kapal sambil menikmati sore yang terlihat sangat cantik, Maxim terlihat asik memotret keindahan di sepanjang sungai.
Perlahan Neal berjalan menghampiri Ara yang masih diam mematung sambil tangannya memegang tiang kapal terlihat jelas raut ketakutan di wajahnya.
“Apakah kau pusing," sapa Neal pelan sambil menatap wajah wanita cantik didepannya, Ara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Kenapa kau pucat sekali?" Tanya Neal sambil mengusap lembut pipi Ara.
“Aku hanya takut saja, bagaimana kalau kapal ini tenggelam aku tidak bisa berenang," sahut Ara pelan dengan polos, jawaban Ara membuat Neal terkekeh,
“Kapal ini tak akan tenggelam, kalau pun tenggelam aku akan menyelamatkanmu, aku ini perenang yang baik," ujar Neal sambil mengusap puncak kepala Ara, kemudian ia meraih kepala Ara dan menyandarkan ke bahunya.
“Peluklah aku... nanti kau akan terbiasa, kita akan makan malam di sini," lanjut Neal, Ara pun mengangukan kepalanya. Ia menatap wajah Neal yang begitu dekat dengan matanya, ia pun mengeratkan pelukannya sambil
memejamkan matanya, Maxim yang terlihat masih memotert langsung mengabadikan moment yang tak jauh dari matanya itu, setelah puas mengambil beberapa gambar Maxim pun mengamati hasil jepretannya sambil senyum-senyum sendiri.
.
.
.
.
.
.
Bersambung