NovelToon NovelToon
Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:35.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Unchi

menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.

Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.


Baca kisahnya di sini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Azzahra menatap umi Kulsum sambil tersenyum. Lalu kepalanya menggeleng pelan.

Senyum itu pun menular kepadaku. Aku lega melihat dia menggeleng.

"Enggak Mi. Mas Mustafa gak maksa Azzah. Justru Azzah yang setuju tinggal di rumah mas Mustafa," ucapnya.

Umi Kulsum masih tak terima dengan jawaban itu.

"Tapi Azzah... Umi gak percaya sama dia. Umi begini juga demi kebaikanmu Azzah. Jadi umi mohon, dengerin umi. Jangan mau tinggal sama dia. Tetap tinggal di sini bareng kita ya Azzah," bujuk umi Kulsum sambil mendekat ke arah Azzahra. Dia menggenggam tangan anaknya itu dengan erat.

Azzahra menoleh ke arahku. Harapan untuk tinggal bersama mendadak pupus. Aku tak mau memaksa apapun. Jadi aku hanya bisa pasrah aja menerima keadaan ini.

"Umi, Azzah udah menikah. Harus sampai kapan Azzah merepotkan umi? Azzah janji..., Azzah pasti sering menelepon umi. Pokoknya umi jangan khawatir," bujuk Azzahra kali ini.

Umi Kulsum menoleh ke arahku. Dia menatapku dengan tajam. Aku sungkan, segera aku menunduk.

"Kali ini..." Ucapan itu terhenti. Suaranya yang berat seperti tersayat. Sampai aku tak tega. Mungkin Umi Kulsum menahan amarah sekaligus kesedihannya.

"Kali ini umi titip Azzah. Jaga dia baik-baik. Jika kau melukai seujung kukunya, umi tak akan pernah ridho. Umi tak akan merestuimu menjadi suaminya lagi jika kau ketahuan berbuat macam-macam atau menyakitinya!" ucap umi Kulsum penuh ancaman.

"Saya janji umi. Tapi... Gimana dengan masa laluku? Aku yakin pasti akan menyakiti Azzahra.'

"Tapi apa?" Dia menatapku tajam.

"Tuhkan Zah! Dia aja gak bisa janji. Umi yakin dia tak akan bisa membahagiakanmu," ucap umi saat aku belum bisa menjawab tapi itu.

Apakah aku perlu berkata jujur?

"Gak harus sekarang umi. Mungkin pelan-pelan mas Mustafa bisa menepati janjinya. Karena kami ini manusia, bisa saja sewaktu-waktu menjadi khilaf," terang Azzahra mengingatkan umi Kulsum.

Iya benar sekali. Sebenarnya masih banyak hal di masa lalu. Jika satu janji akan merusak masa sekarang, itu yang sangat ku khawatirkan. Aku tak mau perpisahan. Apapun itu aku mau rumah tangga dan hidup bareng Azzahra.

"Tapi umi gak mau dia menyakitimu?" Umi Kulsum kembali menatap Azzahra sambil menitikkan air mata.

Aku hanya bisa bernafas gusar. Memang penyesalan selalu datang belakangan. Jika tidak ada kejadian itu, mungkinkah aku bisa menikahinya?

"Azzah yakin, mas Mustafa akan berubah. Iya kan mas?" tanyanya sambil melihat ke arahku.

Aku gugup. Namun aku sudah berjanji. Aku sudah tobat. Aku yakin aku bisa berubah.

"Iya Dik. InsyaAllah mas akan menjauhi hal-hal yang dilarang agama!" jawabku dengan mantap.

Pak Rahmad akhirnya menengahi kami.

"Udahlah umi. Ijinkan Azzah tinggal bersama nak Mustafa. Mereka juga sudah menikah, sudah halal. Jadi apa yang umi khawatirkan?"

Umi Kulsum terdiam. Lalu dia melepaskan tangannya dari tangan Azzahra.

"Jika itu maumu. Umi bisa apa. Terserah jika kamu mau ikut. Tapi jika dia menyakitimu, segera telpon umi!" jawab umi Kulsum pada akhirnya.

Aku tersenyum senang. Akhirnya kami diijinkan tinggal berdua.

"Terimakasih umi, terimakasih banyak!" jawabku senang.

"Terimakasih banyak Pak!" ucapku pada pak Rahmad sambil menjabat tangannya.

"Iya Nak. Sama-sama. Tapi kau harus benar-benar tobat. Jika tidak? Bogeman tangan abi masih berlaku untukmu kapanpun!" jawabnya dan aku meringis mengingat beberapa hari yang lalu.

"Iya Bi. Saya pasti akan tobat," jawabku lagi. Tapi aku masih belum bisa bercerita tentang masa laluku yang kelam. Bagaimana caraku untuk mengatakan ini?

Ini baru diijinkan. Jika aku cerita sekarang, semua pasti tak akan baik. Jadi biarkan aku simpan dulu. Seenggaknya suami Jule gak akan tahu tempat ini.

"Baguslah. Abi percaya sama kamu," jawab bapak mertuaku.

"Iya Pak makasih. Kalau begitu kami bersiap-siap dulu," jawabku pamit pada pak Rahmad dan Umi Kulsum.

Terlihat umi Kulsum yang masih berat mengiyakannya.

Tapi aku dan Azzahra tetap berjalan bareng ke kamar.

Aku menutup pintu dan mengajak Azzahra duduk di kasur.

"Dik. Maaf ya," ucapku merasa bersalah. Tapi aku benar-benar bahagia sudah dibela istriku. Aku pasti akan jujur padanya. Tapi nanti, setelah sampai rumah. Aku janji.

"Iya Mas. Apa kita berangkat sekarang?" tanyanya.

Tumben sekali dia semangat. Biasanya aku yang memulai duluan.

"Boleh. Tapi bentar ya Dik?" Ku ambil tas yang ada di laci kecil.

Ku buka dalaman tas yang lainnya. Lalu ku ambil beberapa lembar uang 100 ribuan. Mungkin sekitar 2 juta. Uang itu sudah ku niatkan, mau ku kasih ke pak Rahmad. Lalu ke ibu mertuaku ada sedikit mungkin hanya sejuta.

"Dik. Tolong ya, kasih ini ke abi...," ucapku sambil memberikan uang 2 juta ke tangan Azzahra.

"Terus yang ini buat umi." Ku berikan lagi uang yang satunya.

"Tapi Mas... Ini merepotkanmu," katanya tak enak padaku.

"Enggak Dik. Kamu itu istri mas sekarang. Mereka orang tuamu. Uang segini tak ada harganya dibandingkan dengan adanya dirimu," kataku bermaksud berterima kasih pada orang tua Azzahra. Karena sudah ikhlasin Azzahra untukku.

"Shukron ya Mas, semoga rejeki mas lancar terus," doanya.

"Aamiin," jawabku senang.

Lalu Azzahra keluar kamar. Dia memberikan uang itu sesuai instruksiku.

Tapi ku dengar dari balik pintu, umi Kulsum menolaknya. Berbeda dengan pak Rahmad. Dia langsung berucap syukur.

"Umi, ini itu rejeki dari Allah. Kita tak boleh menolaknya. Terima aja Umi. Lagian Mustafa juga ikhlas ngasihnya," ucap pak Rahmad. Hingga mau tak mau, Umi Kulsum akhirnya mau menerimanya.

Tak berapa lama kemudian, Azzahra masuk ke kamar. Aku menyambutnya.

"Udah Dik?" tanyaku butuh kepastian, meskipun aku sudah dengar sendiri.

"Sampun Mas," jawabnya dan aku tersenyum lega.

"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang. Biar Mas bawa kopernya ke mobil dulu," ucapku dan dia tersenyum tipis.

2 koper sudah ku masukkan. Tinggal beberapa bawaan kecil milik Azzahra.

Setelah semuanya beres. Aku kembali menghampiri Azzahra, sekaligus bersaliman dengan pak Rahmad dan Umi Kulsum.

"Pak, saya dan Azzah pamit sekarang ya?" pamitku sambil salim.

"Umi," ucapku sambil menyodorkan tangan.

Dan baru kali ini, umi Kulsum mau balik menerima jabatan tanganku. Aku terkejut bukan main. Rasa bahagia karena hati umi Kulsum bisa mencair juga meskipun tidak banyak.

"Shukron kabir ya Nak Mustafa. Semoga Allah melancarkan keuanganmu," ucap pak Rahmad.

Aku tersenyum. Senang pastinya hati ini. Ternyata uang yang aku punya ada manfaatnya.

"Iya Pak. Aamiin. Untuk Masjid....,"

"Bisa kita bahas nanti aja," potong pak Rahmad sambil mengedipkan sebelah matanya. Mungkin umi Kulsum dan Azzahra tidak tahu. Biarlah menjadi rahasia kita berdua kalau begitu.

"Oh gitu. Enggeh Pak. Kami berangkat ya Pak, Assalamualaikum!" pamitku kali ini yang benar-benar mau pergi.

"Wa'alaikumussalam," jawab pak Rahmad dan Umi Kulsum.

Bersambung...

1
Arul Faiz
penasaran sama wajah azzahranya🤣
Sena
lanjut
cut Meutia
awas aja klo mustafa lengah
cut Meutia
lah diterima
Nana
next
Putri💗
lama gak up thor
cut Meutia
jangan mau maya, bisa2 ngrusak rt mu nanti
Juniya Ar
up
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
next
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
thor, lanjut jangan lama
Nana
bagus
Juwitha Arianty Ibrahim
ini kapan lagi up thor
cut Meutia
bagus thor
Juwitha Arianty Ibrahim
bagus crita nya update lagi domg thor
💜Balqish H😻
😍penasaran
Bella༄㉿ᶻ⋆
sabar ya mus🤭
💜Balqish H😻
next
💜Balqish H😻
gantengnya ma xioyu
Jack
next
Mia Ijaya
ya allah bneran ini tamat????????
Jack: belum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!