Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hilangnya kesucian...
"Masih sakit?" tanya Arjuna disela aksinya menghisap.
Indira menggeleng pelan,"Sudah tidak lagi tuan,,rasa sakitnya mendadak berkurang." jawab Indira.
Darsih membuka pintu dengan perlahan, membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang, di mana ia melihat Arjuna masih mendekap Indira dengan erat, wajahnya tersembunyi di pangkuan gadis itu sementara napasnya terdengar dalam dan teratur.
Bagi orang awam, pemandangan itu mungkin akan sangat mengejutkan. Namun bagi Darsih, ini adalah realitas pahit yang sudah menjadi makanannya sehari-hari sejak perjanjian itu dimulai. Ia sudah terlalu sering melihat bagaimana Arjuna memperlakukan putrinya—seperti ibunya yang sedang menyusui putranya.
Demi kesehatan putra semata wayang sang majikan,dan demi kesehatan putrinya juga,Darsih membiarkan hal itu terjadi,bahkan Darsih sendiri yang mendorong putrinya agar mau memberikan asinya pada Arjuna yang sangat membutuhkan cairan itu.
Darsih meletakkan nampan itu di atas meja kecil dengan gerakan sepelan mungkin, agar tidak mengusik ketenangan pria yang sedang "terlelap" dalam pengaruh ASI tersebut.
"Makanlah buburnya selagi hangat, Indira," bisik Darsih lembut, matanya menatap iba pada wajah putrinya yang masih tampak kuyu. "Biarkan Tuan Arjuna di situ dulu sampai dia sadar. Sepertinya dosisnya terlalu banyak untuknya kali ini."
Indira hanya mengangguk pasrah, tangannya masih terjebak di bawah tubuh Arjuna yang berat. "Iya, Bu. Terima kasih."
Tanpa banyak bicara lagi, Darsih berbalik dan keluar dari kamar, menutup pintu dengan rapat untuk menjaga privasi "ritual" aneh yang mengikat nasib keluarga mereka pada pria tersebut.
Di dalam kamar, kesunyian kembali menyelimuti. Arjuna mulai bergerak sedikit, namun bukan untuk bangun, melainkan untuk mempererat pelukannya. Efek kantuk dan rileks yang luar biasa dari ASI yang ia minum dalam kondisi perut kosong benar-benar membuatnya kehilangan kewaspadaan.
"Manis..." gumam Arjuna setengah sadar. Bibirnya bergerak samar di balik piyama Indira. "Jangan biarkan... siapapun mengambilnya."
Indira menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang sulit diartikan. Ia merasa seperti ibu bagi pria yang jauh lebih tua dan berkuasa darinya, namun di saat yang sama, ia merasa seperti tawanan yang tidak akan pernah dilepaskan.
Satu jam berlalu, dan suhu tubuh Indira mulai turun berkat keluarnya cairan yang menyumbat tadi. Namun, ia tidak bisa beranjak karena Arjuna benar-benar menjadikan tubuhnya sebagai bantal.
Tiba-tiba, ponsel Arjuna yang tergeletak di lantai bergetar hebat. Nama "Clarissa" muncul di layar, berkedip berkali-kali di tengah kegelapan lantai kamar.
Arjuna tersentak. Getaran itu seolah menjadi alarm yang memecah kabut di kepalanya. Ia mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang merah dan sayu mencoba fokus pada sekelilingnya.
"Aku... di mana?" tanya Arjuna serak, suaranya terdengar linglung. Ia menatap wajah Indira yang tepat berada di atasnya, lalu menyadari tangannya masih melingkar protektif di pinggang gadis itu.
Arjuna melirik ponselnya yang masih bergetar di lantai dengan tatapan benci. Nama Clarissa yang berkedip-kedip itu terasa seperti gangguan dari dunia luar yang tidak ingin ia masuki saat ini. Dengan gerakan kasar, ia meraih ponsel itu dan mematikannya sama sekali, melemparnya kembali ke lantai tanpa peduli.
Kepalanya masih terasa berat, dipenuhi oleh sensasi manis dan hangat yang menjalar dari perut ke seluruh aliran darahnya. Efek "mabuk" itu bukannya menghilang, malah berubah menjadi percikan api yang membakar akal sehatnya.
Arjuna kembali menatap Indira. Wajah gadis itu yang masih kemerahan karena demam, bibirnya yang sedikit terbuka karena napas yang memburu, dan aroma susu yang menguar kuat dari tubuhnya benar-benar meruntuhkan pertahanan terakhir Arjuna.
"Tuan... panggilannya—"
Kalimat Indira terputus saat Arjuna tiba-tiba merangsek maju. Kali ini bukan untuk mencari asupan pengobatan, melainkan sebuah dorongan impulsif yang jauh lebih liar.
Arjuna mencengkeram rahang Indira dengan lembut namun menuntut, lalu mendaratkan ciumannya di bibir gadis itu.
Indira terbelalak, tubuhnya menegang hebat. Ini tidak ada dalam kontrak. Kontrak mereka hanya tentang "kesehatan" Arjuna, tentang menyusui, bukan tentang kontak fisik yang intim dan penuh gairah seperti ini.
"Tuan... hmph..." Indira mencoba memberontak, namun tenaganya yang sisa separuh karena demam tidak sebanding dengan kekuatan Arjuna yang sedang dikuasai nafsu.
Ciuman Arjuna terasa panas dan menuntut, seolah ia ingin menyesap habis jiwa Indira sebagaimana ia menyesap asinya. Ia tidak lagi peduli pada batasan tuan dan pelayan. Ia menciumi leher Indira, meninggalkan jejak-jejak merah di kulit putih gadis itu dengan napas yang semakin memburu.
"Kau milikku, Indira," geram Arjuna di sela ciumannya. Suaranya rendah dan berbahaya. "Cairan ini, tubuh ini... semuanya milikku. Aku tidak akan membiarkan kontrak bodoh itu membatasiku lagi."
Indira merasa dunianya berputar. Rasa takut, bingung, dan sensasi aneh yang dikirimkan oleh sentuhan Arjuna membuat air matanya menetes. Ia bisa merasakan jantung Arjuna yang berdegup kencang di dadanya, sama kencangnya dengan jantungnya sendiri.
Di luar kamar, suasana paviliun sangat sepi, namun di dalam kamar itu, batasan yang selama ini dijaga ketat oleh Arjuna telah hancur berkeping-keping.
Rasa takut yang semula mendominasi perlahan-lahan terkikis oleh rasa penasaran yang besar. Sebagai remaja yang selama ini hidup dalam tekanan dan tanggung jawab yang tidak masuk akal, sentuhan Arjuna yang dewasa dan penuh pengalaman memberikan sensasi yang belum pernah Indira rasakan sebelumnya.
Isakan kecil Indira berubah menjadi desahan halus saat ia mulai berhenti mendorong bahu Arjuna. Tangannya yang gemetar perlahan naik, meremas kemeja mahal pria itu, hingga akhirnya memberanikan diri untuk mengalungkan lengannya di leher Arjuna.
Arjuna merasakan perubahan itu. Ia berhenti sejenak, menatap mata Indira yang berkaca-kaca—sebuah tatapan yang menunjukkan kepasrahan sekaligus rasa ingin tahu yang polos.
"Kau yakin, Indira?" bisik Arjuna dengan suara yang sangat rendah, napasnya yang beraroma susu terasa panas di wajah Indira. "Setelah ini, tidak ada jalan kembali. Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku."
Indira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik wajah Arjuna kembali ke arahnya, memberikan izin bisu bagi pria itu untuk melanjutkan apa yang telah ia mulai.
Baginya, jika tubuhnya sudah menjadi milik Arjuna lewat 'pengobatan' itu, maka menyerahkan sisanya terasa seperti konsekuensi yang tidak bisa ia hindari lagi.
Arjuna kehilangan sisa-sisa kewarasannya. Ia tidak lagi peduli pada rasa pening di kepalanya. Dengan gerakan yang penuh dominasi namun memiliki sisi lembut yang tak terduga, ia menuntun Indira ke dalam pengalaman baru yang selama ini hanya menjadi imajinasi liar di balik pintu rahasia.
Malam itu, paviliun menjadi saksi bisu pecahnya batasan antara tuan dan pelayan. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Indira belajar bahwa sentuhan pria dewasa bisa begitu memabukkan, sementara Arjuna menyadari bahwa ia tidak hanya menginginkan apa yang ada di dalam tubuh Indira, tetapi juga menginginkan seluruh jiwa gadis itu.
Setelah badai itu mereda, Arjuna tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia justru menarik selimut untuk menutupi tubuh Indira dan memeluknya dari belakang, menyembunyikan wajahnya di tengkuk gadis itu yang kini penuh dengan tanda kepemilikannya.
"Tidurlah," gumam Arjuna, suaranya terdengar sangat puas dan tenang.
Indira hanya memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria yang kini telah mengambil segalanya darinya. Ia merasa kosong, namun ada kehangatan aneh yang membuatnya tidak ingin beranjak.
***
Keesokan paginya, Clarissa berdiri di depan pintu gerbang rumah utama dengan kemarahan yang meluap-luap. Ponselnya menunjukkan puluhan panggilan yang diabaikan dan satu pesan terakhir bahwa ponsel Arjuna tidak aktif.
Ia tidak akan diam saja. Jika ancaman putus tidak bisa membuatnya tenang, maka ia akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya disembunyikan Arjuna dalam hidupnya.
bersambung...