Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 – Luka Tak Terlihat
Hujan yang turun sejak dini hari masih menetes pelan di luar jendela rumah Kazuma. Udara dingin merayap masuk melalui celah-celah tirai. Di dalam kamar yang remang, Kenji terbaring dengan tubuh penuh perban. Bahunya dibalut ketat, tulang rusuknya diperban berlapis, dan luka di pelipisnya masih terasa berdenyut setiap kali ia bernapas.
Ia terbangun dengan napas terputus-putus. Seketika semua gambaran dari malam sebelumnya menusuk kembali ke pikirannya dimana Ryo tertembak, Ryuga mengaku sebagai pewaris Hirano, nama Whisperer, ledakan di atap sekolah, dan sosok bertopeng dengan simbol T. Kenji memejamkan mata erat–erat, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup keras. Tubuhnya ingin bangkit, tetapi rasa sakit menyambar tulangnya seperti listrik dan pintu kamar terbuka.
“Jangan bangun.” Terdengar suara Kazuma rendah, tegas, namun ada nada cemas yang belum pernah Kenji dengar sebelumnya.
Kazuma berjalan masuk, membawa baskom air hangat dan beberapa peralatan medis. Rambutnya basah seakan ia baru saja keluar dari hujan, meski sekarang cuaca sudah reda. Mata Kazuma sedikit merah, entah karena kurang tidur atau memendam sesuatu.
Kenji menatapnya. “Di mana Ren? Di mana Ryuga? Apa yang terjadi setelah ledakan itu?”
Kazuma tidak menjawab. Ia hanya mengompres luka Kenji tanpa menatap anak itu. “Kau butuh istirahat. Jangan tanyakan hal yang tidak penting.”
Tidak penting ? Kata itu menusuk seperti pisau. Mendengar itu Kenji langsung menatap tajam ke arah Kazuma yang sedang duduk disampingnya.
Kenji menahan rasa panas di dadanya. “Apa yang terjadi padaku itu tidak penting, menurut Papa?”
Kazuma berhenti bergerak, rahangnya mengeras. Orang tua mana yang tidak khawatir melihat anaknya yang hampir mati, tetapi dia malah menanyakan keadaan orang lain. Untung saja para pengawal bisa menemukan Kenji walaupun dengan keadaan yang cukup mengkhawatirkan.
“Kau hampir mati, Kenji,” katanya pelan, suara yang diselimuti ketakutan yang ia sembunyikan.
“Dan aku tidak akan membiarkan kejadian itu terulang,” kata Kazuma.
Kenji menatap ayahnya tajam. “Papa tahu sesuatu tentang Ryuga, kan?”
Kazuma terdiam, bahunya tegang. “Dan Papa tahu … tentang Mama.”
Kazuma berdiri perlahan, memunggungi Kenji. “Istirahatlah.”
“Katakan! Mama dibunuh siapa?! Apa benar keluarga Hirano bukan dalangnya? Apa benar orang dari keluarga kita sendiri yang—” ucap Kenji yang tiba-tiba terpotong.
Brak! Kazuma menendang kursi dengan keras hingga Kenji terdiam. Ia langsung menatap kearah Kenji dengan muka merah karena marah.
“Berhenti!” Kazuma membentak, lebih keras dari yang pernah Kenji dengar.
“Kau tidak tahu apa pun. Jangan memaksakan diri untuk tahu semuanya.” Kenji membeku.
Kazuma menutup wajahnya sejenak, suaranya merendah. “Kuharap kau tidak bertemu Ryuga lagi.”
Lalu ia berjalan keluar tanpa menoleh, beberapa jam setelahnya, suasana rumah terasa mencekam. Kenji dilarang keluar kamar, ponselnya disita oleh Kazuma, sehingga ia tidak mendapatkan atau memberikan kabar kepada Yuto, Mira, atau Akira. Seolah seluruh dunia ditutup darinya.
Kenji menatap langit-langit, mencoba menghirup napas panjang. Tapi setiap ia mengingat senyum dingin Ryuga, kata–kata Whisperer, atau foto bayi yang diacungkan oleh sosok bertopeng itu dadanya seakan tercekik.
Setelah beberapa menit, pintu kamar terbuka pelan. Kenji menoleh cepat, mengira Kazuma kembali, tetapi yang muncul adalah Natsuki, salah satu penjaga rumah.
“Tuan Muda Kenji … ada makanan untukmu.” Ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur, namun tatapannya gugup. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi takut.
Kenji menatapnya penuh curiga. “Natsuki, apa Papa menyembunyikan sesuatu, ya?”
Natsuki tersentak. “Saya … saya tidak tahu.”
“Kau berbohong.” Natsuki menggigit bibir
Dengan suaranya bergetar akhirnya Natsuki mencoba untuk menjelaskan ke Kenji. “Tuan Kazuma… hanya ingin melindungi Anda.”
“Melindungi dari apa? Atau dari siapa?” tanya Kenji bingung.
Natsuki menunduk dalam. “Tuan Ryuga datang ke rumah ini pagi tadi.”
Jantung Kenji serasa berhenti. “Ryuga datang?!”
Natsuki mengangguk cepat. “Tuan Kazuma memerintahkan saya untuk tidak memberitahu Anda. Mereka berdua bicara keras sepertinya soal masa lalu keluarga.”
Kenji berusaha bangkit, namun tubuhnya kembali jatuh karena bahunya berdenyut. “Apa mereka bertengkar?!”
Natsuki tampak ragu, lalu menjawab lirih, “Sebelum Ryuga pergi, saya mendengar sesuatu.”
Kenji terpaku. “Apa yang kau dengar?”
Natsuki mengangkat wajah pucatnya. “Saya mendengar Tuan Kazuma bilang … seharusnya kau mati bersama Mamamu.’”
Darah Kenji seakan berhenti mengalir. Ia membeku, tak bisa berkata apa pun. Dunia seakan terbalik. Kenapa Kazuma mengatakan kalimat itu? Kepalanya terasa berputar. Sesak. Tubuhnya bergetar hebat, Tetapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut. Brak! Tiba-tiba Kazuma membuka pintu dengan keras.
“Natsuki … keluar,” katanya dingin.
Natsuki membungkuk dalam-dalam dan cepat pergi dan meninggalkan Kazuma dan Kenji berdua . Lalu Kazuma menghampiri Kenji yang sedang menyandarkan tubuhnya di atas kasur.
Kazuma menatap Kenji tajam. “Jangan dengarkan apapun dari orang lain. Kau mengerti?”
Kenji menatapnya dengan mata memerah. “Kenapa Papa bilang, seharusnya kau mati bersama Mama kepada Ryuga?!”
Kazuma membeku. Menjelang sore, setelah Kazuma mengunci kamar Kenji secara harfiah mengunci Kenji akhirnya tertidur karena efek obat, tetapi di tengah tidurnya yang gelap dan kacau, ia mendengar suara.
“Kenji … Kenji,” panggil suara itu.
Ia membuka mata perlahan,kamar gelap. Hanya ada cahaya kecil dari jendela,dan di kursi sudut kamar, tampak seseorang sedang duduk, dan ia menggunakan dengan mantel hitam.
Rambut basah. Dan tatapan abu–abu yang ia kenal, Ryuga.
Kenji terlonjak. “Bagaimana kau masuk?! Papa—”
“Sedang tidak di rumah.” Ryuga berdiri perlahan, sorot matanya lembut tapi mengandung ancaman.
“Dia pergi mencarimu di tempat yang salah,” kata Ryuga.
Kenji menelan ludah. “Apa yang kau mau?”
Ryuga mendekat, lalu mengambil sesuatu dari saku mantelnya sebuah kalung logam dengan ukiran kecil berbentuk sayap. Dan ia memberikan itu kepada Kenji.
“Ini milik Mamamu,” katanya.
Kenji terdiam. “Apa?”
“Dia menitipkan ini sebelum dia dibunuh. Dan orang terakhir yang memegangnya…” Ryuga menatapnya tajam.
“Adalah orang yang membakar rumahmu,” tambah Ryuga.
Kenji merasakan sakit menghantam dadanya. “Siapa?”
Ryuga mendekat sampai jaraknya hanya setengah meter. “Kenji, kau tidak boleh percaya siapapun di rumah ini.”
Napas Ryuga terdengar berat, hampir seperti ancaman. “Termasuk Kazuma.”
Kenji menggeleng cepat. “Tidak … Papa menyelamatkanku! Dia—”
Ryuga meraih bahu Kenji. “Kazuma berbohong. Dan dia bukan satu-satunya.”
Kenji teringat sesuatu, tentang kalung yang ia temukan di laci ayahnya,sebuah kalung yang sama dengan yang Ryuga pakai malam itu. Darahnya terasa dingin.
“Ryuga … siapa yang sebenarnya membunuh Mama?” Ryuga membuka mulut hendak menjawab.
Namun tiba-tiba jendela kamar terbuka akibat angin kencang, bukan angin, seseorang melompat masuk, Kenji memekik dan mundur. Sosok tinggi, jas gelap, topeng putih dengan simbol T merah. Tangan Kanan Whisperer.
Ryuga langsung meraih pedang pendek di punggungnya. “Kenji! Menjauh! ”
Sosok bertopeng itu tidak berkata apapun. Ia hanya mengangkat tangan dan memperlihatkan sebuah foto baru sebuah foto dua bayi kembar. Kenji terpaku, Ryuga memucat.
Sosok itu berbisik rendah melalui modulator suara “Yang mana … yang harus mati lebih dulu?”
Dan sebelum keduanya sempat bergerak terjadi Ledakan besar mengguncang kamar Kenji hingga kaca pecah, dan seluruh ruangan dipenuhi asap tebal. Kenji jatuh dari ranjang, batuk keras, penglihatannya kabur, dan di tengah asap ia melihat dua bayangan Ryuga dan Tangan Kanan Whisperer sedang bertarung sengit.
Lalu suara seseorang terdengar dari luar pintu “Kenji! Jangan buka matamu!”
Itu suara Kazuma. Atau … apakah itu benar-benar Kazuma?