Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sinar matahari pagi menyapa pelan, membawa kehangatan yang menembus tirai jendela rumah Jeffry dan Puja.
Suasana pagi itu terasa begitu tenang dan damai, kontras dengan bayang-bayang ancaman yang sempat diperingatkan oleh Kyai Ali semalam.
Jeffry sudah tampak rapi dalam balutan kemeja kerja dan jas dosennya, siap untuk mengajar.
Tas kerjanya sudah tergantung di bahu, sementara ia berdiri sejenak di dekat meja makan tempat Puja sedang menikmati sarapan rotinya.
Mengingat pesan sang ayah tentang gerak-gerik Ningsih dan Ningrum, rasa khawatir masih menggelayut di benak Jeffry.
Ia membungkuk sedikit, menatap manik mata istrinya dengan penuh perhatian.
"Dek, nanti kalau kelasmu sudah selesai, tunggu Mas ya. Jangan pulang sendirian," pinta Jeffry dengan nada suara yang menyiratkan kekhawatiran mendalam.
Puja, yang sedang mengunyah rotinya, menghentikan kunyahannya sejenak.
Meski sedikit heran mengapa suaminya begitu protektif hari ini, ia melihat sorot ketulusan dan kecemasan di mata Jeffry.
Puja pun tersenyum lembut lalu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Iya, Mas. Aku bakal tungguin Mas di perpus atau di lobi kampus sampai Mas jemput," jawab Puja patuh.
Mendengar jawaban itu, Jeffry merasa sedikit lebih tenang.
Ia mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih sebelum mereka berdua melangkah keluar rumah, siap memulai aktivitas hari itu dengan kewaspadaan ganda demi menjaga keselamatan Puja.
Setelah menghabiskan sarapannya, mereka berdua berangkat menuju ke kampus.
Di dalam mobil, Puja membaca buku novel kesukaannya.
Sesekali Jeffry melirik ke arah istrinya yang sedang membaca.
Perjalan yang membutuhkan waktu lima belas menit akhirnya telah sampai di kampus.
Seperti biasa sebelum turun dari mobil, Jeffry membetulkan hijab yang di kenakan istrinya.
"Ayo, kita turun," ajak Jeffry sambil membawa tas laptopnya.
Puja membuka pintu dan sebelum masuk ia mencium punggung tangan suaminya.
"Aku masuk ke kelas dulu ya, Mas. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Puja berjalan masuk bersama beberapa temannya.
Jeffry melangkahkan kakinya menuju ke ruang dosen.
Langkah kaki Puja menyusuri koridor kampus terasa ringan pagi itu
Ditemani oleh beberapa temannya, ia berjalan menuju ruang kuliah lantai dua, sementara pikirannya sempat melayang pada pesan Jeffry pagi tadi.
Meski merasa ada yang disembunyikan oleh suaminya, Puja memilih untuk menepis rasa curiganya dan menuruti permintaan Jeffry demi menjaga ketenangan hati suaminya.
Di sisi lain, Jeffry telah tiba di ruang dosen. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja, namun alih-alih langsung membuka laptop untuk memeriksa bahan ajar, pikirannya justru terusik.
Bayangan raut wajah Ningsih dan ancaman terselubung dari Ningrum membuat dadanya terasa sesak.
Ponsel di dalam saku celananya bergetar pelan, memperlihatkan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Jeffry mengernyitkan keningnya, lalu membuka pesan tersebut.
[Jangan terlalu bangga bisa menyembunyikan istrimu itu, Jeffry. Karma akan segera datang pada keluargamu]
Rahang Jeffry langsung mengeras. Napasnya memburu seketika.
Tanpa pikir panjang, ia mengetik nomor balasan untuk melacak atau membalas ancaman itu, namun nomor tersebut sudah tidak aktif saat dihubungi.
Kemarahannya memuncak, menyadari bahwa Ningsih dan Ningrum benar-benar mulai bermain kotor untuk mengganggu kehidupan rumah tangganya.
Di sisi lain Puja sudah mulai fokus dengan pembelajaran di dalam kelasnya.
Di dalam ruang kelas yang sejuk, suara dosen pengampu menerangkan materi terdengar monoton, namun Puja berusaha keras memusatkan perhatiannya.
Ia mencatat setiap poin penting yang tertulis di papan tulis ke dalam buku catatannya.
Meski di dalam hatinya sempat terbesit rasa penasaran mengenai sikap protektif Jeffry pagi tadi, fokusnya perlahan-lahan terserap oleh deretan rumus dan teori di hadapannya.
Sementara itu, di ruang dosen, atmosfer di sekitar Jeffry justru terasa begitu panas dan mencekam.
Pria itu menatap layar ponselnya lekat-lekat, memandangi pesan teror yang baru saja masuk. Kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.
Amarah yang bergolak di dadanya bercampur aduk dengan rasa khawatir yang teramat sangat terhadap keselamatan Puja di kampus.
Jeffry sadar, ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong. Ningsih dan Ningrum benar-benar mulai bertindak di luar batas, memanfaatkan celah apa pun untuk menebar teror dan merusak ketenangan mental mereka.
Ia tidak boleh tinggal diam. Jika ia terus bersikap pasif, bukan tidak mungkin keselamatan istrinya akan terancam.
Dengan gerakan cepat, Jeffry menyambar jas dosennya, memasukkan ponsel ke dalam saku, dan meraih tas kerjanya.
Ia memutuskan untuk membatalkan beberapa agenda ringan hari ini dan bersiap memantau langsung keberadaan Puja, memastikan gadis itu berada dalam jangkauan matanya sampai jam kuliah mereka benar-benar usai.
Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Jeffry, sementara di ruang kelasnya, Puja masih khidmat mendengarkan penjelasan dosen, tidak tahu menahu bahwa badai ancaman tengah berputar semakin kencang di luar sana, menguji ketahanan rumah tangga yang baru saja mereka bangun.
Bel berbunyi dan Puja terkejut ketika melihat suaminya masuk ke dalam kelasnya.
"Mas, ada apa?" tanya Puja dengan wajah kebingungan.
"Tidak ada apa-apa, Dek. Ayo, kita pulang." jawab Jeffry.
Puja memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tasnya.
Jeffry merangkul bahu istrinya dengan sigap, menuntun langkah Puja keluar dari ruang kuliah menyusuri koridor lantai dua menuju area parkir.
Selama perjalanan singkat itu, Jeffry tidak banyak bicara.
Pandangannya terus mengedar ke sekeliling, mengamati setiap gerak-gerik orang di sekitar mereka dengan tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi dari biasanya.
Pesan teror dari nomor misterius itu terus berputar di kepalanya, membuatnya tidak tenang jika harus membiarkan Puja berjalan seorang diri walau hanya untuk beberapa meter.
Sesampainya di dekat mobil, Jeffry segera membukakan pintu bagi Puja.
Setelah memastikan istrinya duduk dengan aman di dalam kabin, ia menutup pintu tersebut dan bergegas berpindah ke kursi pengemudi.
Begitu mesin mobil menyala dan mereka melaju meninggalkan area kampus, Puja tidak lagi mampu menahan rasa penasarannya.
Ia menoleh ke arah suaminya yang tengah fokus menyetir dengan rahang mengeras.
"Mas," panggil Puja pelan, suaranya terdengar hati-hati.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Puja.
Jeffry melirik sekilas ke arah istrinya. Ia menghela napas panjang, mencoba meredakan gemuruh emosi di dadanya agar tidak membuat Puja semakin ketakutan.
Satu tangannya yang bebas terulur menggenggam tangan Puja di kursi tengah, menyalurkan kehangatan sekaligus ketenangan.
"Maaf ya, Dek, kalau bikin kamu bingung," jawab Jeffry dengan nada suara yang bergetar tertahan.
"Tadi, Mas dapat pesan singkat di ponsel dari nomor yang tidak dikenal."
"Pesan apa, Mas?"
"Ancaman," sahut Jeffry singkat namun telak.
"Pengirimnya memperingatkan Mas agar tidak terlalu bangga menyembunyikan kamu, dan bilang kalau karma akan segera datang ke keluarga kita. Mas yakin, itu pasti ulah Ningsih atau Ningrum."
Mendengar kata 'ancaman', warna muka Puja seketika memudar.
Bayangan wajah Ningsih yang sinis dan sorot mata penuh kebencian dari Ningrum kembali terbayang di benaknya.
Rasa takut sempat menyergap hatinya, namun melihat ketegasan di mata suaminya, Puja berusaha menguatkan diri.
"Terus, apa kita harus lapor Abah, Mas?" tanya Puja cemas, jemarinya membalas genggaman tangan Jeffry erat-erat.
"Abah sudah cukup banyak memikul beban pikiran karena ulah mereka. Untuk sekarang, yang paling penting adalah keselamatan kamu. Mulai sekarang, ke mana pun kamu pergi, kamu harus selalu bersama Mas. Jangan pernah keluar sendirian, apa pun alasannya."
Puja menganggukkan kepalanya, ia merasa terlindungi di sisi suaminya meskipun bayang-bayang ancaman itu kini terasa begitu nyata di dekat mereka.
Mobil pun melaju membelah jalanan kota, membawa mereka pulang ke rumah yang kini menjadi benteng perlindungan di tengah badai yang sengaja diciptakan oleh keluarga mereka sendiri.