NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Malam Panas

Bagas mendesis resah, merasa geram karena dengan mudahnya terjebak oleh permainan pembantu baru bernama Thalia. Kini kedua tangannya mencoba mencari pegangan pada meja bar yang ada dibelakangnya.

Matanya masih menatap nyalang pada perempuan yang berdiri tenang didepannya— seolah tidak merasa bersalah.

"Mengapa tidak mau pergi Thalia, kamu merencanakan ini semua?" tuduh Bagas pada akhirnya.

Sarah hanya terdiam, percuma menepis segala tuduhan yang sedari tadi pria itu lontarkan. Ia tidak perlu menjelaskan, yang terpenting adalah rencananya malam ini terlaksana. Toh, esok Bagas akan lupa dengan sendirinya, dan Sarah hanya tinggal meneruskan sandiwaranya saja.

"JAWAB THALIA! APA MAU KAMU SEBENARNYA?!"

Bentakan dari sang tuan sedikit menyentak ketenangan yang setia Sarah pertahankan. Namun, tentu saja ia tidak akan goyah. Malah kini dirinya telah bersiap untuk memulai permainan sesungguhnya.

Melangkah maju perlahan, tubuhnya turut berlenggok dengan menggoda, Sarah kian menatap lurus Bagas Aryanaka dengan wajah lugu—berkebalikan dengan si pria yang masih mengernyit gundah karena menahan gejolak panas yang melanda pada sekujur tubuh kerasnya.

"Mau saya ya tuan?" Telah semakin dekat jarak keduanya, dan Bagas semakin terpojok tidak kuasa. Thalia memberanikan diri memegang dan mengelus pelan dagu kasar sang majikan. "Mau saya itu—"

Sebelum benar-benar menjawab, Thalia semakin bermain. Tangannya nan lentik berpindah menginvasi ke seluruh tengkuk sang pria—terlihat jakun yang bergerak kasar disana, teramat jantan dalam pandangan.

Mendekat lebih intens, dada keduanya telah bersentuhan. Bagas menggeram sexy, membuat Sarah tampak puas dan semakin bersemangat. Seringai menghiasi bibir cantiknya, kemudian bibir itulah juga yang kini mengambil alih permainan—membisikan seuntai kata berbahaya.

"Benih anda."

Singkat, nakal, dan berani.

Bagas sungguh tidak mampu menahannya lagi.

Persetan dengan hubungan majikan dan bawahan diantara mereka!

Persetan ia sudah memiliki tunangan dan akan segera menikah!

Persetan bahwa setelah ini, bukan hanya main-main semata, namun ia benar akan melecehkan gadis itu sepuas hatinya!

Ia tidak lagi mampu berpikir jernih. Yang ada dipikirannya saat ini hanya bagaimana membalas tindakan wanita itu, dengan segala cara.

Termasuk membuatnya kewalahan, remuk, bahkan mungkin sampai tidak mampu berjalan karena telah ia hancurkan.

Setelahnya, dengan cepat, Bagas menerjang mangsa dihadapannya. Kedua tangan yang semula berpegang pada meja bar, kini memilih menempatkan posisi pada pinggang wanita yang tengah terkesiap kaget disana.

"Kamu mau benih saya hmm? Maka ambilah sebanyak mungkin. Ambil dan nikmati. Biar saya buat hancur sekujur tubuhmu ini, jalang!

Cengkraman Bagas semakin menguat, Sarah mendesis lirih. Mulutnya sedikit terbuka hingga menjadi kesempatan emas bagi Bagas untuk bisa mencecap dan memasukan lidahnya disana.

"Emmhh,"

Perlahan hisapan Bagas semakin rakus dan Sarah cukup tampak kewalahan. Merasa wanitanya telah lemah hanya dengan ciumannya—Bagas pun merasa bangga.

Kini satu tangan besarnya itu bermain di dada sintal yang telah menjadi pusat perhatiannya. Ia genggam kuat dan ia remas teramat cepat.

"Akhh, ouhhh mas Bagas ahh!"

Sarah mendesah cukup keras. Bagas sedikit salah fokus ketika mendengar seruan Thalia yang memanggilnya, 'Mas'

Ia seperti pernah mendengarnya di masa lalu, tapi kapan? Dimana? Dan siapa yang memanggilnya seperti itu?

Sayangnya, Bagas tidak ada waktu untuk memikirkannya, karena kini kepalanya terasa hendak pecah menghadapi gairah yang mulai membakar jiwa.

Suasana semakin panas. Tubuh Sarah mulai lunglai. Kini kedua kakinya mulai Bagas angkat—melingkar pada pinggul ramping putra tunggal Aryanaka yang tengah dilanda pusaran gairah membara.

Tengkuk Sarah kian meremang ketika Bagas dengan janggut tebalnya itu menggesek permukaan leher, serta mengecup ganas setiap bagian selangka hingga dadanya yang telah sedikit terbuka. Tiga kancing seragamnya telah tertanggal naas di lantai, tubuh atasnya pun kini bagai santapan lezat untuk Bagas yang bebas meninggalkan jejak merah disana.

"Ougghhh, mas Bagas."

Tanpa sadar Sarah semakin mendongak—mempersilakan si pria terus menjamah setiap titik sensitif yang ada di tubuhnya.

"Nakal kamu Thalia, kamu puas sekarang hmm?"

Sarah ingin menjawab, namun lidahnya kelu. Pakaiannya sudah tampak berantakan, dan kepalanya pun kini hanya dipenuhi oleh gairah yang semakin timbul ke permukaan.

Sarah terlalu menikmatinya. Semoga ia tidak lupa.

Ya semoga.

Tapi sialnya, doanya tidak terkabul. Karena kini kedua insan itu semakin tidak terkendali. Setelah membuat dapur menjadi berantakan. Kini Bagas telah membawa Sarah menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Dengan kasar, ia jatuhkan tubuh Sarah hingga memantul diatas ranjang hitam milik Bagas Aryanaka.

Dengan gerak tegas, tenang, namun juga ada ketidaksabaran yang menggebu, Bagas melepas seluruh pakaiannya hingga berceceran di atas lantai.

Napas Sarah tercekat, tiada henti merasa kagum atas keperkasaan tubuh sang mantan suami. Kulitnya yang kecoklatan, semakin tampak mengkilat dibawah cahaya lampu. Wanita itu terhipnotis, tidak mampu lari dari fantasi nan memabukan ini.

Hingga, akhirnya Sarah baru sadar ketika kedua kakinya ditarik paksa membuatnya terlentang dan terlihat pasrah. Rambutnya yang tergulung telah terurai menghias bantal. Kedua kakinya kembali dikuasai Bagas.

Pri itu dengan senang hati melebarkannya, kemudian ia dorong pakaian itu ke atas perut Sarah. Lalu, tanpa aba-aba, langsung saja kepalanya menunduk, mencari, dan melahap makanan yang tersaji.

Tampak indah, lembab, basah, dan hangat.

Bagas memejamkan mata, suara decapan perlahan semakin nyaring disertai desahan Sarah tiada henti. Apalagi kini tangan kekar itu semakin menekan dada Sarah, memainkannya sesuka hati.

Sarah menggelinjang hebat, kepalanya bergerak tak tentu arah. Bibirnya terbuka dan matanya terbeliak resah. Ada yang hendak keluar, dan Bagas dengan jahatnya masih berada disana—semakin menggoda, menjilat, dan mempermainkannya.

"Ouhh aku tidak kuat akhhh, aku ingin keluarhhh. Mas Bagas, ahh!" seru Sarah manja.

Sarah tidak sanggup lagi, ia menumpahkan semua, dan Bagas langsung menelannya hingga tandas tak bersisa. Peluh bercucuran dari tubuh keduanya. Sarah memejamkan mata sejenak karena terlalu letih akibat perlakuan Bagas yang teramat ganas.

Disaat itulah Sarah tersadar, matanya terbuka—melotot tak percaya. Tak percaya bahwa ia lupa untuk melakukan satu hal sebagai kunci dari akhir jebakan yang telah ia ciptakan sebelumnya.

Segera setelah ingatannya kembali, Sarah menghela napas, bersiap mengeluarkan jarum suntik yang terdapat bius disana. Tujuannya tentu untuk melumpuhkan Bagas yang kini masih saja menguasai tubuhnya.

Perlahan dengan hati - hati, Sarah mengambil jarum suntik yang ada di saku seragamnya. Untung Bagas belum melepas paksa seluruh pakaiannya.

Terlihat Bagas masih sibuk memujanya dibawah sana. Melahap habis semua kenikmatan yang telah ia curahkan dengan derasnya.

Walau kedua kakinya gemetar, Sarah tetap mencoba berkonsentrasi. Jangan sampai Bagas mengetahui apa yang akan ia lakukan nanti.

Perlahan pria itu semakin naik. Mencari kenikmatan pada bagian lain. Menyesap bongkahan kenyal yang menjadi salah satu titik sensitif Sarah.

"Emhh, saya suka ini ahh, kamu enak," gumam Bagas tidak jelas.

Sarah semakin merapatkan bibirnya, kali ini menahan desahan agar bisa fokus pada aksi berikutnya.

Tepat saat wajah Bagas menuju perpotongan lehernya, Sarah langsung saja mengayunkan tangan, menusuk Bagas dengan jarum suntik yang telah ia siapkan.

Namun, setelah jarum itu menembus kulit Bagas, tidak ada reaksi apa-apa selain Bagas yang mengernyit heran atas apa yang ia lakukan.

Tidak?!

Seharusnya Bagas langsung terkapar pingsan, tapi mengapa tidak ber-efek apapun?

Belum selesai dengan kebingungannya, ternyata Bagas yang menyadari itu semua akhirnya menangkap lengan kecil Sarah yang masih menggenggam erat jarum suntik. Tatapan Bagas kini sepenuhnya tajam di atas wajahnya. Kemudian pria itu pun berbisik rendah.

"Stupid!"

1
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!