Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
"Lo emang istri gue, Tapi jangan pernah lupa kalo gue nikahin Lo hanya untuk Maura!" Dilan menatap pada Ana yang juga menatap malas ke arahnya.
"It's okee, Gue tidak akan pernah lupa. dan loe juga harus ingat kalo gue juga mau nikah sama lo juga karna terpaksa!" balas Ana tak kalah pedas.
Berawal dari pernikahan kontrak yang saling menguntungkan, Dilan dan Ana membangun rumah tangga tanpa dasar cinta. Dilan yang ingin memberikan sosok ibu untuk Maura, begitu juga dengan Ana terpaksa menerima tawaran Dilan karna butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? temani author melanjutkan kisah ini yuk
Update rutin setiap hari Rabu dan jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permintaan Hana
keputusan Dilan untuk meninggalkan Adiwangsa Holdings memang menenangkan Hana, tetapi menimbulkan tekanan besar pada dirinya di Maura Group. Ia kini harus bekerja lebih cerdas dan efisien untuk mencapai target yang sama dengan waktu kerja yang jauh lebih singkat.
Untuk membantu Dilan mengelola jadwalnya yang padat dan memastikan ia tetap bisa pulang tepat waktu, Edward merekomendasikan asisten eksekutif baru, Risa.
Risa berusia akhir dua puluhan, lulusan terbaik dari universitas luar negeri, dan memiliki reputasi sebagai manajer waktu paling efektif di industri. Ia sangat profesional, efisien, dan memiliki kemampuan luar biasa untuk mengantisipasi setiap kebutuhan Dilan.
Sejak Risa bergabung, jadwal Dilan menjadi sempurna. Ia selalu keluar kantor tepat pukul 17.30, tanpa ada lagi email mendadak di malam hari, dan semua dokumen yang dibawa pulang sudah tersusun rapi untuk dibaca hanya selama satu jam setelah anak-anak tidur. Risa telah memenuhi janji Dilan kepada Hana.
Awalnya, Hana sangat berterima kasih kepada Risa.
"Asisten mu hebat sekali, Dilan. Kau akhirnya punya waktu untuk kami," ujar Hana suatu malam, saat mereka sedang bersantai setelah anak-anak tidur.
"Aku tahu. Risa benar-benar penyelamat," jawab Dilan. "Dia memastikan aku tidak kembali ke lubang hitam pekerjaan."
tentu saja Hana senang dengan hal itu Namun, seiring waktu, Hana mulai merasakan perubahan halus dalam dinamika suaminya.
Risa sangat berdedikasi. Ia sering mengirimkan pesan teks singkat kepada Dilan di luar jam kerja untuk mengingatkannya tentang detail-detail kecil yang penting.
Suatu hari di hari Sabtu pagi, saat Dilan, Hana, Maura, dan Jendra sedang berkumpul untuk sarapan, ponsel Dilan berdering dengan nada notifikasi pesan teks khusus. Dilan segera melihatnya.
"Risa," gumam Dilan.
"Ada apa?" tanya Hana.
"Dia hanya mengingatkan bahwa pertemuan makan siang Ayah di golf hari ini seharusnya dipindahkan ke hari Selasa karena Ayah harus cek kesehatan," jelas Dilan.
"Kenapa dia mengirimkan pesan itu hari Sabtu pagi? Bukankah itu bisa menunggu hari Senin?" tanya Hana, alisnya terangkat.
"Dia hanya teliti, Sayang. Dia tahu aku harus menghubungi Ayah secepatnya agar Ayah tidak membatalkan janji golf Ayah dan malah bekerja," jawab Dilan, sedikit membela Risa.
Konflik kecil semacam itu mulai sering terjadi.
Hana menemukan Dilan tertawa terbahak-bahak saat makan malam setelah membaca meme yang dikirimkan Risa di grup kerja mereka.
Saat Dilan demam ringan, Risa segera mengirimkan paket vitamin dan sup khusus ke rumah, bahkan sebelum Hana sempat membelinya.
Hana tentu saja tidak suka dengan hal itu. Hana mulai cemburu. hingga pada saat Dilan dan Hana sedang merayakan ulang tahun pernikahan di restoran yang intim, Dilan menerima panggilan darurat dari Maura Group. Risa menelepon untuk memberikan detail cepat tentang krisis kecil.
"Kenapa Risa yang menelepon, bukan Edward atau kepala departemen lain?" tanya Hana setelah Dilan selesai berbicara.
"Dia di lokasi, Hana. Dia selalu yang pertama merespons. Dia sangat bisa... diandalkan," kata Dilan, tidak menyadari betapa kata 'diandalkan' itu terdengar menyakitkan bagi Hana.
Hana menatap lilin di meja. "Aku tahu dia asisten yang baik, Dilan. Tapi aku merasa dia tahu lebih banyak tentang jadwal mu, mood kerjamu, dan bahkan apa yang kamu butuhkan, dibandingkan aku sekarang. Batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadimu mulai kabur lagi, dan kali ini, namanya Risa."
Dilan menarik napasnya panjang memperhatikan raut wajah Hana yang sudah tidak mood.
"bukan seperti itu,sayang. tolong kamu ngertiin aku kali ini saja"ucap Dilan karna tidak ingin merusak acara malam itu. Hana hanya diam tidak menjawab apapun. akhirnya malam itu berlalu dengan yang diharapkan, meskipun dalam hati kecil Hana ada rasa yang tidak seharusnya ada.
Hari terus berlanjut, kedekatan Dilan dan Risa semakin membuat Hana memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. hingga Konflik memanas saat Dilan harus melakukan perjalanan bisnis mendadak selama tiga hari ke Tokyo. Ini adalah perjalanan pertamanya sejak kelahiran Jendra, dan Hana tidak menyukainya.
"Aku bisa mengurus anak-anak," kata Hana. "Tapi yang membuatku kesal adalah, Risa juga ikut, kan?"
"Tentu saja dia ikut, Hana. Dia yang mengatur logistik, dan dia penerjemah andalan Ayah," jawab Dilan, mulai frustrasi. "Ini benar-benar murni bisnis. Aku hanya pergi karena ini berkaitan dengan kesepakatan yang akan membiayai kuliah Maura dan Jendra."
"Aku tidak bilang aku tidak percaya padamu, Dilan," balas Hana, suaranya tenang. "Aku percaya pada pilihan yang kamu buat. Kamu bilang kamu akan fokus pada keluarga, tapi sekarang, seluruh hidupmu, bahkan perjalanan intip ini, diatur oleh wanita lain. Aku merasa terpinggirkan."
"Itu tidak adil, Hana!" Dilan membentak, ia lelah dengan tuduhan yang tak berdasar. "Risa hanya melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Dia hanya alat yang membuatku bisa pulang tepat waktu!"
"Alat?" Hana tersenyum pahit. "Aku harap dia hanya alat. Tapi alat itu tahu warna dasi yang harus kamu pakai untuk pertemuan, tahu makanan apa yang kamu hindari saat kamu stres, dan dia orang pertama yang kamu hubungi saat ada masalah. Dia sudah mengambil alih peran istri dalam kehidupan profesionalmu, Dilan."
Dilan pergi ke Tokyo dengan perasaan berat.
Saat Dilan sedang bernegosiasi di Tokyo, Hana secara tidak sengaja menemukan sesuatu saat merapikan ransel kerja Dilan yang tertinggal. Sebuah buku catatan kecil yang selalu dibawa Dilan.
Buku itu berisi detail pekerjaan, tetapi di bagian belakang, ada halaman yang ditulis tangan dengan rapi oleh Risa. Itu bukan hanya catatan, tetapi daftar to-do list yang sangat pribadi:
Ingatkan Dilan minum obat alergi (Dia tidak akan ingat). 2. Ganti jadwal gym-nya ke pagi karena Hana butuh dia saat sore hari. 3. Belikan Maura buku 4. Jangan biarkan dia minum kopi setelah jam 4 sore.
Melihat daftar itu, hati Hana berdebar. Risa tidak hanya mengurus pekerjaan Dilan, Risa mengurus Dilan sebagai manusia, mengambil alih detail-detail kecil perhatian yang seharusnya menjadi tugas Hana atau setidaknya, yang seharusnya Dilan urus sendiri. Risa telah menjadi perpanjangan tangan Dilan di setiap aspek hidupnya, secara efisien mengisi semua celah.
Ketika Dilan kembali dari Tokyo, disambut oleh sambutan hangat dari Maura dan Jendra, ia menemukan Hana duduk di sofa dengan buku catatan kecil itu di tangannya.
"Aku tahu kau pulang tepat waktu, Dilan. Kau adalah suami yang sempurna di mata anak-anak," kata Hana datar. "Tapi aku ingin bertanya, Siapa yang kau butuhkan saat kau sakit? Aku, atau asistenmu?"
Dilan menatap buku catatan itu, menyadari betapa jauhnya Risa telah melangkah, dan betapa cerobohnya ia membiarkan batas-batas itu runtuh demi kenyamanan.
"Aku ingin Risa keluar," kata Hana. "Sekarang juga."
Tapi Hana tidak merasakan itu, hatinya kerap terluka karena cintanya yang tanpa sadar tumbuh untuk Dilan, sang suami kontrak yang hanya menganggapnya hanya orang asing.
Apakan Hana akan mempertahankan cintanya atau memilih pergi...