NovelToon NovelToon
Menikah Karena Jebakan

Menikah Karena Jebakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Nikahmuda / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.

Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.

Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.

Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?

Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12.

Suasana di dalam ruang tamu seketika membeku, atmosfer udara terasa begitu berat. Tak seorang pun berani mengeluarkan suara, seolah setiap kata yang baru saja Maura ucapkan masih menggantung di langit-langit ruangan tersebut.

Ingatan Maura melayang ke beberapa bulan yang lalu.

Hari ketika Zeya pulang dari mengikuti Kejuaraan Taekwondo tingkat internasional dengan membawa medali emas.

Nama Zeya langsung dielu-elukan ke seluruh penjuru sekolah. Para guru memujinya dengan bangga, sementara teman-teman berebut mengucapkan selamat. Ke mana pun ia melangkah, tatapan kagum selalu mengiringinya.

Tak lama berselang, Zeya kembali mengharumkan nama sekolah dengan meraih juara pertama Olimpiade Sains dan Matematika. Sambutan yang diterimanya bahkan lebih meriah. Kepala sekolah memberikan pidato khusus untuk menghargai prestasinya, sementara spanduk ucapan selamat terbentang megah di gerbang sekolah.

Lalu dirinya...? Namanya tak pernah sekalipun disebut. Bahkan untuk sekadar masuk dalam daftar pemenang pun tidak.

Di tengah riuh tepuk tangan dan sorak kebanggaan, ia hanya bisa berdiri seorang diri di sudut koridor. Menyaksikan semua kemeriahan itu dari kejauhan, seolah dirinya hanyalah bayangan yang tak pernah benar-benar ada. Jangankan ada yang menyadari kehadirannya, sekedar menoleh pun tak ada.

"Aku benci semua orang mengaguminya dan terus membicarakannya. Seolah dia lah orang paling berjasa pada sekolah." Suara Maura mulai bergetar.

Netra Zeya membulat, napasnya tercekat. Ia tak pernah membayangkan jika selama ini Maura ternyata menyimpan kebencian yang telah mengakar sedalam ini.

Daniel merangkul bahu istrinya erat. Namun, tatapan matanya mengarah lurus kepada Maura. Bukan lagi kemarahan yang tampak di wajahnya, melainkan rasa iba bercampur ngeri melihat bagaimana iri dengki telah menggerogoti hati gadis itu sedemikian rupa seolah telah mendarah daging.

Dr. Rangga mundur selangkah. Wajahnya seketika memucat. Bibirnya bergetar pelan, sementara sorot matanya menyiratkan keterkejutan sekaligus kekecewaan.

"Maura..." suaranya lirih. "Sayang... benarkah ini dirimu, Nak?"

Dia menggeleng pelan tak percaya. "Papa dan Ibu sangat menyayangimu. Kami tidak pernah mengajarkanmu untuk membenci siapa pun. Tapi kenapa... kenapa kamu bisa membenci Zeya sampai seperti ini?"

Pria itu tampak begitu terpukul. Tatapannya yang biasanya penuh kehangatan kini menyimpan luka serta kekecewaan.

"Kenapa...?" ulang Maura sinis. "Papa masih bertanya kenapa?"

Pandangannya perlahan beralih ke arah Zeya. Sorot matanya penuh bara api kebencian.

"Itu karena aku sudah muak! Kenapa hanya dia dan selalu dia yang menjadi pusat perhatian!"

Ia mengepalkan kedua tangannya. "Aku juga ingin dipuji. Bagaimana rasanya dibanggakan dan menjadi seseorang yang berarti. Tapi selama ada dia...maka, aku nggak akan pernah bisa bersaing dan selalu hidup dalam bayangannya!"

Ruangan kembali diliputi kesunyian dengan aura lebih mencekam yang sangat menyesakkan. Semua orang seolah terhipnotis oleh sosok Maura yang berdiri di tengah mereka dan berbicara berapi-api.

Zeya menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah maju.

"Maura..." suaranya lembut, tetapi tegas. "Aku nggak pernah sekalipun berniat untuk bersaing denganmu. Aku menyibukkan diriku dengan belajar dan belajar untuk membuktikan bahwa anak broken home sepertiku mampu berprestasi."

"Apa kamu tahu?" Zeya tersenyum getir. "Aku justru ingin mengalahkan diriku sendiri dari sifat iri dengki dan egois."

"Justru itu lah yang aku benci!" bentak Maura. "Aku benci kamu, karena semua orang menganggapmu ibu peri yang yang baik hati!"

"Ya Tuhan..." Bu Safira menangis tersedu-sedu. "Hentikan rasa bencimu, Nak. Itu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."

"Aku nggak peduli!" bentak Maura. "Yang penting sekarang aku sudah berhasil membuat namanya dibenci oleh semua orang."

Daniel mengerutkan kening, lalu akhirnya angkat bicara. Dia tak ingin Maura terus memojokkan istrinya "Kalau memang sejak dulu kamu membenci Zeya... kenapa kamu terus mengikuti semua kegiatan yang dia ikuti?"

Maura tersenyum tipis. "Karena orang yang ingin mengalahkan musuhnya maka harus mengenal targetnya lebih baik dari siapapun"

"Dan aku hanya perlu menunggu satu kesalahan kecil untuk menghancurkan semua yang dia banggakan," lanjutnya sambil terkekeh kecil.

"Sayangnya... dia hampir nggak pernah memberiku kesempatan." Ucapan Maura membuat semua orang terkejut.

Daniel membeku, wajahnya mengeras. "Jadi selama ini... semua yang kamu lakukan bukan karena ingin..."

"Tentu saja, bukan," potong Maura cepat. "Tapi karena aku ingin mencari celah untuk menghancurkannya."

"Sampai akhirnya kesempatan itu datang. Tentu saja aku nggak akan menyia-nyiakannya. Karena sebelum kemping diadakan aku sudah survey lokasi. Bagaimana adat dan kebiasaan penduduk desa di sekitarnya. Hahaha...!" Suara tawa Maura menggema layaknya psikopat.

"Apa maksudmu?" tanya Daniel dengan tatapan tajam.

"Seharusnya kamu itu berterima kasih padaku, Daniel. Karena berkat aku akhirnya kamu bisa menikahi Zeya, bukan?"

Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa sedikit pun keraguan. Jari telunjuknya menekan dada Daniel dengan kuat.

"Aku memang menyukai Zeya dan ingin menikahinya suatu saat nanti. Tapi bukan dengan cara kampungan, menikah karena jebakan seperti skenario yang kamu buat." Suara Daniel terdengar berat dan emosional.

"Selama ini aku menganggapmu seperti adikku sendiri, tapi kamu menganggapku musuh?" bisik Zeya lirih, tatapan matanya perlahan berubah. Bukan lagi marah, melainkan perasaan kecewa yang teramat sangat.

"Tepat sekali." Maura mendongakkan kepala dengan tatapan penuh tantangan.

"Kalau kalian mau menghukumku... silakan. Aku nggak akan menyesal sedikit pun."

Ucapan Maura membuat wajah Ayah Bastian perlahan berubah mengeras. Dengan langkah tenang penuh wibawa, pria kharismatik itu mundur beberapa langkah. Perlahan mengeluarkan ponselnya dari saku jas lalu menekan tombol panggil. Tatapannya tak pernah lepas dari Maura.

"Karena kamu tetap merasa apa yang kamu lakukan benar... maka sekarang saatnya hukum yang berbicara."

Suara sambungan telepon mulai terdengar. Membuat wajah Maura akhirnya berubah pias.

Untuk pertama kalinya, sorot matanya memperlihatkan secercah kegelisahan ketika menyadari bahwa semua perbuatannya benar-benar telah sampai pada titik tanpa jalan kembali.

Mami Mia yang sejak tadi hanya diam menjadi penonton, akhirnya membuka suara saat melihat perubahan Maura. "Kenapa wajahmu seperti itu, Maura?" tanyanya sembari tersenyum, seakan mengejek.

"Bukankah tadi kamu begitu arogan, lalu kenapa sekarang seakan menciut nyalimu? Ke mana keberanian tadi, hmmm?" cecarnya menambahkan.

Bu Safira memberanikan diri menghampiri Ayah Bastian. "Mas, kamu nggak serius kan, melaporkan Maura pada pihak berwajib?"

"Aku sangat serius dan tidak akan mentolerir siapapun yang telah menyakiti putriku!" jawab Ayah Bastian mantap.

"Tapi, Maura itu masih labil, Mas. Tolong, maafkan dia. Kita bisa berunding secara kekeluargaan," mohon Safira, matanya mulai berkaca-kaca.

Ayah Bastian menatap mantan istrinya sambil menatap Bu Safira dengan kekecewaan mendalam. "Aku kecewa sama kamu, Fira," ucapnya lirih.

"Aku pikir setelah semua yang Maura lakukan pada Zeya, kamu akan menjadi garda terdepan buat anak kandungmu sendiri, ternyata aku salah."

Ayah Bastian tersenyum miris, sorot matanya begitu dingin. "Aku akan tetap menempuh jalur hukum dan tidak akan mencabut laporanku!"

Deg.

Kalimat itu menghantam dada Bu Safira seperti palu godam. Napasnya tercekat, wajahnya seketika memucat, airmata perlahan jatuh di pipinya. Ia menggeleng pelan, dirinya seperti memakan buah simalakama.

1
Aditya hp/ bunda Lia
perasaan cuuinttaaaaa ..... itu namanya Zeyaaa kasih tau Moms
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣,
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
ini mama Mia yang di sebelah yah ... Mak Mia 🤭🤭
Aditya hp/ bunda Lia: oh ... aku kira karena temenan namanya di abadikan 😁✌️🫰
total 6 replies
Patrick Khan
serbuuuuuuu🔨🔨🔨🔨🔨ini q bawah senjata😁
Aditya hp/ bunda Lia: siap perang kita 😂😂😂
total 5 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kebalik paaaakkk kamu yang siap2 belum tau ajah kau itu siapa Daniel dan zeya ... kamu salah pilih lawan ...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Esther
Bu Yuni kompor meleduk....kalau iri bilang bu😂🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kak, Es, pernah lihat sinetton tukang ojek pengkolan gak? nah seperti itulah karakter bu yuni dlm bayangan ibu🤭🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
akhirnya maraton 😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 3 replies
Nar Sih
lega kan hti mu maura klau sdh minta maaf dan di terima ,tinggal perbaiki diri dan hti mu biar jauh dri sifat yg gk trrpuji lgi
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Patrick Khan
ahh muara tobat ni ye🤣🤣🤣
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Patrick Khan
terkejut kan zeya
.emaknya datang😁
Esther
kalau akur gini kan enak,gak ada rasa iri.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu ya zhe
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Nar Sih
semoga dgn ada nya zheya dan daniel di desa tersebut bisa membwa perubahan yg lbh maju
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Nar Sih
👍👍maura kmu sdh berani bersikap legowo minta maaf semoga dgn saling memaaf kan bisa membawa hidup lebih damai biar bagai mana pun kmu dan zeya saudara
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
tium atuh Niel udah sah ini tium kening ajah ... 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: wkwkwkk ... iya juga yah
total 4 replies
Dew666
Maksut istri tua gimana nih
Dew666: Ooh begitu 😍
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
clear udah
vania larasati
lanjut
Esther
Dengan mengakui kesalahan dan minta maaf di depan semua orang, paling tidak sedikit meringankan bebanmu Maura.
Tinggal minta maaf secara langsung Daniel dan Zeya
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🫰🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Nar Sih
mengakui ke slhan emsng gk mudah ya maura tpi👍👍 untuk mu mungkin ini awal menuju perubahan yg lebih baik untuk mu☺️
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Patrick Khan
tepuk tangan👏👏
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!