Kisah tentang tiga anak indigo yang berjuang demi hidup mereka di dalam kiamat zombie yang tiba tiba melanda dunia. Mereka mengandalkan kemampuan indigo mereka dan para hantu yang melindungi mereka selama mereka bertahan di tempat mereka, sebuah rumah angker di tengah kota.
Tapi pada akhirnya mereka harus meninggalkan rumah angker mereka bersama para hantu yang ikut bersama mereka. Mereka berpetualang di dunia baru yang sudah berubah total dan menghadapi berbagai musuh, mulai dari arwah arwah penasaran gentayangan, zombie zombie yang siap menyantap mereka dan terakhir para penyintas jahat yang mereka temui.
Genre : horror, komedi, drama, survival, fiksi, misteri, petualangan.
Mohon tinggalkan jejak jika berkenan dan kalau suka mohon beri like, terima kasih sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Setelah kembali ke bangsal dan makan, kira kira dua jam kemudian, tiba tiba seorang tentara menghampiri Reno, Dewi dan Felis yang duduk di tempatnya,
“Maaf mengganggu, komandan Faizal ingin bertemu kalian,” ujar sang tentara.
Sang tentara langsung pergi tanpa menunggu jawaban Reno dan Dewi tapi dia menunggu di pintu, seakan akan yang di katakan olehnya adalah perintah dan tidak bisa di tolak.
“Yuk deh Wi,” ujar Reno sambil menjulurkan tangannya ke Dewi yang duduk.
“Iya, yuk Fel,” balas Dewi menyambut tangan Reno dan menjulurkan tangannya kepada Felis.
“Iya,” ujar Felis sambil menyambut tangan Dewi.
Ketiganya berjalan keluar dari pintu samping dan keluar, mereka berjalan di lorong mengikuti sang tentara. Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang berada di ujung, Reno melihat plang di atas ruangan yang tertulis “kepala sipir,” sang tentara mengetuk pintunya, “masuk,” terdengar suara Faizal di balik pintu, “krek,” sang tentara membuka pintunya dan mempersilahkan Reno, Dewi dan Feli masuk. Ketika melihat ketiganya masuk, Faizal langsung berdiri berjalan mendekati ketiganya dan menjulurkan tangannya.
“Duduk duduk,” ujar Faizal mengajak ketiganya duduk di sofa.
Ketiganya duduk berdampingan di sofa dan berdempetan, Faizal duduk di depannya, kemudian dia menoleh melihat tentara yang berdiri di pintu,
“Tolong bawakan kita kopi, empat ya,” ujar Faizal.
“Siap, ndan,” ujar sang tentara.
Dia langsung keluar dan menutup pintunya, Faizal berdiri dan mengunci pintunya, kemudian kembali duduk di depan ketiganya.
“Nah, sebelumnya maaf memanggil kalian kesini, saya ingin mengucapkan terima kasih sama kalian, kalau ga ada kalian, mungkin rencana mereka akan berhasil,” ujar Faizal.
“Rencana pak ?” tanya Reno.
“Rencana si Sumarno itu ingin mengambil alih penjara ini dan menguasainya ketika kita pergi keluar hari ini, dia juga berniat menyandera seluruh wanita untuk kepuasan mereka, alasannya karena mereka sudah lama tidak terlibat dengan wanita selama di penjara dan mereka ingin bebas, mereka sudah merencakan untuk kabur dari penjara ini sejak lama, bahkan jauh sebelum wabah zombie terjadi,” ujar Faizal.
“Gila banget, ga tau apa dunia udah hancur lebur kayak gini,” ujar Dewi.
“Oh dia tahu persis dan memanfaatkannya untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya,” ujar Faizal.
“Tapi ada tentara juga yang terlibat kan pak ?” tanya Reno.
“Yang tentara hanya Danang, satunya gadungan, sepertinya Danang memberinya seragam dan ketika saya cek ke gudang, kepala gudang bilang Danang mengambil sejumlah senjata atas nama saya kemarin, senjata senjata yang di ambil Danang di simpan di dalam sebuah gentong di ruangan tempat saya menangkap Sumarno tadi. Jadi, karena masalah ini, untuk hari ini saya tidak keluar mencari dan menyisir ring satu, kita benahi dalam negeri kita dulu, saya akan mendata para pengungsi dan memeriksa personel saya supaya mereka tidak di susupi oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab,” jawab Faizal.
Reno, Dewi dan Felis terdiam, semua yang di katakan oleh Faizal sebenarnya sudah terjadi di dalam mimpi yang di perlihatkan oleh Felis kepada Reno dan Dewi. Faizal kembali bergerak maju melihat ketiganya,
“Itu sebabnya saya memanggil kalian kesini, saya ingin kalian di dalam dulu, di pos relawan yang ada di belakang dan jangan kembali ke bangsal untuk hari ini,” ujar Faizal
“Oh gitu pak, di dalam itu dimana ?” tanya Dewi.
“Di gedung sebelah gedung ini adalah gedung untuk sarana olah raga, pos relawan ada dua lokasi, satu di gedung yang saya katakan barusan, satunya di rumah sakit di depan, kalian silahkan ke dalam saja, kami sudah di siapkan sebuah tenda untuk kalian di dalam,” jawab Faizal.
“Wah terima kasih pak,” balas Reno.
“Kalian penolong kita, hanya segitu rasanya kurang, tapi untuk sementara saya harap kalian mau menerimanya, lalu saya menyiapkan mainan yang saya temukan untuk si kecil di dalam tenda, dia hebat, ketika saya mau naik mobil, dia menarik tangan saya dan mengajak saya mengikutinya, untung saya datang belum terlambat tadi,” ujar Faizal sambil menjulurkan tangannya mengelus kepala Felis dan tersenyum.
“Hehehe,” ujar Felis yang terlihat senang di elus kepalanya.
“Tapi ternyata masih ada narapidana yang selamat ya pak,” ujar Reno.
“Ya, itu alasannya kita mau menyisir semuanya, mulai dari pengungsi sampai personel kita, ketika di interogasi, Sumarno mengatakan kalau semua narapidana yang tersisa sudah tertangkap namun saya tidak yakin,” ujar Faizal.
“Kok dia bisa selamat sih ?” tanya Dewi.
“Rupaya membuka seluruh pintu penjara adalah Sumarno dan anak buahnya, tujuannya supaya para zombie masuk kedalam dan menghabisi seluruh sipir juga keluarga mereka yang berlindung di dalam penjara, tapi ketika mereka ingin lari keluar, kita sudah ada di depan pintu mereka sehingga mereka mengurungkan niat mereka dan bersembunyi di dalam, mencari saat yang tepat untuk berbaur dengan para pengungsi sampai bisa mengambil alih penjara ini,” jawab Faizal.
“Wow...hebat banget otaknya si Sumarno itu,” ujar Reno.
“Ada lagi, ketika kita membuat pos sementara di stasiun dan menutup pasar batu akik kemarin, rupanya yang membuka pintu waktu sore harinya adalah Danang atas perintah Sumarno, tujuannya supaya saya dan pasukan tidak kembali ke penjara karena habis di lapangan oleh para zombie sehingga Sumarno dan kawan kawannya bisa menguasai penjara kemudian membunuh semua personel yang tersisa di dalam, kemudian menjadikan pengungsi yang datang bersama kita kesini menjadi budak mereka,” ujar Faizal.
Reno, Dewi dan Felis saling menoleh melihat satu sama lain, mereka jadi mengerti siapa yang menyebabkan mereka di evakuasi dari rumah mereka. Tapi karena semua sudah terjadi, mereka tidak mempermasalahkannya lagi,
“Makasih ya pak, sudah nolong kita,” balas Reno.
“Sekarang rencana mereka gagal berkat kalian, tapi ada satu yang membuat saya bingung,” ujar Faizal.
“Apa tuh pak ?” tanya Dewi.
“Delapan narapidana yang bersama Sumarno, hampir semuanya kesurupan dan tidak bisa di ajak bicara, hanya satu yang pingsan dan kita sedang menunggu dia bangun untuk di mintai keterangan,” jawab Faizal.
“Oh,” ujar Reno, Dewi dan Felis bersamaan.
“Kalian tahu sesuatu ?” tanya Faizal yang melihat ekspresi ketiganya berubah sesaat.
“Ti..tidak tahu pak, saya tidak mengerti apa yang bapak katakan, bener ga Wi,” ujar Reno menoleh melihat Dewi.
“I..iya pak, bener, kita ga tau apa apa soal itu,” tambah Dewi.
“Ya tentu saja kalian tidak tahu, maaf tentunya kalian takut mendengar cerita itu, saya tidak bermaksud menakuti kalian, sekali lagi maaf,” ujar Faizal.
“Tidak apa apa pak (fiuuuh...ga ketahuan),” balas Reno dan Dewi bersamaan.
“Baiklah, sekali lagi saya ucapkan terima kasih, kalian sudah boleh keluar dan langsung ke dalam, nanti bicara saja sama relawan di sana dan sebutkan nama kalian,” ujar Faizal berdiri sambil menjulurkan tangannya.
Faizal sedikit heran karena melihat Reno, Dewi dan Felis masih duduk di tempatnya, kemudian dia kembali duduk,
“Ada apa ?” tanya Faizal.
“Kopinya kan belum datang pak ?” tanya Reno.
“Iya pak, nanti kasihan dong kalau dia membawakan kopi kesini,” tambah Dewi.
“Hahahaha....tidak perlu khawatir, tolong bawakan kopi artinya tolong keluar saya mau bicara secara pribadi,” ujar Faizal.
“Hah...jadi itu kode ?” tanya Reno.
“Iya, makanya tidak perlu khawatir,” jawab Faizal tersenyum.
“Wow keren juga ya,” ujar Reno.
“Ah itu biasa di militer, baiklah, sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan kalian sudah boleh langsung ke dalam,” ujar Faizal berdiri.
“Baik pak, terima kasih,” ujar Reno berdiri dan menjabat tangan Faizal.
Setelah itu, ketiganya keluar dari ruangan, tentara yang menunggu di depan mengantar ketiganya masuk ke dalam untuk menuju ke tempat relawan yang berada di gedung olah raga di sebelah. Ketika sampai di dalam gedung di belakang, Reno, Dewi dan Felis tertegun di temani tentara yang berdiri di sebelah, mereka melihat para relawan yang terlihat sibuk memasak makanan, membuat pagar pagar kawat untuk pertahanan, membuat senjata senjata tradisionil memanfaatkan bahan bahan yang ada dan banyak anak kecil yang berlarian kesana kemari. Seorang ibu paruh baya yang sedang memasak, melihat ketiganya, dia berjalan menghampiri ketiganya.
“Halo, kalian baru ya ?” tanya sang ibu.
“I..iya bu,” jawab Reno dan Dewi bersamaan.
“Oh baiklah, nama kalian siapa ? nama saya Ratna, saya yang menjadi pemimpin relawan di bealkang,” ujar Ratna memperkenalkan dirinya.
“Um...nama saya Reno dan ini Dewi, yang kecil Felis, bu Ratna,” ujar Reno.
“Mereka yang di rekomendasikan oleh komandan bu,” ujar sang tentara.
“Oh jadi mereka ya, baiklah, silahkan antar mereka ke tenda mereka,” ujar Ratna sambil tersenyum melihat ketiganya.
Sang tentara langsung membawa ketiganya menuju ke tenda tenda kecil yang berjumlah banyak di dalam ruangan melewati sebuah tenda hijau besar di tengah ruangan dengan tanda palang merah di atapnya. Setelah sampai di tenda kecil paling ujung,
“Nah ini tenda kalian, sekarang silahkan kalian beristirahat disini, saya permisi dulu,” ujar sang tentara.
“Baik pak, terima kasih,” ujar Reno.
Setelah sang tentara pergi, Reno, Dewi dan Felis masuk ke dalam tenda, mereka melihat tiga buah sleeping bag di buka di tengah tenda untuk mereka tidur dan banyak boneka di atas sebuah sleeping bag, Felis langsung berlari menghampiri boneka boneka itu dan tidur di tengahnya sambil melihat boneka itu satu persatu. Reno melihat sekeliling di dalam tenda, selain sleeping bag, ada sebuah ransel militer besar di ujung tenda, dia mendekati ransel itu dan melihat isinya, ternyata isinya adalah beberapa potong pakaian, senter, sekotak lilin dan sebuah radio portabel kecil yang memaka baterai.
“Baju tentara semuanya,” ujar Dewi.
“Ya mau gimana lagi, pakai aja singlet hijau ini,” ujar Reno memberikan sebuah singlet hijau kepada Dewi.
“Iya, lo keluar dulu deh, gue mau ganti baju,” ujar Dewi.
“Ok ok,” balas Reno berdiri.
Reno keluar dari tenda, dia termenung dan besender di tiang yang menopang tenda, Reno melihat telapaknya dan menoleh melihat pintu tenda di sebelahnya,
“Gue....cupu banget ya.....kejadian tadi pagi bisa mencelakai Dewi, Felis...dan gue sendiri,” ujar Reno dalam hati.
Terbayang kembali bagaimana Sumarno memangku Dewi dan melecehkannya di depan matanya, dan ketika memikirkan kalau Sumarno hanya salah satu dari manusia jahat yang bisa mengancam dirinya, Dewi dan Felis, tubuhnya merinding sampai gemetar, rasa takut, marah, bingung dan putus asa hinggap di hati nya, dia menggelengkan kepalanya dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Setelah tenang, Reno menengadah ke atas melihat langit langit yang tinggi,
“Kayaknya....mungkin Dewi dan Felis lebih baik bersama orang lain ketimbang gue, mereka akan lebih aman sama orang lain,” ujar Reno dalam hati.
Tiba tiba dia merasa bajunya di tarik, dia menoleh melihat Felis berdiri di sebelahnya kemudian mengangkat kedua tangannya dengan wajah khawatir, Reno langsung menggendong Felis, tangan kecil Felis langsung mengelus kepala Reno,
“Ga apa apa kak....ga apa apa, Felis di sini,” ujar Felis.
“Huuu...huu...iya Fel, makasih,” balas Reno memeluk Felis yang terus mengusap kepalanya sambil menangis terharu.
Dewi yang berada di dalam tenda dan sudah berganti pakaian, berdiri di tiang tepat membelakangi Reno, dia tersenyum sambil menitikkan air mata.