Maemunah, gadis lajang berumur 25 thn yang belum bisa dewasa sedikit pun. Sifatnya sangat bebas dan suka bergaul dengan remaja yang bukan seumurannya. Gadis ini tidak suka bekerja dan hanya senang bermain, padahal teman" seumurannya banyak yang sudah sukses berkerja dan menikah. Putri babe Rojali dan Nyak Markoneng ini kerap kali menjadi biang kerok dan terkenal dengan kenakalannya. Sifat ini sudah ia miliki sedari kecil senang membuat onar dan membuat pusing kedua orang tuanya. Tak tahu entah cara apa lagi agar Mae beranjak dewasa, kedua orang tuanya memutuskan mencari seorang lelaki untuknya. Mae jelas menolak keras hal ini. Ia tak mau menikah dan berpacaran karena tak mau ribet. Itu melelahkan baginya, menjalani kehidupan seperti yang diinginkan barulah menyenangkan menurutnya. Akankah ada lelaki yang bisa merubah sikap buruknya itu? Berhasilkah orang tuanya mencari lelaki yang cocok dengannya? Temukan jawabannya lewat cerita novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Alam mimpi Mae
Di mimpinya, Mae adalah seorang pendekar wanita yang cantik dan pemberani. Ia sedang di keroyok oleh sekumpulan orang bertopeng sekarang. Mae menghadapi mereka seorang diri tanpa ada bantuan dari siapa pun. Melihat jumlah orang bertopeng bertambah banyak, Mae menjadi kewalahan dan tak sanggup untuk melawannya lagi. Tepat disaat pedang akan mengenainya, seseorang datang secara tiba-tiba dan langsung melindunginya. Dengan di bantu oleh beberapa pengawal, pria yang tak tahu asal usulnya itu berhasil melumpuhkan semua penjahat dalam sekejap.
Sesudah selesai melawan para penjahat, pria yang beraura bak pangeran kerajaan itu menyuruh pengawalnya untuk membawa mereka ke ruang tahanan. Tanpa menengok keadaan Mae, pria itu langsung berjalan pergi meninggalkannya. Melihat orang yang menolongnya akan pergi, dengan cepat Mae bangkit kembali untuk mengejarnya. Tanpa berpikir panjang, Mae segera mendekap pria tadi dari belakang.
"Wahai pria baik, terima kasih sudah menolongku," ucapnya.
Pria tadi tentu saja terkejut. Perlahan tubuhnya berbalik dan Mae tentu saja sangat penasaran dengan itu.
💤💤💤
Prince perlahan membuka matanya, karena merasa tubuhnya berat. Ia melebarkan matanya terkejut karena mendapati Mae telah tertidur pulas di pelukannya.
Lelaki bak pangeran ini tak langsung bangkit. Ia justru memandangi Mae yang sedang tersenyum dalam tidur.
"Pangeranku apakah itu dirimu?" Sambil mengigau dan tersenyum senang, Mae mendadak mengeratkan pelukannya. Prince pun kembali tersentak karenanya.
"Mae, kamu lucu sekali," ucap Prince pelan dengan sedikit tersenyum.
Perlahan Mae membuka matanya karena merasakan ada yang aneh pada mimpinya. Saat mata gadis ini terbuka, Prince memberikan senyuman padanya. Karena nyawanya masih di tengah-tengah, Mae menjadi terdiam beberapa detik untuk berpikir. Ia belum sadar jika yang dilihatnya itu asli bukanlah mimpi. Untuk memastikannya, Mae memilih memejamkan matanya kembali lalu membukanya. Lagi-lagi Prince tersenyum padanya dan membuat dirinya tersadar jika mimpinya telah berakhir.
Aaa!!!
Bugh!
Mae yang terkejut berteriak. Tendangan bebas segera ia luncurkan ke badan Prince hingga membuatnya terguling jatuh ke lantai.
"Aduh! Sst." Prince merintih kesakitan.
"Lu, ngapain tidur di kamar gue? Pake segala peluk-peluk, bukan muhrim tau!" Omel Mae seketika.
"Aw! Bukannya kamu yang peluk aku duluan ya? Dan kamu bukannya di suruh Tante tidur di sofa ruang tamu," jawab Prince sambil bangkit lalu duduk di lantai.
"Mae, Prince ada ape?" Karena suara ribut mereka terdengar keras di pagi hari, Markoneng yang baru selesai mandi langsung berlari menghampiri. Babe Rojali yang sedang mengurusi burung peliharaannya, tak lama menyusul setelahnya.
"Mae, lu ngapa di kasur dan Price di lantai begitu?" tanya Markoneng heran. Begitu juga dengan Rojali yang menggaruk kepalanya sambil melihat putrinya dan calon menantunya.
"Nyak, Be, anak gadis kalian sudah ternodai. Hiks!" Adu Mae langsung sambil terisak.
"Ha?" Ayah ibunya kompak saling memandang.
Prince pun langsung menggeleng untuk menyangkalnya. "Tidak Om, Tan, waktu Prince bangun, Mae sudah ada di pelukan Prince." "Prince sungguh gak ngapa-ngapain," akunya bersumpah.
Sepasang suami istri ini kini terdiam untuk berpikir. Setelah yakin mereka akhirnya sadar jika yang dikatakan oleh calon menantunya adalah benar. Orang tuanya sudah menyuruh putrinya untuk tidur di sofa namun justru mendapati putrinya telah berada di kamarnya sendiri sekarang.
Mae sendiri sedang mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Ia berpikir kenapa dirinya bisa tidur di kamarnya dan berujung memeluk Prince di pagi hari.
Memorinya berputar kembali pada kejadian tengah malam dimana dirinya bangkit dari sofa untuk menuju ke kamar mandi dan berakhir kembali ke kamarnya.
"Mampus!" Karena merasa salah, Mae perlahan turun dari ranjang untuk berlari kabur. Kedua orang tuanya kompak menoleh karena mendengar suara yang di timbulkan olehnya. Mae menjadi panik dan dengan cepat berlari menggunakan jurus seribu bayangannya.
"Maee!!!"
Teriakan dari Markoneng pun pecah seketika di pagi ini.
................
Di luar sana seseorang pria berpakaian kasual dengan tambahan celemek hitam di bajunya sedang membuat tembikar di toko keluarganya. Seseorang dengan senyuman manis, tangannya dengan lembut memutar tanah liat yang akan ia bentuk menjadi sebuah benda bernilai tinggi nantinya. Saat di tengah-tengah pekerjaannya, ia teringat pesan sang ayah untuk menelepon orang yang akan berkerja sama dengan usaha milik keluarganya itu.
"Halo, dengan Green Heaven Design, ada yang bisa saya bantu?" Mae mengangkat telepon kantor dengan suara yang lembut.
"Bisakah saya berbicara dengan Pak Prince untuk urusan bisnis?" tanya si penelpon dengan suara beratnya.
"Tentu saja. Akan ku salurkan ke teleponnya sekarang. Mohon tunggu sebentar," jawab Mae padanya.
Sektretaris Mae langsung menyalurkan telepon tersebut kepada Prince. Tak lama kemudian, Prince menerima teleponnya untuk berbicara pada orang yang mencarinya.
"Halo, ada yang perlu saya bantu?" tanya Prince langsung.
"Halo dengan Pak Prince? sambung si penelpon memastikan.
"Ya saya sendiri, ada bisa saya bantu?" Tawar Prince padanya.
"Saya ingin bertanya, apa benar perusahaan Green Heaven Design milik bapak akan bekerja sama dengan toko tembikar keluarga saya?" Si penelpon juga langsung bertanya mengenai urusannya.
"Ya benar, saya sangat menyesal karena tak bisa mengunjunginya kemarin," jawab Prince sedikit menyesal.
"Oh tidak apa-apa. Jika bapak ada waktu, saya yang akan berkunjung ke perusahaan bapak saja. Kebetulan ada contoh tembikar yang ingin saya perlihatkan pada bapak," ucap si penelpon dengan sopan.
"Baiklah akan saya tunggu. Kalau boleh tau apa ini dengan Pak Rafansya sendiri?" tanya Prince sebelum mengakhiri pembicaraannya.
"Bukan Pak. Saya anaknya, Kingston Rafansya," jawabnya.
Telepon di antara keduanya akhirnya selesai. Pria yang diketahui anak pemilik toko tembikar ini mulai kembali melanjutkan aktivitasnya sebelum ia pergi mengunjungi perusahaan Furniture tempat Prince bekerja.
Di kantor, Prince mendadak keluar menemui Mae yang sedang mengetik.
"Ehem!" Prince berdehem mengejutkan Mae. Sekretaris Mae segera berdiri dan bertanya.
"Eh Pak Prince, ada apa?"
"Nanti tolong pesankan cemilan terenak terenak untuk tamu saya siang nanti ya," pintanya.
"Tamu siapa Pak?" tanya Mae penasaran.
"Orang dari toko tembikar yang kemarin gagal kita kunjungi," tuturnya.
"Owh, oke lah. Ku akan segera memesannya," ucap Mae mengerti.
"Ya, terima kasih." Prince yang telah selesai hendak berbalik kembali ke ruangannya dan Mae pun dengan cepat memanggilnya untuk bertanya.
"Oh iya, bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik sekarang," jawab Prince dengan senyuman.
"Syukurlah," lega Mae mengangguk-angguk.
Merasa sudah tak ada pembicaraan lagi, Prince kembali lagi ke ruangannya. Sedangkan Mae mulai memesan di toko cemilan langganannya. Ia meminta pada orang toko untuk mengantarkannya siang nanti.
Tak berasa, jam makan siang sudah tiba. Mae sudah menyelesaikan tugasnya menyalin laporan begitu juga dengan pesanan Prince tadi pagi. Mae yang lapar, mengajak Raka untuk makan siang bersama. Tentu saja dengan senang hati Raka menyetujuinya.
"Lu mau makan apa E? Tumben bener ngajak-ngajak," tanya Raka sambil bersiap.
"Makan soto warung Bang Sakti aja lah, hari ini gue yang traktir selama ini kan lu yang sering traktir gue makan," jawabnya.
"Oh gantian ceritanya," ledek Raka seketika.
"Iya, dah ayo!" Mae mengangguk sambil menariknya agar segera pergi.
"Oke lah!" Raka sedikit tertawa sebelum berjalan mengikuti sahabatnya.
Kantor sekarang sudah cukup sepi, Prince juga sepertinya sedang keluar untuk makan siang bersama atasan lainnya. Saat semuanya pergi, beberapa menit kemudian datang seseorang dengan berpakaian jas berompi hitam sedang celingukan mencari seorang untuk ia tanyakan. Kebetulan sekali, Jumi dan kedua temannya sudah selesai dengan makan siangnya. Jumi yang berjalan duluan, mendadak menyetop kedua temannya dan membuatnya berhenti seketika.
"Ada apa sih Jum? Kita mau kerja lagi ini!" protes dua temannya.
"Tunggu tunggu, tengok ke dalam! Acung Jumi ke dalam kantor. Teman-temannya menurut untuk menengok.
"Siapa cowok tinggi itu, kalian kenal tak?" tanya Jumi pada mereka.
"Mana gue tau Jum, lu tanya aja sendiri," jawab salah satu dari mereka.
"Ish, jadi gue masuk nanya nih?" tanya Jumi yang sedikit enggan.
"Iya." Kedua temannya kompak mengangguk.
Jumi dengan berani masuk ke dalam kantor untuk bertanya pada pria yang masih celingukan di dalam
"Anu.... Ada yang bisa saya bantu?" ragu Jumi bertanya.
Lelaki tersebut, menoleh sambil tersenyum. Jumi seketika terdiam karena terpesona oleh auranya yang tampan.
"Saya mencari Pak Prince ada?" tanya pria itu padanya. Namun Jumi tak langsung menjawabnya membuat pria tersebut menjadi bingung sekarang.
"Kalian lagi pada ngapain, ayo masuk!" Seseorang datang mengejutkan dua karyawan wanita teman Jumi yang sedang berdiri di depan pintu. Keduanya kompak menoleh dan terkejut.
"Pak Prince!"
"Iya"
"Ada orang asing di dalam, bapak tau siapa?" tanya salah satu karyawan sambil menunjuk ke dalam.
"Aah mungkin itu tamu saya, tak apa, sana kembali bekerja! Ujar Prince pada karyawannya.
"Baik Pak!" Kedua karyawan tadi segera masuk dengan di susul oleh Prince.
Kedua temannya terheran-heran ketika melihat Jumi yang terdiam di tempat. Posisi mantan sekretaris ini masih sama, dengan mulutnya yang sedikit terbuka ia bahkan belum menjawab pertanyaan pria tadi hingga datanglah Prince yang menjawabnya.
"Anda mencari saya?" sela Prince berhasil menyadarkan Jumi.
"Iya, dengan pak Prince?" tanya balik pria tersebut.
"Ya saya sendiri," jawabnya, "Anda Pak King dari toko tembikar Rafansya?" Prince memastikan.
"Betul, saya mewakili ayah saya untuk mengurus kerjasama ini," jawabnya.
"Oh ternyata benar, sepertinya lebih baik kita bicara di ruangan saya saja," saran Prince padanya.
"Baik." Angguk pria bernama King itu. Ia lalu berjalan mengikuti Prince ke ruangannya.
Jumi belum juga mengubah posisinya. Walaupun sudah tersadar, ia masih terpana dengan sosok pria bernama King tadi. Ia tak menyangka jika kantornya lagi-lagi di datangkan pria tampan yang tak kalah tampannya dengan Prince, CEO barunya.
Mae dan Raka akhirnya kembali dari makan siang, mereka berdua berbicara sambil tertawa bersama.
"Soto bang Sakti mantep ya Rak," ucap Mae sambil memegangi perutnya yang kenyang.
"Iya, lebih mantep karena di bayarin lu E, haha!" balas Raka tertawa.
"Ah lu, sukanya yang gratisan." Canda Mae sambil mendorong pelan Raka.
"Lu juga sama." Canda Raka juga sambil berjalan mundur sampai hampir menabrak Jumi yang masih berdiri sambil memandangi ruangan CEO.
"Awas Rak!" Peringat Mae segera.
Raka langsung berbalik ke depan dan langsung terheran-heran dengan sikap Jumi yang aneh.
"Jum, lu ngapain berdiri di sini?" tanya Raka padanya. Jumi tak langsung menjawabnya, ia justru menarik Mae agar mendekat.
"E, sini deh lu tau orang yang lagi ngobrol ma Pak Prince di ruangannya tak?" tanyanya langsung.
"Mana gue tau, kan gue baru balik," jawab Mae terheran-heran. "Ah.... iya itu tamunya kali. Tadi Prince bilang bakal ada orang datang ke kantor," celetuknya setelah mengingat.
"Ohhh." Jumi manggut-manggut. "Asal lu tau E, dia tampan banget gak kalah ma ka Prince," tuturnya yakin.
"Cklah, tampanan juga gue Jum," sela Raka yang merasa tak suka.
"Hmmm." Jumi seketika kembali terdiam. Raka memang lumayan menurutnya. Ia bahkan merasa bingung untuk menjawabnya sekarang.
"Udah lah, gue mah jauh." Raka tiba-tiba merendahkan dirinya membuat Jumi tersentak.
"Apaan sih pada, balik kerja aja. Gue mau nyiapin kopi ma cemilan buat mereka dulu." Mae menengahi karena tau dengan keadaan mereka.
"Iya iya E," ucap Raka yang memanyunkan bibirnya sambil berjalan balik ke mejanya.
Jumi yang sambil menunduk ikut berjalan kembali ke tempatnya. Sedangkan Mae, bergegas ke dapur untuk menyiapkan hidangan untuk mereka.
BERSAMBUNG
ngakak terus sama kelakuan Mae😂