NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengetahui

Mengganggu. Satu kata itu menggambarkan bagaimana pandangan Dirga pada perempuan yang kini melangkah di depannya. Mata berbinar-binar, senyum manis merekah, rambut panjang berayun-ayun, Dirga tak bisa mengalihkan pandangan.

Jika dengan Bram saja ia merasa kesal, apalagi dengan karyawan biasanya yang begitu terang-terangan memandangi istrinya?

Bukannya kenapa, Dirga hanya merasa bahwa Hita terlalu mencari perhatian. Entah perempuan itu menyadarinya atau tidak.

"Selamat pagi, Pak." karyawan yang berpapasan menunduk. Meskipun salamnya ditunjukkan pada Dirga, tapi matanya jelalatan memandangi Hita. Alhasil, Dirga tak menjawabnya sama sekali.

Membawa Hita ke kantor juga adalah sebuah spontanitas. Dirga sendiri tak tau mengapa ia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu pada Bram tadi. Apakah karena ia kesal? Atau karena hal lainnya? Dirga sendiri tak mengerti.

Perlahan-lahan Dirga mendorong pintu, membiarkan si kecil itu masuk lebih dulu sebelum menyusul di belakang.

Tak ada yang tau bahwa yang kini ia bawa kemari adalah istrinya, karena semua orang mengira bahwa ia telah benar-benar resmi menikah dengan Loria. Kenyataan memang selalu pahit. Karena nyatanya kini ia ditinggalkan entah kemana oleh wanita itu.

Hita juga setengah berharap bahwa ia tak dikira sebagai selingkuhan sekarang.

"Wahh..." gumaman kekaguman perempuan itu pecah, matanya menatap ke sekeliling ruangan tempat kini mereka berada—ruang kerja Dirga. "Ruang kerja kakak bagus sekali..."

Di dominasi oleh bingkai-bingkai yang terpajang di dinding berwarna putih, ruangan kerja ini tampak begitu rapi dan tenang. Semuanya terlihat terukur, terstruktur, bahkan sangat ideal dikatakan sebagai ruangan seorang atasan. Foto-foto wanita yang begitu dikenalinya—Loria—ada di mana-mana, membuat Hita menyunggingkan senyum tipis. Dirga kecintaan sekali sepertinya.

Tapi ada secercah rasa sakit. Hanya sedikit. Itu membuat Hita takut pada apa yang mulai ia rasakan. Ia tak berani menebak apa penyebab sesak yang tiba-tiba, ia tak berani memikirkannya.

"Kau terlalu berlebihan." Meskipun berkata begitu, Dirga lebih percaya diri dan mengangkat dagunya sekarang.

Dirga mengecek jam mahal yang melingkar di pergelangan tangan. "Aku memiliki jadwal rapat yang harus aku hadiri sekarang, dan pastikan kau tidak membuat kekacauan. Jangan menyentuh apapun, aku harap wanita dewasa sepertimu mengerti dengan apa yang aku katakan ini."

Hita tau itu peringatan, tapi tak ada nada pedas dalam nada bicara Dirga.

"Aku tidak akan menyentuh apapun." dia mengangguk. Dirga jelas puas dengan kepatuhannya itu.

Saat Dirga berbalik, melangkah kembali mendekati pintu, otomatis pula Hita malah mengikutinya.

"Apa yang kau lakukan?" Dari balik bahunya Dirga menoleh, mengerutkan kening. "kenapa kau mengikutiku?"

"aku tidak mengikuti kakak, kok." Hita menggeleng. "Aku hanya ingin berada di luar saja sembari menunggu kakak. Aku tidak berani di sini sendirian, takut jika merusak sesuatu."

Kekhawatiran Hita jelas terlihat dari bagaimana perempuan itu bergerak tidak nyaman di tempat sembari mengusap tengkuk. Hita tak mau mendapat masalah lagi jika-jika ia merasa penasaran dan tanpa sadar merusak sesuatu. Dirga hanya bisa menghela napas lelah.

"Selama kau tidak menyentuh apapun kau tidak akan merusak apapun." laki-laki itu menegaskan, sepenuhnya berbalik menghadap sang istri. "Aku juga tak berniat membiarkanmu berkeliaran di luar. Kau bisa menimbulkan masalah yang lebih buruk."

"Aku berjanji tidak akan melakukan masalah."

"Tidak."

"Aku berjanji hanya akan duduk diluar—"

"Tidak."

Dirga mulai kesal sekarang saat Hita terus menawar. Retak sudah ketenangannya.

Sejauh ini Dirga tau betul bahwa Pramahita selalu patuh akan kata-katanya. Perempuan itu bahkan selalu tunduk terdiam di bawah tatapannya. Yah, Walaupun terakhir kali perempuan itu kabur dengan Lian hingga ajudan kepercayaan keluarga Martadinata berakhir terkunci mengenaskan di kamar mandi.

Tapi bukan itu yang Dirga cemaskan jika melepaskan perempuan polosnya di luar ruangan.

Dari ujung rambut hingga ujung kaki Dirga perhatikan penampilan perempuan itu. Jelas sekali laki-laki manapun akan menatapnya lapar, terutama pegawai yang sedang mengalami pubertas tingkat dua—kakek-kakek mesum yang topik pembicaraannya tak jauh-jauh dari selangkangan.

Dress putih polos terlihat tak mencolok, bahkan menutupi sampai ke mata kaki, tapi tetap saja itu malah menguatkan daya tarik perempuan yang harusnya biasa-biasa saja. Rambut bergelombang itu juga malah tergerai begitu indah, bahkan wanginya sampai memenuhi hidung hingga kepala Dirga.

Tidak. Jika ia lepaskan Pramahitanya yang polos itu keluar, sudah pasti akan diterkam hidup-hidup oleh laki-laki bejat di kantornya sendiri.

Dirga bahkan tak sadar bahwa dia mulai bersikap posesif.

"Hanya beberapa menit." Itu terdengar seperti janji saat Dirga mengucapkannya. "Setelah itu aku akan kembali kemari. Selama itu diamlah di sini, dan jangan berani-beraninya keluar. Jika ada sesuatu kau bisa menghubungiku." Dirga mengendikkan dagunya ke arah ponsel di genggaman Hita. "Gunakan sesuai dengan kegunaannya."

Hita hanya bisa mengerucutkan bibir saat melihat Dirga menghilang di balik pintu, bahunya terkulai lemas.

"Menyebalkan sekali," gerutunya pelan, iseng-iseng melangkah ke arah pintu dan menekan-nekan kusen.

Sialan. Bahkan Dirga mengunci pintunya.

...****************...

"Siapa di sana?!"

Keran langsung dimatikan saat Lian mendengar suara barang jatuh dari luar. Ia tak pernah percaya akan tahayul konyol tentang hantu, karena ia tau bahwa manusia bisa jauh lebih menyeramkan daripada tuyul yang berlarian membawa setumpuk uang curian.

Jadi kesimpulannya, ia tak merasa takut.

Berdecak kesal, ia keluar dari kamar mandi setelah melilitkan handuk di tubuh yang basah.

Awalnya Lian biasa saja, bahkan cemberut saat mengamati ke sekeliling kamarnya yang sedikit berantakan.

Seprai yang ujung-ujungnya lepas dari kasur, pakaian-pakaian yang berserakan di mana-mana, bahkan buku-buku yang tergeletak begitu saja di lantai kotor karena bungkus camilan. Ini bukan kamar gadis normal, tapi gadis gila.

Tapi sekejap itu berganti saat Lian menyipitkan mata ke arah pojok kamar.

Cemberut berganti dengan mata yang terbelalak tepat saat ia melihat sosok berperawakan tinggi dan gagah itu tampak memunggungi, menatap foto besar di dinding—foto Lian yang tengah tersenyum manis saat acara kelulusan Dirga. Menggunakan pakaian formal dan make up tipis yang membuatnya tampak bersinar.

Baskara. Baskara Menyebalkan Gautama berdiri di sana dengan tampang tengil tanpa dosa.

"Kau?!" Lian memekik, mengeratkan tangannya pada handuk. "Apa yang kau lakukan di kamarku?!"

"Hanya iseng saja." Perlahan-lahan Baskara berbalik, seringai menghiasi wajah tampannya yang tampak segar pagi ini. "Karena kak Bram sudah berangkat... Jadi aku rasa aku bebas untuk sementara waktu mengganggumu."

Lihat? Laki-laki itu bahkan tampak jauh lebih mengesalkan sekarang. Dia berani sekali jika tidak ada Bram yang mengawasi Lian.

Gadis itu melemparkan plototan galak kala Baskara melangkah mendekat. "Berhenti di sana atau kau akan menyesal."

"menyesal kenapa?" Baskara melangkah maju sekali lagi. Seringainya melebar saat melihat Lian yang menahan handuk erat-erat di tubuhnya, seakan-akan itu bisa melorot kapan saja.

"Menyesal karena telah membuatku kesal," balas Lian sengit.

"Oh, begitukah?" Baskara menggoda, satu langkah lagi ia ambil mendekat. "Kalo begitu coba saja untuk membuatku menyesal."

Lian terus melangkah mundur, terdesak karena Baskara yang terus melangkah maju. Jika saja ia bebas bergerak dan tak hanya dibaluti handuk, sudah ia tendang wajah tampan sahabat kesayangan Dirga itu.

"Ayo, coba buat aku menyesal," tantang Baskara, memajukan wajahnya dengan sengaja saat tubuh Lian hampir menubruk tembok di belakang sana.

Sungguh-sungguh Lian membenci keadaan seperti ini. Ia bukan tipe orang yang mudah mengakui bahwa ia tak berdaya, tapi kali ini terpaksa ia mengakuinya. Baskara yang menyebalkan dan ketidakberdayaannya adalah kombinasi memuakkan.

"Kau hanya bisa menggertak," bisik laki-laki itu tepat di telinganya, mengungkungnya diantara tubuh yang keras dan dinding yang dingin. "Sejak dulu kau memang seperti itu, Lian."

Lian tak berani sedikitpun bergerak saat Baskara menjebaknya. Tangan laki-laki itu berada di kedua sisi kepalanya, mengurungnya dengan cara paling menyebalkan.

"Jangan berlagak seolah-olah mengenalku dengan baik, Bas." Begitu tajam nada yang digunakan Lian saat bicara. "Jika kau tidak memilih waktu yang salah seperti ini, sudah aku pastikan wajahmu dipenuhi oleh tapak kakiku."

Baskara tertawa ringan, suaranya rendah mengalun bagaimana alunan musik. "Lagi-lagi kau mengancam. Tapi aku akui bahwa awalnya aku memang mengira bahwa aku mengenalmu dengan baik, tapi sepertinya memang tidak."

Baskara mendekatkan wajahnya pada telinga Lian, seakan-akan ingin gadis itu mendengar setiap detail ucapannya.

"Dulu aku menganggapmu gadis polos yang hanya menyukai kekacauan, bukan... pembuat kekacauan. Tapi aku salah." Kecupan ringan mendarat di daun telinga gadis itu, membuat empunya merinding. "Kau sekarang sudah beranjak dewasa, berganti juga sikapmu menjadi lebih... ekstrim."

Lian menyipitkan mata, menahan dada Baskara dengan tangannya untuk tetap menciptakan jarak. "Apa maksudmu?"

"Maksudku?" Baskara terkekeh. "Maksudku kau sekarang sudah berubah Lian," bisiknya. "Berubah menjadi seseorang yang ingin merubah takdir orang lain. Membuat kekacauan."

Baskara meraih lembut pergelangan tangan gadis itu dan menyingkirkanya dari dadanya, membuat tubuh mereka menempel sempurna.

"Aku tau kau adalah dalang dibalik kaburnya Loria."

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!