Dosenku istriku season 2
(Sebelum membaca kisah ini diharapkan membaca karyaku yang berjudul DOSENKU ISTRIKU)
Kisah ini dimulai ketika Nicholas Allendra, atau pria periang yang akrab dipanggil Nico dihadapkan pada sebuah pilihan antara mengejar cinta pertamanya atau menuruti kemauan sang Mama yaitu menikahi Diana, gadis lugu yang masih berusia sembilan belas tahun.
Tak ingin semakin menyakiti perasaan Mamanya akhirnya Nico menerima pernikahan tersebut. Dia harus siap menerima setiap tingkah kekanakan dan manjanya Diana. Juga menerima berbagai olokan dari teman-temannya.
"Kita memang menikah, kita suami istri tapi tetap saja aku menganggap mu seperti adik kecilku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Dewi Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 memutuskan pergi
Diana terus berlari dengan air mata yang sudah tak bisa terbendung lagi. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia mendapat kata-kata yang begitu menyakitkan.
Sejak kecil Diana selalu di didik untuk menjadi seorang yang selalu amanah dan ber pribadi yang baik. Dia tak pernah mengecewakan orang lain dan berusaha menepati janjinya.
Jika tau akan seperti ini akhirnya Diana ingin sekali jujur sejak awal pada Nico. Tapi di sisi lain dia juga kecewa karena Nico memilih untuk mengusirnya daripada mendengar dulu penjelasannya.
Akhirnya Diana memilih untuk kembali ke apartemennya. Entah setelah ini apa yang akan dia lakukan. Otaknya terlalu buntu untuk memikirkan banyak hal.
Sementara itu Nico yang masih dalam keadaan emosi hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Dia menatap sosok mamanya yang terbaring lemah di ruangan dengan berbagai alat medis membuatnya semakin hancur.
Rasanya dia menjadi anak paling tidak berguna dalam hidupnya. Padahal selama ini Nico selalu bersama mamanya dan tak pernah jauh dengannya namun kenyataan sebesar ini kenapa bisa dia sampai tak tahu?
"Aaaarrghh.." Nico hanya bisa mengumpat dalam hati.
Dan perihal kenyataan bahwa Diana lebih tahu tentang keadaan mamanya membuat Nico semakin bertambah kecewa.
Baru saja dia membuka hati untuk wanita yang kini telah resmi bersanding menjadi istrinya. Dia sudah percaya bahwa Diana adalah gadis yang berbeda dan mampu memberikan harapan baru dalam nasib kisah cintanya yang selama ini tak pernah mujur. Namun kebohongan ini membuatnya sangat kecewa dan rasanya dia tak bisa terima apapun sesuatu yang berhubungan dengan ketidakjujuran.
Sementara Diana sudah sampai di apartemen. Saat ini dia sedang duduk di pinggiran ranjang sambil menatap nanar foto pernikahannya yang terbingkai indah di dinding.
Dia kembali mengingat kata-kata Nico yang membebaskan dirinya untuk tidak terlalu berharap pada pernikahannya setelah kejadian ini. Bahkan suaminya itu menyatakan sendiri jika hubungannya tidak akan berhasil.
Apa-apaan coba? pernikahannya saja masih baru berjalan beberapa minggu dan Nico mengatakan hal itu? apakah ini artinya Nico menyatakan perpisahan? Tanpa mendengarkan penjelasan Nico langsung memutuskan sepihak.
Berbagai macam pikiran negatif terus muncul di benak Diana. Bahkan dia mulai menanyakan kesungguhan hati Nico sebenarnya.
"Apa benar sejujurnya kak Nico tak pernah mencintaiku. Dan ucapannya waktu itu hanya sekedar untuk menghiburku?" Diana menghela nafasnya kasar.
Dia menatap cincin pernikahannya yang tersemat di jari manisnya. Cincin itu yang menandakan dirinya yang sudah menjadi milik seseorang. Bahkan dia telah merelakan jiwa, raga dan seluruh hidupnya untuk orang itu.
Meluruh sudah air matanya. Rasanya semakin menyakitkan jika tau akhirnya hanya akan seperti ini. ibarat dia telah diajak terbang tinggi lalu dihempaskan begitu saja.
Akhirnya dengan berat hati Diana memutuskan untuk menuruti ucapan Nico. Dia akan pergi meninggalkan tempat itu. Tapi setelah ini akan kemana?
Dia tak memiliki banyak kenalan di Jakarta selain Shaka, kakak tiri nya. Namun jika dia menemui kakaknya maka akan menimbulkan masalah baru.
Diana tahu kakaknya itu sangat menyayangi dirinya. Dan dia takut jika Shaka tidak terima dan membuat perhitungan pada Nico. Sementara Nico sendiri saat ini pasti sedang fokus mengurus Mama Vania. Semarah-marahnya Diana dia pasti masih memiliki hati nurani.
Akhirnya dia kemasi barang-barang miliknya. Ah, dia lupa. Bahkan semua barang disini semua adalah pemberian Nico. Diana pun memutuskan untuk mengambil sebuah ransel kecil miliknya sendiri dan membawa ponselnya yang untung saja bukan pemberian dari suaminya itu.
Semua kartu kredit, debit dia tinggalkan. Sejenak dia teringat akan uang saku yang pernah dia bawa saat pertama kali datang ke Jakarta.
Cepat-cepat Diana membuka ransel kecil miliknya itu dan melihat dua lembar uang seratus ribuan yang terlipat kecil di saku ranselnya.
Ada kelegaan sendiri di hatinya. Dia akan pergi dengan uang itu. Dia bertekad untuk meninggalkan semua fasilitas yang diberikan Nico untuknya. Diana memang tak memiliki segalanya namun dia tak mau harga dirinya terinjak-injak lagi.
Sejenak dia mengatur nafasnya dan menyeka air mata yang masih tersisa di wajahnya.
"Aku pergi.." keputusan Diana sudah bulat.
Saat hendak melangkahkan kakinya dia teringat akan cincin pernikahan yang masih berada di jari manisnya. Dia menatap sejenak lalu akhirnya melepaskannya dan meletakkan di atas nakas bersama kartu kredit dan beberapa perhiasan lain yang diberikan Nico.
Kakinya terus melangkah keluar unit. Dia hendak menghentikan taksi namun teringat akan uangnya yang pas-pasan akhirnya Diana memutuskan untuk mengorder ojek online saja agar lebih hemat.
Tak berselang lama tukang ojek tersebut datang menghampiri Diana.
"Selamat siang. Dengan mbak Diana? tujuan terminal ya?" tukang ojek tersebut bertanya pada Diana.
"Ya Pak." dengan wajah sembabnya Diana akhirnya menerima helm yang diberikan tukang ojek tersebut.
Dia menghela nafas sekali lagi menatap gedung mewah bertingkat di depannya. Kini dia harus benar-benar merelakan semuanya. Dia akan kembali pada kehidupan lamanya, cukup sudah peran putri istimewa yang dia jalani beberapa minggu ini.
Sampai di terminal dia sempat bingung mencari bus yang bertujuan ke kampung halamannya. Jujur saja ini pertama kalinya Diana pergi seorang diri. Ada rasa takut dalam hatinya tapi mau bagaimana lagi, kembali pun tidak mungkin.
Akhirnya dia bertanya pada seorang ibu-ibu yang kebetulan berada di tempat itu. Untung saja tujuan mereka sama hanya berbeda kampung saja.
Dia pun mengikuti ibu-ibu tersebut menaiki Bus dan duduk di kursi sebelahnya. Diana sejak tadi menatap nanar keluar kaca Bus, sesekali bahkan dia masih mengeluarkan air matanya. Sekuat-kuatnya dia berusaha menjaga hatinya namun tetap saja dia ta bisa menutupi kesedihannya.
****
Papa Nathan baru saja sampai di rumah sakit. Dia langsung bergegas menuju ruangan dimana istrinya berada. Dadanya terasa begitu sesak saat melihat Mama Vania yang terbaring lemah.
Nico yang mengetahui kedatangan Papanya langsung berdiri. Dengan wajah sembabnya dia tampak sangat kacau. Tanpa berkata apa-apa lagi Nico langsung memeluk erat papanya.
Selama ini Nico memang tak begitu dekat dengan sang papa. Namun entah kenapa ditengah keterpurukannya dia merasa begitu lega dan aman saat berada dalam dekapan pria yang membesarkannya.
Namun tiba-tiba terbersit ingatannya akan sosok Pak Herman. Bapak mertuanya yang walaupun belum lama mengenalnya namun Nico merasa cepat akrab dan begitu nyaman saat mengobrol dengannya. Andai saja dia bisa melakukan hal itu sejak dulu dengan papa kandungnya sendiri mungkin akan lebih menyenangkan.
"Maaf, papa baru bisa datang." Ucap Papa Nathan yang memang tak banyak bicara.
Nico tak menjawab apapun. Dia hanya menghela nafasnya kasar lalu melepas pelukan papanya. Dia melihat papanya yang langsung menghampiri mamanya dan mengecup lembut keningnya. Cinta kedua orang tuanya itu memang selalu manis untuk disaksikan.
"Diana dimana?" tanya Papa Nathan saat tak melihat keberadaan menantunya.
"Dia pergi." jawab Nico singkat.
"Pergi? maksudnya?" Papa Nathan merasa heran apalagi saat melihat ekspresi Nico yang tak biasa.
"Aku yang menyuruhnya pergi." jawab Nico akhirnya.
"Kamu mengusirnya?" Papa Nathan tentu terkejut dengan ucapan putranya.
Nico yang semula hanya duduk termenung kini mulai berdiri dan menatap papanya dengan tajam.
"Lalu aku harus apa? dia istriku tapi tidak jujur padaku, dan hal sebesar ini bisa-bisanya kalian tak mengatakannya padaku. Dia hanya orang baru yang hadir didalam keluarga kita. Tapi dahsyatnya dia begitu pandai mengambil simpati Papa dan Mama hingga lebih mempercayai dia daripada aku. Ku kira dia polos tapi ternyata dugaanku salah. Dia gadis yang licik Pa." Kini Nico tak tahan lagi. Dia mengungkapkan kekesalannya tak peduli saat ini dia sedang berada di dalam rumah sakit dan keadaan mamanya yang masih lemah dan belum sadar.
"Nico, bagaimana bisa kamu menilai istrimu sendiri seperti itu?" ujar Papa Nathan kecewa.
"Lalu apa lagi? kenyataannya begitu kan? dan aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Hubungan ini... Hubungan ini sepertinya tidak akan berhasil Pa." Nico menatap nanar papanya.
"Diana bukan gadis seperti itu Nico, Diana gadis yang baik. Jika dia tak baik mana mungkin kami menikahkan kalian." Papa Nathan masih mencoba memeri pengertian pada Nico.
"Baik menurut Papa belum tentu menurutku." Sanggah Nico.
"Tapi Nico.." belum sempat Papa Nathan meneruskan ucapannya dia dikejutkan oleh suara Mama Vania.
"Diana,.. Diana maafkan mama." ucap Mama Vania lirih.
Baik Papa Nathan dan Nico langsung menghampirinya.
"Ma.. mama sudah sadar?" Nico langsung menggenggam tangan Mama Vania begitu juga dengan Papa Nathan.
"Dimana Diana?" ucap Mama Vania lirih.
"Ma, please. Ada aku putra kandung Mama kenapa harus mencari orang lain?" tentu saja Nico merasa kesal karena orang pertama yang dicari mamanya justru Diana.
"Mama banyak salah sama Diana. Mama mau minta maaf." Mama Vania mulai menitikkan air matanya.
"Salah? maksud mama?" Nico pun jadi bingung dengan penuturan mamanya.
Akhirnya Mama Vania menceritakan semuanya kepada Nico. Dia juga menunjukkan beberapa pesan singkat yang dikirim dIana tempo hari.
"Jadi.. kenapa mama merahasiakan semua ini dariku Ma?"
"Karena mama takut menjadi beban pikiran kamu Nico. Dan Diana adalah gadis yang begitu cocok untuk mama. Selama ini dia terus merasa gelisah karena mama terus memintanya merahasiakan ini darimu. Diana tersiksa dengan permintaan konyol mama ini. Sekarang mama menyesal sudah membuatnya kesulitan." Mama Vania tak mampu lagi menutupi kesedihannya.
"Astaga Ma.." Nico hanya bisa terhenyak dan menyesal karena telah berprasangka buruk terhadap Diana. Istri kecilnya yang sudah menyayanginya begitu besar.
...****************...
makasih thor sudah memberikan karya yang sangat menarik..semangat terus berkarya thor
terimakasih untuk ceritanya thor
.
turut berduka cita dan berbela sungkawa juga buat Bianca
kenapa ga mau adopsi???