Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Bunga Ditemukan
"Jangan bergerak sendiri."
Kalimat Bu Yati jatuh tepat setelah suara dari ponsel Guntur berhenti. Di ruang depan yang penuh napas tertahan itu, semua orang seperti baru saja ditarik dari lubang gelap.
Guntur sudah berdiri. Sandalnya bahkan belum terpasang benar. "Mak, kalau nunggu polisi keburu pindah!"
"Kalau kamu datang ramai-ramai lalu mereka panik, anak-anak itu yang kena." Bu Yati menatapnya tajam. "Kamu mau jadi pahlawan, atau mau Bunga selamat?"
Mulut Guntur terbuka, lalu tertutup lagi.
Joko mencengkeram kusen pintu. Wajahnya pucat seperti orang yang semalaman berdiri di tengah hujan. "Bu Yati, saya ikut. Saya harus ikut."
"Kamu ikut, tapi dengar komando." Bu Yati mengambil ponsel dari tangan Guntur dan menelpon nomor petugas Polsek yang tadi mencatat laporan. Suaranya tidak keras, tetapi setiap katanya menekan. "Pak, ada informasi lokasi. Anak perempuan lima tahun, dugaan dibawa ke kontrakan di Kampung Baru dekat pasar malam. Iya, kami sudah lapor tadi. Tolong segera. Kami tunggu di pertigaan, jangan sampai orangnya kabur."
Di belakangnya, Bu Sari sudah menyambar kerudung dan tas kecil. Tari memeluk Melati yang masih menggenggam boneka Bunga. Pak Tono berdiri bingung, seperti ingin bicara tetapi takut dimarahi keadaan.
"Aku ikut," kata Tari.
"Kamu jaga Mel," jawab Bu Yati cepat. "Kalau Bunga pulang nanti, Mel harus ada yang tenang."
Melati mengangkat wajah basah. "Nga pulang, Mbah?"
Dada Bu Yati seperti diremas. Ia menunduk, mengusap pipi cucunya dengan ibu jari. "Pulang. Mbah jemput dulu, ya."
Guntur sudah bicara cepat lewat telepon dengan temannya. "Jangan masuk. Foto rumahnya dari jauh. Kirim lokasi. Kalau ada yang keluar, lihat arah, tapi jangan dekat-dekat. Dengar, jangan sok berani."
Bu Yati mendengar kalimat itu dan menahan napas sebentar. Anak bungsunya yang biasanya paling susah diatur, malam itu justru mengulang perintah yang sama kepada orang lain.
Mereka berangkat dengan dua motor. Bu Yati dibonceng Guntur, Joko dibonceng Heru. Di belakang, dua bapak dari kampung menyusul pelan, bukan untuk mengeroyok, hanya untuk menjadi saksi kalau polisi membutuhkan warga yang mengenal Bunga.
Angin tengah malam menusuk wajah. Jalan menuju Kampung Baru terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu warung sudah banyak padam, tetapi area pasar malam masih meninggalkan bau minyak goreng, gula kapas, dan tanah basah. Musik odong-odong terdengar jauh, riang dengan cara yang salah.
Di pertigaan, dua polisi sudah menunggu. Satu memakai jaket, satu lagi masih dengan seragam kusut. Tidak lama kemudian datang mobil patroli kecil. Teman Guntur, seorang pemuda kurus bernama Raka, keluar dari balik gerobak martabak dengan wajah tegang.
"Itu rumahnya, Pak." Ia menunjuk gang sempit di antara toko kelontong dan tempat tambal ban. "Pintu biru. Tadi perempuan tua masuk sambil gendong anak. Anak itu lemes. Saya lihat rambutnya dikuncir dua, sama kayak foto."
Joko hampir maju, tetapi Bu Yati menahan lengannya. Pegangannya kuat, sampai laki-laki itu menoleh dengan mata merah.
"Jo," bisik Bu Yati. "Kalau kamu pecah sekarang, Bunga bisa hilang lagi."
Joko menggigit bibirnya sendiri. Tubuhnya gemetar. "Saya diam, Bu. Saya diam."
Polisi membagi posisi. Warga diminta mundur ke mulut gang. Bu Yati menurut, tetapi matanya tidak lepas dari pintu biru itu. Rumah kontrakan itu kecil, berdempetan dengan dua kamar lain. Cat temboknya mengelupas, jendela ditutup kardus, dan di atas pintu tergantung lampu lima watt yang berkedip-kedip.
Salah satu polisi mengetuk lebih dulu. "Assalamu'alaikum. Buka pintunya."
Tidak ada jawaban.
Ketukan kedua lebih keras. Dari dalam terdengar sesuatu jatuh. Seperti kaleng. Lalu suara perempuan memaki pelan.
"Buka. Polisi."
Gerendel bergeser, hanya sedikit. Seorang perempuan tua mengintip dari celah pintu. Wajahnya biasa saja, terlalu biasa, seperti tetangga yang setiap pagi membeli tempe di pasar.
"Ada apa, Pak? Saya mau tidur."
"Kami terima laporan anak hilang ada di sini."
"Anak? Anak siapa? Saya cuma tinggal sendiri."
Bu Yati melihat mata perempuan itu bergerak terlalu cepat ke arah belakang. Polisi juga melihatnya. Dalam hitungan detik, pintu didorong. Perempuan itu berteriak, mencoba menahan, tetapi tubuhnya terpental ke samping.
Joko berlari satu langkah.
"Tahan!" bentak polisi.
Bu Yati mencengkeram lengan Joko lebih keras. Kali ini kukunya hampir menancap.
Dari dalam kontrakan terdengar tangis kecil. Bukan satu. Ada beberapa suara anak, tertahan seperti mulut mereka terlalu lama disuruh diam.
"Bapak! Bapak!"
Suara itu tipis, serak, tetapi Joko langsung ambruk berlutut.
"Nga!" jeritnya.
Polisi masuk lebih dulu. Beberapa detik berikutnya terasa seperti setahun bagi Bu Yati. Ia hanya mendengar suara petugas, langkah tergesa, tangis anak-anak, dan makian perempuan tua yang kini berubah panik.
Lalu seorang polisi keluar menggendong Bunga.
Rambut kecil itu berantakan. Salah satu kuncirnya hilang. Pipinya kotor oleh bekas air mata dan debu. Di pelipisnya ada luka baru, tidak besar, tetapi merah dan bengkak. Mata Bunga terbuka setengah, seperti ia ingin mencari ayahnya tetapi belum berani percaya.
"Bapak..." suaranya nyaris tidak keluar.
Joko merangkak maju sebelum akhirnya berdiri limbung. Polisi menyerahkan Bunga ke pelukannya setelah memastikan perempuan tua sudah diamankan. Begitu tubuh kecil itu menyentuh dadanya, Joko pecah.
Laki-laki yang selama ini selalu bicara pelan, yang mengangkat galon sendirian tanpa mengeluh, yang menahan hinaan ayah dan kakaknya dengan rahang mengeras, malam itu menangis seperti anak kecil.
"Nga, Bapak di sini. Bapak di sini, Nak. Maaf, Bapak telat. Maaf."
Bunga tidak langsung menangis keras. Justru itu yang membuat dada orang-orang di mulut gang ikut sakit. Anak itu hanya menempelkan wajah ke leher ayahnya, kedua tangannya mencengkeram kaus Joko, seolah takut kalau dilepas sebentar saja, ia akan hilang lagi.
Dua anak lain juga ditemukan di dalam kamar belakang. Seorang laki-laki kecil sekitar tujuh tahun dan seorang anak perempuan yang lebih kecil dari Bunga. Keduanya dibungkus sarung tipis, ketakutan, tetapi masih sadar. Petugas segera memanggil bantuan dan meminta ambulans puskesmas datang untuk pemeriksaan awal.
Perempuan tua itu diseret keluar dengan tangan diborgol. Warga yang mulai berdatangan hampir meledak.
"Ya Allah, anak kecil diperlakukan begitu!"
"Mukanya kayak orang baik-baik!"
"Jangan dekat-dekat," polisi memperingatkan. "Biarkan proses hukum berjalan."
Bu Yati maju setengah langkah. Matanya menancap pada perempuan itu. "Siapa yang memberi tahu anak ini sering ditinggal bapaknya kerja?"
Perempuan itu meludah ke tanah. "Saya tidak tahu apa-apa."
Polisi yang memeriksa tasnya mengangkat sebuah ponsel. "Pak, ada chat. Nama kontaknya Par."
Joko mendongak.
Bu Yati juga menegang.
Petugas membuka percakapan itu di depan penyidik yang baru datang. Tidak semua dibacakan, tetapi cukup untuk membuat darah Bu Yati terasa naik ke kepala. Ada foto Bunga yang diambil dari jauh. Ada pesan tentang jam Joko biasa keluar mengantar barang. Ada kalimat pendek yang membuat Joko hampir kehilangan kendali.
Anaknya perempuan. Bapaknya cuma sendiri. Kalau dibawa, tidak ada yang cepat curiga.
"Parjo," desis Joko.
Ia ingin bangkit, tetapi Bunga mengeluarkan suara kecil. Joko langsung berhenti. Amarahnya tertahan oleh tubuh anaknya sendiri.
Bu Yati meletakkan tangan di punggungnya. "Jangan kotori tanganmu malam ini. Bunga butuh bapaknya bersih, bukan ditahan karena memukul orang."
Joko menutup mata. Air matanya jatuh ke rambut Bunga. "Saya ingin bunuh dia, Bu."
"Aku tahu." Suara Bu Yati rendah. "Tapi hukum dulu yang jalan. Kalau dia lari, kita kejar dengan saksi, bukan dengan gelap-gelapan."
Perempuan itu akhirnya dibawa ke mobil patroli. Dari mulutnya keluar nama Parjo beberapa kali, bukan karena ia menyesal, melainkan karena ingin berbagi kesalahan. Ia mengaku ada laki-laki yang memberi informasi tentang anak kecil cantik, tidak ada ibu, bapaknya sering kerja malam, dan keluarga besarnya sedang konflik. Untuk setiap informasi, ia memberi uang.
Tidak besar. Tidak cukup untuk membeli hidup seekor kambing.
Bu Yati merasa lututnya lemas.
Dalam hidup yang lalu, ia pernah mendengar kabar Bunga ditemukan terlalu terlambat. Anak itu pulang, tetapi matanya tidak lagi mengenali dunia dengan utuh. Joko yang dulu kuat berubah seperti bayangan. Orang-orang berbisik kasihan selama beberapa minggu, lalu kembali sibuk dengan hidup masing-masing. Hanya ayah dan anak itu yang menanggung sisa umur mereka.
Malam ini, Bunga masih menggenggam kaus ayahnya. Pelipisnya luka, tubuhnya panas ketakutan, tetapi saat Joko menyebut namanya, ia masih menoleh.
Masih ada cahaya di matanya.
Bu Yati mengepalkan tangan sampai buku jarinya sakit. Kali ini, nasib tidak berjalan seenaknya.
Di Polsek, pemeriksaan awal berlangsung panjang. Bunga dan dua anak lain dibawa ke puskesmas terdekat dulu, lalu kembali dengan surat rujukan kontrol. Petugas mencatat luka di pelipis Bunga, memotret dengan hati-hati, dan menyarankan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit jika muntah, demam, atau linglung.
Joko mendengarkan semua arahan seperti murid kecil. Setiap kali Bunga bergerak, ia menoleh. Setiap kali petugas menyebut "trauma", wajahnya berubah lebih pucat.
"Pak Jo," kata polisi, "untuk malam ini anak jangan banyak ditanya. Kasih makan lembut, minum hangat, biarkan tidur. Besok datang lagi untuk BAP lanjutan, tapi pelan-pelan. Kami juga akan panggil Parjo dan Pak Karso."
"Pak Karso juga?" tanya Joko.
"Kami periksa dulu. Dari chat ini yang jelas Parjo. Tapi riwayat ancaman dari laporan tadi malam tetap masuk catatan."
Bu Yati mengangguk. "Terima kasih, Pak. Tolong jangan bocorkan alamat anak-anak lain ke warga. Kasihan keluarganya."
Petugas itu menatapnya sebentar, lalu mengangguk. "Ibu tenang. Kami jaga."
Di kursi panjang luar ruang pemeriksaan, Guntur duduk dengan lutut terbuka dan kepala tertunduk. Bajunya basah oleh keringat. Teman-temannya sesekali menepuk bahunya.
"Tur hebat, ya. Kalau bukan kamu sebar foto cepat, belum tentu ketemu."
"Iya, Mas Tur malam ini paling gercep."
Guntur menggaruk tengkuk. "Sudah, jangan ramai. Yang penting anaknya ketemu."
Tetapi telinganya merah.
Bu Yati melihatnya dari ujung koridor. Hatinya yang sepanjang malam keras seperti batu tiba-tiba terasa hangat sedikit. Anak itu masih banyak kurang ajar, masih sering membuat mulutnya panas, tetapi malam ini ia tidak lari. Ia tidak membuat keributan demi gaya. Ia mendengar, menahan diri, lalu bergerak.
Bu Yati berjalan mendekat.
Guntur langsung berdiri. "Mak, Bunga gimana?"
"Dokter puskesmas bilang perlu diawasi. Luka kepala tidak boleh disepelekan, tapi dia sadar dan kenal bapaknya."
Guntur menghela napas panjang. Bahunya turun.
Bu Yati mengangkat tangan dan menepuk bahunya. Tidak keras, hanya sekali. "Hari ini kamu jadi laki-laki yang benar."
Guntur membeku.
Teman-temannya langsung bersiul pelan. "Wah, Tur dipuji ibunya."
"Diam," gumam Guntur, tetapi suaranya tidak galak.
Ia memalingkan wajah ke arah halaman Polsek. Lampu neon membuat bayangannya jatuh panjang di lantai. Bu Yati melihat sudut bibirnya naik sedikit, cepat sekali, seperti ia takut ketahuan bahagia.
Joko keluar sambil menggendong Bunga yang akhirnya tertidur. Anak itu memakai jaket pinjaman dari Bu Sari, tubuhnya kecil sekali di dada ayahnya. Bu Sari berjalan di samping, membawa kantong obat dan surat kontrol. Heru mengurus motor. Polisi mengingatkan sekali lagi agar mereka tidak mendatangi rumah Parjo sendiri.
"Saya pulang dulu, Bu," kata Joko, suaranya parau. "Besok saya bawa Bunga ke rumah sakit."
"Aku ikut," jawab Bu Yati. "Anak ini bukan cuma urusanmu. Sekampung ikut menjaganya sekarang."
Joko tidak bisa bicara. Ia hanya menunduk berkali-kali, lalu mencium rambut Bunga.
Langit mulai pucat ketika mereka meninggalkan Polsek. Pasar malam sudah sepi. Sisa lampu warna-warni mati satu per satu. Jalan pulang terasa lain. Kampung yang semalaman seperti menahan napas mulai bergerak pelan, tetapi Bu Yati tahu, urusan ini belum selesai. Parjo masih harus ditangkap. Pak Karso masih harus dimintai keterangan. Luka di kepala Bunga masih harus diawasi.
Namun malam terburuk sudah lewat.
Di atas motor, Guntur lebih banyak diam. Baru ketika mereka hampir masuk Kampung Sumber, ia memperlambat laju dan menoleh sedikit.
"Mak..."
"Apa?"
Guntur menelan ludah. Suaranya lebih kecil dari biasanya. "Mbak Tari dulu di kampung, juga hampir kayak gitu, ya?"
Bu Yati mematung di jok belakang.
Motor berhenti di pinggir jalan, tepat sebelum lampu-lampu rumah mereka terlihat. Bu Yati menatap punggung anak bungsunya. Anak yang ia kira hanya tahu membantah, ternyata menyimpan pertanyaan yang begitu dekat dengan luka lama.
Guntur tidak menoleh. Tangannya masih mencengkeram stang.
"Mak, kenapa Ibu tahu harus cepat malam ini?"