Irma Sukma Ayu adalah penari termashur di desanya. Dia gadis cantik dengan sejuta pesona, penampilannya di atas panggung selalu ditunggu dan dinanti para penggemarnya.
Irma adalah gadis cantik yang anggun, tutur bahasanya lemah lembut dan sangat ayu. Sehingga ia menjadi kesayangan seorang Juragan Muda bernama Tama Sutha Jaya, sang pemimpin group ronggeng tempat Irma menari.
Namun, kisah cinta mereka tidaklah berjalan mulus. Irma yang ayu ternyata dicintai oleh makhluk tak kasatmata juga. Laki-laki itu harus bersaing secara sengit demi membebaskan Irma dari pengaruh sang Raja Jin penguasa hutan larangan yang memang sudah lama mengincar Irma sejak dia masih bayi merah.
Lantas bagaimana kisah mereka, dan ada Misteri apa yang tersimpan dari seorang penari ronggeng dari Desa Renggong ini? Yuk, Cekidot!
***
Don't forget, Gais!
Like, komen, love and givenya, ya
Thank you😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niti Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam semakin larut, Irma tengah duduk di sebuah kamar yang Tama bilang ruang ganti khusus Irma sebagai penari istimewa. Irma gelisah menunggu kedatangan Tama untuk mengajaknya pulang, ia sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
Ceklek!
Suara pintu kamar terbuka, Irma segera menoleh ke arah pintu berharap itu Tama yang datang untuk membawanya pulang dan pergi dari tempat ini. Namun, Irma salah, Irma terkejut saat melihat sosok lelaki keturunan Cina itu ada di ambang pintu dengan senyum mesumnya.
Irma panik dan mundur dua langkah karena tubuhnya terbentur dinding kamar. Koh Liong Yin masuk ke dalam kamar dengan seringainya, lalu mengunci pintu kamar itu. Irma semakin panik, ia menggeser tubuhnya mencari jalan agar terhindar dari laki-laki itu, insting wanitanya merasa kalau laki-laki di depannya ini akan berbuat tidak-tidak padanya.
"Kemarilah, Dek Irma Sayang." Laki-laki itu mendekat ke arah Irma dengan berbicara Bahasa Indonesia, ia rupanya sudah sangat faseh, walaupun R-nya belum jelas.
"Koh Liong mau apa?" bentak Irma, tapi Koh Liong tersenyum mesum, membuat Irma bergidik. "Mau apa, Koh? Pergi, pergi! Menjauh dariku!" Suara Irma bergetar hebat, dirinya kala ini didera ketakutan yang teramat sangat.
"Aaaaa!" Koh Liong berhasil menangkap tubuh Irma, dan memeluknya erat.
"Aaaaa! Lepaskan aku, Koh! Lepaskan aku!" teriak Irma seraya meronta tangannya memeukul-mukul punggung lelaki itu yang memanggul tubuh Irma seperti karung beras. Lelaki itu melempar tubuh Irma ke ranjang hingga terlentang.
Tawa Koh Liong menggema, sementara di balik pintu, Tama mengepalkan kedua tangannya, ia begitu merasa bersalah dan bodoh. Mendengar jerit tangis Irma dari dalam kamar membuat Tama sangat geram dan marah seakan amarahnya sudah naik ke ubun-ubun, tapi Tama tak berdaya oleh lelaki keturunan Cina itu, membuat Tama setengah mati meredam seluruh amarahnya dan merelakan gadis pujaannya di jamah oleh lelaki bajingan itu.
#FlashBack
Di dalam ruang kerja Koh Liong.
"Apa yang kau katakan, Koh?" Mata Tama melotot, wajah memerah dan napas naik turun karena menahan amarah. "Apa kau sudah gila, laki-laki bajingan!" lanjutnya dan menarik kerah kemeja lelaki paruh baya berkepala plontos itu.
"Bajingan kau bilang? Aku atau kau yang bajingan, Bung?" balas Koh Liong menarik tangan Tama dari kerahnya. "Aku tahu segalanya pada malam nahas itu, kau membunuh Lilis karena wanita itu memergokimu sedang bercinta dengan Irma teman menari Lilis sendiri," ucap Koh Liong tegas, ia seakan memegang kartu AS milik Tama, dan itu berhasil membuat Tama melemah, laki-laki itu terkejut, tak menyangka kejadian waktu itu ada orang lain yang tahu.
"Apa maumu, Koh?" tanya Tama kesal.
"Seperti pertama aku katakan padamu, aku menginginkan tubuh Irma sebagai pembungkam mulutku ini, biarkan gadis cantik itu menemaniku tidur hanya malam ini. Ok, Juragan Tama?" Koh Liong tersenyum puas, melihat Tama seakan tak berdaya dan tidak ada pilihan lain dan membuat Tama memukul meja di hadapannya pasrah.
***
Di sebuah kamar.
"Kang, Tamaaaa! Tolong, Kaaanngg!" teriakan Irma seakan mengiris hati Tama yang berada di luar kamar. Tama hanya mengusap wajahnya kasar, menarik rambutnya frustasi, lelaki itu tak tega dan tak rela, jika Irma dijamah lelaki lain.
"Diamlah, Sayang, nikmati saja malam ini, aku akan membuatmu melayang-layang karena kenikmatan," ucap lelaki botak yang kini sedang duduk di atas kedua paha Irma, dengan senyum mesum yang terus terukir di wajahnya, lelaki itu sudah bertelanjang bulat, memperlihatkan bulu-bulu halus di sekitaran dada putihnya.
Tubuh lelaki itu merunduk, tangannya membelai wajah Irma dan dada montok Irma, sekali hentak terlepaslah kemben yang digunakan Irma, menampilkan sepasang bukit kembar yang menantang, Irma terkesiap dan langsung menutupi dadanya dengan kedua tangan. Gadis itu meronta, tapi sangat sulit lepas, karena tubuhnya ditindih oleh Koh Liong. Pria itu mendesis, seraya mendekatkan bibirnya ke arah sepasang bukit kembar milik Irma, Irma melototkan matanya dan bergeleng lemah.
"Tolong jangan, Koh! Jangan lakukan itu!" Irma memohon. Namun, Koh Liong tak perduli, tubuhnya semakin menyondong ke depan dan bibirnya siap melahap daging kenyal di hadapannya, air liurnya menetes-netes membuat Irma semakin ngeri melihatnya, hingga Irma menutup matanya rapat.
BRAAK!
"Kurang ajar kau Tama!" teriak Koh Liong.
Irma membuka kedua telapak tangan dari wajahnya, saat mendengar teriakan Koh Liong, dan sadar beban tubuh Koh Liong tak terasa lagi di kedua pahanya.
"Jangan kau sentuh Irma, Brengsek!" sentak Tama, matanya mengeluarkan kilat merah.
Irma segera bangkit dari terlentang, ia langsung memasang kembali pakaian bagian atasnya, dan menutupi pundaknya dengan selendang miliknya.
Tama melirik ke arah Irma, setelah merasa gadis itu aman, Tama langsung menghajar wajah sang lelaki keturunan Cina itu, hingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
"Kurang ajar kau Tama, kau mau aku...."
Buk! Buk! Buk!
Pukulan bertubi-tubi Tama layangkan ke tubuh Koh Liong, wajah, dada dan perut, membuat tubuh polos Koh Liong terkapar di ranjang dan tak bangkit lagi, tapi Tama seakan tidak puas. Amarahnya masih berkobar, dirinya melirik ke atas nakas, di sana tertancap sebuah pisau di atas buah apel, Tama meraihnya dan ...
"Kaaannggg!" teriak Irma seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tama meraih pergelangan tangan Irma dan meninggalkan jasad Koh Liong yang tanpa busana begitu saja dengan keadaan tak bernyawa di atas tempat tidur. Irma menuruti langkah kaki Tama, saat hendak keluar pintu Irma menoleh ke arah jasad Koh Liong yang tanpa busana dengan pisau buah tertancap di dada laki-laki paruh baya itu, darah mengucur dari dada itu dan menodai seprei berwarana putih itu.
Irma bergidik ngeri dan membalikkan pandangannya kembali ke depan, Tama menutup pintu kamar itu dan bergegas membawa gadis pujaannya pergi meninggalkan rumah megah Koh Liong.
***
Malam semakin larut, Tama memberhentikan kendaraan bermotornya tepat di depan rumah Irma, mereka berdua bergegas turun dari motor dan segera masuk ke dalam rumah, Tama terus menggenggam pergelangan tangan Irma.
"Kang, kau kenapa?" teriak Irma, saat Tama tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri, setelah mereka berdua sampai di ruang tamu rumah Irma.
Moga ajj darah yg d hisap gk sampe ketelen ma tama.dibuang s3mua
kayak logat batak ajj ya.
Apa athor nya rang medan ya????
tadi terdengar suara rintihan ratna kesakitan waktu dukun nya mo tiba.
lah saat mo lahiran malah teriakanny gak kedengaran sampe luar karna ruangan d kasih peredam suara.klo cerita jaman segitu.apa ya udah ada redam suara.🤦♀️🤦♀️