"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 56 Laris Manis
Setelah cukup lama terbuai dalam kehangatan gendongan Wira, perlahan rungu Dinda mulai menangkap sayup-sayup suara riuh yang semakin ramai. Wira menghentikan langkah tegapnya, lalu dengan sangat hati-hati menurunkan tubuh Dinda tepat di depan sebuah gerbang kayu besar yang menjadi penanda area pasar.
"Sudah sampai," kata Wira sembari merapikan posisi berdiri Dinda.
Dinda mengangguk, matanya berbinar menatap sekeliling. "Wah... ramai juga ya tempatnya, Kanda."
"Ya, cukup ramai. Di wilayah perbatasan ini juga ada kedai makan, rumah inap, dan banyak rumah-rumah pedagang dari luar daerah yang memilih untuk menetap di sini," jelas Wira.
Dinda semakin takjub. Pandangannya bergerak liar menangkap suasana pasar tradisional yang masih sangat alami, tanpa sentuhan modernisasi namun terasa hidup dengan aktivitas barter dan jual beli.
"Mari masuk," ajak Wirandu.
Dinda mengangguk mantap. Keduanya berjalan masuk lebih dalam ke tengah kerumunan. Langkah mereka berhenti tepat di area terbuka depan sebuah kedai sayuran yang cukup ramai.
Tanpa membuang waktu lagi karena sadar tenggat waktu sistem terus berjalan, Dinda menaruh keranjang anyamannya di atas undakan batu. Mengabaikan rasa malunya, gadis kota itu menegakkan punggung, menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bersuara dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Perhatian-perhatian semuanya...! Mari mendekat ke mari! Silakan dilihat dan dibeli barang bagus yang sangat berkhasiat ini...!" seru Dinda dengan nada melengking yang renyah.
Suara asing dan lantang itu seketika memecah kegaduhan pasar. Perhatian orang-orang yang berada di sekitar kedai sayur lantas teralihkan sepenuhnya pada sosok gadis berkebaya kuning jeruk yang berwajah jelita itu.
"Semuanya, lihat ini... Ini namanya sabun mandi wangi!" sambung Dinda lagi sembari mengangkat sebatang sabun polosnya yang berwarna estetis. "Sabun ini sangat berguna untuk membersihkan tubuh kita setelah seharian bekerja. Bukan karena baunya saja yang wangi semerbak, tapi manfaatnya juga teramat bagus untuk menyehatkan kulit!"
Seorang wanita paruh baya yang sedang memilah talas menoleh penasaran. "Hei, Saudari... Barang aneh apa yang sebenarnya kamu jual itu?"
Dinda tertawa kecil, memberikan senyuman ramah. "Ini namanya sabun, Ibu. Sabun ini memiliki fungsi khusus untuk meluruhkan seluruh kotoran, daki, dan keringat yang menempel di badan setelah kita beraktivitas."
Orang-orang yang mulai berkerumun tampak mengangguk-angguk, namun raut bingung masih tercetak jelas di wajah mereka.
"Lalu, bagaimana cara memakainya? Benda itu keras begitu," tanya seorang pria bertubuh besar dengan rambut gondrong acak-acakan yang ikut penasaran.
Dinda tersenyum manis. Ia menoleh pada penjual sayur di dekatnya. "Mbok, bolehkah aku meminta bantuan airnya sedikit?" tanya Dinda sopan.
Penjual sayur itu mengangguk cepat. Ia sendiri sebenarnya sudah sangat penasaran dengan benda wangi di dalam keranjang Dinda. Ia lantas menyodorkan sebuah gayung batok kelapa berisi air bersih.
"Nah, semuanya tolong perhatikan ya... Cara pakainya sangat mudah. Sabun dan bagian tubuh kita dibasahi dengan air terlebih dahulu, lalu gosokkan sabunnya seperti ini ke permukaan kulit..." ucap Dinda mempraktikkan.
Ia menggosokkan sabun tersebut di sela-sela telapak tangannya sendiri. Hanya dalam hitungan detik, busa putih yang melimpah dan lembut mulai bermunculan, bersamaan dengan menguapnya aroma bunga segar yang sangat harum ke udara sekitar.
"...Jika sudah keluar busa lembut seperti ini, barulah kita aplikasikan dan ratakan ke seluruh tubuh, lalu dibilas dengan air sampai bersih," lanjut Dinda sembari mengguyur tangannya hingga bersih kesat. Ia kemudian melangkah mendekati seorang perempuan paruh baya bernama Bu Wati. "Cobalah, Ibu... cium sendiri wangi di tangan saya."
Bu Wati dengan ragu mengendus punggung tangan Dinda. Begitu penciumannya menangkap aroma bunga segar yang begitu mewah dan menenangkan, matanya seketika membelalak.
"Hemmm... enak! Baunya enak sekali, sangat harum dan segar! Aku belum pernah mencium wewangian sebersih ini seumur hidupku... Aku mau satu! Berapa harganya, Nduk?" tanya Bu Wati tidak sabar, tangannya sudah merogoh kantong kain di pinggangnya.
"Satu bijinya hanya lima kepeng tembaga, Ibu," jawab Dinda tersenyum manis.
"Wah, terhitung mahal juga ya untuk benda sekecil ini...! Tapi tidak apa-apa, barang sebagus dan sewangi ini pasti sangat dibutuhkan di rumah. Aku ambil dua buah ya, Nduk!" ucap Bu Wati tanpa ragu, lalu menyerahkan sepuluh kepeng tembaga ke telapak tangan Dinda.
Melihat Bu Wati sudah membeli dan mencium sendiri buktinya, kerumunan pasar seketika menjadi riuh. Sifat FOMO (takut ketinggalan) orang-orang zaman dulu langsung terpancing. Perlahan namun pasti, beberapa orang mulai membentuk antrean untuk membeli barang ajaib tersebut.
"Saudari, saya juga mau satu!" ucap seorang gadis muda dengan antusias.
"Saya dua, Saudari!" seru yang lain.
Dinda mengangguk ramah, dengan lincah melayani para pembeli dan menerima dentingan kepeng-kepeng tembaga yang memuaskan hatinya. Hingga akhirnya, habis Tanpa sisa di dalam keranjang, dan sebuah kereta kuda mewah berhenti tak jauh dari sana.
Seorang dayang muda dengan pakaian rapi turun dari kereta, tampaknya ia adalah utusan dari anak seorang saudagar kaya yang mencium aroma wangi tersebut dari dalam kereta.
"Saudari, apakah masih ada sabun wanginya? Majikanku ingin membelinya," tanya dayang bernama Sarti itu sopan.
Dinda melihat ke dalam keranjangnya yang sudah kosong melompong. Ia mengembuskan napas penuh sesal. "Aduh, maaf sekali, Mbak. Barang daganganku hari ini sudah habis terjual seluruhnya..." ucap Dinda merasa tidak enak.
Dayang bernama Sarti itu lantas undur diri sejenak untuk melapor pada atasannya yang berada di dalam kereta kencana. Tak lama kemudian, Sarti kembali lagi menemui Dinda dengan raut wajah bergegas.
"Saudari, kalau boleh tahu, kapan Anda akan kembali menjual barang wangi ini lagi di sini?" tanyanya meminta kepastian.
Dinda sempat terdiam untuk berpikir sejenak. Ia lantas menoleh ke arah Wira yang sedari tadi berdiri tegak di belakangnya seperti pengawal pribadi. Wira hanya terdiam menatap Dinda dengan sorot mata intens, menunggu keputusan apa yang akan keluar dari mulut wanitanya.
"Tiga hari lagi... Aku akan kembali ke tempat ini untuk menjualnya lagi," ucap Dinda dengan nada meyakinkan dan senyum profesional.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍