Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik terendah
Malam itu, di tempat tinggal Bagas terlihat begitu gelap, hujan turun deras sekali, memukul atap rumah kayu yang sudah tua itu dengan bunyi berisik, seolah ikut meratapi nasib malang yang sedang menimpa Bagas dan ibunya. Di dalam ruangan sempit yang berbau obat-obatan dan lembap itu, suasana terasa makin mencekam. Napas Bu Siti terdengar makin berat dan berbunyi, tubuhnya panas tinggi, sementara wajahnya yang keriput tampak sangat menderita. Sudah tiga hari ini kondisinya menurun drastis, tak lagi membaik meski sudah diberi obat warung dan ramuan jamu seperti biasa.
"Bu... tahan ya Bu, sebentar lagi kita sampai," gumam Bagas pelan sambil memapah tubuh ibunya yang ringkih. Ia menggendong Bu Siti dengan sekuat tenaga, memeluk erat tubuh kurus itu ke dadanya, berjalan menerobos hujan lebat menuju puskesmas terdekat yang jaraknya cukup jauh. Bajunya basah kuyup sampai ke kulit, kakinya melangkah berat menembus genangan air lumpur di jalanan setapak. Di sepanjang jalan, doa terus ia lantunkan dalam hati, memohon agar ibunya selamat, memohon agar ada keajaiban datang membantunya.
Sesampainya di puskesmas, Bagas langsung duduk di bangku tunggu sambil mengelap air hujan dan keringat yang bercampur di wajahnya. Tak lama kemudian, dokter jaga keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah serius, memanggil nama Bagas.
"Mas Bagas, ibumu kondisinya cukup parah. Ini bukan sekadar flu biasa atau kelelahan," ucap dokter itu langsung pada intinya sambil melihat berkas rekam medis di tangannya. "Ada infeksi di paru-parunya yang sudah cukup lama dan tidak tertangani dengan benar. Kalau dibiarkan, risikonya sangat berbahaya. Ibumu harus segera dirawat inap minimal tiga hari sampai kondisinya stabil, lalu harus kontrol rutin dan minum obat khusus."
Jantung Bagas serasa berhenti berdetak seketika. Kata-kata dokter itu terdengar begitu berat dan menakutkan. "Dok... berapa kira-kira biayanya semuanya? Rawat inap, obat-obatan, sama cek medisnya?"
Dokter itu menyebutkan angka yang membuat darah Bagas serasa berdesir hebat. Jumlah itu besar sekali, jauh di luar jangkauan gajinya yang pas-pasan. Bagas menelan ludah susah payah, matanya menatap kosong ke lantai keramik puskesmas yang dingin itu. Ia tahu uang tabungannya tidak bakal cukup, tapi ia tetap masuk ke ruang administrasi dengan sisa harapan yang tipis.
Kenyataan memukulnya makin keras. Saat ia membuka celengan dan dompetnya, mengumpulkan semua uang yang ia miliki—hasil kerja keras berbulan-bulan, uang lembur, dan uang yang ia sisihkan dari makan sehari-hari—jumlahnya ternyata masih kurang banyak. Bahkan kalau gajinya bulan depan sudah cair pun, tetap belum bakal cukup untuk menutupi seluruh biaya pengobatan dan perawatan ibunya.
"Aku harus cari uang tambahan. Aku harus dapatkan uangnya, apa pun caranya," batin Bagas bergumam, rasa panik mulai merayap masuk ke seluruh pembuluh darahnya. Ia tak boleh diam saja. Nyawa ibunya taruhannya.
Dengan langkah gontai dan pikiran yang kalut, Bagas pulang kembali ke rumah setelah mengurus administrasi dan menitipkan ibunya di ruang rawat inap. Ia duduk diam di kursi kayu reyot di beranda rumahnya, menatap kosong ke arah jalanan berlumpur di depan sana. Hujan masih turun deras, seolah langit sedang menangis bersamanya. Pikirannya berputar liar, mencari jalan keluar yang tak kunjung ditemukan. Ia tidak punya kerabat kaya yang bisa dimintai bantuan. Ia tidak punya barang berharga yang bisa digadaikan. Ia tidak punya teman yang punya uang segitu banyak.
Hingga akhirnya, satu nama terlintas di kepalanya. Nama yang selama ini selalu ia hindari, nama yang membuat bulu kuduknya meremang setiap kali mendengar orang menyebutnya, Pak Hadi, seorang rentenir yang beroperasi di sekitar kampungnya. Orang itu dikenal suka meminjamkan uang dengan mudah dan cepat, tapi bunganya sangat tinggi dan penagihannya dikenal sangat kejam dan menakutkan.
Bagas menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tahu bahayanya. Ia tahu kalau masuk ke lingkaran itu, susah sekali untuk keluar lagi. Tapi apa lagi pilihan yang tersisa di depannya? Di satu sisi ada nyawa ibunya yang terancam, di sisi lain ada risiko hutang yang mencekik. Di tengah keputusasaan yang mendalam itu, Bagas akhirnya mengambil keputusan kelam. Demi ibunya, ia rela menanggung apa saja. Rela berhutang, rela dibebani bunga besar, rela apa saja, asalkan ibunya bisa sembuh dan selamat.
Malam itu juga, Bagas pergi menemui Pak Hadi. Prosesnya memang sangat cepat. Tanpa banyak tanya, uang tunai yang ia butuhkan ada di tangannya, tapi disertai selembar kertas perjanjian yang tulisannya membuat dada Bagas sesak napas. Bunga dua puluh persen per bulan, dan jatuh tempo pengembaliannya sangat singkat. Saat tangan Bagas menandatangani surat itu, rasanya seperti ia baru saja menandatangani perjanjian yang membebani bahunya berton-ton beban. Tapi ia tak punya pilihan lain.
Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk bagi Bagas. Ia bekerja di kantor dengan pikiran yang terbagi dua, separuh fokus bekerja, separuh lagi memikirkan ibunya di rumah sakit dan tagihan hutang yang makin menumpuk. Setiap kali berpapasan dengan orang, ia selalu merasa ada yang menagihnya. Rasa cemas, takut, dan tertekan memenuhi setiap detik hidupnya. Gajinya yang kecil bahkan belum cukup untuk menutupi bunga hutang itu saja. Bagas mulai merasa lelah, sangat lelah, lelah secara fisik maupun batin. Ia merasa sekuat tenaganya digerakkan, ia tetap saja tertinggal jauh, tetap saja susah, tetap saja tertekan.
"Buat apa aku kerja keras begini kalau hasilnya tetap saja begini?" gumam Bagas pelan suatu sore saat sedang duduk sendirian di tangga belakang gedung, tempat yang sepi dan jauh dari jangkauan orang lain. Matanya merah padam menahan tangis yang sudah sejak pagi ini ingin meledak keluar. "Buat apa aku pintar, buat apa aku jujur, kalau nasibku tetap saja jadi sampah, tetap saja menderita, tetap saja diinjak-injak keadaan?"
Rasa putus asa mulai merayap masuk ke sela-sela tulang rusuknya. Ia merasa tak ada gunanya lagi berjuang. Ia merasa Tuhan tidak adil padanya. Ia hampir menyerah. Hampir saja ia ingin berhenti melakukan apa saja, pasrah menerima nasib buruk ini sampai kapan pun.
Namun, tepat saat ia menundukkan wajah ke kedua telapak tangannya, terdengar suara mesin mobil yang menderu halus masuk ke halaman parkir samping gedung itu. Karena penasaran, Bagas mengangkat wajahnya sedikit, menyeka air mata yang hampir jatuh di pelupuk matanya.
Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap melaju perlahan keluar dari area parkir. Kaca jendelanya terbuka sedikit, dan di kursi pengemudi, terlihat sosok yang sangat ia kenal, sosok yang diam-diam selalu ia simpan di hatinya: Naya.
Wanita itu duduk di sana dengan nyaman, mengenakan pakaian rapi dan cantik seperti biasa, rambutnya tertata indah, wajahnya tenang dan cerah. Di sekelilingnya, suasana mewah dan kemewahan terasa begitu nyata. Naya sedang berbicara santai lewat telepon genggamnya yang mahal, tersenyum lepas seolah tak ada beban berat sedikit pun di pundaknya. Hidupnya begitu mulus, begitu indah, begitu jauh dari rasa sakit dan penderitaan yang sedang dirasakan Bagas saat ini.
Mobil mewah itu perlahan berjalan menjauh, meninggalkan jejak keanggunan dan aroma kemewahan yang membuat hati Bagas makin terasa nyeri. Ia melihat perbedaan yang sangat besar, perbedaan yang mencolok, perbedaan antara surga dan neraka. Di satu sisi ada Naya yang hidupnya penuh kemudahan, di sisi lain ada dirinya yang sedang berada di titik paling bawah, terpuruk dalam hutang, sakit, dan keputusasaan.
Pemandangan itu menusuk hati Bagas tajam sekali, tapi anehnya, rasa sakit itu justru membangunkan sesuatu yang mati di dalam dadanya. Rasa iri? Sedikit ada. Rasa minder? Sudah lewat. Tapi yang paling besar muncul adalah rasa tekad yang membara hebat.
Bagas bangkit berdiri dari tangga itu, menghapus sisa air mata dan rasa lelah di wajahnya. Matanya yang tadinya sayu dan penuh keputusasaan kini kembali berkilap tajam, bahkan lebih tajam dari sebelumnya. Ia menatap ke arah jalan tempat mobil Naya menghilang di tikungan, mengepalkan tangannya erat-erat sampai kuku-kukunya menusuk telapak tangan.
Pikiran negatif, rasa ingin menyerah, dan rasa pesimis yang tadi memenuhi kepalanya seketika lenyap terbakar oleh api ambisi yang baru saja dinyalakan kembali oleh sosok Naya. Ia sadar, kalau dia berhenti sekarang, selamanya dia bakal tetap begini. Selamanya bakal jadi orang miskin yang berhutang, selamanya bakal susah nyembuhin ibunya, dan selamanya bakal cuma bisa menatap Naya dari bawah dengan rasa rendah diri.
"Aku tidak boleh menyerah. Kalau aku menyerah, ibuku bakal susah selamanya. Kalau aku menyerah, aku selamanya tidak bisa menggapai Naya," ucap Bagas tegas pada dirinya sendiri.
"Aku harus bangkit dari lubang ini. Aku bakal lunasi semua hutang ini, aku bakal sembuhkan ibuku, dan aku bakal ubah nasibku sampai sejajar, bahkan lebih tinggi dari Naya."
Janji itu ia ucapkan dalam hati, janji yang paling berat namun paling bulat yang pernah ia buat seumur hidupnya. Demi ibunya yang sedang berjuang melawan sakit, dan demi sosok wanita cantik yang menjadi tolok ukur kesuksesan di matanya, Bagas bertekad bulat untuk bertahan, berjuang dua kali lebih keras, dan memutarbalikkan nasibnya yang kelam ini. Titik terendah ini bukanlah akhir, melainkan awal mula kebangkitan besar yang akan ia buat sendiri dengan tangannya sendiri.
Dengan napas panjang yang mengembuskan segala keputusasaan, Bagas kembali melangkah masuk ke dalam gedung. Kakinya masih lelah, pikirannya masih berat, tapi hatinya kini kembali memiliki tujuan yang sangat jelas. Ia tahu jalan ke depannya bakal makin terjal dan sulit, tapi ia juga tahu satu hal pasti, ia tidak akan lagi berjalan menunduk karena rasa rendah diri, melainkan berjalan menunduk sambil merencanakan strategi besar untuk masa depannya.