EKSLUSIF HANYA DI NOVELTOON, JIKA ADA DI TEMPAT LAIN BERARTI PLAGIAT!! LAPORKAN!
Algazro adalah anak orang kaya, orang tuanya punya sebuah perusahaan yang cukup besar, mereka hidup dengan damai dan tenang.
Namun ada sebuah insiden yang menyakitkan, musuh bisnis papanya membakar perusahaan dan rumah yang mereka tinggali lalu membunuh kedua orang tuanya.
Saat itu ia hidup terluntang lantung sendiri, tidak ada yang mengasihaninya. Padahal semasa hidup, kedua orangtuanya sangat baik pada mereka. Tapi setelah semuanya berubah, bukan belas kasihan yang ia dapatkan, melainkan hinaan dan ejekan, mereka sungguh tidak tahu membalas budi.
Sebelum kematiannya dihakimi massa karena dituduh mencuri, saat itulah ia mendapatkan sistem ia merubah hidupnya. Dengan sistem ia mendapatkan wanita cantik mengelilinginya seperti detektif cantik yang jeli, CEO manis dan pintar, polwan tegas dan mempesona, dokter cerdas dan penampilan anggun dan sang mafia cantik yang kejam, mereka semua adalah aset terbesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Algazro pun melihat-lihat dan ia melihat di tempat pembuangan sangat banyak barang yang di buang hingga bertimbun.
"Astaga! Sayang sekali sebanyak ini terbuang begitu saja, jika aku tahu ada makanan sebanyak ini terbuang begitu saja sudah lama aku cari makan di sini..Hm … tapikan aku hidupnya nggak melarat lagi. Tapi … tetap aja sayang," ucapnya memegang barang-barang yang sudah tidak bisa di gunakan lagi.
Semua pekerjaannya sudah selesai, Algazro pun pulang untuk beristirahat, ia merebahkan tubuhnya yang lelah setelah kesana-kemari.
***
Triring! Triring!
Triring! Triring!
Ponsel Algazro berdering kencang membuat suana menjadi berisik.
"Siapa sih menelpon ku pagi-pagi begini?" tanya Algazro dengan mata masih terpejam.
Ia duduk di atas ranjangnya dan mengambil ponselnya.
"Halo, siapa sih? Ini masih pagi banget tau," ucap Algazro kembali terbaring.
"Ini sudah jam 9 Tuan. Aku Algia dokter Traumatologi yang waktu itu menangani lukamu, datang untuk cek luka-luka mu," ucap suara seorang perempuan.
"Oh, dokter Algia ya. Tapi … kenapa dokter bisa tahu nomor telepon ku?" tanya Algazro mengucek matanya.
"Nona Emile sedang ada di sini untuk mengecek kesehatannya, jadi aku minta nomor ponsel mu," jawab Algia.
"Begitu ya … ya udah, aku ke sana sekarang," ucap Algazro memutuskan panggilannya dan meletakan ponsel itu di mejanya.
"Hoooaaammm … tapi aku masih ngantuk banget," ucap Algazro menguap.
Ia pun bangun dan mengambil handuknya dan ia masuk ke dalam kamar mandi.
Algazro mengambil odol dan sikat gigi sambil berdiri di depan cermin.
"Eh, wajah ku …."
Ia melihat wajahnya yang sudah hampir sempurna itu. Dan terlihat ia juga tampan.
"Sejak kapan wajah ku berubah seperti ini? Apa tadi malam berubahnya ya?" tanya Algazro memegang wajahnya yang tadinya ada bekas luka, kini sudah hampir memudar.
"Apa pun itu aku sekarang sudah berubah, system' benar-benar tidak berbohong pada ku, aku sudah menjadi tampan sekarang," ucap Algazro tersenyum lebar.
Ia pun segera menggosok gigi dan segera mandi.
Setelah mandi, ia berganti pakaian dan menyisir rambut.
Ting tong!
Ting tong!
"Hm … siapa itu?" tanya Algazro memberhentikan menyisir rambutnya dan ia pun menghampiri pintu rumahnya.
Street!
Suara pintu yang di geser.
"Eh, kamu."
"Kenapa terkejut begitu melihat ku? Hm … rumah kamu mewah bangat," ucap Lia melihat isi dalam rumah tersebut dan masuk ke dalam.
"Kamu kenapa datang ke rumah ku?" tanya Algazro melihat punggung Lia yang saat itu sedang terkagum-kagum melihat isi rumahnya.
"Kenapa? Nggak boleh ya?" tanya Lia berbalik badan.
"Bukan begitu, seharusnya kamu kasih tahu dulu kek kalo kamu mau datang, soalnya aku mau ke rumah sakit," jawab Algazro merapikan bajunya.
"Ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Lia menaikan alisnya.
"Aku yang sakit, jadi gimana? Kamu mau pergi kemana?"
"Aku ikut kamu saja," jawabnya membuat Algazro bingung.
"Kamu mau ikut aku?"
"Iya, kenapa? Kamu nggak boleh?"
"Ya udah deh." Algazro menuju kamarnya kembali dan mengambil jaket dan mengambil ponselnya dan menyimpannya di dalam saku jaket lalu keluar.
"Ayo pergi," ajak Algazro berjalan melewati Liana. Liana pun mengikutinya dari belakang dan ikut masuk ke dalam mobil Algazro.
"Bukannya kamu bawa mobil juga?" tanya Algazro.
"Aku malas nyetir," jawabnya enteng.
Algazro menatapnya manyun. "Ya udah deh, terserah kamu aja," ucap Algazro menghidupkan mesin mobilnya.