Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Wills Company
Sejak mendapat kiriman video tentang suaminya. Pikiran Renata tidak tenang. Bukan karena memikirkan sang suami. Melainkan, memikirkan siapa kiranya yang begitu niatnya merekam dan memfoto segala detail kelakuan Bagas. Akan sangat aneh menurut Renata, jika orang itu hanya sekedar ingin membantu dirinya, tanpa ada maksud tertentu dibaliknya.
Banyak spekulasi-spekulasi yang menghampiri otaknya. Sungguh, kepala wanita itu seolah akan meledak memikirkannya. Kepalanya berdenyut nyeri, karena kurang tidur, meratapi nasibnya. Kini, di tambah pemikiran-pemikiran lain yang menambah beban untuknya.
Renata menggelengkan kepalanya, untuk menghilangkan segala pikiran buruk dan juga nyeri di kepalanya. Kemudian, kembali fokus akan pekerjaannya, agar segera bisa pulang. Iya, wanita itu hari ini, meminta ijin untuk bisa pulang lebih cepat.
Wanita itu telah memutuskan untuk menemui si pengirim video. Selain untuk meminta segala bukti yang orang itu punya. Dia juga ingin tahu alasan apa seseorang itu sampai mau melakukan hal seperti ini. Apalagi saat lebih diteliti lagi. Nomor ponsel yang mengirim video Bagas kemarin adalah nomor ponsel yang sama dengan nomor ponsel 5 tahun lalu. Yang juga mengirimi video tak senonoh Bagas untuk pertama kalinya.
...****************...
Saat ini Renata sudah berada di tempat parkir Wills Company. Wanita itu menghela nafas panjang. Kemudian merogoh ponselnya yang berada di dalam tas miliknya.
Jam di ponselnya menunjukkan pukul 15.00 sore. Tanpa mau membuang-buang waktu, Renata segera mengirim pesan kepada orang asing yang akan dia temui.
Renata:
Saya sudah berada di Wills Company
Tak menunggu waktu lama, pesannya langsung dibaca. Bahkan, orang itu segera mengiriminya balasan. Renata sedikit bersyukur, karena orang itu tidak sulit diajak komunikasi.
+62824××××
Kamu bisa meminta resepsionis yang berada di lobby untuk mengantarkanmu ke lantai paling atas.
Renata mengerutkan keningnya. Namun, lagi-lagi wanita itu tak terlalu memusingkannya. Wanita itu merapikan sedikit baju yang dipakainya agar terlihat lebih rapi. Lantas melangkahkan kakinya dengan mantap, memasuki Wills Company.
Wanita itu melakukan apa yang disuruh oleh orang asing itu. Sepertinya orang itu telah memberi tahu pihak resepsionis. Terbukti saat dia meminta untuk mengantarkannya. Resepsionis itu sudah dengan ramah menyambutnya. Bahkan, resepsionis yang bernama Vera itu, mengetahui namanya.
Selama menuju ke tempat orang asing itu berada, jantung Renata berdetak dengan cepat. Karena terlalu memikirkan sosok orang asing itu, yang sampai bisa mengetahui segala detail kehidupan dan namanya.
Vera—resepsionis itu mengantarnya sampai di depan pintu yang bertuliskan CEO Wills Company. Sontak saja mata Renata terbelalak. Wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia tidak menyangka, jika orang itu yang memiliki bukti tentang suaminya adalah seorang CEO.
Ingin rasanya wanita itu bertanya lebih ke Vera. Namun, wanita itu sudah pamit undur diri terlebih dahulu. Meninggalkan Renata dengan segala macam pertanyaan-pertanyaan yang semakin bertambah di dalam kepalanya.
Tiba-tiba jantungnya bergemuruh. Rasa ragu menyergap hatinya. Keputusan bulat yang telah dia ambil, kini kembali goyah. Dia memundurkan langkah, dan melepas hendel pintu yang sempat dia pegang.
Di tengah-tengah kekalutan pikirannya, yang menyuruhnya untuk mundur. Ada suara tegas, namun lembut secara bersamaan menginterupsinya.
“Masuklah, Renata!”
Mendengar itu, Renata tahu. Jika tidak ada jalan untuk kembali. Dia harus maju, tanpa ragu-ragu. Menghela nafas panjang, dan wanita itu membuka pintu di depannya dengan yakin.
...****************...
Entah sudah ke berapa kalinya dalam minggu ini, Renata mengalami keterkejutan. Saat ini pun wanita itu kembali terkejut saat melihat seorang yang pernah ditolongnya di klinik 6 tahun lalu, tersenyum hangat menyambut kedatangannya.
Melihat ekspresi Renata yang sarat akan keterkejutannya. Membuat Lukas Jauhar Wills, mengajak Renata untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya. Kemudian mengambil minuman dingin di lemari pendingin yang berada di sisi kanan sofa itu.
“Tenanglah, tidak usah terlalu tegang. Saya tidak akan menggigitmu.” Lukas mencoba untuk mencairkan suasana dengan melontarkan sebuah lelucon.
Tidak sia-sia, Renata berhasil tergelak, dan tersenyum tipis, setelah mendengar ucapannya. Membuat Lukas ikut tersenyum dan menimbulkan sedikit semburat merah di pipinya, tanpa dia sadari.
Renata mengambil minuman yang disuguhkan oleh Lukas, guna membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Kemudian berdeham pelan, untuk menyadarkan Lukas, yang sejak tadi tidak berhenti menatapnya.
Lukas tersentak, sedikit gelagapan. Membuat Renata terkekeh kecil. Hal itu membuat Lukas kembali menatap Renata dengan tapang bodohnya. Sangat keluar dari sifatnya yang selalu terlihat pintar, disiplin, tegas dan tidak mudah goyah. Ya, meskipun dia mengakui, kalau dirinya sangat ramah kepada siapa pun.
Namun, kenapa saat berada di ruangan dan bertatap muka dengan Renata, yang notabenenya istri dari salah satu karyawannya, membuat Lukas menjadi gampang goyah—menjurus gampangan?
Fokus Lukas! Ingat, dia wanita yang sudah bersuami!
Hal itu membuat Lukas segera menepis segala pikiran-pikiran konyol yang membuatnya tampak bodoh, dan kembali bersikap tenang.
“Jadi—”
...****************...
Ibu satu anak itu, menyeret kakinya dengan langkah yang gontai, dengan Ghea yang berada di dalam gendongannya. Wanita itu memasuki rumah yang sudah enam tahun dia tempati bersama Bagas.
Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, seolah baru pertama kali dirinya masuk ke dalam rumah itu dengan sendu.
Sudah tak ada lagi air mata yang luruh dari matanya. Tak ada rasa sedih, ataupun sakit yang dirasakannya. Hanya ada rasa kecewa dan sisanya tampak biasa saja. Menghela nafas panjang, Renata pun masuk ke dalam kamarnya bersama sang anak untuk beristirahat.
Dirinya tak ingin terlalu berlarut dalam masalah yang dia hadapi. Masalah itu dia akan hadapi nanti. Saat Bagas sudah kembali, berada di hadapannya.
Mulai saat ini, wanita itu berjanji tidak akan lagi menjadi lemah. Dia akan menjadi wanita kuat demi sang anak. Mulai saat ini juga, wanita itu juga berjanji untuk fokus akan kebahagiaan sang anak, tanpa peduli lagi dengan apa pun yang akan menyakitinya.
Renata tak akan berdiam diri, dan membiarkan dirinya kembali disakiti, terinjak-injak, dan tidak dihargai lagi. Dirinya bertekad untuk membuat siapa pun yang sudah mengusiknya selama ini, menjadi tunduk dan tak berani lagi memandangnya lemah.
Kamu pasti bisa, Renata!
Buktikan, kalau kamu wanita yang terhormat!
Getar ponsel mengusik wanita yang sedang sibuk akan tekadnya itu. Segera diambilnya ponsel itu yang terdapat pesan masuk.
Lukas:
Jangan terlalu memikirkan hal yang bukan salah kamu.
Teguhlah dengan keputusanmu. Sisanya serahkan pada saya, Renata.
Good night
Seutas senyum terbit di bibir wanita itu, tatkala selesai membaca pesan dari Lukas. Setidaknya sudah membuat hati Renata menghangat tanpa diminta.
Renata tak membalasnya, dia masih ingat batasan. Karena suka tidak suka dirinya masih berstatus sebagai istri Bagas. Dia hanya ingin menikmatinya sejenak, perhatian kecil yang sudah lama hilang.
Wanita itu tersenyum, dan hendak tidur. Namun, lagi-lagi getar ponselnya menginterupsinya. Dengan terpaksa, wanita itu kembali mengambil ponselnya yang berada di atas laci, di sebelahnya.
Masih setia dengan senyumannya. Wanita itu membuka pesan yang baru saja masuk. Membuat senyum di wajahnya luntur seketika.
Mas Bagas:
Besok sore aku pulang, Sayang ;)
*
*
*
Hai i'm back
Hayoo ada orang baru 😏
Menurut kalian Renata lebih baik sama Lukas apa tetap sama Bagas ??? 🤣
Tapi jangan lupa untuk like, komen, sunscribe dan juga vote sebanyak-banyaknya yaaa 🥰
See you next chp 😘
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲