Berlatar di Nusantara pada abad ke 13 Masehi, terhampar kisah luar biasa seorang budak bernama Hal, yang melawan belenggu perbudakan dengan api semangat yang tak pernah padam. Ketika ia meraih mimpi kebebasannya, dunia di sekitarnya justru dilanda konflik kerajaan yang merajalela. Hal menemukan dirinya terperangkap dalam pusaran kekacauan dan intrik kekuasaan.
Ketika lolos dari kekacauan pun nasibnya tidak beruntung. Pasukan penjarah mongol menghancurkan segala harapan dan membawanya ke dalam dunia yang lebih gelap. Ia di latih oleh mongol untuk menjadi salah satu pejuang dari mereka, dan diberikan nama Halraf
Seiring usia dan pengalaman yang bertambah, Halraf merenungkan arti sejati dari hidup dan perdamaian. Ia memutuskan untuk meninggalkan jejak perang dan kekerasan, dan memulai perjalanan mencari makna di balik konflik yang mengiringi langkahnya. Di tengah medan yang pernah dipenuhi pertempuran, Halraf berusaha menemukan jalan menuju perdamaian yang ia yakini ada di luar sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fancatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Kemenangan Ada Kekecewaan
Setelah pertempuran brutal yang berhasil merebut kembali istana Singasari dari pasukan Jayakatwang, suasana berubah menjadi perayaan yang meriah di dalam istana. Pasukan Mongol bersama-bersama merayakan kemenangan mereka dengan penuh semangat dan sukacita.
Dalam aula istana yang pernah menjadi saksi pertempuran dahsyat, meja-meja penuh dengan hidangan lezat dan minuman. Para prajurit yang sebelumnya berada di medan perang kini mengenakan pakaian yang lebih santai, tersenyum dan berbicara dengan semangat tinggi. Mereka saling berbagi cerita dan pengalaman mereka dalam pertempuran, membagikan kisah-kisah pribadi dan menguatkan ikatan mereka sebagai rekan-rekan dalam perjuangan.
Shi Bi dan Guo Xing, duduk bersama dengan para komandan dan para pemimpin aliansi lainnya di meja utama. Dalam suasana yang penuh sukacita, mereka berbicara tentang strategi yang berhasil mereka terapkan, keberanian para prajurit, dan arti dari kemenangan ini. "Kemenangan ini adalah hasil kerja keras kita bersama," kata Shi Bi dengan senyum di wajahnya. "Ini adalah bukti kekuatan dan tekad kita untuk menghadapi rintangan apa pun"
Sementara itu, Ike Mese dan pasukannya yang sedari tadi menjaga kapal juga terlihat ikut merayakan di tengah kerumunan di dalam istana. Di sepanjang ruangan, nyanyian dan tarian mengisi udara, menciptakan suasana meriah yang penuh kebahagiaan. Orang-orang berkumpul, saling bertukar tawa dan senyum. Seiring malam bergulir, semangat perayaan semakin terasa kuat, menghapus jejak lelah dan perjuangan dari mata para prajurit.
Halraf merasa gelisah di tengah riuhnya perayaan di dalam istana Singasari. Rasa tidak enak menghantui pikirannya, dan ia memutuskan untuk meninggalkan perayaan sejenak untuk mencari keheningan di kapal. Saat ia melangkah keluar dari aula istana, pemandangan yang dihadapinya membuat hatinya berdesir.
Di sepanjang jalan menuju kapal, ia melewati pemandangan yang mengerikan. Mayat-mayat berserakan di tanah, baik prajurit Mongol maupun penduduk setempat. Tubuh-tubuh yang tergeletak tanpa nyawa, terluka dan mengenaskan, menciptakan gambaran kehancuran dan kematian yang mencekam. Halraf merasakan dada terasa sesak, melihat seberapa besar dampak dari pertempuran tersebut.
Dia berjalan perlahan di antara mayat-mayat, memandangi wajah-wajah yang pernah hidup dan kini berbaring tak berdaya. Ada rasa marah, rasa sedih, dan rasa penyesalan yang tumbuh dalam hatinya. Halraf merasa bahwa kemenangan yang dirayakan begitu mahal harganya, dan kenyataan ini menghantamnya dengan keras.
"Apakah inilah harga yang harus dibayar untuk kedamaian?" gumam Halraf dalam hati. Ia merasa dilema, terjebak antara melanjutkan perjuangan dan menghadapi konsekuensinya yang tak terelakkan. Rasa beban di pundaknya semakin berat, dan ia merasa bertanggung jawab terhadap para prajuritnya dan rakyat yang telah berkorban dalam pertempuran ini.
Halraf akhirnya tiba di kapal, duduk di geladak sambil memandang keluar ke laut yang tenang. Ia merenungkan segala sesuatu yang terjadi, menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sulit tentang harga kehidupan dan tujuan perjuangan mereka.
Dalam keheningan, Halraf dan Arya Wiraraja saling bertemu di atas kapal. Keduanya bisa merasakan perasaan yang sama, perasaan kecewa yang dalam atas apa yang telah terjadi. Meskipun tak ada kata-kata yang diucapkan, ekspresi wajah mereka cukup untuk saling mengerti perasaan satu sama lain.
Dengan langkah hati-hati, Halraf duduk di dekat Arya Wiraraja. "Tuan Wiraraja," katanya dengan suara rendah, "kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita masih bisa berusaha untuk masa depan yang lebih baik."
Arya Wiraraja mengangguk, wajahnya penuh dengan keraguan dan keprihatinan. "Halraf, aku tahu, kita harus terus maju," ujarnya dengan suara penuh penyesalan. "Tapi melihat dampaknya pada rakyat dan tanah ini, rasanya begitu berat."
"Aku sebagai Mahamenteri di negeri ini, memiliki tanggung jawab untuk melindungi rakyatku. Tindakan-tindakan pasukan Mongol yang tak terkontrol adalah tanda betapa kompleksnya perang ini.” lanjut Arya Wiraraja.
“Tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah arah peristiwa." Ucap Halraf mencoba menyemangati.
Arya Wiraraja mengangguk dengan perlahan, melihat dalam mata Halraf yang penuh tekad dan harapan. "Kamu benar. Kita tidak boleh menyerah pada kekecewaan. Kita harus tetap fokus pada tujuan kita untuk membawa kedamaian kembali ke tanah ini."
Keduanya duduk di atas kapal, merenungkan apa yang telah terjadi dan apa yang akan datang. Mereka tahu bahwa perjalanan masih panjang, dan tantangan tidak akan berhenti pada titik ini. Namun, dengan bersama-sama, dengan tekad yang kuat dan semangat untuk mengubah nasib, mereka bertekad untuk berjuang demi masa depan yang lebih baik.
Dalam keheningan, mereka menemukan kekuatan dan harapan dalam perjuangan yang mereka jalani. Namun Arya Wiraraja kembali menatap Halraf dengan serius, mata mereka terkunci dalam pandangan tajam. "Halraf," katanya dengan suara rendah, "aku harus tahu, di antara Mongol dan Jawa, kamu berpihak kepada siapa? Karena yang kulihat sejak aku beraliansi dengan Mongol, kau tidak menampakkan kesetiaanmu kepada Mongol"
Halraf merenung sejenak, seolah mempertimbangkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. "Tuan Wiraraja," jawabnya, "aku berpihak kepada Jawa. Meskipun aku adalah seorang prajurit Mongol, hatiku selalu bersama tanah airku. Aku telah menyaksikan sendiri kekejaman pasukan Mongol, dan aku tidak bisa melupakan teman-temanku yang telah kehilangan nyawa mereka karena pasukan mongol."
Arya Wiraraja mengangguk mengerti. "Aku mengerti perasaanmu, Halraf. Kau memiliki loyalti terhadap tanahmu, dan itu adalah hal yang mulia." Ia menarik nafas dalam-dalam. "Sekarang bahwa kita tahu bahwa hatimu ada di pihak Jawa, kita harus bekerja sama untuk membangun strategi yang kuat dan memastikan bahwa perjuangan ini akan membawa hasil yang lebih baik."
Halraf mengangguk setuju. "Kita harus bekerja sama untuk mengatasi tantangan yang ada di depan kita. Kita harus merencanakan dengan hati-hati, memanfaatkan kekuatan yang kita miliki, dan mengatasi ketidakpastian dengan tekad yang kuat."
"Aku yakin, bersama-sama kita bisa mencapai kemenangan," tambah Arya Wiraraja dengan semangat. "Kita memiliki aliansi yang kuat, dan kita akan memanfaatkannya untuk menghadapi musuh bersama."
Halraf tersenyum, merasakan semangat perubahan dan kebersamaan yang tumbuh dalam percakapan mereka. "Kami tidak akan membiarkan perjuangan ini sia-sia. Kami akan menjaga apa yang kami yakini, dan kami akan menjaga rakyat kami."
Keduanya duduk di kapal, tahu bahwa mereka memiliki peran penting dalam mengarahkan arah peristiwa. Mereka memiliki tujuan bersama dan tekad untuk membawa perubahan positif ke tanah Jawa.
Saat matahari perlahan merunduk di ufuk barat, sinar senja menerangi perairan yang tenang. Namun, ketenangan itu terganggu oleh kehadiran seorang prajurit yang datang dari arah timur. Langkahnya terburu-buru, napasnya terengah-engah, dan wajahnya mencerminkan rasa kecemasan yang mendalam. Ia melangkah menuju ke tempat Halraf dan Arya Wiraraja berada.
Dengan suara lirih yang terdengar lelah, prajurit itu mulai bercerita, "Tuanku, pasukan Jayakatwang telah mengejar kami hingga ke Canggu. Kami berhasil melarikan diri, tetapi mereka terus berada di belakang kami. Kami memohon perlindungan dari pasukan Mongol agar kami dapat tetap hidup dan membantu dalam perjuangan ini."
Halraf merasa situasi ini cukup penting, ia segera melaporkan kepada Shi Bi. Tak lama kemudian, perintah dikeluarkan. Shi Bi memanggil Ike Mese dan salah satu komandan untuk menyusun pasukan dengan cepat. Mereka harus bergegas menuju Canggu untuk memberikan bantuan kepada Bhre Wijaya dan pasukannya yang sedang terancam.
Ike Mese mengambil alih komando dengan penuh semangat. Ia mengumpulkan sejumlah prajurit terpilih dan memberikan arahan dengan tegas, "Saudara-saudaraku, kita tidak punya waktu untuk ragu. Kita harus bergerak cepat menuju Canggu dan membantu Bhre Wijaya. Ini adalah momen di mana keberanian dan tekad kita diuji. Kita akan melindungi mereka dan memastikan pasukan Jayakatwang tidak mengancam lagi."
Halraf dengan mantap mendekati Ike Mese, ekspresi wajahnya penuh dengan tekad. "Ike Mese, ijinkan aku ikut serta dalam misi ini. Saya yakin dengan kekuatan dan persatuan kita, kita bisa melindungi Bhre Wijaya dan pasukannya."
Ike Mese melihat keberanian dan tekad yang membara di dalam mata Halraf. Ia mengangguk setuju dengan tulus. "Halraf, kita akan berjuang bersama. Kita adalah satu tim dalam misi ini, dan setiap bantuan sangat berarti. Mari kita bersama-sama melindungi mereka dan menghadapi pasukan Jayakatwang."