Karena kecerobohan seseorang Camelia harus mempertahankan hidupnya dari kejaran para penjahat yang menginginkan sesuatu didalam tubuhnya. Dia tidak sengaja menelan sebuah microchip yang berisikan informasi penting untuk para penjahat kelas kakap di seluruh dunia dan mengancam nyawanya. Melibatkan Sang Putra Mahkota keluarga bangsawan Albarack yang ternyata menjadi pelaku utama atas kecerobohan ini.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa yang akan dilakukan sang putra mahkota Albarack pada Camelia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiger's Bab 21
Dahliara melangkah lebar keluar dari kamar yang tadi ditempati oleh Camelia. Wajah cantiknya terlihat suram, bola matanya terus saja bergerak memindai semua hal yang dilewatinya. Setelah mendengar Camelia bercerita, semuanya tanpa ada yang ditutupi amarah Dahliara memuncak, dia segera bangkit dan bergegas mencari pelaku utama yang menjadi biang keladi dari masalah yang tengah Camelia hadapi.
Wanita itu melewati beberapa ruangan yang dipastikan tidak di singgahi oleh si pelaku, maka dari itu Dahliara memutuskan untuk naik ke lantai atas menuju ke salah satu kamar disana. Sementara Camelia ditinggalkan begitu saja, gadis itu sendirian sekarang dan entah apa yang sedang dilakukannya di sana.
BRAAKK..!
Tanpa perasaan Dahliara mendobrak pintu besar yang ada dihadapannya, tenaganya tiba-tiba saja terisi penuh hingga bisa melakukan hal yang tidak ada didalam pikirannya. Bagaimana mungkin pintu yang besar serta beratnya berkali lipat dari ukuran tubuhnya bisa dia dobrak dengan sekali tendang, ditambah lagi pintu itu dalam keadaan terkunci.
"ASTAGA MAMA, KENAPA TIDAK MENGETUK PINTU DULU SEBELUM MASUK!" Tiger berteriak kencang sembari menutupi area sensitif tubuhnya yang hanya terbalut boxer ketat. Kedua matanya melotot, tubuhnya yang hampir telanjang terlihat masih basah tapi sepertinya keadaan itu sama sekali tidak membuat Dahliara iba.
Wanita bergaun selutut berwarna jingga itu menerobos masuk, kakinya melangkah lebar mendekat pada Tiger yang terpaku ditempat sembari menutupi Kaktus gurunnya menggunakan kedua tangan.
"AAAAKKKHHH...!" Pekikan Tiger kembali terdengar saat daun telinganya terasa sakit, satu tangannya reflek menyentuh tangan milik Mamanya yang sedang bertengger manis di sana.
"Sakit Ma!" Rintihnya penuh permohonan.
Tubuh besar tinggi yang dimiliki Tiger tetap terlihat imut dimata Dahliara, buktinya saat ini wanita beranak satu itu terus saja menarik telinga putranya, memperlakukan remaja tampan itu layaknya anak kecil yang nakal.
"Apa yang sudah kamu lakuin sama Camelia? Kamu ceroboh sudah membuat gadis malang itu selalu ditakuti sama ancaman orang-orang yang ingin mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya. Apa kamu enggak mikir sebelum melakukan hal yang bisa saja membahayakan orang lain!" Dahliara terus saja mengoceh tanpa melepaskan jewerannya, malah semakin brutal.
"Itu tidak sengaja Ma, memang kecerobohanku dan Lucas tapi sungguh aku tidak berniat seperti itu. Lagian Papa juga ikut andil, andai saja Papa tidak menitipkan benda itu pada kami bertiga dan membuat repot mungkin Lucas tidak akan memiliki ide sialan itu Ma!" Oke pada akhirnya Tiger mencari si kambing hitam untuk menjadi pegangan, dia tidak akan membiarkan Papanya melenggang bebas dan tidak tersentuh oleh tangan dingin Sang Mama.
Biar tahu rasa si Bapak Singa!
Dan benar saja jeweran Dahliara mengendur, wanita itu tidak lagi menatap tajam pada Tiger. Mata yang tadinya sempat membuat Tiger kalang kabut teralihkan ke arah pintu, Dahliara meninggalkan putranya dalam keadaan yang memprihatinkan. Napas remaja itu terengah seakan baru menyelesaikan lari maraton puluhan kilometer, Tiger memegangi dada polosnya dengan mata terpejam sembari bergumam lirih.
"Selamat, setidaknya aku selamat kali ini. Tapi bagaimana nasibnya Papa?" Gumamnya lagi.
Pria muda itu menghela napas kasar, dia melenggang pergi menuju walk in closet untuk mengambil pakaian yang belum sempat dia pergunakan karena Dahliara menerobos masuk kedalam kamarnya secara paksa. Tiger yakin kalau pintu kamar miliknya saat ini sudah tidak bisa lagi dipergunakan, dia bergidik ngeri saat membayangkan Sang Mama menerjang benda keras itu dengan sekali tendang. Lalu bagaimana nasibnya kalau tendangan itu mengarah pada tubuhnya, meskipun dirinya bertubuh besar tinggi melebihi wanita yang sudah melahirkannya tapi rasanya tendangan itu cukup untuk bisa membuatnya terkapar beberapa hari kedepan.
Disisi lain Lionel tengah sibuk mengatur para pengawal yang baru saja dipekerjakan. Mereka memang bukan orang baru melainkan para anak atau cucu pengawal keluarga Albarack yang sebelumnya. Hanya saja karena mereka baru saja masuk kedalam kediaman Albarack, Lionel sebagai penanggung jawab keamanan di istana ini harus ikut turun tangan.
Sebenarnya Elvier tidak mengizinkan menantunya itu kembali kedalam kawasan pengawal, karena Lionel sudah tidak menjadi salah satu dari mereka. Elvier malah menawarkan gelar Pangeran tersemat di depan namanya tapi Lionel menolaknya. Menurutnya itu terlalu berlebihan, bisa menikahi putri semata wayang keluarga bangsawan ini saja sudah menjadi keberuntungan. Bagi Lionel gelar tidak penting baginya, yang paling utama adalah kesejahteraan istri serta anaknya.
Maka dari itu saat Elvier mengangkat Tiger menjadi putra mahkota Lionel tidak bisa membantah, terlebih Lord Erkan juga menyetujuinya sebab dia sendiri tidak mungkin menjadikan Anyelir sebagai penerus keluarga Albarack. Selain itu Lionel sendiri tidak memiliki silsilah keluarga, jadi nama Albarack tersemat dibelakang nama putra semata wayangnya.
"Tuan, Putri Dahliara-,"
"SAYANGGGGG...!" Belum sempat pengawal itu memberitahukan kalau Dahliara tengah menuju ke arah mereka, wanita cantik itu sudah berteriak keras, memberikan senyuman semanis mungkin pada suaminya.
Dia tidak menunjukkan raut kesal atau marah pada Lionel. Sang Putri malah terkesan manja dan ingin segera membawa Lionel menjauh dari kumpulan para bawahannya.
"Hai, kau kesini? Apa ada sesuatu yang-,"
"Tentu, aku ingin menujukkan sesuatu sama kamu. Ayo kita pergi, maaf ya aku pinjam dulu ketua kalian." Dengan mesra Dahliara meraih lengan berotoy dan bertato milik Lionel, senyumannya terus saja mengembang. Pegangannya mengerat, sepertinya dia tidak akan sudi melepaskan buruannya.
"Sayang, apa kau-,"
"Aku baik, tenang saja oke." Dahliara menepuk gemas lengan atas yang berotot milik suaminya, senyuman lebarnya terus saja tercipta. Bahkan saat para pelayan menyapa Dahliara sangat ramah menanggapinya.
Lain dengan Lionel, entah mengapa dia merasa kalau saat ini ada yang berbeda dengan sikap Dahliara. Mengenal wanita cantik ini sejak beliau membuatnya tahu setiap ekspresi, gerak-gerik bahkan nada bicaranya, bahkan perasaan yang mungkin tengah Dahliara sembunyikan saat ini.
"Tiger mengatakan sesuatu, hm?"
Langkah Dahliara reflek terhenti, dia menoleh dengan gerakan slow motion, senyuman lebar di bibirnya perlahan lenyap berganti dengan raut datar penuh tuntutan.
"Suamiku yang tampan rupanya peka juga." Ucapnya pelan dengan seringai lebar yang berhasil membuat bulu kuduk Lionel meremang hebat.
Oh ayolah dia lebih sanggup menghadapi banyak penjahat di arena pertarungan dari pada harus mengahadapi amarah Dahliara. Lionel bisa segera menghabisi musuhnya dalam sekali gerak, sementara menghadapi Dahliara tidak mungkin menggunakan kekerasan, menggunakan kelembutan saja wanita itu sulit untuk dia bujuk.
"Kalau begitu ikut aku!" Belum sempat memberikan perlawanan lengan kekarnya kembali ditarik. Lionel yang sudah pasrah hanya bisa menghela napas, dalam hatinya dia merutuki putranya yang ikut menyeretnya dalam masalah yang cukup besar ini.
Lionel tidak bisa mengelak, saat ini dia hanya perlu menerima apa yang akan dilakukan oleh Dahliara padanya setelah ini.
Dia berharap wanita itu tidak akan mencabut bulu kaki atau dadanya nanti.
BAPAK SINGA🦁🦁🦁
𝑝𝑎𝑠𝑝𝑒𝑙𝑎𝑗𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑡𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎 𝑑𝑖𝑎 𝑑𝑛𝑔𝑒𝑟𝑖𝑛 𝑔𝑢𝑟𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑗𝑒𝑙𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑔𝑎𝑘 𝑠𝑖ℎ....
𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑎 ℎ𝑎𝑏𝑖𝑠 1 𝑦𝑎 2 𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑒 ℎ𝑎𝑏𝑖𝑠 1𝑚𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔 3 ...
𝑒𝑡𝑑𝑎ℎ 𝑛𝑒 𝑏𝑜𝑐𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑐𝑎𝑛 🤣🤣🤣
gimana bisa jadi anak singa 🤣🤣🤣